PERANG SALIB |SKETSA SEJARAH – RESPON MUSLIM | BAGIAN 13

PERANG SALIB |SKETSA SEJARAH – RESPON MUSLIM | BAGIAN 13

BAGIKAN

Episode Sebelumnya

Seperti sudah kami paparkan di bagian-bagian terdahulu, pada akhir 1090-an, pasukan Salib menyerbu Yerusalem dan berhasil menguasai Yerusalem pada 1099. Jumlah pasukan salib tak banyak, sekitar 20.000, dan mereka tak terbiasa berperang di gurun, jauh dari negara asal, tetapi mengapa mereka berhasil mengalahkan pasukan Muslim (yang seharusnya lebih banyak dan lebih berpengalaman berperang di tanah kekuasaan mereka sendiri)? Sesudah 1099, hanya beberapa ribu pasukan salib yang tetap tinggal di kota-kota seperti Antioch, Edesaa dan Tripoli. Dan hanya sekitar 300 ksatria salib yang menjaga Yerusalem. Namun selama 40 tahun berikutnya pasukan salib tidak menghadapi ancaman serius dari pasukan Muslim.

Ahli sejarah biasanya memberi dua penjelasan penyebab dari fenomena ini. Pertama, kaum Muslim pada saat itu tidak menganggap pasukan salib sebagai ancaman serius. Kedua, kaum Muslim saat itu sedang terpecah-belah sehingga tidak memberi respon serius terhadap pasukan salib. Karena perpecahan dan friksi inilah, kaum Muslim justru lebih memperhatikan ancaman dari rival sesama Muslim ketimbang pasukan salib.

Pada masa Perang Salib I (1095-1099) dan beberapa tahun sesudah kejatuhan Yerusalem, ada beberapa “pemain” utama dalam lanskap politik dan kekuasaan di Timur Tengah:

  • Muslim Sunni: kelompok terbesar.
  • Dinasti Abbasiyyah: Dinasti Muslim Sunni. Mereka mengklaim sebagai keturunan dari paman nabi, Sayyidina Abbas. Kekhalifahan Abb asiyyah menguasai kesultanan Muslim dari pusat ibukota Baghdad.
  • Seljuk: Dinasti yang dikuasai orang Turki yang menganut Islam Sunni. Pusat kekuasaannya ada di Isfahan, Iran sebelah barat. Saat itu Abbasiyyah dipandang memiliki kekuasaan spiritual untuk Muslim Sunni, sedangkan kekuasaan politik riil ada di tangan Bani Seljuk, sebab kekuatan militer Seljuk lebih besar dan kuat.
  • Syiah: Golongan yang mengklaim bahwa kekhalifahan yang sah hanya ada di tangan Sayyidina Ali dan ahli bait. Menurut Syiah, Dinasti Abbasiyyah, dan dinasti sebelumnya, Umayyah, adalah perebut kekuasaan yang sah dari tangan Sayyidina Ali. Mereka sering memerangi Sunni.
  • Fatimiyyah: Dinasti Syiah yang menguasai Mesir. Mereka mengklaim keturunan Sayyidatuna Fatimah, putri Nabi. Mereka mendirikan kekhalifahan independen di Kairo. Fatimiyyah pernah menguasai Yerusalem pada 1071, tetapi kemudian dikalahkan oleh Seljuk pada 1098.

Saat pasukan salib pertama merangsek ke Laut Mediterania menuju Yerusalem, mereka berhasil menduduki sejumlah kota, termasuk Antioch dan Edessa. Banyak orang Islam yang melarikan diri dari kota itu minta perlindungan ke Damaskus dan Aleppo (Syiria). Mereka meminta agar penguasa Muslim menghadapi pasukan salib. Salah satu pemimpin yang merespon adalah al-Harawi, qadhi Damaskus. Al-Harawi berangkat ke Baghdad untuk membujuk khalifah Abbasiyyah, al-Mustazhir Billah, agar mengirim pasukan menghadang pasukan salib. Tetapi al-Harawi menghadapi dua persoalan. Pertama, Baghdad jauh dari Yerusalem, jadi khalifah tidak menganggap pasukan salib sebagai ancaman. Yang kedua, khalifah tidak punya cukup pasukan kuat untuk dikirim ke Yerusalem. Kekuatan militer berada di tangan Bani Seljuk, yang saat itu dibawah kekuasaan Sultan Barkiyaruq, di Isfahan, Iran. Tetapi Isfahan juga jauh dari Yerusalem, sehingga ia juga tak terlalu peduli pada ancaman pasukan salib di Yerusalem. Lagipula saat itu sultan Turki itu sedang menghadapi masalah. Dia masih muda dan belum pengalaman, dan setelah ayahnya meninggal pada 1094, dia harus menghadapi perseteruan perebutan kekuasaan, bahkan menghadapi ancaman dari sebagian pimpinan militernya sendiri. Ketimbang memperhatikan Yerusalem, Sultan Barkiyaruq lebih peduli pada Damaskus, Aleppo dan Mosul sebab kota-kota itu ada di bawah kekuasaan petinggi Seljuk yang cenderung ingin menjadi raja kecil sendiri ketimbang tunduk pada sultan Turki tersebut.

Sepanjang abad 11 itu kaum Muslim sedang berperang pula dengan kerajaan kristen Byzantium dan pernah menang. Namun pada akhir abad 11, kaum Muslim tidak lagi memprioritaskan melawan kristen.

Penguasa Turki dan Abbasiyyah cenderung memandang pasukan salib hanya tentara sewaan dari Byzantium, yang sudah mereka kalahkan. Padahal, pasukan salib datang karena ingin membantu Byzntium yang sudah kalah saat itu.

Namun rupanya pasukan salib punya misi sendiri dan ingin menguasai wilayah itu  (lihat kembali tulisan bagian-bagian sebelumnya).

Tetapi penguasa Muslim Sunni tidak menyadari ancaman ini. Perhatian utama penguasa-penguasa Muslim Sunni saat itu adalah mengalahkan dan nmemadamkan pemberontakan kaum Syiah. Dinasti Fathimiyyah Mesir memfokuskan serangan ke Dinasti Seljuk, dalam rangka berebut menguasai wilayah Yerusalem dan Syria. Karena menganggap Seljuk musuh besar, dinasti Fathimiyyah kadang membangun aliansi dengan kerajaan Kristen Byzantium, dalam memerangi Seljuk. Jadi, selama perang salib pertama, dua kekhalifahan – Sunni di Baghdad dan Syiah di Kairo – saling berseteru dan kurang peduli pada serbuan pasukan salib. Bagi Seljuk, pasukan salib hanyalah gangguan kecil dalam upaya mereka memerangi Syiah, terutama memerangi Dinasti Fathimiyyah.

Baru sesudah Yerusalem jatuh ke tangan pasukan salib mulai muncul kesadaran bahwa pasukan salib adalah ancaman.

Namun kesadaran ini muncul pelan-pelan di Syira dan Palestina. Mereka mulai mencari pemimpin untuk mengusir pasukan salib, namun mereka tak bisa meminta tolong pada kekhalifahan  Baghdad. Pemimpin harus dari dalam Syiria sendiri, dari Aleppo atau Damaskus. Dan dimulailah gerakan awal untuk memerangi pasukan salib secara serius.

BERSAMBUNG

Mbah Kanyut

TINGGALKAN KOMENTAR