PENUHI NADZARMU ! (bagian-1)

PENUHI NADZARMU ! (bagian-1)

BAGIKAN

HUKUM BERNADZAR

Dari Aisyah radliyallahu anha, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِىَ اللَّهَ فَلاَ يَعْصِهِ (رواه البخاري)

Barangsiapa yang bernadzar untuk melakukan ketaatan pada Allah, maka taatilah Allah, dan barangsiapa yang bernadzar untuk melakukan kedurhakaan pada Allah, maka janganlah durhakai Allah. (HR. Bukhari)

* * * * * * * * * * *
Nadzar, secara harfiah bermakna janji, untuk melakukan kebaikan ataupun kejelekan. Dalam istilah syara’, nadzar berarti janji melakukan kebaikan, berupa kesanggupan melakukan ibadah yang pada asalnya bukan merupakan kewajiban. Menurut Al-Qadli Husain, Al-Mutawalli Al-Ghazali dan sejumlah ulama’ yang lain, mengucapkan nadzar adalah sebuah bentuk ibadah. Hanya saja, pernyataan Imam Asy-Syafi’i secara tekstual menyatakan bahwa hukum berucap nadzar adalah makruh, karena Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah melarangnya, lantas bersabda:

إنَّهُ لَا يَرُدُّ شَيْئًا وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مَنْ الْبَخِيلِ (متفق عليه)

“Sesungguhnya nadzar tidaklah mencegah sedikitpun dari takdir, nadzar hanyalah keluar dari orang yang kikir.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sebagian ulama’ mengarahkan larangan tersebut pada kondisi tatkala ada keyakinan bahwa nadzarnya mampu mengubah takdir, sebagaima secara eksplisit dijelaskan Rasul. Sebagian yang lain mengarahkan pada sebuah kondisi tatkala orang yang bernadzar memiliki dugaan bahwa dia tidak mampu melakukan apa yang dia nadzarkan. Imam Ar-Ramli ketika ditanya, apakah nadzar merupakan ibadah ataukah makruh? Beliau menyatakan bahwa nadzar tabarrur adalah ibadah, sedangkan nadzar lajjâj, adalah makruh.

Pemikiran semacam ini – yakni bahwa pengucapan nadzar adalah ibadah – didasarkan nash Al-Qur’an dan penalaran qiyas atau kaidah. Allah berfirman:

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ نَفَقَةٍ أَوْ نَذَرْتُمْ مِنْ نَذْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُهُ

“Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nazarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”. (QS. Al-Baqarah : 270)

Maksud dari “Allah mengetahuinya” adalah bahwa Allah akan memberikan balasan pahala. Sedangkan pahala pastilah diberikan atas sebuah ibadah. Karenanya, Allah membarengkannya dengan keutamaan ber-infaq.
Di sisi lain, terdapat kaidah “Lil wasâil hukm al-maqâshid”, perantara memiliki hukum sama dengan tujuannya. Bahwa nadzar adalah perantara ketaatan, berubahnya ibadah sunnah menjadi wajib. Sedangkan ibadah wajib berpahala 70 kali lipat.

bersambung bagian-2

3 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR