PERANG SALIB | SKETSA SEJARAH BAGIAN 11

PERANG SALIB | SKETSA SEJARAH BAGIAN 11

BAGIKAN

Artikel Sebelumnya

PERANG SALIB KELIMA

Tak ada perbedaan penting antara perang salib keempat dengan perang salib kelima. Perang kali ini menjadi bencana bagi kaum Kristen di kawasan Timur. Yerusalem telah menandatangani perjanjian dengan Malik al-Adil, penguasa Syiria, yang menguasai kota Yerusalem, dan selama 15 tahun tidak ada peperangan. Karena perjanjian damai itu akan berakhir pada 1215, raja Yerusalem memohon kepada Paus untuk memulai perang baru. Paus Innocent III setuju. Dia ingin menjaga agar semangat perang salib terjaga. Perang Salib adalah salah satu cara yang bisa dipakai Paus untuk tetap menguasai gereja. Dia mengadakan konsili di Roma. Pertemuan besar ini dihadiri oleh ratusan pendeta. Paus menetapkan aturan baru untuk perang kali ini. Pasukan salib dijadwalkan berangkat ke tanah suci pada 1 Juni 1217. Tetapi Paus Innocent tidak sempat menyaksikan perang ini, karena ia meninggal pada 1216.

Pada musim semi 1218, ratusan kapal dari Jerman dan Perancis tiba di Acre, di mana Raja John sudah siap dengan rencana Perang Salib Kelima. Dia berpendapat bahwa cara terbaik untuk mengawali perang adalah dengan menyerang Mesir, negara paling kaya di kawasan itu. Rencana ini dirancang oleh para pedagang Italia yang ingin mengeruk kekayaan dari Mesir. Para pedagang itu ingin mendapat keuntungan ekonomi yang sama sebagaimana pernah diraih oleh pasukan Perang Salib Keempat.  Para pedagang itu mencoba meyakinkan pasukan salib bahwa jika pasukan Muslim bisa diusir dari Mesir, sebagian tentara salib bisa menyerang Yerusalem dari selatan, dan sebagian lainnya bisa menyerang dari Acre. John bukanlah pemimpin perang yang pandai. Maka ia mau saja melaksanakan strategi yang buruk ini. Sekali lagi, sebagaimana perang salib keempat, perang salib kelima ini bukan didasari oleh motif religius, tetapi motif ekonomi.

Pengepungan Damietta

Tujuan pertama adalah kota pelabuhan Damietta. Dengan merebut Damietta, pasukan salib bisa menguasai sungai Nil dan seluruh Mesir. Kapal perang pasukan salib berangkat ke Damietta pada Mei dan sampai ke Nil pada Agustus 1218. Tetapi mereka bertemu dengan benteng kota Damietta yang kokoh. Karenanya mereka melakukan pengepungan selama hampir setahun, sampai November 1219. Pada bulan itu kota itu akhirnya jatuh ke tangan pasukan salib.

Tetapi pengepungan Damietta ini merupakan kesalahan fatal yang dilakukan  pasukan salib. Paus mengirimkan wakil personal, seorang kardinal (pendeta tertinggi selain Paus) bernama Pelagius dari Portugal. Pelagius adalah pendeta yang kasar, keras kepala, yang tidak mau bernegosiasi dengan kaum Muslim. Tujuannya adalah memerangi umat Muslim. Dia percaya bahwa selama  masih ada pasukan Muslim, kekuasaan Kristen di Timur akan selalu terancam. Sikapnya yang keras kepala berbuah bencana.

Sultan Mesir, yang menyadari tak bisa mempertahankan Damietta, dan juga merasa Mesir terancam, menawarkan perjanjian damai dengan kaum Kristen. Sultan Mesir berjanji, jika pasukan salib mau pergi dan pulang, ia akan mengembalikan relik Salib Sejati dan saudaranya yang menguasai Syira akan memberikan seluruh wilayah Palestina dan Yerusalem kepada pasukan salib. Sultan hanya minta agar jalur perdagangan antara Mesir dan Syiria tetap dibuka. Sepertinya tujuan Pasukan Salib selama  berpuluh-puluh tahun akan tercapai. Mereka bisa menguasai Yerusalem dan pulang tanpa perlu perang. Tetapi yang mengherankan bagi tentara salib adalah kardinal Pelagius menolak tawaran Sultan Kamil itu. Penolakan Pelagius ini didukung oleh pedagang Italia, yang tidak membutuhkan Yerusalem. Pedagang itu hanya ingin menguasai Damietta, kota pelabuhan terbesar di Mediterania. Keinginan mereka tercapai setelah Damietta jatuh ke tangan pasukan salib.

Pada musim panas 1221 John dan Pelagius berangkat dari Damietta menuju Kairo dengan membawa 5000 ksatria dan 40.000 tentara. Pada 24 Juli mereka berhadapan langsung dengan pasukan Sultan Mesir. Saat itu sungai Nil sedang pasang. Sultan memerintahkan pasukannya untuk merusak salah satu bendungan. Pasukan salib yang bergerak di sepanjang sungai menjadi kebanjiran dan terperangkap dalam tanah berlumpur. Pada saat itulah pasukan Mesir menyerang mereka dengan panah. Ribuan tentara salib tewas dan mereka terdesak mundur. Pelagius berhasil meloloskan diri dan kembali ke Damietta. Pelagius kemudian menawarkan gencatan senjata. Sultan Mesir setuju dan ditandatangani perjanjian damai selama 8 tahun jika pasukan salib bersedia pergi. Pada 8 September 1221, semua sisa pasukan salib pergi dari Damietta. Sekali lagi, pasukan salib mengalami kekalahan memalukan.

TINGGALKAN KOMENTAR