PENTINGNYA BAHASA ARAB

PENTINGNYA BAHASA ARAB

BAGIKAN
  1. Pentingnya Bahasa Arab

Bahasa adalah penggunaan kode yang merupakan gabungan fonem sehingga membentuk kata dengan aturan sintaks untuk membentuk kalimat yang memiliki arti. Bahasa memiliki berbagai definisi. Definisi bahasa adalah sebagai berikut:

  1. suatu sistem untuk mewakili benda, tindakan, gagasan dan keadaan.
  2. suatu peralatan yang digunakan untuk menyampaikan konsep riil mereka ke dalam pikiran orang lain
  3. suatu kesatuan sistem makna
  4. suatu kode yang yang digunakan oleh pakar linguistik untuk membedakan antara bentuk dan makna.
  5. suatu ucapan yang menepati tata bahasa yang telah ditetapkan (contoh: Perkataan, kalimat, dan lain-lain.)
  6. suatu sistem tuturan yang akan dapat dipahami oleh masyarakat linguistik.

Bahasa buatan

Ada beberapa bahasa artifisial (buatan) yang dikenal. Salah satunya adalah bahasa Esperanto. Bahasa ini diciptakan oleh L. L. Zamenhof di mana bahasa ini merupakan paduan dari berbagai unsur bahasa, khususnya bahasa-bahasa Roman yang dicampurkan dengan unsur-unsur Bahasa Slavia dan bahasa-bahasa Eropa lainnya, serta digunakan untuk mempermudah pembelajaran bahasa karena kesederhanaan tata bahasanya.

Bahasa-bahasa artifisial lainnya yang disebut conlang (constructed language) antara lain adalah Bahasa Interlingua dan Bahasa Lojban.

Sebagian pakar bahasa, seperti J.R.R. Tolkien, telah menciptakan bahasa rekaan, untuk tujuan di bidang sastera . Salah satunya adalah bahasa Quenya, yakni satu bentuk bahasa yang dipakai oleh kaum Elvish. Quenya mempunyai abjad dan istilah tersendiri serta dapat digunakan oleh manusia. Di samping bahasa Quenya, juga diciptakan bahasa Klingon yang pernah dipakai dalam film Star Trek.

Menerjemahkan bahasa

Bahasa manusia yang berbeda-beda menyebabkan manusia mencoba untuk mengungkapkannya dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan menggunakan komputer untuk menerjemahkan satu bahasa ke bahasa lainnya. Perangkat demikian dikenal sebagai “Mesin Penerjemah”.

Mesin Penerjemah merupakan hal yang sangat diidam-idamkan oleh para pakar komputer sejak awal. Pada mulanya mereka memperkirakan, bahwa hal tersebut dapat dilakukan dengan mudah. Akan tetapi, hal tersebut ternyata sulit dalam pelaksanaannya, sehingga para pakar komputer tersebut putus asa. Meskipun demikian, di masa sekarang ini beberapa perangkat penerjemah telah dijual secara komersial di pasaran.

  • Bahasa itu alat yang sangat tidak memadai untuk berfikir dengan tertib dan untuk melahirkan pendapat (C.P.F. Lecoutere, L. Grootaers dalam Inleideng tot de Taalkunde en tot de Geschiedens van het Nederlands, halaman 177)
  • Bahasa sebagai bayang-bayang pikiran, artinya bahasa tidak dapat melukiskan bentuk pikiran sesempurna dan selengkap bentuk pikiran itu sendiri. Itulah mengapa timbul apa yang dikenal sebagai gaya bahasa, ragam bahasa dan seterusnya.
  • Terdapat 2 macam kaidah bahasa, yaitu kaidah umum yang berlaku untuk semua bahasa dan kaidah khusus yang berlaku untuk suatu bahasa tertentu.
  • Terjemahan: yang diterjemahkan itu bukan bahasanya (seperti kata-katanya dan kalimatnya) tetapi bentuk pikirannya. Sebab bayang-bayang tidak sesempurna dan selengkap bentuk pikiran itu sendiri sehingga kemungkinan salah makna atau salah terima pikiran itu sendiri dapat dikurangi.[1]

Bahasa merupakan symbol yang diejawantahkan dalam komunikasi sehari hari, bahasa arab merupakan bahasa yang sangat banyak manafaatnya.

keutamaan bahasa arab sangatlah banyak. Sebagaimana perkataan Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan surat Yusuf ayat 2, yang artinya,

“Sesungguhnya Kami telah jadikan Al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kalian memikirkan.”

Ia berkata, “Yang demikian itu (bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa arab) karena bahasa arab adalah bahasa yang paling fasih, jelas, luas dan maknanya lebih mengena lagi cocok untuk jiwa manusia. Oleh karena itu, kitab yang paling mulia (yaitu Al-Qur’an) diturunkan kepada Rasul yang paling mulia (yaitu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam) dengan bahasa yang paling mulia (yaitu bahasa arab), melalui perantara malaikat yang paling mulia (yaitu malaikat Jibril), ditambah kitab inipun diturunkan pada dataran yang paling mulia di atas muka bumi (yaitu tanah Arab), serta awal turunnya pun pada bulan yang paling mulia (yaitu Ramadhan), sehingga Al-Qur’an menjadi sempurna dari segala sisi.” (Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Surat Yusuf)

Kadang aneh terlihat, ketika suatu spanduk dari organisasi Islam kemudian bertuliskan musyawarah akbar. Tahukah engkau saudariku, terdapat kesalahan penerapan kaedah bahasa arab dalam susunan tersebut.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan aku memiliki seorang saudara yang biasa dipanggil dengan sebutan Abu ‘Umair. Beliau shallallahu’alaihi wa sallam datang, lalu memanggil: ‘Wahai Abu ‘Umair, apa yang sedang dilakukan oleh si Nughair kecil.’ Sementara anak itu sedang bermain dengannya.” (HR. Bukhari)

Pentingnya Belajar Bahasa Arab

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Bahasa arab itu termasuk bagian dari agama, sedangkan mempelajarinya adalah wajib, karena memahami Al-Quran dan As-Sunnah itu wajib. Tidaklah seseorang bisa memahami keduanya kecuali dengan bahasa arab. Dan tidaklah kewajiban itu sempurna kecuali dengannya (mempalajari bahasa arab), maka ia (mempelajari bahasa arab) menjadi wajib. Mempelajari bahasa arab, diantaranya ada yang fardhu ‘ain, dan adakalanya fardhu kifayah.” (Iqtidho, Ibnu Taimiyah 1/527 dikutip dari majalah Al-Furqon)

Dorongan untuk belajar bahasa arab bukan hanya khusus bagi orang-orang di luar negara Arab. Bahkan para salafush sholeh sangat mendorong manusia (bahkan untuk orang Arab itu sendiri) untuk mempelajari bahasa arab.

Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata, “Pelajarilah bahasa arab, sesungguhnya ia bagian dari agama kalian.” (Iqitdha)

‘Umar radhiallahu ‘anhu juga mengingatkan para sahabatnya yang bergaul bersama orang asing untuk tidak melalaikan bahasa arab. Ia menulis surat kepada Abu Musa al-Asy’ari, “Adapun setelah itu, pelajarilah Sunnah dan pelajarilah bahasa arab, i’rablah al-Qur’an karena dia (al-Qur’an) dari Arab.” (Iqtidho, Ibnu Taimiyah, dikutip dari majalah Al-Furqon)

Dari Hasan Al-Bashari, beliau pernah ditanya, “Apa pendapat Anda tentang suatu kaum yang belajar bahasa arab?” Maka beliau menjawab, “Mereka adalah orang yang baik, karena mereka mempelajari agama nabi mereka.” (Mafatihul Arrobiyah, dikutip dari majalah Al-Furqon)

Dari as-Sya’bi, “Ilmu nahwu adalah bagaikan garam pada makanan, yang mana makanan pasti membutuhknanya.” (Hilyah Tholibul ‘Ilmi, dikutip dari majalah Al-Furqon)[2]

 

  1. Pentingnya Menilik latar belakang hadits bid’ah.

Dari Ummul mukminin, Ummu ‘Abdillah, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak”.(Bukhari dan Muslim. Dalam riwayat Muslim : “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak sesuai urusan kami, maka dia tertolak”[3]

BAB III

PAPA RAN DATA

`tBur È,Ï%$t±ç„ tAqߙ§9$# .`ÏB ω÷èt/ $tB tû¨üt6s? ã&s! 3“y‰ßgø9$# ôìÎ6­Ftƒur uŽöxî È@‹Î6y™ tûüÏZÏB÷sßJø9$# ¾Ï&Îk!uqçR $tB 4’¯<uqs? ¾Ï&Î#óÁçRur zN¨Yygy_ ( ôNuä!$y™ur #·ŽÅÁtB ÇÊÊÎÈ

Dan Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.[4]

šcqà)Î6»¡¡9$#ur tbqä9¨rF{$# z`ÏB tûï̍Éf»ygßJø9$# ͑$|ÁRF{$#ur tûïÏ%©!$#ur Nèdqãèt7¨?$# 9`»|¡ômÎ*Î/ š†Å̧‘ ª!$# öNåk÷]tã (#qàÊu‘ur çm÷Ztã £‰tãr&ur öNçlm; ;M»¨Zy_ “̍ôfs? $ygtFøtrB ㍻yg÷RF{$# tûïÏ$Î#»yz !$pkŽÏù #Y‰t/r& 4 y7Ï9ºsŒ ã—öqxÿø9$# ãLìÏàyèø9$# ÇÊÉÉÈ

 

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.

HASIL IJTIHAD DAN PENGGUNAAN HADITS DHAIF

Di antara perkara yang musykil berkaitan dengan masalah bid’ah adalah hasil ijtihad. Telah sangat dikenal dalam dunia Islam adanya hasil ijtihad berkaitan dengan perkara-perkara baru yang belum terjadi di zaman Rasulullah SAW, bahkan juga ijtihad berkaitan dengan illat hukum menyangkut perkara agama yang ada dalilnya dari Al-Qur’an dan Al-Hadits. Sebagai contoh, menyangkut hadits Nabi SAW yang memerintahkan untuk membansuh tujuh kali terhadap wadah yang dijilat anjing (HR Imam Bukhari, HR Imam Muslim, dan HR Imam Abu Dawud). Imam Syafi’i dan yang lainnya berpendapat bahwa illat diharuskannya membasuh tujuh kali itu adalah karena najis, sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa illatnya ada ta’abbud (kewajiban beribadah), sehingga anjing itu tidak najis menurut madzhab Maliki. Contoh lain adalah illat memberi isyarah tasyahud pada saat membaca kalimat Tauhid Asyahadu an laa ilaaha illa Allah, menurut jumhur Ulama adalah mengesakan Allah (Tauhid) bersamaan antara hati (i’tiqad Tauhid), lisan (membaca Syahadat), dan perbuatan (isyarah dengan telunjuk). Imam Hanafi dan Ahmad bin Hanbal memilih saat membaca laa ilaaha, sedangkan Imam Syafi’i memilih saat membaca illa Allah.

Adapun ijtihad menyangkut hal-hal yang belum ada atau belum dilakukan di masa Rasulullah SAW tidak dapat dikategorikan sebagai bid’ah dhalalah. Sebagai contoh, thawaf dengan kursi roda yang didorong bagi orang tua lanjut usia. Hal ini belum ada di masa Rasulullah SAW, karena pada masa itu kursi roda belum dikenal. Jamarat sekarang telah diperlebar sehingga sasaran lemparnya tidak lagi tiga buah tiang kecil, melainkan telah menjadi tiga buah dinding yang lebar mencapai 20 meter. Adzan dengan loudspeaker juga tidak dikenal di masa Nabi, demikian pula Imam menggunakan pengeras suara yang dijepitkan di bajunya. Zakat kerbau, membayar fitrah dengan beras dan uang, serta zakat profesi juga tidak dikenal di masa Nabi. Ini semua adalah bid’ah, karena tidak dikenal di masa Nabi. Namun, semua itu tidak dapat dikatakan bid’ah dhalalah.

Dari Mu’adz bin Jabal, bahwasanya Rasulullah SAW. ketika mengutusnya ke Yaman bertanya kepada Mu’adz: ”Bagaimana caranya engkau memutuskan perkara yang dibawa kehadapanmu?”

“Saya akan memutuskannya menurut yang tersebut dalam Kitabullah”, kata Mu’adz.
Nabi bertanya lagi, ” Kalau engkau tidak menemukannya dalam Kitabullah, bagaimana?
Jawab Mu’adz,”Saya akan memutuskannya menurut sunnah Rasul”.
Nabi bertanya lagi,” Kalau engkau tak menemui itu dalam sunnah Rasul, bagaimana?
Mu’adz menjawab,” Ketika itu saya akan ber-ijtihad, tanpa bimbang sedikitpun”.
Mendengar jawaban itu Nabi Muhammmad SAW meletakkan tangannya ke dadanya dan berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq utusan Rasulullah sehingga menyenangkan hati Rasul-Nya”. (Hadits Riwayat Tirmidzi dan Abu Dawud)[5]

Hadits ini memberi petunjuk kepada kita bahwa akan banyak masalah yang secara detil tidak dapat kita temukan jawabannya di dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah (Al-Hadits), sehingga mengharuskan dilakukannya ijtihad. Hadits ini – dengan demikian – menjadi dasar diperbolehkannya berijtihad dan penggunaan segenap kemampuan intelektual ( ar-ra’yu) untuk hal itu. Menafikan hasil ijtihad sama saja dengan menafikan hadits Rasulullah SAW di atas. Menafikan hadits Nabi – jangankan satu, sebagian pun – dapat dipandang telah meruntuhkan keutuhan dari ajaran Islam itu sendiri.

Peristiwa Muadz itu kemudian memberi petunjuk kepada generasi berikutnya untuk melakukan hal yang sama ketika menemukan kasus yang harus dijawab pada masanya. Para Ulama dari masa ke masa senantiasa melahirkan penemuan dan fatwa baru sesuai dengan hasil ijtihad mereka, kemudian diikuti oleh generasi demi generasi sehingga lahir berbagai madzhab dalam Islam. Dari berbagai madzhab itu kemudian tinggal empat madzhab saja yang diikuti oleh mayoritas ummat.

Rasulullah SAW juga telah bersabda:

Ketika hakim berijtihad, kemudian ia benar dalam ijtihadnya, maka baginya dua pahala. Apabila ia salah, maka ia dapat satu pahala.” (HR Imam Muslim)

Dalam suatu surat yang dikirim oleh Umar bin Khattab kepada Abu Musa Al-Asy’ari yang pada waktu menjabat sabagi Wali Negeri di Bashrah, tertulis: “Fahamkan, fahamkan segenap perkara yang bergejolak dalam dadamu menyangkut hal-hal yang tidak terdapat (hukumnya secara jelas) di dalam Kitab dan Sunnah. Perhatikan yang serupa dan sebanding, kemudian qiyaskanlah yang satu kepada yang lain.”[6]

Khalifah Umar bin Khattab dengan tegas meminta kepada utusannya untuk tanpa ragu melakukan ijtihad apabila mendapati masalah yang tidak dapat ditemukan hukumnya secara tegas di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hal ini sesuai dengan hadits Muadz bin Jabal di atas, di mana Rasulullah juga meminta hal yang sama.

Ada sebagian orang yang membid’ahkan amal ibadat yang berdasarkan Hadits dhaif. Pendapat semacam ini sungguh tidak tepat. Hadits dhaif bukanlah hadits yang dibuat-buat (maudhu’), melainkan hadits yang lemah sanadnya, bukan hadits dusta, karena asalnya dari Rasulullah SAW juga. Hadits dhaif adalah hadits yang derajatnya kurang sedikit dari Hadits Shahih atau Hadits Hasan. Suatu hadits yang dalam jalur periwayatannya terdapat orang yang akhlaknya kurang baik, seperti pernah makan sambil berjalan, buang air kecil berdiri, atau kurang kuat hafalannya, maka haditsnya disebut dhaif. Haditsnya sendiri tidak salah dan bukan sesuatu yang dibuat-buat, hanya saja derajatnya turun karena masalah pada perawinya.

Ada juga hadits dhaif karena ada salah satu perawi yang tidak disebutkan. Misalnya ada seorang tabi’in yang mengatakan “Rasulullah SAW bersabda”, padahal ia tidak berjumpa Rasulullah SAW. Hadits ini disebut dhaif juga (mursal), karena ‘”dilemparkan” ke atas, tanpa menyebut shahabat yang meriwayatkannya. Apakah kita akan mengatakan bahwa tabi’in yang bersangkutan adalah pendusta atau tak dapat dipercaya, sedangkan mereka adalah golongan Salaf? Bila ada orang yang meyakini kebenaran hadits tersebut karena kedekatan mereka dengan masa Rasulullah SAW, maka kita pun memahami keniscayaan tersebut. Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Ahmad bin Hanbal memakai hadits dhaif semacam ini sebagai hujjah hukum, juga untuk fadhail al-a’mal. Hal ini tak dapat disebut bid’ah, apalagi bid’ah dhalalah, karena amal mereka didasarkan kepada dalil yang secara logis dapat diterima kebenarannya. Atsar tabi’in saja kita pergunakan sebagai uswah dan panutan, apalagi bila tabi’in yang bersangkutan menyandarkan amalnya kepada sabda Rasulullah SAW.

Standar penetapan keshahihan hadits memang ketat, dan yang terkenal paling ketat adalah Imam Bukhari dan Imam Muslim. Karena itu, dhaif-nya suatu hadits juga bertingkat-tingkat, ada yang ringan dan ada juga yang sangat dhaif. Hadits yang sangat dhaif inilah yang tidak dapat dipergunakan sebagai dalil pokok, meski masih mungkin menjadi dalil penguat bila ada hadits shahih yang senada atau isinya diperkuat oleh hadits yang lain.

Para Imam Mujtahid berbeda-beda dalam menggunakan hadits dhaif. Selain menggunakan hadits yang dhaif karena “dilemparkan ke atas”, Imam Ahmad bin Hanbal (yang dikenal sebagai ahlul hadits) juga menggunakan hadits dhaif yang lain sebagai penegak hukum, dengan syarat dhaifnya tidak keterlaluan. Hal ini tidak mengherankan, karena beliau dikenal hafal hingga 1 juta hadits beserta sanadnya, sehingga tingkat pemakaian haditsnya pun paling tinggi di antara para Imam Madzhab yang empat.

Dalam madzhab Syafi’i (Imam Syafi’i dikenal sebagai Nashir as-Sunnah/Penolong atau penyelamat Hadits), hadits dhaif tidak dipergunakan sebagai hujjah hukum, namun dapat dipergunakan sebagai dalil untuk fadhail al-a’mal, yaitu amalan sunnah yang utama, seperti doa, dzikir, tasbih, baca shalawat, dan lain-lain. Sebenarnya amalan-amalan tersebut telah terdapat dalil umumnya di dalam Al-Qur’an, di mana Allah SWT menganjurkan manusia untuk rajin berdzikir, berdoa, membaca tasbih, dan membaca shalawat, sehingga tanpa hadits pun amalan tersebut tetap boleh dilakukan berdasarkan keumuman dalil dalam Al-Qur’an atau hadits-hadits shahih yang lain. Berdzikir dan berdoa berdasarkan hadits dhaif tak dapat dikatakan bid’ah dhalalah, karena sebenarnya telah ada dalil umumnya dalam Al-Qur’an dan Hadits yang lain. Khusus untuk hadits mursal, Madzhab Syafi’i juga tidak menggunakannya sebagai hujjah hukum, kecuali munqathi’nya tabi’in bernama Said ibnu al-Musayyab[7]

  1. PENGERTIAN BID’AH

Menurut Bahasa Arab, kata Bid’ah berarti “sesuatu yang diadakan tanpa contoh yang terdahulu”.

Sedangkan definisi (ta’rif) bid’ah tidak terdapat dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits. Para Ulama’lah yang menyusun definisi/ta’rif tersebut setelah memperhatikan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Syeikh Izzuddin bin Abdis Salam berkata:

“Bid’ah itu adalah suatu pekerjaan keagamaan yang tidak dikenal pada zaman Rasulullah SAW.”[1]

Menurut riwayat Abu Nu’im, Imam Syafi’i pernah berkata: “Bid’ah itu dua macam, satu bid’ah terpuji dan yang lain bid’ah tercela. Bid’ah terpuji ialah yang sesuai dengan sunnah Nabi, dan bid’ah tercela ialah yang tidak sesuai atau menentang sunnah Nabi.”

Imam Baihaqi ahli hadits yang terkenal menerangkan dalam kitab ‘Manaqib Syafi’i’ bahwa Imam Syafi’i pernah berkata:
“Pekerjaan yang baru itu dua macam: Pekerjaan keagamaan yang menentang atau berlainan dengan Qur’an, Sunnah Nabi, Atsar dan Ijma’, ini dinamakan bid’ah dhalalah, dan Pekerjaan keagamaan yang baik, yang tidak menentang salah satu dari yang tersebut di atas, adalah bid’ah juga, tetapi tidak tercela.

Imam Syafi’i membagi bid’ah menjadi dua golongan, yaitu bid’ah dhalalah dan bid’ah yang tidak tercela ( hasanah). Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barangsiapa yang mengadakan dalam Islam sunnah hasanah (sunnah yang baik) maka diamalkan orang kemudian sunnahnya itu, diberikan kepadanya pahala sebagai pahala orang yang mengerjakan kemudian dengan tidak mengurangkan sedikit juga dari pahala orang yang mengerjakan kemudian itu.

Dan barangsiapa yang mengadakan dalam Islam sunnah sayyiah (sunnah yang buruk), maka diamalkan orang kemudian sunnah buruknya itu, diberikan kepadanya dosa seperti orang yang mengerjakan kemudian dengan tidak dikurangi sedikitpun juga dari dosa orang yangmengerjakan kemudian itu.” (H.R. Imam Muslim).

Istilah bid’ah yang baik diambil dari ucapan Umar bin Khattab Ra.
Dari Abdurrahman bin Abdul Qarai, beliau berkata: “Saya keluar bersama Umar Bin khatab (Khalifah Rasyidin) pada suatu malam bulan Ramadhan ke Mesjid Madinah. Di dalam mesjid itu orang-orang shalat tarawih bercerai-berai. Ada yang shalat sendiri-sendiri dan ada yang shalat dengan beberapa orang di belakangnya. Maka Umar RA berkata : ”Saya berpendapat akan mempersatukan orang-orang ini. Kalau disatukan dengan seorang imam sesungguhnya lebih baik, serupa dengan shalat Rasulullah”. Maka beliau satukan orang-orang itu shalat di belakang seorang Imam, namanya Ubai bin Ka’ab. Kemudian pada suatu malam kami datang lagi ke mesjid, lalu kami melihat orang shalat berjama’ah di belakang seorang Imam. Umar RA. berkata : ”ini adalah bid’ah yang baik”.[8]

Umar bin Khattab memberi istilah bid’ah pada pekerjaan yang diperintahkannya, yaitu Shalat Tarawih berjamaah. Hanya saja, itu adalah bid’ah yang baik. Sementara orang boleh menyatakan bahwa perbuatan Tarawih berjamaah itu bukan bid’ah, tapi yang sudah pasti adalah bahwa Umar bin Khatttab itu lebih pandai dalam hal agama daripada kita. Ia memberi ta’rif perbuatannya sebagai bid’ah, hanya saja bid’ah yang baik.

Imam Suyuthi berkata: “Maksud yang asal dari perkataan bid’ah ialah sesuatu yang baru diadakan tanpa contoh terlebih dahulu. Dalam istilah syari’at, bid’ah adalah lawan dari sunnah, yaitu sesuatu yang belum ada pada zaman Nabi Muhammad SAW. Kemudian hukum bid’ah terbagi kepada hukum yang lima.”

Imam Ibnu Hajar Al-Atsqolani, Ulama yang menyusun Kitab Fathul Bari Syarah Shahih Bukhari, mengatakan: “Dan sebagian Ulama membagi bid’ah itu kepada hukum yang lima. Ini jelas.”


[1].Mh. Amin Jaiz, Journal Islami Ceramah tentang Al Quran, Al Hadist dan Al Ijtihad di Senat Mahasiswa Fakultas Hukum UNS Surakarta, 28 September 1991)

[2] Mulakhos Qowa’idul Lughotil ‘Arobiyyah. Fu’ad Ni’mah. Dar Ats-Tsaqoofah Al-Islamiyyah. Beirut.

 

[3] Bukhari no. 2697, Muslim no. 1718

[4] Surah An-Nisaa’ ayat 115

[5] Sahih Tirmidzi juz II, hal 68 – 69, dan Sunan Abu Dawud, juz III – hal 303.

[6] Muhammad Abu Zaheah. Asy-Syafi’i. hal. 64.tt

[7] Ia adalah tabi’in yang berguru kepada istri-istri Nabi, dari Zaid bin Tsabit, Ibnu Umar, dan Ibnu Abbas. Ia juga menerima hadits dari Utsman, Ali, Shuhaib, dan shahabat Nabi lainnya. Ia menikah dengan putri Abu Hurairah karena keinginannya yang kuat dalam mengambil Hadits. Ia rajin berpuasa dan selalu bangun di malam hari. Ia berhaji 40 kali dan tak pernah terlambat takbir pertama di Masjid Nabawi.

 

[8] Shahih Bukhari Juz I hal. 242

 

TINGGALKAN KOMENTAR