PERANG SALIB | SKETSA SEJARAH BAGIAN 8

PERANG SALIB | SKETSA SEJARAH BAGIAN 8

BAGIKAN


Perang Salib | Seketsa Sejarah Bag 8
Eropa kaget sekaligus heran. mereka mungkin baru sadar bahwa Peradaban Islam ternyata mampu melahirkan pemimpin yang tangguh, ditakuti, dan sangat baik akhlaknya. Salahuddin menjadi sosok yang ditakuti, sekaligus dikagumi oleh Eropa. tetapi pemimpin besar tak lahir tibatiba. Salahuddin adalah anak zaman, yang tumbuh dan besar dalam situasi sulit, dalam kondisi di mana perang dan perebutan kekuas...aan terjadi disekitarnya: dan ia sendiri adalah bagian dari pusat perebutan kekuasaan. Salahuddin memang layak dihormati dan dikagumi: ia berperang dengan gagah berani, dan menaklukkan gabungan pasukan Yerusalem yang kuat, meskipun kondisi kesehatan Salahuddin cukup memprihatinkan -- dibalik keperkasaannya, Salahuddin menyimpan penyakit yang pernah hampir merenggut nyawanya, penyakit yang dideritanya selama ia menjalani perang hingga akhir hayatnya.

Artikel sebelumnya

PERANG SALIB KETIGA

Ini adalah periode yang cukup penting dalam sejarah Perang Salib, karena pada masa Perang Salib Ketiga inilah Yerusalem berhasil ditaklukkan oleh penguasa Muslim yang paling masyhur dalam sejarah Perang Salib: Salahuddin al-Ayyubi.

Sejak remaja Salahuddin al-Ayyubi, putra dari Najmuddin, panglima perang di Tikrit yang mengabdi pada Sultan Nuruddin Zengi. Sejak remaja Salahuddin telah belajar berbagai ketrampilan: berkuda, bermain pedang, manajemen, keuangan, memanah dan berperang dengan tombak di atas kuda. Antara tahun 1164 dan 1169 Salahuddin menemani pamannya, Shirkuh, dalam pertempuran mempertahankan Kairo dari serangan Pasukan Salib. Pada masa ini dia mendapat banyak pengetahuan militer dari pamannya dan dari Sultan Nuruddin sendiri. Setelah Shirkuh meninggal dunia pada 1169, Salahuddin menjadi pemimpin di Mesir dan selama  berkuasa ia mengubah Mesir menjadi pusat perekonomian yang kuat. Dia membangun benteng Kairo, dan mendorong rakyatnya untuk mempelajari seni dan ilmu pengetahuan. Pada saat yang sama ia membangun pasukan. Pada 1171 dia menjadi Sultan Mesir setelah ia membubarkan secara resmi Dinasti Fathimiyyah dari panggung kekuasaan.

Tahun 1174 adalah titik balik penting bagi Salahuddin. Sultan Nuruddin Zengi wafat, dan Salahuddin mendapat jalan untuk menyatukan dunia Islam. Namun Salahuddin mendapat perlawanan dari sesama penguasa Muslim. Pada 1174 itulah Salahuddin berhasil mengalahkan dua lawan Muslimnya, khalifah di Mosul dan Aleppo, dalam pertempuran di Hamah. Salahuddin kemudian menguasai Mesir, Yaman, Syira, dan Palestina – ini membuatnya menjadi pemimpin terkuat di dunia Islam pada saat itu. Pada 1175 Salahuddin mendapat serangan dari sekte Islam radikal, Hashashin, kelompok yang terkenal dengan keahliannya dalam membunuh tokoh dan penguasa (karena sangat masyhurnya kemampuan anggota Hasashin dalam membunuh, hingga ditakuti baiik oleh penguasa Muslim maupun Eropa, maka kata Hashashin ini diserap ke dalam Bahasa Inggris, “assasin”, yang berarti pembunuhan, biasanya merujuk pada pembunuhan tokoh penting). Salahuddin berhasil lolos dari upaya pembunuhan oleh Hashashin. Salahuddin kemudian menikahi janda Nuruddin, dan dengan demikian ia mampu mengkonsolidasikan kekuasaannya di Syria.

Mulai 1177 Salahuddin mulai melakukan gerakan sistematis untuk mengusir Pasukan Salib dari wilayah timur Mediterania. Dia melancarkan serangan-serangan, meski pada awalnya banyak yang gagal. Pada 1179 dia berhasil mengalahkan Pasukan Frank (Perancis), mengalahkan Jacob. Tetapi gerak maju Salahuddin terhambat kaena muncul pemberontakan dari sesama Muslim. Penguasa Muslim di Mosul dan Aleppo sekali lagi melawan Salahuddin. Pada 1183 Salahuddin mengepung Mosul. Salahuddin sadar bahwa untuk mengontrol situasi, ia harus keluar dari Mesir. Maka dia membangun pusat kekuasaan baru di Damaskus. Pada masa ini Salahuddin menderita penyakit berat (pada 1185 ia pernah hampir meninggal karena penyakitnya itu, dan sejak itu kesehatannya tak pernah pulih seperti sediakala).

Meski kesehatannya buruk, dan mengalami banyak kesulitan, Salahuddin tetap bertekad melakukan jihad melawan Pasukan Salib. Namun sebelumnya ia pernah mengadakan perjanjian damai dengan penguasa Palestina dan Yerusalem. Karenanya ia tak  bisa menyerang tanah suci itu. Namun situasi berubah drastis, setelah perselisihan kekuasaan di Yerusalem mencapai titik genting. Reynald dari Chatillon, yang haus perang, kekuasaan dan korup, sepertinya ingin menguasai Yerusalem. Penguasa Yerusalem saat itu lebih memilih perdamaian dan ini didukung oleh sebagian besar rakyatnya. Karenanya, Reynald harus melakukan sesuatu agar tentara Yerusalem mau berperang, sehingga ia punya peluang untuk menyingkirkan penguasa Yerusalem. Reynald adalah panglima perang yang diberi kekuasaan di wilayah Kerak (selatan Laut Mati) dan mengusai jalur karavan dan rute ziarah dari Syria ke Mesir. Reynald Chatillon, dalam rangka memicu perang, melakukan serangan mendadak ke karavan yang mengangkut suplai makanan untuk Salahuddin di Syiria. Dalam serangan ini Reynald Chatillon menewaskan pengawal karavan dan menyandera saudara perempuan Salahuddin. Mendengar kabar ini, Salahuddin marah, karena tindakan Chatillon melanggar perjanjian damai. Salahuddin minta saudaranya dibebaskan dan menuntut ganti rugi. Tetapi Chatillon menolak tuntutan Salahuddin. Dan ini menjadi alasan bagi Salahuddin untuk mulai bergerak menaklukkan Yerusalem.

Pada Mei 1187 Salahuddin menyerbu Transjordan. Ia mengumumkan jihad, dan mengumpulkan 30,000 pasukan, juga 12,000 pasukan berkuda, yang didatangkan dari Mesir, Syira dan Mesopotamia. Pada saat yang sama, Guy Lusignan,  Raja Yerusalem, yang menyadari ancaman ini, memanggil semua pasukan di wilayah kekuasaannya, dan mewajibkan semua pria yang mampu untuk ikut berperang. Pasukan Yerusalem juga diperkuat oleh kontingen dari Antioch, Tripoli dan juga para peziarah Kristen yang berada di Yerusalem. Pada bulan Juni, 1200 ksatria Salib, 4000 tentara kavaleri, dan sekitar 14,000 pasukan infantri mendirikan kamp di Saforie, Tiberia. Pada 27 Juni 1187 pasukan Salahuddin menyeberangi Danau Ti beria. Pada 2 Juli Salahuddin mengepung benteng Tiberias. Pasukan Frank yang terkepung meminta bantuan dari pasukan yang berada di Saforie. Terjadi perdebatan di kalangan pemimpin Pasukan Salib, apakah akan  mempertahankan wilayah strategis Saforie, atau membebaskan Tiberia dari kepungan pasukan Salahudidin. Akhirnya diputuskan untuk melindungi Tiberias. Pada 3 Juli pasukan Frank meninggalkan Saforie menuju Tiberias. Persoalan utama  bagi Pasukan Salib adalah akses ke air, sebab air hanya ada di Saforie, Turan dan Hattin; sedangkan pasukan Muslim mudah mendapat air dari danau Tiberias. Saat pasukan Perancis itu sampai di Turan, mereka dikepung oleh pasukan Muslim dan harus bertempur di sepanjang perjalanan. Akhirnya Pasukan Salib sampai di Maskanah dan menginap semalam. 

Pasukan Muslim, yang dipimpin langsung oleh Salahuddin mulai bersiap. Pada dini hari 4 Juli, Pasukan Salib bergerak maju sejauh 2 kilometer. Mereka diserang dengan gencar oleh pasukan Salahuddin, dan tertahan di dataran Hattin karena mereka, selain dihujani oleh panah, Pasukan Salib juga kesulitan mendapat air dan diganggu oleh asap yang dihasilkan dari pembakaran semak oleh pasukan Muslim. Pada saat itu kontingen yang dipimpin  oleh Raymond dari Tripoli terpisah dari pasukan utama Salib. Raymond dan pasukan berkudanya merangsek ke utara dan berhasil menembus kepungan Muslim, dan sukses melarikan diri ke danau Tiberias. Namun pasukan Raymond tercerai berai. Kemudian, atas perintah Raja Guy, pasukan infrantri Salib mundur ke dataran tinggi Hattin, namun di sana tidak ada air minum. Pasukan berkuda Frank melakukan serangan hebat ke pertahanan Muslim, namun berhasil dipukul mundur. Pasukan Muslim lalu melakukan serangan sengit ke pertahanan Pasukan Salib. Pertempuran berlangsung dengan dahsyat – dua pasukan saling serang dengan gagah berani. Begitu sengitnya pertempuran  ini hingga sejarah menyebut Pertempuran di Hattin adalah perang yang signifikan dalam sejarah Perang Salib. Menjelang siang pada 4 Juli itu, pasukan Muslim berhasil mendesak Pasukan Salib dan merangsek ke jantung pertahanan Pasukan Franks. Mereka berhasil menerobos sampai ke tenda Raja Guy.

Raja Guy dan Reynald Chatillon berhasil ditangkap hidup-hidup dan dibawa ke hadapan Salahuddin setelah Perang Hattin selesai. Peristiwa pertemuan dua penguasa ini sangat terkenal. Salahuddin menyambut dua tawanan perang itu. Salahuddin dengan ramah menjamu Raja Guy dengan air segar. Ketika Raja Guy hendak membagi air itu kepada Reynald Chatillon, Salahuddin mencegahnya. Salahuddin menjamin keselamatan Raja Guy, tetapi ia tidak mengampuni Reynald Chatillon yang mengkhianati perjanjian dan menyandera saudara perempuannya. Reynald dibawa keluar dari tenda Salahuddin, dan Salahuddin sendiri yang memenggal kepala Reynald.

Kemenangan Salahuddin dalam Pertempuran Hattin menjadi titik balik penting dalam sejarah Perang Salib. Salahuddin telah menyapu hampir semua tentara Kristen Yerusalem. Ia terus bergerak ke Yerusalem tanpa banyak perlawanan, dan menaklukkan kota-kota yang dilaluinya. Salahuddin hanya mendapat perlawanan sengit saat hendak menaklukkan Tripoli, Antioch dan Tyre. Akhirnya, Yerusalem berhasil ditaklukkan tanpa banyak perlawanan pada 2 Oktober 1187. Tetapi Salahuddin tidak melakukan pembantaian massal. Ia mengampuni sebagian besar warga Yerusalem dan sebagian lagi dijadikan tawanan untuk tebusan, dan sebagian  dijual sebagai budak.

Kristen Eropa tentu saja terkejut sekali dengan kabar ini. Paus Gregory VIII akhirnya mengeluarkan seruan untuk melakukan Perang Salib Ketiga. Bangsa Eropa merespon ajakan ini dengan semangat. Pasukan Salib diorganisasikan. Para relawan perang berdatangan dari Tyre, Tripoli, Inggris, Flanders, Perancis,  Jerman, Hungaria, dan Denmark. Pasukan pertama berangkat ke Yerusalem pada 11 Mei 1189, dipimpin oleh “Si Janggut Merah” Frederick Barbarossa, Kaisar Romawi, yang merasa yakin bahwa Perang Salib Ketiga akan menjadi puncak dari karirnya sebagai penguasa yang pernah mendominasi Eropa. Tetapi pasukan ini mengalami kesulitan menembus wilayah Asia Kecil. Mereka disepanjang jalan mendapat serangan dari pasukan Turki dan banyak yang tewas karena kelaparan atau kehausan. Situasi sangat  buruk bagi Pasukan Salib, sehingga banyak yang menderita depresi. Saat Frederic sampai di tepi sebuah sungai, Frederick terjun ke dalam sungai dan tewas tenggelam. Pasukan pertama ini akhirnya  bubar dan sebagian pulang.

Kini, pimpinan Eropa untuk Perang Salib Ketiga tinggal di tangan dua Raja Eropa, Raja Philip dari Perancis, dan Raja terkenal yang menjadi lawan paling tangguh bagi Salahuddin, yakni Raja Richard “Berhati Singa” (Lionhert).

Bersambung

TINGGALKAN KOMENTAR