PERANG SALIB |SKETSA SEJARAH – RESPON MUSLIM | BAGIAN 14

PERANG SALIB |SKETSA SEJARAH – RESPON MUSLIM | BAGIAN 14

BAGIKAN


Artikel Sebelumnya

perang salibPerhatian serius terhadap pasukan salib muncul perlahan sesudah kaum Muslim Syira dan Palestina melihat tujuan religius dari pasukan salib yang tampaknya tidak ingin kembali ke negara asalnya.

Kelompok Muslim berusaha mencari pemimpin selain pemimpin Baghdad yang jelas tidak mungkin diharapkan bantuannya pada saat itu. Usaha pertama melawan pasukan salib dilakukan oleh seorang qadi dari Aleppo. Dia menyewa amir dari Turki, Ilghazi, untuk menjadi panglima perang melawan pasukan salib. Pada 1119 pasukannya, dibantu pasukan Damaskus, bergerak menuju Antioch, dan pada 28 Juni mereka mengalahkan pasukan salib Antioch yang dipimpin oleh Roger. Ini adalah pukulan telak bagi pasukan salib. Tetapi Ilghazi yang pemabuk meninggal dunia tiga tahun sesudah kemenangan itu.

Pada 1120 muncul pemimpin lain, keponakan dari Ilghazi, bernama Balak. Panglima Balak ini membuat takut pasukan salib, dan bahkan ia dijuluki sebagai “Naga Murka.” Pada 1122 dia berhasil menangkap Joscelin, sepupu dari raja Yerusalem, Baldwin II. Pada 1123 dia berhasil mengalahkan dan menangkap sang raja Yerusalem. Pada 1124 Balak menjadi penguasa Aleppo dan mulai menaklukkan wilayah-wilayah yang dikuasai oleh Kristen. Tetapi takdir berkata lain. Pada 1124 kaum Muslim di Tyre (sekarang wilayah Lebanon) meminta bantuan Balak untuk menghadapi kepungan pasukan salib. Tetapi sebelum berangkat, saat memeriksa kesiapan pasukan dan benteng, ia terkena panah nyasar yang menancap tepat didadanya hingga ia tewas. Sekali lagi Muslim di Syiria tidak memiliki pemimpin perang. Pada saat itu, kelompok Hassasin (Asasin), sebuah kelompok pembunuh bayaran yang terkenal lihai dari golongan Syiah, terus merongrong kekuasaan kesultanan Sunni. Kelompok ini sangat hebat dan mampu membunuh emir-emir Aleppo dan Mosul, sehingga melemahkan persatuan Muslim dalam merespon ancaman dari pasukan salib.

Pada 1126 muncul panglima perang hebat dari Seljuk, Imaduddin Zengi. Pada 1126 dia menguasai Baghdad. Pada saat itu kekhalifahan Baghdad sedang berusaha melepaskan diri dari pengaruh Seljuk. Zengi datang untuk menaklukkan pemberontakan emir-emir Baghdad. Pada 1130 Jenderal Zengi mulai bergerak menaklukkan wilayah Syiria. Pada 1144 dia mengepung kota Edessa dan akhirnya menembus benteng kota itu pada akhir tahun itu.

Sesudah Zengi wafat pada 1146, putranya, Nuruddin, menjadi penguasa Aleppo. Tetapi Emir Damaskus tidak percaya pada Nuruddin, yang dianggapnya berambisi menaklukkan seluruh Syiria. Meski demikian emir Damaskus menjaga perdamaian dengan Nuruddin. Pada saat ini Kristen Eropa melakukan kesalahan fatal.

Mereka sebenarnya bisa memecah belah Aleppo dan Damaskus, tetapi jatuhnya Edessa ke tangan Zengi menyebabkan Kristen Eropa melancarkan perang salib kedua (lihat artikel bagian sebelumnya). Pasukan salib di bawah pimpinan Raja Prancis Louis VII tiba di Yerusalem pada 1149, lalu menyerang Damaskus. Padahal Damaskus saat itu adalah satu-satunya sekutu Kristen di wilayah itu. Akibat diserang pasukan salib, penguasa Damaskus tak punya pilihan; ia meminta bantuan Nuruddin untuk mempertahankan benteng kota. Pasukan salib kedua akhirnya mengalami kekalahan, dan kekuasaan Nuruddin makin kuat. Pada 1154 Damaskus jatuh ke tangan Nuruddin.

Tetapi konflik Sunni versus Syiah masih terus berkecamuk. Nuruddin tak lagi memperhatikan pasukan salib. Ia beralih fokus menghadapi Mesir yang dikuasai dinasti Fathimiyyah yang beraliran Syiah. Untuk melawan Nuruddin, Sultan Fathimiyyah bekerja sama dengan pasukan salib. Tetapi dalam peperangan di Antioch, Nuruddin berhasil menangkap banyak pasukan salib, termasuk pemimpinnya.

Akhirnya pada 1169 pasukan Nuruddin sukses mengalahkan dinasti Fathimiyyah dan pasukannya masuk ke Kairo. Kekuasaan Mesir lalu diserahkan kepada keponakan Nuruddin, yakni Shalahuddin, yang kelak berperang penting dalam perang salib ketiga. Tetapi sebelum perang salib ketiga pecah, Shalahuddin sibuk berperang dengan penguasa muslim lainnya. Shalahuddin baru berhasil menjalin kerjasama (yang rapuh) dengan penguasa Muslim lainnya saat mengahadapi Raja Richard dari Inggris.

Jadi, dibutuhkan berpuluh-puluh tahun bagi kaum Muslim untuk menyadari bahwa pasukan salib ingin berkuasa secara permanen di wilayah yerusalem dan sekitarnya. Baru pada pertengahan abad 12 kaum Muslim berhasil merebut kembali beberapa wilayahnya. Penaklukkan Edessa adalah titik balik penting, sebab penaklukan ini merupakan kekalahan terbesar pertama pasukan salib. Sejak saat itu sejarah perang salib adalah sejarah kekalahan pasukan salib. Tetapi, karena penguasa-penguasa atau kekhalifahan Islam pada waktu itu tidak bisa bersatu dan saling berebut pengaruh kekuasaan, maka pasukan Muslim sangat lambat dalam merespon invasi pasukan salib.

Sekarang, dalam pertempuran Islam vs Kristen, bagaimana nasib warga Yahudi di tengah kecamuk pertempuran selama sekitar dua abad itu?

BERSAMBUNG

TINGGALKAN KOMENTAR