Penjelasan Para Mufassir Mengenahi Al ‘Aliyyu

Penjelasan Para Mufassir Mengenahi Al ‘Aliyyu

BAGIKAN

Sebelum kita membicarakan sesuatu, apalagi yang menyangkut Firman firman Allah yang tertulis di dalam Al Quran adalah bahasa Arab, dan  hendaknya kita sadar, bahwa tanpa penjelasan ‘Ulama kita tidak akan pernah tahu apa arti Firman firman tersebut, sekalipun yang membaca itu adalah Orang Arab sendiri, dan kita juga tahu bahwa Para ‘Ulama yang menjelaskan itu semua juga dengan menggunakan bahsa arab juga.

Dan sudah menjadi kesepakatan dunia, bahwa terkadang bahsa asing itu mempunyai gaya tersendiri yang berbeda dengan gaya bahasa kita, apalagi dalam masalah maksud dari kata bahsa asing itu, sering kita dapati ada satu kalimat bahasa kita yang jika di terjemahkan dalam bahsa lain akan mendapatkan kesulitan kesepadannya, atau satu kalimat bahasa kita bisa saja mewakili beberapa kalimat bahsa asing, demikian juga sebaliknya, dengan kata lain kita seharusnya sadar sesadar sadarnya bahwa dari satu bahasa ke bahsa yang lain kita akan banyak mengalami problem inti maksud dari yang dituju dari bahsa kita sendiri, apalagi bahasa Arab?

Untuk itu dalam menterjemahkan kalimat kalimat arab nanti, kami sangat berhati hati, terkadang kami terpaksa membuat tanda kurung sebagai penjelasan dan menandakan betapa satu dua kalimat yang di terjemahkan dengan metode Murod dan sedapat mungkin tidak keluar jauh jauh dari gaya bahsa aslinya, masih memerlukan tambahan penjelasan lagi dan  betapa memang kalimat itu multi maknanya.

Setelah bebrapa kali kami membuat argumentasi tentang Makna dan penjelasan “ISTAWA” yg sangat di suka Wahabi/Salafi yang kebanyakan oleh para Salafy Wahabi di artikan dengan ‘BERSEMAYAM’, maka kali ini kami mencoba untuk menjelaskan Mufrodat kalimat yg biasa di gunakan sebagai penyambung kalimat Istawa.

Seperti yang kami katakana diatas, terkadang satu kalimnat bahsa lain bisa mengandung bebrapa arti dan pemahaman ketika di terjemahkan dengan bahasa kita sendiri, demikian ini adalah salah satu contoh yang terjadi dengan kalimat kata kerja (fi,il) ‘Ala = atas yang ketika di buat menjadi kalimat Pelaku (Fai,l) ‘Aliyyu = Orang atas atau yang Maha Atas, tentu saja bagi yang menggunakan otaknya untuk lebih simple, Maha Atas tersebut di rubah menjadi Maha Tinggi, sebab yang namanya atas adalah apa saja yang baik dekat atau jauh dari kepala kita, ketika berdiri.

Padahal kalimat Tinggi tersebut ketika di sambung atau di gunakan sebagai yang menunjukkan bentuk atau tempat, bisa saja yang berbentuk tinggi dan bertempat tinggi  itu ada di bawah kita, contohnya kita berada di puncak gunung, dan di bawah kita ada Tanaman yang sangat tinggi, dan tanaman yang tinggi itu di buat burung untuk bertengger atau bertempat. Jadi terkadang ada sebuah tempat tinggi, tapi jauh berada di bawah kaki kita.

Baiklah, kami memang sengaja bermanthiq sebagai pembukaannya, sebab bagaimanapun juga sebuah dialog itu sangat di perlukan dalam rangka menjembatani akal dan iman kita.

Sebagaimana yang kami utarakan di atas, maksud artikel kali ini adalah untuk menjelaskan ari perkata dari Al ‘Aliyyu, dan dalam penjelasan ini sengaja kami hadirkan lebih banyak Kalam kalam atau penjelasan dari para pakar di bidangnya, yaitu Mufassir Mufassir terkenal dan sudah tidak di ragukan kemampuan ilmiyahnya.

 

Tafsir Al ‘Aliy dalam beberapa kitab Tafsir 

 

Tafsir Al Khozin:

{ وهو العلي } أي الرفيع فوق خلقه الذي ليس فوقه شيء فيما يجب له أن يوصف به من معاني الجلال والكمال فهو العلي بالإطلاق المتعالي عن الأشباه والأنداد والأضداد وقيل العلي بالملك والسلطنة والقهر فلا أعلى منه

{ وهو العلي }

“Maksudnya tinggi diatas MahluqNya yang tiada sesuatupun melampauiNya dalam pengertian sebagaimana Allah wajib di shifati dengan Shifat-Shifat yang mengandung KeAgungan dan Kesempurnaan (Maha Luhur). Maka Ia Tinggi dengan ketinggian yg muthlaq (tidak berubah/pasti), Maha Tinggi dari penyerupaan, bilangan, dan kontradiksi . Dan ada yang mengatakan Tinggi dalam pengertian  Mulki (monarsi/kekuasaan) dan  Sulthonah (KepemerintahaNya/KerajaaNy) dan  Qohru (Kekuasaan yang tidak dapat di rubah atau di bantah), maka tidak ada satupun yang lebih tinggi dariNya

Al Mawardi:

{ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ } في العلي تأويلان :

أحدهما : العلي بالاقتدار ونفوذ السلطان .

والثاني : العلي عن الأشباه والأمثال .

وفي الفرق بين العلي والعالي ، وجهان محتملان :

أحدهما : أن العالي هو الموجود في محل العلو ، والعلي هو مستحق العلو .

والثاني : أن العالي هو الذي يجوز أن يُشَارَكَ في علوه ، والعلي هو الذي لا يجوز أن يُشَارَكَ في علوه ، فعلى هذا الوجه ، يجوز أن نصف الله بالعليّ ، ولا يجوز أن نصفه بالعالي ، وعلى الوجه الأول يجوز أن نصفه بهما جميعاً .

 

“[Wahuwa al ‘Aliyyu al ‘Adhim] (Dan Dia Maha Tinggi dan Agung) dalam Ketinggian ini terdapar dua Takwil:

  1. 1.      Tinggi dengan kemampuan dan pelaksaan kekuasaan
  2. 2.      Tinggi dari penyerupaan dan percontohan”

Adapaun perbedaan Lafadh Al ‘Aaliyyu (dengan alif di belakang ‘ain) dan Al ‘Aliyyu (dengan ‘ain pendek atau tidak memakai alif dibelakang ‘ain) itu mengandung pengertian dua segi:

  1. 1.      Lafadh Al ‘Aaliyyu (dengan alif di belakang ‘ain) ialah yang Wujud di ketinggian, adapaun Al ‘Aliyyu (dengan ‘ain pendek atau tidak memakai alif dibelakang ‘ain) ialah Dzat Menghaki sifat keluhuran.
  2. 2.      Lafadh Al ‘Aaliyyu (dengan alif di belakang ‘ain)  ialah  Orang/Sesuatu yang mungkin tersaingi dalam ketinggiannya, dan Al ‘Aliyyu (dengan ‘ain pendek atau tidak memakai alif dibelakang ‘ain) ialah Dzat yang tidak mungkin tersaingi KetinggianNya, maka berdasarkan arti dalam segi ini, Allah boleh/Mungkin bisa Kita  shifati dengan “Al ‘Aliyyu” dan tidak mungkin Kita sifati dengan “Al ‘Aaliyyu”, dan atas dasar segi pengertian yang pertama tadi, Allah Mungkin/bisa kita sifati dengan keduanya (Al ‘Aliyyu dan Al ‘Aaliyyu)”.

 

Tafsir Al Rozy:

{ وَهُوَ العلى العظيم } واعلم أنه لا يجوز أن يكون المراد منه العلو بالجهة

وقد دللنا على ذلك بوجوه كثيرة ، ونزيد هاهنا وجهين آخرين الأول : أنه لو كان علوه بسبب المكان ، لكان لا يخلو إما أن يكون متناهياً في جهة فوق ، أو غير متناه في تلك الجهة ، والأول باطل لأنه إذا كان متناهياً في جهة فوق ، كان الجزء المفروض فوقه أعلى منه ، فلا يكون هو أعلى من كل ما عداه ، بل يكون غيره أعلى منه ، وإن كان غير متناه فهذا محال ، لأن القول بإثبات بعد لا نهاية له باطل بالبراهين اليقينية ، وأيضاً فإنا إذا قدرنا بعداً لا نهاية له ، لافترض في ذلك البعد نقط غير متناهية ، فلا يخلو إما أن يحصل في تلك النقط نقطة واحدة لا يفترض فوقها نقطة أخرى ، وإما أن لا يحصل ، فإن كان الأول كانت النقطة طرفاً لذلك البعد ، فيكون ذلك البعد متناهياً ، وقد فرضناه غير متناه . هذا خلف ، وإن لم يوجد فيها نقطة إلا وفوقها نقطة أخرى كان كل واحدة من تلك النقط المفترضة في ذلك البعد سفلاً ، ولا يكون فيها ما يكون فوقاً على الاطلاق ، فحينئذ لا يكون لشيء من النفقات المفترضة في ذلك البعد علو مطلق ألبتة وذلك ينفي صفة العلوية .

 

” (Wahuwa al ‘Aliyyu al ‘Adhim) dan ketahuilah bahwa sesungguhnya  tidak di perbolehkan apa yang di maksud Tinggi/Atas itu adalah ketinggian dalam bentuk Arah, dan saya telah memberikan dalil hal itu dg berbagai segi, dan saya berkenen menambahkan dalil2 itu dari dua segi:

 

  1. 1.      Sesungguhnya andai “AtasNya” itu di sebabkan tempat, maka musti Allah kedatangan sifat bisa saja  terbatasi (tutuk dalam bahasa jawa / bertepi / berujung pent) dalam arah atas, atau bisa juga tidak terbatasi oleh arah atas. Pengandaian yang pertama jelas batal, sbb ketika Allah terbatasi oleh arah atas, maka apa yg di tetapkan (di ciptakan/putuskan) untuk di buat di atasNya akan menjadi lebih tinggi dariNya, maka Allah tidak lagi Yang paling tinggi dari selainNya, malah sebaliknya, yaitu ada sesuatu yang lebih tinggi dariNya.  Dan jika dikatakan arah atasNya Allah itu tidak terbatas/ berujung/ bertepi, maka perkataan yang menetapkan arah atas yang tidak berujung itu tidak masuk akal. dan juga jika dikatan bahwa arah yang menunjukkan sesuatu yang jauh itu tidak ada batasnya, maka konsekuensi logisnya adalah ada titik tanpa batas dalam arah “jauh” tersebut; maka bisa jadi dalam titik tersebut hanya ada satu titik, atau lebih dari satu titik. Jika kemungkinan pertama yang terjadi maka titik tersebut merupan bagian dari arah “jauh” tersebut, dengan demikian maka arah tersebut berujung, dan hal tersebut berlawanan dengan apa yang kita hipotesakan bahwa arah tersebut tidak berujung”

الحجة الثانية : أن العالم كرة ، ومتى كان الأمر كذلك فكل جانب يفرض علواً بالنسبة إلى أحد وجهي الأرض يكون سفلاً بالنسبة إلى الوجه الثاني ، فينقلب غاية العلو غاية السفل .

 

  1. 2.     ” Sesungguhnya Alam itu bulat/bundar, dan jika demikian maka setiap apa yang ditetapkan oleh orang pada sebagai arah atas, maka arah itu menjadi arah bawah menurut orang yang di belahan alam lain, maka terjadilah kebalikan ujung atas menjadi ujung bawah”.

 

 

 الحجة الثالثة : أن كل وصف يكون ثبوته لأحد الأمرين بذاته ، وللآخر بتبعية الأول كان ذلك الحكم في الذاتي أتم وأكمل ، وفي العرضي أقل وأضعف ، فلو كان علو الله تعالى بسبب المكان لكان علو المكان الذي بسببه حصل هذا العلو لله تعالى صفة ذاتية ، ولكان حصول هذا العلو لله تعالى حصولاً بتبعية حصوله في المكان ، فكان علو المكان أتم وأكمل من علو ذات الله تعالى ، فيكون علو الله ناقصاً وعلو غيره كاملاً وذلك محال ، فهذه الوجوه قاطعة في أن علو الله تعالى يمتنع أن يكون بالجهة

  1. 3.      Sesungguhnya jika ada sifat  yang bisa tetap berada dalm salah satu diantara dua Perkara itu bersifat Dzatiyyah (A= tempat dan B= Yang menempati tempat, pent), kemudian yg selainnya (B) adalah mengikuti sifat yang pertama (A), (mengikuti tetapnya sifat yg ada padanya, pent), maka hukum sifat yang pertama (A) berarti lebih sempurna Dzatnya, dan apa yang terdapat pada yg arodhy (B), ( yg tetapnya sifat sebab ikut pada yg pertama ) adalah lebih sedikit dan lemah,, jikalau ketinggian Allah adalah sebab adanya tempat , niscaya ketinggian tempat yg menjadi sebab ketinggian Allah adalah sifat dzatiyah ( sifat yg inheren dalam dirinya sendiri bukan krena ikut yg lain ) , maka adanya sifat ketinggian bagi Allah adalah karena ikut adanya ketinggian tempat , konsekuensinya ketinggian tempat itu lebih sempurna dari ketinggian Allah , dan ketinggian Allah bersifat naqis ( tidak sempurnya ) dan selainnya ( tempat ) bersifat sempurna dan hal demikian adalah mustahil , maka hal ini menjadi kepastian bahwa Allah tidak berada pada suatu arah”

 

Tafsir Al Alusi:

{ وَهُوَ العلى } أي المتعالي عن الأشباه والأنداد والأمثال . والأضداد وعن أمارات النقص ودلالات الحدوث ، وقيل : هو من العلو الذي هو بمعنى القدرة والسلطان والملك وعلو الشأن والقهر والاعتلاء والجلال والكبرياء

“[Dan Dia Maha Tinggi] artinya Maha Tinggi (luarbiasa) dari penyerupaan, sepadan, perumpamaan, bilangan, tanda tanda kekurangan, dan menunjukkan kebaharuan. Dan dikatakan arti Tinggi itu adalah dari kata ketinggian yg mempunyai arti kekuasaan, penguasaan, kerajaan, dan Ketinggian urusan, penaklukan, keluhuran, keagungan dan kebesaran”.

Tafsir Al Baghowi:

{ وَهُوَ الْعَلِيُّ } الرفيع فوق خلقه والمتعالى عن الأشياء والأنداد، وقيل العلي بالملك والسلطنة

“ [dan Dia Maha Tinggi] Luhur di atas MahluqNya dan Maha tinggi  dari sesuatu dan Maha Tinggi dari penyepadanan, dan dikatakan  Tinggi dengan Kekuasaan dan Penguasaan”

Tafsir Al Thobari:

وأما تأويل قوله:”وهو العلي” فإنه يعني: والله العلي.

* * *

و”العلي””الفعيل” من قولك:”علا يعلو علوا”، إذا ارتفع،”فهو عال وعلي”،”والعلي” ذو العلو والارتفاع على خلقه بقدرته.

“Adapun Takwil Sabda Allah [Dan Dia Maha Tinggi] maka sesungguhnya yang di Maksud adalah Allah itu Tinggi, dan Al ‘Aliyyu itu sepadan dengan Kalimat Al Fa,ilun (Kalimat itu mengikuti wazan Fa,iilun, dalam hal ini jika di bahas detail dalam bab Shorof, maka akan sangat panjang sekali, pent) dari tashrif anda ‘ALA _ YA’LUU _ ‘ULUWWAN, IDZA IRTAFA’A ( Tinggi ketika menaik) maka bias menjadi ‘Aalin dan juga bias ‘Aliyyun (Ini berbicara tentang perubahan susunan kalimat dari kata kerja menjadi kata benda dll, pent), adapaun yang di maksud [Al ‘Aliyyu] itu Dzat Yang mempunyai Keluhuran dan Ketinggian di atas MahluqNya dengan KEKUASAANNYA”

 

Tafsir Al Bahru Al Muhith:

{ وهو العلي العظيم } عليّ في جلاله ، عظيم في سلطانه . وقال ابن عباس : الذي كمل في عظمته ، وقيل : العظيم المعظّم

“[ dan Dia Maha Tinggi/Luhur] Tinggi dalam KemulianNya Agung dalam PenguasaanNya, dan berkata Ibnu ‘Abbas: yaitu Dzat Yang Sempurna dalam KeAgunganNya, dan di katakana Yang Agung dan di Agungkan”

Tafsir Tanwir Al Miqbas :

{ وَهُوَ العلي } أعلى من كل شيء { العظيم } أعظم من كل شيء

‘'[dan Dia Maha Tinggi] lebih tinggi dari segala sesuatu [dan Maha Agung] lebih Agung dari segala sesuatu”

 

Tafsir Al Muharror Al Wajiz:

و { العلي } : يراد به علو القدر والمنزلة لا علو المكان ، لأن الله منزه عن التحيز ، وحكى الطبري عن قوم أنهم قالوا : هو العلي عن خلقه بارتفاع مكانه عن أماكن خلقه .

قال القاضي أبو محمد عبد الحق رضي الله عنه : وهذا قول جهلة مجسمين ،

 

[Maha Tinggi] kalimat yang di maksud dengan itu adalah ketinggian Derajat dan kedudukan, tidak dalam arti ketinggian tempat, sebab Allah Maha Suci dari kecendrungan (arti singkatnya membutuhkan tempat sebagai tempat berdiamnya Dzat), dan Al Thobari menceritakan ada Kaum yang mengatakan: Yang di maksud tinggi itu adalah Tinggi dari MahluqNya dengan Meningginya tempat Allah dari tempat MahluqNya, Al-Qodhi Abu Muhammad Abdul Haq semoga Allah Meridhoinya mengatakan: Perkataan seperti ini adalah perkataan Orang2 Mujassim yang bodoh

Demikianlah apa yang bisa Kami dapatkan dalam beberapa tafsir, terserah apakah Anda lebih percaya kepada ‘Ulama-ulama yang mana, ‘Ulama yang sudah Masyhur keilmuannya, apa Ulama yang menjadi pelayan tuan tuan tambang politik?

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR