PERANG SALIB | SKETSA SEJARAH BAGIAN 15

PERANG SALIB | SKETSA SEJARAH BAGIAN 15

BAGIKAN

Artikel sebelumnya

NASIB YAHUDI

Bagian paling mengerikan dalam sejarah perang salib adalah perlakuan atas Yahudi oleh orang-orang Kristen Eropa, baik di Eropa maupun di Timur Tengah. Pada mulanya orang Yahudi hanya menjadi bahan ejekan, tetapi selama masa perang, mereka menjadi sasra pembantaian dan penyiksaan. Banyak tentara salib membunuh orang-orang Yahudi sepanjang perjalanan dari Eropa menuju tanah suci Yerusalem. Orang-orang Yahudi kehilangan nyaa, rumah, harta, sebagai akibat perasaan anti Yahudi yang sengit di kalangan orang Eropa.

Selama berabad-abad, orang Yahudi memeringati horor yang mereka alami selama perang salib. Ingatan ini juga disejajarkan dengan kenangan mengerikan lain di masa holocaust (pembantaian massal atas Yahudi) selama rezim Nazi Hitler di Jerman sebelum Perang Dunia II. Seorang sejarawan menulis bahwa pada masa perang salib “jalan menuju tanah suci diingat sebagai holocaust pertama.”

Saat Paus Urban II menyerukan perang salib pertama pada 1095, orang Yahudi sudah memiliki komunitas tersebar di seluruh Eropa. Di hampir setiap kota dapat dijumpai sinagog, sekolah dan kuburan Yahudi, dan para rabbi (pendeta Yahudi), dan beberapa di antara mereka memiliki hubungan dekat dengan penguasa karena mereka memiliki pengetahuan luas. Tetapi identitas religius Yahudi dan penggunaan bahasa Hebrew menyebabkan komunitas Yahudi terpisah dari komunitas Kristen.

Banyak orang Kristen memandang komunitas Yahudi sebagai musuh dari Kristen. Menurut mereka, Yahudi bukan bagian dari “kami” orang Kristen. Mereka adalah “orang asing.” Orang yang berbeda jalan hidup dan dalam hal ini orang Yahudi disamakan dengan orang Muslim. Dan memang di banyak negara, orang Yahudi tidak berasimilasi dengan masyarakat – mereka tampil beda, mengenakan pakaian berbeda, bicara dengan bahasa sendiri, melakukan ritual agama sendiri, dan tidak mau berbaur dengan komunitas Kristen di sekelilingnya, seperti di Perancis, Jerman, Inggris, Spanyol dan lain-lain.

Sepanjang abad 10 dan 11 Masehi, Kristen Eropa merasa takut akan ancaman dari kesultanan Muslim. Kesultanan Islam sudah menyebar di wilayah Mediterania dan Spanyol, dan di abad delapan sudah sempat hendak masuk Perancis tetapi berhasil dipukul mundur oleh Kristen Perancis. Karena rasa cemas ini, orang Kristen terbiasa menyebut mereka sebagai “musuh Tuhan” dan menyerukan tindakan balas dendam kepada musuh. Meski Yahudi bukan ancaman, tetapi mereka bukan orang Kristen, jadi mereka juga dianggap “musuh.” Juga sepanjang periode ini muncul “pemujaan salin” di kalangan Kristen.

Salib yang dimaksud adalah salib yang diyakini digunakan untuk memaku Yesus sampai mati. Pasukan salib bersumpah akan membebaskan salib dari kekuasaan Muslim.Sebagai lambang sumpah, mereka mengenakan baju dan tameng yang berlukiskan tanda salib.

Perang Salib | Nasib Yahudi

Semasa kekuasaan Kaisar Konstantinus di Romawi di abad 4 Masehi, di Yerusalem ditemukan relik (benda kuno) yang disebut Salib Sejati, yang diyakini sebagai salib yang dipakai untuk menghukum Yesus. Pada abad-abad berikutnya, gambaran penderitaan Yesus di tiang salib menjadi penting bagi iman Kristen. Pemujaan pada salib menyebabkan orang Kristen mulai membenci Yahudi, yang dianggap berperan dalam memfitnah Yesus hingga ia dihukum mati di tiang salib.

Karena itu orang Kristen mengajak orang Yahudi agar bertobat dan masuk Kristen. Tetapi kemudian terjadi pergeseran keyakinan tanpa dasar: orang Kristen curiga bahwa Yahudi adalah agen-agen Muslim di Yerusalem. Di Perancis muncul dugaan bahwa orang Yahudi Perancis meminta Kaisar Perancis untuk menghancurkan Gereja Suci di Yerusalem, yang merupakan situs makan Kristus. Tuduhan ini menimbulkan gelombang pembunuhan terhadap orang Yahudi di abad 11.

Orang Kristen juga yakin bahwa Yahudi mendukung kekuasaan Muslim atas Yerusalem. Dugaan ini sebagian benar. Orang-orang Yahudi merasa hidupnya lebih aman dan baik di bawah kekuasaan Muslim, ketimbang jika hidup di bawah kekuasaan Kristen Byzantium sebelum Muslim datang. Tetapi apapun itu, bagi orang Kristen, orang Yahudi sama dengan orang Islam; di mata Kristen, umat Yahudi dan Islam adalah “orang kafir.” Karena itu, saat Paus Urban II menyerukan perang salib pertama,  banyak ksatria Kristen menafsirkannya sebagai perang melawan orang kafir, yakni melawan siapa saja yang tidak percaya pada ajaran Kristen. Target pertama mereka adalah orang Yahudi Eropa.

Dan dimulailah pembantaian itu selama masa perang salib. Misalnya, pada perang salib kedua (1947-1049) ada penyerangan terhadap Yahudi di kota Wurzburg di Jerman. Perang perang salib ketiga (1189-92), raja Richard I diangkat menjadi raja Inggris, dan saat itu muncul kerusuhan anti Yahudi di kota York. Tetapi kekerasan paling parah terjadi selama perang salib pertama (1095-1099). Ada banyak keterangan saksi mata dalam catatan sejarah, baik dari orang Yahudi maupun non-Yahudi, bahwa kekerasan pecah di kota-kota seperti Speyer, Mainz, Cologne, dan Worms di Jerman, juga di Regensburg dan Praha (Republik Czech saat ini). Kota-kota ini dilalui pasukan salib dalam perjalanan menuju tanah suci.

Di Worms, orang Yahudi mendengar bahwa kota Speyer sudah diserang, jadi mereka meminta perlindungan dari Uskup Kristen di Worms. Mereka membayar kepada uskup agar dilindungi. Tetapi saat pasukan salib tiba, mereka segera membantai orang yahudi, semuanya, mulai dari pria, wanita, anak dan bayi. Pemimpin pasukan salib bernama Emicho dari Leiningen membawa anak buahnya menjarah rumah-rumah Yahudi, untuk membiayai perjalanan mereka ke tanah suci. Mereka menghancurkan kuburan Yahudi, membakar sinagog besar, dan memaksa orang Yahudi dibaptis masuk Kristen. yang menolak akan dibunuh atau disuruh bunuh diri. Dalam banyak kasus, para suami Yahudi membunuh lebih dulu anak dan istrinya, ketimbang mereka disiksa dan diperkosa lalu dibunuh oleh pasukan Salib. Secara keseluruhan, sekitar 8000 orang Yahudi tewas.

Pasukan salib lalu bergerak ke Mainz, dan melakukan kebrutalan yang sama pada 1096. Orang yahudi yang membayar uskup untuk dilindungi tetap saja ikut dibunuh. Orang-orang Yahudi yang terjebak di gereja berusaha melawan, tetapi sia-sia. Karena putus asa, banyak orang Yahudi lalu memaki-maki Yesus dan Maria, lalu membunuh anak istrinya, kemudian bunuh diri. Sekitar 9000 orang Yahudi tewas dalam pembantaian itu.

Namun tidak semua orang Kristen Eropa setuju dengan pembantaian ini. Banyak pendeta Kristen berusaha mencegah, menghukum orang Kristen yang membantai Yahudi. Banyak ksatria menghukum anak buahnya yang ikut dalam pembantaian. Tetapi upaya itu tidak efektif. Pembantaian terus terjadi. Selama Perang Salib II, uskup Bernard berusaha menggunakan pengaruhnya untuk menghentikan pembantaian itu. Dan ada banyak upaya lain dari orang Kristen yang berusaha menolong Yahudi. Namun pembantaian di Worm, Mein dan kota lain tidak memuaskan rasa haus darah pasukan salib. Saat pasukan salib merangsek ke Yerusalem pada 1099, mereka tak hanya membantai orang Muslim, tetapi juga seluruh orang Yahudi yang sebagian besar berlindung di Sinagog.

Sikap anti-Yahudi atau anti-Semitisme ini terus membara selama dan sesudah perang salib. Mereka menuduh orang Yahudi sebagai “pembunuh Kristus.” Selama berabad-abad orang Yahudi di Eropa ditekan dan ditindas. Kadang mereka diusir jika tak mau masuk Kristen, seperti terjadi di Inggris pada 1290, Perancis pada 1394, dan Spanyol pada 1492. Karena mereka dihalang-halangi dalam mencari nafkah yang wajar, maka banyak orang Yahudi akhirnya menjadi tukang rente (riba), meminjamkan uang dengan bunga tinggi. Karena itu orang Yahudi menjadi terkenal karena keserakahannya. Salah satu warisan perang salib yang terus bertahan sampai sekarang adalah warisan kebencian kepada Yahudi, dan rasa  saling tak percaya antara Kristen dengan yahudi.

 Tunggu bagian selanjutnya

Bersambung

TINGGALKAN KOMENTAR