PENUHI NADZARMU ! (bagian-3, habis)

PENUHI NADZARMU ! (bagian-3, habis)

BAGIKAN

((Lihat Bagian ke-1))

((Lihat Bagian ke-2))

Penuhi NadzarmuMacam-macam nadzar dan konsekwensi

Ada dua macam bentuk nadzar terkait redaksi pelafalannya, yakni nadzar tabarrur dan nadzar lajjâj. Berikut ini penjelasannya.

(1) Nadzar tabarrur

Secara harfiah, tabarrur adalah mengupayakan al-birr (kebajikan). Disebut demikian karena dengan nadzar tabarrur, seseorang mengupayakan kebajikan dan pendekatan kepada Allah. Secara syara’, nadzar tabarrur didefinisikan dengan kesanggupan melakukan ibadah tanpa digantungkan dengan sesuatu apapun, atau dengan digantungkan pada sesuatu yang diinginkan atau disukai.

Berdasar pendefinisian ini, nadzar tabarrur mencakup dua bentuk redaksi,

(a) nadzar mutlak (ghair mujâzâh), yakni kesanggupan melakukan ibadah tanpa digantungkan dengan apapun, seperti “Karena Allah aku wajib melakukan puasa”;

(b) nadzar mujâzâh,yakni kesanggupan melakukan ibadah sebagai semacam “kompensasi” datangnya kenikmatan atau terhindarnya musibah, seperti “Jika aku diberikan kesembuhan, maka karena Allah aku wajib melakukan puasa; atau “Jika aku selamat dari mangsa harimau ini, maka karena Allah aku wajib melakukan puasa

Konsekwensi dari nadzar tabarrur ini adalah kewajiban memenuhinya. Jika nadzar tersebut merupakan nadzar mutlak, maka wajib melakukan apa yang dinadzari; tidak harus dilakukan seketika, akan tetapi yang baik menyegerakannya. Jika nadzar tersebut merupakan nadzar mujazâh, maka kewajiban memenuhi nadzar baru efektif berlaku tatkala telah terwujud mu’allaq alaih (sesuatu yang menjadi gantungan nadzar). Semisal, “Jika aku diberikan kesembuhan, maka karena Allah aku wajib melakukan puasa; kewajiban memenuhi nadzar puasa efektif berlaku tatkala kesembuhan telah terwujud.

(2) Nadzar lajjâj

Secara harfiah, lajjâj bermakna marah. Maksud dari nadzar lajjâj ini adalah mencegah dirinya dari melakukan sesuatu (a), atau memaksa melakukan sesuatu (b), atau meyakinkan kebenaran sesuatu (c) dengan menggantungkannya pada kesanggupan melakukan ibadah. Disebut “marah”, karena dalam redaksi nadzar yang diucapkannya terdapat sisi luapan emosi. Dengan mengatakan “Jika aku sampai masuk ke dalam rumah, maka wajib bagiku melakukan puasa”, sebenarnya motif pengujar adalah tidak ingin masuk ke dalam rumah; dan jika sampai masuk ke dalam rumah, dia akan menebusnya dengan melakukan puasa (contoh a). Atau jika seseorang mengatakan, “Jika aku sampai tidak menuntaskan pekerjaan ini, maka wajib bagiku melakukan puasa”, sebenarnya motif pengujar adalah ingin menuntaskan pekerjaannya; dan jika sampai tidak menuntaskannya, dia akan menebusnya dengan melakukan puasa (contoh b). Atau jika seseorang mengatakan, “Jika apa yang kukatakan adalah salah, maka wajib bagiku melakukan puasa” sebenarnya motif pengujar adalah ingin membuktikan bahwa perkataannya adalah benar; dan jika terbukti perkataannya salah, dia akan menebusnya dengan melakukan puasa.

Konsekwensi dari nadzar lajjâj ini jika mu’allaq alaih terwujud, adalah salah satu diantara dua hal, memenuhi nadzarnya, atau membayar kaffarat sumpah. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam,

كَفَّارَةُ النَّذْرِ كَفَّارَةُ يَمِينٍ (رواه مسلم)

Kaffarat nadzar adalah kaffarat sumpah (HR. Muslim)

Di satu sisi, terdapat kenyataan bahwa nadzar tabarrur wajib dipenuhi, tidak cukup dengan membayar kaffarat, sehingga hadis di atas diarahkan pada nadzar lajjâj. Adapun bentuk dari kaffarat sumpah adalah memenuhi salah satu dari tiga hal, yakni memerdekakan budak; atau memberi makan sepuluh orang fakir miskin masing-masing 1 mud (setara dengan 679,79 gr) berupa bahan makanan seperti dalam ketentuan zakat fitrah; atau memberikan pakaian pada sepuluh orang fakir miskin. Jika tidak mampu memenuhi ketiga opsi tersebut, maka berpuasa tiga hari, tidak harus berturut-turut. Wallâhu a’lam.

Referensi

  1. Zakariyya bin Muhammad bin Zakariyya al-Anshari, Asnâ al-Mathâlib Syarh Raudl al-Thâlib, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, 2001.
  2. Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtâj bi Syarh al-Minhâj, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, 2006.
  3. Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar al-Haitami, Al-Fatâwî al-Fiqhiyyah al-Kubrâ, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, 2007.
  4. Ahmad bin Ahmad Ar-Ramli, Fatâwîar-Ramli, Beirut: Al-Maktabah al-Islamiyyah, tt.
  5. Abu Zakariyya Yahya bin Syaraf al-Nawawi, Al-Majmû’ Syarh al-Muhadzdzab, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, 2002.

TINGGALKAN KOMENTAR