PERANG SALIB | SKETSA SEJARAH BAGIAN 7

PERANG SALIB | SKETSA SEJARAH BAGIAN 7

BAGIKAN
PERANG SALIB | SEKETSA SEJARAH BAGIAN 7
PERANG SALIB | SEKETSA SEJARAH BAGIAN 7 _ Perang Salib Kedua adalah kisah tentang perebutan kekuasaan, intrik politik, pengkhianatan, dan kebodohan strategi. muslim bertempur dengan muslim, dan kristen bertempur dengan muslim. perang salib kedua adalah kekalahan memalukan bagi eropa, sekaligus awal dari kebangkitan dinasti ayyub. seorang pahlawan islam pun mulai muncul -- dan eropa melakukan persiapan besarbesaran untuk melancarkan perang salib ketiga, dalam rangka menghadapi tokoh yang mereka segani sekaligus mereka takuti: Salahuddin al-Ayyubi.

Artikel sebelumnya

Bernard memulai Perang Salib Kedua pada 31 Maret 1146. Disebuah lapangan di Vezelay, Perancis, dia memberi kotbah di sebuah panggung besar, dan membangkitkan semangat perang suci. Hadirin yang mendengar sangat antusiasi dan ramai-ramai bersumpah, sebagian bahkan berebut salib yang dipasang di atas panggung. Tak lama kemudian, telah terkumpul dua pasukan besar. Yang pertama dipimpin oleh Kaisar Conrad III, dan berangkat ke Yerusalem pada Mei 1146. Pasukan kedua dipimpin oleh Louis VII dan berangkat pada Juni. Perjalanan mereka tidaklah gampang. Saat sampai di sekitar Nicaea, pasukan yang dipimpin putranya Kilij Arslan, melakukan serangan untuk membalas kekalahan ayahnya di masa lalu. Saat itu pasukan Conrad III yang terdiri dari orang Jerman sedang kelelahan. Dan dalam pertempuran yang tak berlangsung lama, sembilan dari sepuluh tentara Jerman tewas. Sisanya melarikan diri ke kota Nicaea. Di sana mereka bertemu dengan pasukan Perancis yang juga baru saja kalah saat diserang pasukan Turki tatkala melewati kawasan Asia Kecil. Pasukan Jerman dan Perancis itu kemudian bergabung dan berangkat ke Yerusalem.

Sejarah mencatat bahwa Perang Salib Kedua ini adalah bencana militer dan politik bagi pihak Salibis. Pasukan Salib, yang ingin sekali mengalahkan Muslim, mengarahkan sasarannya ke Damaskus di Syiria. Tujuannya adalah memperkuat pertahanan di kawasan Timur dengan cara menguasai kota itu. Tetapi ini adalah blunder atau kesalahan fatal yang dilakukan Pasukan Salib. Saat itu Damaskus sedang menghadapi ancaman dari pasukan Zengi. Karenanya, sesungguhnya Damaskus adalah satu-satunya wilayah Muslim yang bekerjasama dengan orang Kristen dalam mempertahankan wilayah Damaskus dari serbuan Zengi. Bahkan Damaskus sudah menjalin aliansi dengan Kerajaan Kristen Yerusalem untuk menghadapi serangan Zengi. Karena itu, ketika Pasukan Salib menyerbu Damaskus, otomatis kota Muslim itu berubah menjadi lawan bagi pasukan Kristen dari Barat. Pasukan Salib bergerak ke Damaskus pada 25 Mei 1148. Begitu mendekati kota, pimpina Damaskus merasa dikhianati pasukan Kristen. Mereka kemudian meminta bantuan kepada putra Sultan Zengi, yakni Nuruddin Zengi, untuk melawan pasukan Kristen. Nuruddin ini terkenal dengan semangatnya untuk berjihad mengusir kaum Kristen dari tanah suci Yerusalem.

Pimpinan Damaskus merasa bahwa Nuruddin adalah satu-satunya pilihan untuk dimintai tolong, meskipun Nuruddin sendiri juga mengincar wilayah Damaskus.

Kota Damaskus dilindungi oleh hutan dan pohon-pohon buah-buahan.  Area hutan ini membentang sepanjan g 8 kilometer , dan tanaman itu tumbuh dengan rapat. Dan selain itu tanahnya juga banyak yang berlumpur. Pasukan Salib banyak yang tewas oleh serangan pasukan pemanah yang bergerak dalam unit-unit kecil, yang mengintai disela-sela pepohonan. Namun Pasukan Salib pantang menyerah dan berhasil memukul mundur pasukan pemanah. Kemudian Pasukan Salib melakukan kesalahan kedua. Mereka tidak mempertahankan wilayah hutan itu, tetapi justru bergerak ke area yang lebih terbuka di sebelah timur kota Damaskus. Pasukan Damaskus, dengan bantuan dari pasukan yang kembali dari utara, berhasil merebut kembali wilayah hutan. Sementara itu, Pasukan Salib yang sudah terlanjur berada di timur kota baru menyadari bahwa di sana tidak ada air dan tak ada tanaman. Di bawah musim panas yang menyengat, mereka segera sadar bahwa mereka tak mungkin menang perang dalam kondisi itu. Mereka akhirnya mundur dengan memalukan, kembali ke Yerusalem setelah bertempur sengit selama seminggu. Mundurnya Pasukan Salib ini mengakhiri Perang Salib Kedua. Akibat dari Perang Salib Kedua ini adalah kerugian bagi Kerajaan Kristen Yerusalem, sebab aksi mereka menyebabkan satu-satunya sekutu Muslim berubah menjadi musuh mereka. Dengan bergabungnya Damaskus dengan pasukan Nuruddin, maka pasukan Nuruddin memiliki tambahan kekuatan untuk menyerang kota Yerusalem.

Sultan Nuruddin terus berusaha merebut wilayah-wilayah kekuasaan Perancis di Timur Tengah. Namun ia kemudian disibukkan oleh peperangannya melawan penguasa Muslim di Mesir. Pasukan Salib memanfaatkan situasi ini. Mereka segera bergerak ke kota Ascalon, yang berada di antara Yerusalem dan Mesir, dan merupakan satu-satunya kota yang belum jatuh ke tangan pasukan Salib Perancis. Pada 1153 Pasukan Salib mengepung kota itu selama empat bulan, dan akhirnya berhasil dikuasai pada bulan Juli. Ini adalah kemenangan terbesar pasukan Salib, dan mungkin  kemenangan terakhir, sebab selama satu abad selanjutnya, pasukan salib lebih banyak mengalami kekalahan.

Sementara itu, Nuruddin mulai mendapatkan kemenangan. Pada April 1154 Damaskus jatuh ke tangan Nuruddin tanpa perlawanan. Kini Nuruddin  menguasai wilayah yang luas dan dengan pasukan yang besar. Ia adalah satu-satunya penguasa Muslim yang berpeluang besar mengusir pasukan Salib dari Timur Tengah. Namun, ia kembali disibukkan dengan peperangan menghadapi serangan pasukan Turki dari Utara dan dari pasukan Mesir. Pada saat ini ia sudah lanjut usia. Ia mulai mengurangi peperangan dan lebih banyak berdiam di Damaskus. Akhirnya ia mewariskan kekuasaannya kepada putranya, salah satu tokoh yang kelak dikenang sebagai pahlawan Islam terbesar, dan paling ditakuti Pasukan Salib, Sultan Saladin, atau Salahuddin al-Ayyubi. Untuk menghadapi Sultan Saladin inilah Eropa berinisiatif melancarkan Perang Salib Ketiga.

TINGGALKAN KOMENTAR