Penyebab Pertikaian Berkepanjangan

Penyebab Pertikaian Berkepanjangan

BAGIKAN

Hal Hal Yang Menyebabkan Pertikaian

Pertikaian itu bisa terjadi di antara orang orang bodoh juga di antara orang orang yang berilmu, tetapi pertikaian itu akan berdampak luas dan sulit sekali dipadamkan jika bersumber dari orang orang pinter.

Sebaliknya, pertikaiannya orang orang bodoh lebih mudah diredam dengan nasehat, pengertian, rajukan dan tipuan.

Orang yang pintar, apalagi setelah diorganisir ketika telah melarutkan diri dengan pertengkaran dan pertikaian akan sangat sulit dilerai, sebab menasehati orang yang suka memberi nasehat adalah sama dengan menggarami lautan, melerai tukang lerai sama dengan mengajaknya bertinju, menipu penipu membutuhkan kecerdikan ekstra, memberi pengertian kepada orang yang ngerti akan dianggap merendahkan.

Sebenarnya, pertengkaran, masalah, perkelahian dan huru hara itu lebih banyak ditimbulkan oleh orang orang pintar, sebab orang bodoh tidak akan sanggup membuat cara yang rapi dan strategi jitu.

Siapakah yang suka bertengkar dengan mempermasalahkan amalan orang lain?

Siapakah yang menyebabkan Bangsa Indonesia tenang dalam keterpurukannya?

Siapakah yang menciptakan pembantaian di berbagai negara dengan mengatas namakan agama?

Siapakah yang telah melarutkan sebuah kaum dalam kubangan perdebetan hingga kaum itu telah tidak mampu menyadari apa yang seharusnya penting bagi diri sendiri?

Dan siapakah yang menjual Ayat ayat Tuhan demi ambisi politik dan kekuasaannya?

Siapa lagi yang telah menginjak injak kepala Nabinya demi mempertahankan harga dirinya?

Lalu siapakah yang telah merebut keMaha Besaran Alloh demi tercabutnya hak bahkan nyawa manusia yang telah dianggap menjadi musuhnya?

Semua itu akibat kerja orang orang pandai, atau yang dipandaikan.

Tidak,  tidak!!!  sekali lagi tidak, mereka menganggap orang lain sebagai musuh Tuhan bukan lantaran orang itu benar benar memusuhi Tuhannya, tetapi karena mereka menganggap orang itu telah memusuhinya, memusuhi pendapatnya, memusuhi ideologinya, memusuhi cara kerjanya, memusuhi bisnisnya dan memusuhi kepentingannya.

وكم بين حذاق الجدال تنازعوا 🌻 وما بين عشاق الحبيب تنازعوا

“Berapa banyak para cerdik pandai berdebat pada bertengkar 🌻 dan betapa diantara orang orang yang asyik dalam dunia yang dicintainya sama bertengkar” (Sya,ir Umar bin Al Faridh)

Dan jika para cerdik pandai atau orang orang yang merasa pandai itu merasa punya hak untuk menyampaikan kebenaran, alangkah lebih baiknya jika mereka memperhatikan dan mempertimbangkan keadaan kaum dimana ia hidup dan telah dianggap oleh kaumnya sebagai tokoh, kyai, ustadz, ketua, ulama dan atau pemimpin.

Terlebih bagi mereka yang telah asyik dengan dunianya, orang yang tidak mampu mengukur dirinya, yang merasa pandai hingga merampas tanggung jawab yang sebenarnya bukan tanggung jawabnya, dan yang merasa lebih atau mempunyai kelebihan adalah orang orang yang semakin memperpekat suasana.

Merekalah yang tidak pernah mau berdamai dengan hatinya, mereka suka menipu dirinya dan tidak mau mengakui kualitas dan kapasitas dirinya yang sebenarnya, merekapun memaksakan diri untuk bersaing dengan orang orang yang dipandangnya mulia, berwibawa, intlek, alim dan bahkan wali, sehingga bukannya kebaikan kebaikan yang dimunculkannya, mereka justru membuat kekalutan di ruang lingkupnya.

Orang orang yang lebih suka menimbulkan keonaran (walaupun bukan tujuan yang sebenarnya) akan jauh dari hakekat dirinya sebagai hamba, ia akan sulit bertawadlu’ sebab ia akan mengejar kekurangan kekurangannya hingga ia merasa puas sebagai manusia yang tampil sempurna di hadapan manusia.

Kenapa tindakan para cerdik pandai itu justru menimbulkan kegaduhan? Jawabannya adalah:

Sebab mereka meninggalkan ijtihad dalam ilmu tentang kaum (yang dimaksud adalah psikologi bangsa, karakter dan sifatnya: pent), ilmu kaum ini berbeda dengan ilmu furu’yang mana ia didasarkan kepada dalil dan argumentasi, ia juga terambil dari naql (nash Al Quran). Adapun ilmu kaum ini tergali dari Kasyf (terbukanya rahasia rahasia hatinya) dan fakta yang ada, bukan terambil dari yang lain, maka oleh karena itu, ilmu ini tidak ada perselisihan dan penjelasannya, ia adalah intisari Al Quran yang tersembunyi, sebagaimana terjaganya lahiriyyah Al Quran dari perubahan, demikian jugalah batinnya Al Quran, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إنا نحن نزلنا الذكر وإنا له لحافظون

“Kamilah Yang menurunkan Al Quran dan Kamilah Yang menjadi penjaganya”

Alloh menyerahkan Lahiriyahnya Al Quran kepada para penguasa lahir (penggali hukum hukum lahir: pent), dan Alloh menyerahkan batiniyah Al Quran kepada pemegang dunia bashiroh (ahli dalam bidang kecerdasan spiritual: pent), maka para spiritualis memetik lahiriyah al quran dengan batinnya sekaligus seperti kita memetik buah buahan di dalam kebun, Rosululloh bersabda:

ألقرآن بستان العارفين

“Al Quran adalah kebunnya para Arifin (spiritualis) ”

Sumber: Al Minahu Al Quddusiyah 1/15 oleh Abu Al Abbas Sayyid Ahmad bin Mushthofa Al Alawi)

TINGGALKAN KOMENTAR