PERANG SALIB | SKETSA SEJARAH BAGIAN 3

PERANG SALIB | SKETSA SEJARAH BAGIAN 3

BAGIKAN

Artikel Sebelumnya

Perang Salib bukan hasil dari proses mendadak, bukan karena tiba-tiba bangsa Eropa membantu Kaisar Byzantium dan merebut Yerusalem dari kaum Muslim. Meski benar bahwa itu adalah salah satu faktor pemicunya, namun ada banyak faktor lain yang lebih dominan yang menyebabkan bangkitnya bangsa Eropa melakukan Perang Salib: histeria religius, kemiskinan, perubahan sosial, kepentingan bisnis, ambisi politik dan kekuasaan Paus (Gereja Roma). Semuanya saling berkelindan mencipotakan sejarah perang yang panjang. Akibatnya adalah perang heroik dan pembantaian yang sering tanpa alasan, penjarahan, perampoikan, pengkhianatan, kesedihan, dan tragedi kemanusiaan.

Kita lanjutkan Seketsa Sejarah di Balik terjadinya Perang Salib yaitu Motif lain dari semangat bangsa Eropa mengobarkan perang adalah karena meningkatnya usaha untuk memperkuat pengaruh Paus, pimpinan Gereja Katolik Roma.  Perang Salib menjadi salah satu cara yang dipakai Paus untuk menegakkan otoritasnya di atas penguasa “keduniawian” yakni raja-raja dan bangsawan. Pada abad 9 M dan awal abad 10 M lembaga kepausan masih relatif lemah, sebab dari tahun  896 M sampai 904 M terjadi pergantian Paus sampai delapan kali. Tak satupun di antara mereka yang berkuasa cukup lama untuk memperkuat otoritas kepausan. Paus Gregory VII (berkuasa dari 1973 sampai 1086) terlalu sibuk memperkuat gereja di Barat dalam rangka merespon permintaan bantuan dari Konstantinopel. Namun Paus Gregory VII sempat mempertahankan harapan untuk menyatukan dua cabang gereja Kristen.

Adalah Paus Urban II yang merealisasikan permintaan tolong itu dan menggunakan Perang Salib sebagai cara untuk memperkuat kekuasaan Gereja. Paus Urban II adalah dari keturunan bangsawan Perancis, jadi Perang Salib selalu mengandung karakter Perancis dan kebanyakan dipimpin oleh bangsawan Perancis. Tetapi ada sedikit pengecualian, dan yang paling terkenal adalah Raja Richard dari Inggris, (terkenal dengan julukan Richard the Lionheart/Coeur de Lion). Sementara itu, di Timur Tengah, umat Muslim menyebut pasukan salib sebagai Franj, atau Franks (bangsa Frank, Perancis). Jadi, ketika Paus mengemukakan khotbah Perang Suci di Clermont, dia berbicara kepada warga Perancis, khususnya dari kalangan bangsawan Perancis.

Pada masa itu, Eropa masih terpecah belah. Meskipun raja Perancis Charles Martel (688-741) berhasil menahan laju Muslim ke Perancis dan cucunya, Charlemagne (Charles yang Agung) berhasil memperkuat kerajaan Perancis, namun secara umum bangsa Eropa saat itu menjadi medan pertikaian antara tuan tanah (baron) dan bangsawan. Paus Urban ingin menghentikan pertikaian ini, memastikan agar Muslim di Spanyol tidak memperluas kekuasaannya, dan memperkuat kekuasaan kepausan.

Perang Salib adalah salah satu cara untuk mewujudkan keinginan itu. Perang Salib memberi bangsa Eropa tujuan bersama. Perang Salib menciptakan gencatan senjata antar kekuatan yang bertikai di Eropa dan menyatukan energi mereka untuk fokus pada perang di tanah suci. Bahkan Perang Salib bisa mengurangi jumlah penduduk Eropa karena tentu akan ada banyak yang tewas dan dengan memindahkan sebagian warganya ke daerah di Timur yang  berhasil mereka kuasai. Perang Salib membuka peluang bagi para ksatria untuk melakukan sesuatu.

Perang Salib juga memberi sarana jaminan ekonomi bagi anak-anak kedua dan ketiga (dan seterusnya) dari bangsawan dan tuan tanah. Pada saat itu anak-anak kedua (dan adik-adiknya) tidak punya prospek ekonomi cerah karena adanya sistem yang disebut “primogeniture.” Dalam sistem ini, lahan dan perkebunan milik bangsawan dan tuan tanah tetap utuh, tidak dibagi-bagi kepada anak,  dimana tanah itu semuanya diwariskan langsung kepada anak pertama saja. Banyak adik-adik dari anak pertama itu, terutama yang tidak mau menjadi pendeta, menempuh pendidikan sebagai ksatria perang, dan menjadi anggota pasukan salibis. Mereka bisa mendapatkan tanah sendiri – sebab Paus berjanji bahwa mereka boleh menguasai setiap wilayah yang mereka taklukkan selama Perang Salib. Bagi generasi muda bangsawan Perancis, faktor  ini menjadi faktor utama yang membuat mereka berangkat ke medan perang. DI negara lain yang tidak menerapkan sistem primogeniture, para bangsawan memanfaatkan perang salib untuk menjaga kepemilikan atas tanah mereka. Perang Salib I memperlihatkan banyak contoh nyata dari motif ekonomi ini. Misalnya, sesudah sukses menaklukkan Nicea dan Dorylaeum, dua bangsawan Perancis yang memimpin pasukan salibis, Baldwin dan Tancred, berseteru satu sama lain. Mereka berebut untuk menguasai wilayah itu.

Jadi, di satu sisi, Perang Salib merupakan bagian dari upaya bangsawan dan ksatria untuk mendapatka n kehormatan dan kemenangan. DI sisi lain, sebagian salibis memang berniat membebaskan Yerusalem dari tangan kaum Muslim. Tetapi ahli sejarah menyatakan bahwa apapun motif dasarnya, faktanya adalah Perang Salib terutama merupakan persoalan bisnis dan politik. Selama hampir dua ratus tahun perang, intrik politik lebih sering terjadi ketimbang perangnya:  para bangsawan Eropa berebut soal siapa yang berhak menguasai Yerusalem dan negara-negara yang ditaklukkan salibis, dan tentu saja, mereka saling berlomba mengumpulkan kekayaan. Jadi meski Paus tidak selalu puas dengan hasil Perang Salib, yang pada akhir ya gagal menguasai Yerusalem, namun Perang Salib jelas membantu menciptakan musuh bersama bagi  bangsa Eropa, menyatukan bangsa Eropa, dan pada saat yang sama, menaikkan kekayaan ekonomi dan  kemakmuran banyak bangsawan Eropa.

Salah satu keuntungan jangka panjang dari Perang Salib adalah perang menciptakan sistem perdagangan, pembiayaan perang, dan sistem kredit yang lebih rapi diseluruh kawasan  Mediterania. Apa-apa yang awalnya merupakan biaya perang, belakangan menjadi sumber keuntungan pada masa damai. Orang-orang yang berperan penting dalam sistem ini, dan mendapat banyak keuntungan, adalah para pedagang dari Italia seperti pedagang dari Venice, Pisa dan Genoa. Kota-kota itu berada dilokasi strategis dan memiliki pelabuhan penting. Karenanya tidak heran jika mereka mendapat banyak keuntungan.

perang salib | seketsa sejarah 3
Motif lain dari semangat bangsa Eropa mengobarkan perang adalah karena meningkatnya usaha untuk memperkuat pengaruh Paus, pimpinan Gereja Katolik Roma. Perang Salib menjadi salah satu cara yang dipakai Paus untuk menegakkan otoritasnya di atas penguasa “keduniawian” yakni raja-raja dan bangsawan. Pada abad 9 M dan awal abad 10 M lembaga kepausan masih relatif lemah, sebab dari tahun 896 M sampai 904 M terjadi pergantian Paus sampai delapan kali. Tak satupun di antara mereka yang berkuasa cukup lama untuk memperkuat otoritas kepausan.

Jadi, ringkasnya, Perang Salib bukan hasil dari proses mendadak, bukan karena tiba-tiba bangsa Eropa membantu Kaisar Byzantium dan merebut Yerusalem dari kaum Muslim. Meski benar bahwa itu adalah salah satu faktor pemicunya, namun ada banyak faktor lain yang lebih dominan yang menyebabkan bangkitnya bangsa Eropa melakukan Perang Salib: histeria religius, kemiskinan, perubahan sosial, kepentingan bisnis, ambisi politik dan kekuasaan Paus (Gereja Roma). Semuanya saling berkelindan mencipotakan sejarah perang yang panjang. Akibatnya adalah perang heroik dan pembantaian yang sering tanpa alasan, penjarahan, perampoikan, pengkhianatan, kesedihan, dan tragedi kemanusiaan.

Sekarang mari kita tengok jalannya Perang Salib: kita mulai dari Perang Salib I

BERSAMBUNG ke Bagian 4  Hanya ada di WARKOP

Salam
Mbah Kanyut

TINGGALKAN KOMENTAR