PERANG SALIB | SKETSA SEJARAH BAGIAN 5

PERANG SALIB | SKETSA SEJARAH BAGIAN 5

BAGIKAN

Baca Sebelumnya

PERANG SALIB Seketsa Sejarah 5
PERANG ATAS NAMA TUHAN bahkan sering lebih biadab: jika engkau merasa didukung Tuhan, terkadang kau lupa pada aturan -- engkau merasa berhak membantai musuh bahkan hingga ke perempuan, anak dan bayibayi, lalu kau berdoa mensyukuri kemenangan dan pembantaian yang telah kau lakukan.

PERJALANAN KE KOTA SUCI

Kini mulai muncul perselisihan. Bohemond dan Raymond terlibat pertengkaran tentang siapa yang akan menguasai kota Antioch. Bohemnond ingin menguasai untuk dirinya sendiri, sedangkan Raymond bersikeras untuk menunaikan janji pasukan salib, yakni mengembalikan kota itu kepada kekuasaan Alexius di Byzantium. Pada saat itu persediaan makanan semakin tipis, hingga pada level di mana sebagian pasukan terpaksa melakukan kanibalisme: memakan bangkai kawannya.

Pada waktu yang hampir bersamaan, terjadi perubahan besar di Mesir. Dinasti Fatimiyyah kembali berkuasa. Ini adalah peristiwa penting, karena kebangkitan dinasti itu melemahkan sendi-sendi dasar pasukan Salib. Dengan berkuasanya kembali Dinasti Fatimiyya menyebabkan Yerusalem jatuh ke tangan mereka, sehingga ancaman atas peziarah Kristen dari Seljuk menjadi hilang. Orang Kristen kembali memperoleh akses mudah ke Yerusalem. Semestinya Perang Salib sudah berakhir dengan ditaklukannya kota Antioch. Tetapi muncul alasan lain diluar akal sehat, alasan yang menjadi impian mereka sejak lama. Mereka digerakkan oleh semangat untuk menjalankan perang suci, memenuhi sumpah mereka dalam berjuang demi agama Kristen, dan keinginan untuk membantai umat Muslim sembari menaklukkan wilayah-wilayah Muslim. Sepanjang enam bulan selanjutnya pasukan Salib bergerak ke arah Yerusalem, yang berjarak 483 kilometer dari Antioch. Mereka tak banyak mendapat perlawanan di sepanjang perjalanan. Namun di dalam pasukan Salib terjadi perselisihan mengenai siapa yang akan  menguasai kota-kota taklukan, seperti Tripoli dan Arqa. Namun akhirnya, pasukan salib – yang tinggal berjumlah sekitar 20,000 tentara – sampai di bukit Montjoie. Mereka sampai dipuncaknya, dan didepan mereka terbentang kota yang hendak mereka taklukkan: Yerusalem. Sesudah tiga tahun mengalami kesulitan, penyakit,lapar, haus dan pertempuran hidup dan mati, mereka segera mendirikan kamp militer di luar kota Yerusalem pada tanggal 7 Juni 1990.

PENGEPUNGAN YERUSALEM

Sultan Mesir yang ditugaskan untuk menguasai dan menjaga Yerusalem tampaknya meremehkan kedatangan pasukan Salib. Sultan itu baru saja merebut Yerusalem dari kekuasaan Seljuq. Ia memiliki memiliki senjata 40 ketapel raksasa yang bisa menewaskan dan menghancurkan siapa saja yang ingin mendobrak benteng kota. Dia juga tahu bahwa pasukan salib tidak memiliki mesin perang dan tidak bisa membuat mesin semacamitu. Sultan Mesir sudah memerintahkan agar semua pohon dalam radius beberapa kilometer ditebang. Dia juga tahu bahwa pasukan salib tak punya banyak persediaan makanan dan minuman – sebab ia telah memerintakan agar semua sumur diluar kota Yerusalem diracuni. Tetapi Sultan Mesir yang menjaga Yerusalem itu khawatir pada sedikitnya pasukan yang menjaga Yerusalem. Namun Mesir berjanji mengirim bantuan pasukan yang akan sampai pada akhir Juli jika penguasa Yerusalem mampu bertahan sampai saat itu.

Sekali lagi, tampaknya ada kejadian luar biasa yang menyebabkan pasukan salib bangkit. Suatu hari kesatria Normandia bernama Tancred memimpin ekspedisi untuk mencari makanan. Mereka menemukan sebuah gua, dan didalamnya tersimpan ratusan batang pohon besar. Mereka segera membawa kayu glondongan itu dan mulai membuat menara setinggi benteng Yerusalem. Menara itu diberi roda dan nantinya akan digerakkan mendekati benteng sebagai cara bagi pasukan salib untuk masuk ke dalam benteng. Para pendeta memberi semangat dengan melakukan prosesi ritual berjalan telanjang kaki mengelilingi benteng dan diiringi dengansuara terompet dan genderang perang pasukan Salib. Cercaan dan ejekan dari pasukan Muslim justru menambah semangat pasukan Salib untuk segera merebut Yerusalem. Lima hari kemudian menara perang itu selesai. Pada 14 Juli 1099 malam, pasukan Salib mulai mendorong menara merapat ke tembok, sembari bertahan dari serangan pana dan bola api dari pasukan Muslim. Pada15 Juli, pagi hari, panglima perang Godfrey dan pasukannya berhasil merapatkan menara mereka di dinding utara benteng Yerusalem. Pasukan Salib segera naik menara dan melompat masuk ke dalam benteng. Mereka sukses membuka gerbang benteng dari dalam dan pasukan salib yang berada di luar benteng segera merangsek masuk.

PEMBANTAIAN

Kejadian selanjutnya sulit untuk dijelaskan. Pasukan Salib sama sekali tidak mematuhi kode etik kekasatriaan. Mereka berubah menjadi pasukan haus darah. Mereka menyerbu ke seluruh penjuru kota, membunuh siapa saja, termasuk perempuan, anak dan bayi. Sekitar 20,000 warga Yerusalem tewas. Pasukan Salib merangsek ke Masjid al-Aqsha dan membantai umat Muslim yang berlindung di sana. Mereka membakar sinagog, tempat ibadah Yahudi, dan membakar hidup-hidup umat Yahudi. Mereka merusak rumah dan menjarah harta. Dalam hitungan hari, tumpukan mayat semakin tinggi – sedikit orang Muslim dibiarkan hidup dan disuruh untuk membuang puluhan ribu mayat itu keluar kota Yerusalem, lalu membakarnya.

Pasukan Salib percaya bahwa pembantaian itu adalah kehendak Tuhan. Sesudah puas membantai, pasukan Salib berkumpul di Gereja Holy Sepulchre untuk berdoa, mensyukuri kemenangan dan pembantaian tersebut.

bersambung …

Hanya di Warkop Mbah Lalar

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR