PENUHI NADZARMU ! (bagian-2)

PENUHI NADZARMU ! (bagian-2)

BAGIKAN

((Lihat bagian-1))

***************

Dalam terwujudnya nadzar terdapat tiga komponen penyusun, yakniHukum Nadzar

(1) nadzir (pelaku nadzar),

(2) shighat (redaksi nadzar) dan

(3) mandzûr (obyek nadzar)

Berikut ini penjelasan masing-masing komponen

* Nadzir (pelaku nadzar)

Syarat-syarat pelaku nadzar adalah

(1)    Taklîf (baligh dan berakal). Sehingga anak kecil dan orang gila tidak sah nadzarnya.

(2)    Islam. Sehingga seorang kafir tidak sah nadzarnya, karena tidak memiliki kualifikasi keabsahan beribadah. Wakaf, wasiat dan shadaqah yang dilakukan orang kafir dianggap sah karena ketiganya merupakan transaksi terkait harta untuk pihak lain, bukan karena keabsahan ibadahnya. Hanya saja, orang yang di saat kekafiran pernah bernadzar, sunnah baginya memenuhi nadzarnya tersebut setelah masuk masuk Islam. Sebagaimana Umar bin al-Khaththab radliyallâhu anhu yang pernah bernadzar di masa Jahiliyyah untuk i’tikaf sehari di Masjidil Haram. Kemudian Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, memerintahkannya untuk memenuhi nadzarnya setelah memeluk Islam. (HR. Bukhari dan Muslim)

(3)    Kehendak sendiri, tidak dipaksa. Sehingga orang orang yang bernadzar di bawah tekanan ancaman, maka nadzarnya tidak sah.

(4)    Keabsahan tindakan nâdzir dalam perbuatan yang dinadzarinya. Karenanya, seorang mahjûr ‘alaih (orang yang dicekal transaksinya) karena faktor safîh (terbelakang mental) atau muflis (pailit) jika bernadzar untuk melakukan ibadah badaniyyah (ibadah yang dilakukan secara fisik dengan anggota tubuh, seperti shalat, puasa, i’tikaf dan semisalnya), maka nadzarnya sah, karena keabsahan ibadah yang dilakukan oleh keduanya. Sedangkan jika keduanya bernadzar melakukan ibadah mâliyyah (ibadah terkait harta, seperti shadaqah, wakaf dan yang semisalnya), maka dalam hal ini terdapat dua pemilahan. Jika obyek harta yang dinadzarinya mu’ayyan atau tertentu pada fisik barang yang dimilikinya, maka nadzarnya tidak sah. Seperti seorang safîh atau muflis menyatakan “jika aku anakku sembuh, maka karena Allah aku berkewajiban menghibahkan emas ini kepada si Fulan”. Akan tetapi jika obyek harta yang dinadzarinya fi dzimmah atau tidak tertentu menunjuk pada hartanya, akan tetapi mengarah pada nilai atau jenis harta, maka nadzarnya sah, dan kewajiban memenuhinya setelah dia terbebas dari cekal, yakni kembali normalnya safîh atau kembali pulihnya kondisi finansial muflis (menjadi kaya dan mampu melunasi hutang-hutangnya). Nadzar shadaqah harta secara dzimmah ini, sebagaimana ucapan safîh atau muflis “jika anakku sembuh, maka karena Allah aku berkewajiban menghibahkan emas senilai 1 gram kepada si Fulan”.

* Shighat (redaksi nadzar)

Nadzar menjadi efektif mengikat dengan konsekwensi memenuhinya jika diucapkan secara lisan, bukan sekedar diniati dalam hati, kecuali orang bisu yang sah nadzarnya dengan menggunakan bahasa isyarat. Nadzar juga dianggap sah dengan menggunakan media tulisan dengan catatan dibarengi niat untuk bernadzar.

Selanjutnya, shighat nadzar haruslah mengandung ungkapan yang menunjukkan adanya kesanggupan. Shighat umum nadzar adalah sebagai berikut :

لِلهِ عَليَّ صَلَاةُ الضُحَى

“Karena Allah, keharusan atasku shalat dluha”

atau

عَليَّ صَلَاةُ الضُحَى

“Keharusan atasku shalat dluha”

Shighat-shighat serupa, asalkan dengan kriteria pokok, yakni mengandung ungkapan kesanggupan bisa digunakan sebagai ungkapan nadzar. Ibnu Hajar menyatakan bahwa ungkapan dengan memakai akar kata “nadzar” termasuk dalam shighat yang sharih. Semisal, “Saya bernadzar melakukan puasa”. Kontroversi pendapat ulama’ tentang keabsahan nadzar dengan sekian ragam redaksi berpulang pada kaidah bahasa, bahwa hal tersebut termasuk ungkapan kesanggupan ataukah tidak.

* Mandzur (obyek nadzar)

Ada tiga kemungkinan perbuatan dipandang dari konsekwensi hukumnya, yakni ketaatan, kemaksiatan dan perbuatan mubah. Jika obyeknya adalah kemaksiatan, maka nadzar melakukannya adalah tidak sah, dan juga tidak ada konsekwensi apapun dengan mengabaikannya, artinya, tidak ada kewajiban membayar kaffarat. Ketidakabsahan ini berdasarkan hadis Aisyah radliyallâhu anha sebagaimana paparan di muka. Juga berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Imran bin Hushain radliyallâhu anhu, bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا نَذْرَ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ , وَلَا فِيمَا لَا يَمْلِكُهُ ابْنُ آدَمَ (رواه مسلم)

Tidak ada nadzar dalam kemaksiatan pada Allah, tidak juga dalam sesuatu yang tidak dimiliki anak cucu Adam. (HR. Muslim)

Karenanya, nadzar membunuh, berzina, puasa di hari raya, shalat di saat haid, ataupun mensedekahkan harta milik orang lain adalah tidak sah.

Sedangkan tindakan ketaatan, terbagi dalam tiga kategori. Pertama, kewajiban-kewajiban. Bernadzar melakukannya tidaklah sah, karena tanpa dinadzari pun hukumnya tetap wajib. Karenanya, tidak ada pengaruh dalam menadzarinya. Seperti bernadzar melakukan shalat lima waktu, berpuasa Ramadan, menunaikan zakat dan sebagainya. Termasuk dalam kategori ini, bernadzar meninggalkan keharaman, seperti nadzar tidak mengkonsumsi minuman keras, tidak berbuat zina dan sebagainya. Hanya saja, dalam permasalahan nadzar melakukan fardlu kifayah (kewajiban kolektif), para ulama’ menyatakan bahwa nadzar semacam ini sah, karena karakteristik fardlu kifayah tidak harus dilakukan oleh per individu, cukup dilakukan oleh beberapa orang saja dari sebuah komunitas.

Kedua, ibadah-ibadah sunnah maqshûdah (ibadah ritual), seperti shalat sunnah, puasa sunnah, shadaqah, i’tikaf dan sebagainya. Dengan bernadzar melakukannya, hal-hal sunnah ini berubah status menjadi wajib. Termasuk dalam kategori ini, sifat yang disunnahkan dalam ibadah, meskipun ibadah fardlu, seperti bernadzar memanjangkan bacaan dalam shalat, melakukan shalat secara dengan berjama’ah, melakukannya di masjid, sekalipun sifat-sifat tersebut berada dalam shalat fardlu.

Ketiga, tindakan dan pekerti luhur yang dianjurkan syara’ karena besar faidahnya dan terkadang dengan melakukannnya diharapkan pahala dan ridla-Nya, seperti menjenguk orang sakit, menyambut sahabat yang baru datang dari bepergian, menebarkan salam diantara kaum muslimin, mendoakan orang bersin yang membaca hamdalah,

Sedangkan hal-hal mubah, seperti makan, minum, berdiri, duduk, maka bernadzar melakukan atau meninggalkannya tidaklah sah. Meskipun tatkala makan diniati sebagai bekal ibadah, tidur diniati agar semangat dalam tahajjud, sehingga mendapatkan pahala, akan tetapi materi perbuatan tidaklah ditujukan sebagai sebuah bentuk ibadah, dan pahala dapat diperoleh hanya karena niat yang baik. Begitu pula, hal-hal makruh, nadzar melakukannya tidaklah sah. Ketidakabsahan nadzar hal yang mubah atau makruh ini didasarkan pada hadis Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam,

لَا نَذْرَ إلَّا فِيمَا اُبْتُغِيَ بِهِ وَجْهُ اللَّهِ (رواه أبو داود)

Tidak ada nadzar kecuali dalam perbuatan yang ditujukan karena Allah (HR. Abu Dawud)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radliyallâhu anhu, bahwa suatu saat, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam sedang berceramah, lantas ditemuinya, ada seseorang yang berdiri di terik matahari, tidak mau berteduh. Lalu beliau menanyakan perihal orang tersebut. Salah seorang sahabat menjawab, “Dia Abu Israil, bernadzar melakukan puasa, sambil berdiri di terik matahari, tidak duduk, tidak berteduh, dan tidak berbicara”. Kemudian Rasul bersabda, “Perintahkan dia, hendaklah dia duduk, berteduh, berbicara dan sempurnakan puasanya”. (HR. Bukhari).

Bersambung ke bagian 3

 

TINGGALKAN KOMENTAR