PERANG SALIB | SKETSA SEJARAH BAGIAN 17

PERANG SALIB | SKETSA SEJARAH BAGIAN 17

BAGIKAN

KEHANCURAN FINAL PASUKAN SALIB

PERANG SALIB | SKETSA SEJARAH BAGIAN 17Di tangan Baybar, atau Rukn al-Din Baybars Bunduqdari, yang berkuasa di Mesir, pasukan salib mengalami kehancuran. Pada 1265 Baybar menyerbu Casearea (ibu kota Romawi lama di Palestina), merebut kota, dan menghancurkannya. Dia kemudian menghancurkan Haifa dan Arsuf (sekarang masuk wilayah Israel). Pada 1266 Baybar menyerbu benteng pasukan salib di Saded, salah satu benteng terkuat terakhir pada Ksatria Templar, di dekat laut Galilea. Pasukan Ksatria Templar menyerah setelah diberi janji mereka boleh pergi ke Acre. Namun Baybar mengingkari janji – semua ksatria Templar dipenggal kepalanya. Penguasa Mamluk ini kemudian bergerak ke Toron, sedangkan sebagian pasukan Mamluk lainnya menyerbu Cilicia (kawasan Turki). Di sepanjang perjalanan pasukan Mamluk membunuh setiap orang kristen yang mereka jumpai.

Pada saat ini sisa-sisa kerjaaan kristen di Levant adalah Acre, Jaffa, Antioch, Tripoli dan beberapa kota kecil. Baybar menyerbu Acre pada 1267, namun kota itu bentengnya sangat kuat. Karenanya, Baybar bersedia melakukan gencatan senjata. Pada saat inilah Raja Louis IX di Perancis mencoba mengajak Eropa mengobarkan perang salib kedelapan. Sementara itu, pedagang Venesia di Acre setuju menjual barang kepada pasukan Baybar, termasuk kayu dan besi dari Eropa yang dapat digunakan untuk membangun peralatan tempur. Pedagang Genoa (saingan pedagangan Venesia) tak mau rugi. Mereka juga menjual budak ke Mamluk. Karena masih ada perjanjian damai dengan Acre, pasukan Baybar menyerbu Jaffa pada 1268. Setelah dikepung selama setengah hari, Jaffa kalah dan dihancurkan. Baybar kemudian beralih menyerang Antioch. Setelah berhasil merebut Antioch, pasukan Mamluk menghancurkan kota dan membunuh semua orang Kristen. Dengan berbekal peralatan tempur yang canggih, pasukan Baybar sukses merebut Krak des Chevaliers, yang selalu sukses menahan gempuran pasukan Muslim sejak perang salib ketiga.

Kini satu-satunya kota penting yang tersisa adalah Acre. Tetapi Baybar meninggal dunia pada 1277, sehingga serangan Mamluk ke kota itu tertunda. Empat belas tahun kemudian, pada 1285, penerus baybar, Sultan al-Mansur Qawalun, merebut Margat, salah satu benteng pasukan salib. Dia kemudian mengepung Tripoli dan berhasil dikalahkannya pada 1289. Kekalahan-kekalahan ini sekarang tak lagi dipedulikan bangsa Eropa. Negara-negara Eropa sudah lelah dengan perang salib. Sisa-sisa kekuatan Mongol diwilayah itu mengirim utusan kepada raja Inggris, Edward I. Mereka mengusulkan persekutuan melawan Qalawun, tetapi Edward sedang sibuk berperang dengan negeri Skotlandia. Raja Philip IV dari Perancis juga enggan menjalin sekutu dengan Mongol. Paus kemudian mengirim pasukan salib Italia pada 1290, namun kedatangan mereka menimbulkan bencana. Qalawun sudah menandatangani perjanjian damai lanjutan dengan Acre, dan siap hendak pulang. Namun pasukan salib Italia itu tidak peduli pada perjanjian damai. Mereka bertujuan memerangi Mamluk. Suatu hari sebagian pasukan salib Italia itu mabuk-mabukan dan membunuh beberapa petani Muslim yang sedang membawa hasil panen menuju Acre. Penguasa Acre tentu saja cemas, namun situasi sudah memburuk.

Qalawun bersumpah membalas dendam. Dia membawa tentara menuju Acre, namun dia mati d PERANG SALIB | SKETSA SEJARAH BAGIAN 17i tengah perjalanan. Putranya, Al-Ashraf Khalil, bersumpah meneruskan dendam ayahnya. Dia mengumpulkan tentara dalam jumlah besar – sekitar 60,000 pasukan kavaleri, 160-an pasukan jalan kaki, dan banyak mesin perang yang mengerikan. Sementara itu, pasukan salib Italia berusaha memperkuat benteng, mengevakuasi wanita, anak dan orang tua ke luar kota – yang tersisa di dalam kota adalah 1000 ksatria, 14,000 tentara dan sekitar 30,000 penduduk siap perang.

Pengepungan Acre dimulai pada 6 April 1291 dan berlangsung selama enam pekan. Selama pengepungan, pasukan Ashraf hampir setiap hari menghujani kota dengan bom api dan batu. Beberapa mesin pelontar mereka bahkan bisa melempatkan batu seberat 250 kilogram. Pada 18 Mei al-Ashraf melancarkan serangan besar-besaran dan berhasil merebut kota. Apa yang terjadi mirip dengan penaklukan Yerusalem oleh pasukan Salib pada 1099: saat itu pasukan salib membantai semua orang muslim. Kini, hampir 2 abad kemudian, pada tahun 1291, gantian pasukan muslim yang membantai semua orang Kristen. Semua ksatria Templar, sekitar 300 orang, dipenggal kepalanya. Kota Acre kemudian dihancurkan dan dibakar. Yang tersisa hanyalah kastil Templar di Ruad. Pasukan salib berakhir riwayatnya di Acre. Perang salib berakhir resmi pada 1291: diawali dengan pembantaian terhadap warga muslim di Yerusalem, dan diakhiri dengan pembantaian terhadap kaum Kristen di Acre. Demikianlah, pertumpahan darah selama hampir 2 abad pun berakhir.

Lantas apa akibat dan konsekuensi dari perang yang berkepanjangan ini?

BERSAMBUNG

TINGGALKAN KOMENTAR