Pengusung Khilafah Islamiyah Musyrik!!

Pengusung Khilafah Islamiyah Musyrik!!

BAGIKAN

Apakah anda kaget mambaca judul tulisan ini? Jika ya, maka saya ucapkan selamat kaget. ^_^

Sebelum anda naik pitam, tentu anda harus menyimak penjelasan saya dahulu sampai selesai. Bukankan anda orang yang beragama. Orang beragama tidak gampang marah-marah apalagi suka mengamuk. Lagi pula ini bukan pendapat saya pribadi. Saya hanya ingin berbagi tentang sekelumit pemikiran salah satu tokoh pemikir Islam negeri ini, Nurcholis Majid. Dan perlu digaris bawahi, ini adalah sebuah tawaran pendapat. Tidak mutlak. Hanya sekedar eksplorasi pemikiran saja. Karena yang mutlak hanya Tuhan. 🙂

Sudah menjadi nyanyian wajib di warkop ini jika anda sering mendengar upaya Islamisasi terhadap segala hal dalam lapangan kehidupan? Mulai dari pendidikan, kebudayaan, hingga pemerintahan? Yang puncak dari semua ini adalah munculnya ideologi untuk mendirikan Negara Islam di banyak Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam?

Apa yang membuat mereka bernafsu mendirikan Khilafah Islamiyah?

Beginilah variable-variable pertanyaan yang mendasari pola pikir mereka:

Kenapa mutu pendidikan carut marut tidak berprospek masa depan cerah? Karena sistem pendidikannya tidak Islami. Kenapa ekonomi rakyat porak-poranda? Karena sistem ekonominya tidak Islami. Kenapa kebudayaan tidak memanusiakan manusia lagi? Karena segenap piranti kebudayaan tidak lagi Islami. Kenapa kondisi pemerintahan atau politik kenegaraan sudah semakin brutal dan preman? Bahkan korupsi sudah jadi trend dikalangan elit? Karena Negaranya tidak Islami.

Apakah Islamisasi kehidupan menjadi sebuah solusi absolut?

Bahwa seseorang muslim harus Islam secara kaffah, secara meneyeluruh, itu benar. Tapi tentunya tidak dengan salah kaprah mengartikannya. Bukan dalam arti segala hal harus berlabel Islam. Dengan menambahkan kata Islam pada nama saya, Muhammad Boyudin Rahman, Warkopiyyah Islamiyyah dan Lapak Islam Punguk Comberan misalnya, bukan secara otomatis semua itu sudah bisa dianggap memenuhi nilai-nilai Islam. Itu baru sekedar slogan. Jargon. Umbul-umbul. Begitu juga terhadap hal-hal lainnya dalam segala sisi kehidupan.

Selalu dan selalu saja mekanisme hukum sunnatullah tidak bisa dipotong dan disulap oleh segala yang belabel Islam. Apollo yang bermerk Islam pun tidak akan sanggup menembus ruang angkasa menuju bulan jika teknologi mesinnya tidak memenuhi prasyarat hukum alam yang mendukungnya. Meskipun laptop saya yang belum diinstall selalu saya bacakan do’a-do’a mustajab setiap hari tetap tidak akan bisa dioperasikan. Tetap saja saya harus menginstallkan Operating Systemnya terlebih dahulu.

Meskipun saya kuliah di Universitas Sorga Warkop Islamiyyah, yang semua kurikulumnya super Islami (walaupun apa yang dimaksud dengan Islami di sini masih bisa diperdebatkan), tapi tanpa saya memenuhi syarat alamiah sehubungan dengan belajar, maka saya akan tetap lulus sebagai mahasiswa DO.

Meskipun sistem pemerintahan dibangun dengan sistem Islam atau syariat Islam (meskipun batasan dari istilah ini juga bisa diperdebatkan), tapi tanpa memenuhi standar hukum-hukum alamiah pemerintahan dan kenegaraan yang memadai, maka tetap saja negara tersebut akan amburadul. Bahkan sebaliknya juga bisa menindas rakyat atas nama agama. Malah justru bisa menjadikan agama sebagai bendera politik dan kambing hitam.

Empat sahabat utama Nabi, khulafaurasydin, hanya satu yang meninggal secara normal, yaitu Abu Bakar Siddik. Tapi bagaimana dengan Umar bin Khatab, Usman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib? Ketiganya mati karena dibunuh oleh golongannya yang tidak menyukai kepemimpinannya. Kurang apa kewibawaan dan kemuliaan beliau-beliau ini? Sahabat terbaik Baginda Rasul. Cukuplah beliau-beliau saja yang menjadi korban realitas politik.

Baginda Rasul Muhammad sendiri menggunakan Piagam Madinah dalam kepemimpinannya di Madinah, dimana semua agama tetap dihormati dan hidup layak sebagaimana umat yang beragama Islam.

Lalu, dimana letak kemusyrikannya?

Dalam analisis Nurcholis Majid, Negara adalah salah satu segi kehidupan duniawi, yang semestinya rasional dan kolektif. Memang Islam dan Negara tidak dapat dipisahkan, namun keduanya tetap harus dibedakan dalam dimensi dan cara pendekatannya. Sedangkan Islam adalah aspek kehidupan lain yang dimensinya spiritual dan pribadi.

Umat Islam yang mensakralkan atas ajaran agama dan simbolnya itu berarti sama saja menciptakan ‘berhala baru’ karena menyamakan kedudukan hasil intrpretasi manusia dengan agama itu sendiri. Dalam konteks ini, sakralisasi akan memusatkan kekuasaan di tangan interpreter sekaligus memberikan justifikasi bahwa mereka memiliki ‘keabsahan’ untuk mengontrol simbol-simbol keagamaan.

Islam menetapkan tidak dibenarkannya suatu kelembagaan ruhani mengarahkan kekuasaan ruhani orang lain merupakan tindakan menyaingi Tuhan. Dan itu berarti sama saja menyaingi Tuhan dan termasuk musyrik.

Pokok dari segala pokok yang dikehendaki Islam adalah ketakwaan kepada Tuhan. Takwa adalah segala unsur kebaikan (meminjam istilah Prof Quraisy Shihab). Katakanlah semua kebaikan, itu semua takwa. Istiqomah, tawadu, menghargai sesama, menyantuni orang tak mampu, menjaga amanah, dan seterusnya dan sebagainya. Intinya adalah ‘ethical values’, nilai-nilai etika.

Jadi kalau seseorang betul-betul mengikuti etika yang bersumber dari ketaatan tauhid, hasilnya adalah sikap ‘demokrasi’.

Bagi anda yang sudah terlanjur naik pitam terhantam oleh statement ‘musyrik’, tidak perlu khawatir. Ini adalah murni eksplorasi kajian pemikiran. Sekedar tawaran pendapat. Dan setahu saya, orang yang selalu menggunakan otak cenderung tidak pernah menggunakan otot. Begitulah yang saya kenal dari sosok pemikir.

Lalu bagaimana menurut anda?

silahkan…. ^_^

5 KOMENTAR

  1. judulnya nda bikin kaget… hanya saja jedanya atau komanya di mana? interpretasi bisa beragam..apakah Islamiyah Musyrik itu satu gatra atau … gimana penulisnya??
    wlwlwlwlwlll… (nguyu model baru)

  2. semoga yang membaca memiliki kepekaan dan pemahaman yang cukup agar tak ada salah paham..semoga semua tulisan dipahami dengan baik

TINGGALKAN KOMENTAR