Perang Itu Tinggal Menunggu Waktu

Perang Itu Tinggal Menunggu Waktu

BAGIKAN

Perang Itu Tinggal Menunggu Waktu
perangSebenarnya jika pemerintah bertindak benar, tidak akan ada konflik horisontal. Jika Kementrian Agama, polisi, tentara, BIN, dan Badan Kesbanglinmas berfungsi semestinya, tidak mungkin ada kekerasan antar masyarakat.
Soal Suku, Ras, Agama dan Antar golongan (SARA) sudah jelas sejak dulu merupakan perkara sensitif. Jika ada satu pihak yang menyinggung soal ini, pasti timbul masalah. Bahkan bisa berdarah darah.
Buruknya, selama ini badan-badan pemerintah tersebut tidak melakukan tugasnya dengan maksimal. Ada kelompok yang terang-terangan menolak keberadaan NKRI dan membenci Pancasila dibiarkan. Ada yang mendirikan organisasi Negara Islam Indonesia (NII) malah dikunjungi dan disumbang pusat pendidikannya.
TNI yang katanya nasionalis dan patriot bangsa, justru petingginya, AM Hendropriyono sewaktu menjadi kepala BIN pasang badan melindungi NII. Kata dia, jika ada yang berani menyentuh Panji Gumilang dan yayasan Al-Zaitun akan berhadapan dengan dirinya.
Ada organisasi yang menebar fitnah dengan menyebut Indonesia sebagai negara perang (darul harb), serta mengharamkan anak-anak mereka menghormat bendera merah putih dan menuding Garuda Pancasila sebagai berhala, tidak pernah diperhatikan untuk diberi hukuman yang semestinya.
Ada pula yang setiap hari mencaci maki umat, golongan maupun adat tertentu, baik lewat radio maupun media cetak, dibiarkan saja. Polisi hanya bertindak kalau sudah ada kegiatan terorisme, sementara Menkominfo selaku pengendali informasi tidak berbuat apa-apa terhadap situs internet yang menjadi pedoman para teroris melancarkan aksi jahatnya. Alih-alih Menkominfo yang asal PKS sudah lama dicurigai mendukung keberadaan media yang sejalan dengan garis partainya dalam hal ideologi keagamaan.
Radio yang menyiarkan kebencian dan permusuhan, menuding-nuding umat muslim telah syirik, kafir, bid’ah dan sebagainya, tak pernah ditindak. Bahkan dinasehati pun tidak. Kementrian agama seolah tidak pernah hadir dalam persoalan ini.
Masyarakat tidak pernah merasa perlu bertanya kepada Kementrian Agama jika menghadapi persoalan demikian. Apalagi sampai menuntut Kemenag agar membubarkan. Sehingga golongan yang mengobarkan teror verbal maupun tindakan itu tidak pernah diapa-apakan.
Ada sebuah majlis yang membubarkan pentas wayang padahal sudah berijin, tidak diberi sanksi apapun. Ada jamaah yang merobohkan patung tokoh wayang di Purwakarta, dibiarkan saja.
Alih-alih Badan Intelijen Negara (BIN) dirasa semakin tidak mampu mengendus dan mencegah gerakan mereka. Terbukti paket bom buku sampai sekarang tidak ditemukan siapa pelakunya.
Mengalami kenyataan demikian, masyarakat bisa berpikiran buruk dalam dua hal. Pertama, menduga pemerintah tidak peka atau bahkan sengaja memelihara golongan garis keras itu untuk kepentingan politik semisal meredam protes rakyat jika mengeluarkan kebijakan yang tidak populis. Terbukti sehari usai presiden mengumunkan kenaikan harga BBM, gerombolan FPI menyerbu dan memukuli aktivis Hak Asasi Manusia di lapangan Monas Jakarta.
Kedua, aparat keamanan termasuk BIN, serta Kesbanglinmas bisa dicurigai membiarkan mereka hidup dan berkembang. Bahkan dari fakta-fakta yang telah terungkap, kaum fundamentalis telah berhasil merekrut PNS dan aparat keamanan. Ini menimbulkan masalah lebih pelik, karena dalam lembaga pemerintah ada pegawai yang berpikiran atau berjiwa anti NKRI, anti kemanusiaan, anti kerukunan. Sok benar sendiri dan paling suci, seraya menilai kaum di luar jamaahnya sesat, zindiq, syirik dan kafir.
Kecurigaan lebih besar lagi kala rakyat melihat sendiri, betapa lemahnya negara menghadapi preman berjubah yang begitu pongah menggantikan peran polisi. Para pejabat ngomong tentang nasionalisme dan kesadaran hukum, tapi beberapa petinggi negeri menjadi backing barisan kriminal yang memakai simbol agama tersebut.
Di luar kecurigaan itu, masyarakat jadi jengah, jengkel dan kemudian emosional. Terus-menerus dihujat dan dimusuhi, membuat kesabaran manusia lama-lama hilang. Ketika serangan itu semakin massif, keras dan pemerintah tidak melakukan apa-apa, orang bisa bereaksi sama kerasnya.
Jika ini terjadi tentu sangat berbahaya. Sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara akan terkoyak bahkan runtuh. Indonesia akan menjadi ajang perang saudara. Bisa berdarah-darah dan berlangsung lama. Sebab kelompok fundamentalis didukung kekuatan politik serta dana yang banyak, terutama dari Arab Saudi. Di lain pihak masyarakat termasuk kaum adat yang merasa harga dirinya dilecehkan, akan menggunakan apa saja sumber daya yang dimilikinya untuk mempertahankan diri.
Bom waktu ini sudah sangat mengancam. Sewaktu-waktu bisa meledak. Berkobar-kobar. Ibarat mercon, sulutan api sudah mencapai sumbunya.
Di internet, peperangan itu sudah terjadi. Situs-situs yang menampilkan Islam inkslusif diserang tiada henti. Sementara situs pengobar kebencian semakin mendominasi. Menguasai kata kunci “Islam” jika diketik di mesin pencari Google.
Grup-grup facebook atau akun milik lembaga maupun pribadi yang bernuansa damai, terus-menerus di-hack dan diteror. Ancaman dan pernyataan menantang seliweran setiap saat. Menebar permusuhan kepada siapapun yang “tidak mengikuti sunnah” atau “tidak murni Islamnya”.
Awalnya membuka perdebatan, lalu ujungnya memvonis kafir pihak yang tidak menyokong gagasan khilafah, pemurnian aqidah dan sejenisnya. Sungguh, perang di dunia nyata itu selangkah lagi akan jadi perang beneran di dunia nyata jika sensitivitas soal SARA terus dipompa.
Tak hanya itu, masjid-masjid, di kampus maupun kantor, para khotib aliran radikal setiap Jum’at memprovokasi umat untuk membenci dan memusuhi golongan lain. Forum khutbah yang mestinya berisi anjuran bertaqwa, diganti menjadi dorongan angkara murka. Adigang adigung adiguna.
Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jawa Tengah misalnya, menemukan fakta betapa banyak masjid yang telah direbut atau dikuasai oleh kaum radikal dengan ciri fisik dan busana yang tidak sama dengan warga sekitar masjid.
Jika mereka jadi khotib, meneriakkan hujatan terhadap adat Jawa yang katanya tidak Islami, negara Indonesia yang tidak berdasar syariat dan seterusnya. Orang Jawa diajak membenci ke-Jawaannya, kalau jadi muslim harus model Arab. Segala atributnya harus model Timur Tengah, dengan alasan Nabi berpenampilan seperti itu. Padahal Abu Jahal dan Abu Lahab yang kafir dan jahat juga berjubah dan berjenggot panjang.
Orang Indonesia diajak membenci negaranya, karena negeri yang didirikan para sultan dan ulama ini dinilai tidak berpedoman pada kitab suci, mutlak versi mereka.
Puncaknya, umat Islam dijauhkan dari Nabinya. Bahkan diminta membenci Rasulullah Muhammad SAW. Para khotib itu melarang membaca sejarah Nabi, mengharamkan pengajian untuk mengenang kerasulan Muhammad SAW, menuding bid’ah orang yang memuji Rasul junjungan. Sholawat pun dituding syirik kecuali bacaannya model buatan mereka. Segala macam pujian ditiadakan, karena tidak dicontohkan Nabi dan tidak dilakukan para sahabat Nabi.
Segala yang terkait dengan Nabi Agung akhir zaman itu hendak dihilangkan. Siapapun yang menghormati Nabi dituding mengkultuskan. Dihujat sebagai tindakan menyekutukan Tuhan. Seolah Gusti Allah telah mengangkat mereka sebagai verifikator amal ibadah seluruh hamba.
Sukses dengan program anti Maulid Nabi, kaum yang menyebut dirinya “salafi” itu melarang sesama muslim bersalaman usai sembahyang. Forum jamaah yang sejatinya untuk membangun persaudaran, dipangkas habis sebagai sholat bersama saja, tanpa boleh bersalaman.
Masjid yang mestinya menebarkan kesejukan, berubah jadi tegang. Orang usai sholat tidak wiridan lalu berdoa bersama, ditutup dengan bersalam-salaman, tetapi diganti dengan tatapan bengis oleh mata mendelik dari jidat yang dibuat hitam seolah manusia suci ahli sujud.
Mungkin suatu saat nanti ada orang yang sholat berjamaah lalu berantem. Karena dilarang salaman dan hatinya dijauhkan dari dzikir yang fungisnya menentramkan kalbu.
Saya dan kita semua yang masih waras pasti kuatir, Islam yang Marah akan bertempur dengan Islam yang Ramah. Sebab yang selama ini ramah, terus-menerus diserang dengan hujatan maupun kekerasan fisik. Jika perang itu terjadi, tentu Anda semua tahu siapa yang bersorak sorai kegirangan. Bertepuk tangan sambil tertawa terbahak-bahak.

Ichwan Warkoper

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR