PERANG SALIB | SKETSA SEJARAH BAGIAN 12

PERANG SALIB | SKETSA SEJARAH BAGIAN 12

BAGIKAN

Atikel Sebelumnya

PERANG SALIB KEENAM

Pada periode ini pasukan salib berhasil menguasai kembali Yerusalem tanpa menumpahkan darah. Otak dibalik prestasi ini adalah Kaisar Frederick II, cucu dari Frederick Baraborssa. Frederick adalah penguasa paling kuat di Eropa pada masa itu. Dia dalam bahasa Latin dijuluki Stupor Mundi, “Keajaiban Dunia.” Melalui perannya Eropa kembali menguasai Yerusalem.

Frederick bersumpah merebut kota suci Yerusalem saat naik tahta pada 1215, namun selama 12 tahun dia tak melakukan apa-apa. Dia ingin memimpin pasukan salib, tetapi harus dengan aturan yang dia tetapkan sendiri, tanpa harus tergantung pada Paus. Dia tak tertarik dengan ideologi agama dan dia tak ingin mengalahkan Islam. Dia hanya ingin memperluas wilayahnya. Bagi Frederick, memasukkan Yerusalem ke dalam kekuasaannya akan memperkuat posisinya dalam sejarah dunia sebagai pemimpin dunia yang “ajaib.”

Sementara itu raja John di Yerusalem semakin tua. Tahtanya nanti mesti diserahkan kepada putrinya, Isabella Yolanda. Seperti semua putri raja pasukan salib, Isabella dapat mewarisi tahta tetapi tidak bisa memerintah sebagai raja Yerusalem. Raja John harus mencarikan suami. Paus menyarankan agar Isabella dinikahkan dengan Frederick, yang istrinya baru saja meninggal dunia. Dengan perkawinan ini, maka problem suksesi akan terpecahkan, dan menyebabkan Yerusalem akan dipimpin oleh raja yang kuat

Semua pihak sepakat, dan pada 1225 pernikahan mereka dilaksanakan di Italia. Isabella, yang saat itu baru berusia 14 tahun, diangkat menjadi ratu, tetapi dia tahu ayahnya akan tetap menjadi raja sampai dia meninggal. Tetapi Frederick ingin merebut kekuasaan, dan karenanya dia memaksa John untuk menyerahkan tahtanya. Maka Frederick menjadi penguasa Yerusalem tanpa menginjakkan kaki di sana. Tetapi “kekuasaan” Frederick hanya sebentar. Sebab Isabella melahirkan. Putranya, Conrad, menjadi raja, dan Frederick hanya bertindak sebagai regent (orang yang mewakili raja yang masih kecil). Tetapi dia tahu para bangsawan bisa jadi memilih orang lain sebagau regent. Karenanya dia menunjukkan kekuatannya dan memaksa para bangsawan dan baron tunduk padanya. Untuk itu, berangkat ke Cyprus, dan mengancam para bangsawan di sana serta memenjarakan putra raja Cyprus. Raja dan bangsawan Cyprus tak punya pilihan dan terpaksa tunduk.

Selama bertahun-tahun Frederick menjalin hubungan surat-menyurat dengan Sultan Mesir, al-Kamil. Dalam surat-surat itu, yang juga banyak berisi perbincangan soal filsafat dan sastra, Frederick tahu bahwa al-Kamil diancam oleh sultan Damascus, al-Mu’azzam Shamsuddin Turan Shah, yang masih terbilang saudaranya.  

Al-Mu’azzam sedang menyiapkan pasukan untuk menyerbu Mesir, dan al-Kamil sedang menjajaki kemungkinan untuk bekerja sama dengan Frederick. Tetapi sebelum pasukan Damascus menyerbu, sultan Mu’azzam wafat. Karenanya al-Kamil tak lagi berniat menjalin aliansi dengan Frederick. Tetapi sultan baru di Damaskus ternyata juga menyiapkan ancaman ke Mesir, karenanya al-Kamil bernegosiasi lagi dengan Frederick. Tetapi al-Kamil harus cari cara agar tak diejek oleh penguasa Muslim lainnya karena mau bekerja sama dengan raja Eropa. Frederick, yang ahli diplomasi, setuju membantu al-Kamil. Frederick menggerakkan 3000 ksatrianya ke satu arah, dan al-Kamil juga menggerakkan pasukannya ke arah pasukan Frederick. Saat kedua pasukan bertemu, keduanya melakukan “negosiasi”, meski sebenarnya mereka sudah menyepakati kerjasama sebelumnya.

Pada 12 Februari 1229, kedua pasukan bertemu di Jaffa dan menandatangani perjanjian damai. Dalam perjanjian Jaffa ini al-Kamil sepakat menyerahkan Yerusalem, Bettlehem dan Nazareth, dan juga jalur akses  ke laut, kepada Frederick. Sebagai imbalannya, pihak Muslim diberi akses ke Yerusalem dan tempat-tempat suci Muslim di Yerusalem tetap dikuasai Muslim. Dengan penandatanganan ini Yerusalem jatuh ke tangan Kristen. Ini adalah salah satu kejadian langka di mana diplomasi (negosiasi) menggantikan perang.

Tetapi perjanjian ini dikecam oleh pihak Muslim lain dan juga oleh bangsa Eropa. Kaum Muslim di wilayah Timur Tengah marah kepada al-Kamil karena menyerahkan Yerusalem begitu saja tanpa peperangan. Beberapa pasukan salib yang haus darah juga marah karena mereka tak lagi punya kesempatan untuk membunuh orang Muslim. Namun Frederick mengabaikan protes mereka. Dia ingin menjadi raja Yerusalem, tetapi saat dia memasuki kota Yerusalem, pada 17 Maret 1229, hampir semua warga tidak menghormatinya. Pada hari berikutnya, Frederick pergi ke Gereja Suci dan mengangkat dirinya sebagai raja. Orang yang menghadiri penobatannya hanya pasukannya. Lalu Frederick kembali ke Acre, dan di sana dia mendapat perlawanan dari para Baron/bangawan. Muncul kabar bahwa Paus mengumpulkan pasukan untuk menyerbu wilayah kekuasaan Frederick di selatan Italia. Fredercik tahu bahwa dia harus mempertahankan wilayahnya. Setelah mengganti pasukan Frank dengan pasukan Jerman, dia berangkat dari Acre pada 1 Mei 1229 pada pagi hari. Saat dia melewati kota bernama Butcher’s Quarter, para tukang jagal hewan mengenalinya, dan mengejar-ngejarnya dan melemparinya dengan ikan busuk.

PERANG SALIB KETUJUH

Perjanjian damai Jaffa berlaku 10 tahun, tetapi orang-orang Frank (pasukan salib) menghabiskan 10 tahun itu dengan bertikai satu sama lain. Pada 1224, dinasti Turki lain, Khwarismian, menyerang Yerusalem, dan banyak pasukan Kristen yang tewas. Pasukan salib Frank lalu menjalin kerja sama dengan Muslim Syiria untuk mengusir pasukan Turki, namun pasukan Turki, bersama dengan Mesir, berhasil mengalahkan mereka dalam Pertempuran Harbiyah pada Oktober 1224.

Eropa lalu mengumumkan Perang Salib Ketujuh, kali ini dipimpin oleh Kaisar Louis IX dari Perancis, raja yang sangat fanatik dalam beragama. Louis berangkat pada musim panas 1248 dan tiba di tanah suci pada 1249. Bersama pasukannya dia bergerak ke kota Mansurah. Dia mengepungnya, namun pada 8 Februari 1250, pasukan Mesir menyerang, dan memutus rute pasokan untuk pasukan salib. Louis bertahan sampai April, namun pasukannya mulai kelaparan, dan Louis sendiri jatuh sakit. Pasukan Salin mencoba mundur namun pasukan Mesir mengejar sampai Louis tertangkap. Louis dan panglima perangnya ditahan, namun mereka akhirnya ditebus dan dikembalikan ke Eropa. Tebusannya adalah Damietta dikembalikan ke Mesir.

Sekali lagi, upaya pasukan salib menguasai tanah suci gagal, dan sejak itu pasukan salib nyaris selalu gagal. Eropa mulai bosan dengan perang salib, dan makin sedikit orang Kristen yang tinggal atau bertahan di wilayah Yerusalem.

demikian sketsa bagaimana upaya Eropa untuk menguasai Yerusalem. sesudah ini, kita akan lihat bagaimana respon kaum Muslim itu terhadap serangan Eropa, dan siapa saja pihak-pihak Muslim yang ikut bermain dalam perang salib, serta seperti apa peran dan nasib bangsa Yahudi dalam peperangan panjang ini.

bersambung.

TINGGALKAN KOMENTAR