Pengaruh Faham Murjiah Dalam Pemikiran Islam

Pengaruh Faham Murjiah Dalam Pemikiran Islam

BAGIKAN

Di dalam Islam, firqoh besar itu delapan, yaitu:

1. Mu’tazilah
2. Syi’ah
3. Khawarij
4. Murji-ah
5. Jabbariyah
6. Najjariyah
7. Musybihah
8. Najiyyah

Sumber: At-haful Murid Syarah Jauharotut Tauhid.

Diantara sekian firqoh yang pengaruhnya kuat ideologinya, dan menyebar begitu luas di kalangan kaum Muslimin zaman sekarang adalah Murji-ah.

Dimana dalam keyakinan Murjiah itu adalah orang Islam selamanya tidak akan menjadi kafir jika tetap berkeyaqinan dengan keMaha Tunggalan Alloh.

Keyaqinan dasar mereka tidak mengkafirkan seseorang, selama ia masih mengucapkan dua kalimah syahadat, statemen mereka:

: لا تضر مع الإيمان معصية، كما لا ينفع مع الكفر طاعة

“Maksiyat tidak akan membahayakan Iman, seperti halnya tidak bermanfaatnya thoat beserta kekufuran”

Kepercayaan ini muncul pasca terbunuhnya Sayyidina ‘Utsman dimana orang orang menuntut kepada Sayyidina ‘Ali untuk segera mengadili pembunuh itu yang dianggap telah kafir, sikap politik mereka muncul menjadi sebuah keyakinan setelah melihat posisi dan suasana yang teramat sulit dialami oleh Sayyidina Ali, dimana komplotan pembunuh itu sedang berkeliaran dalan kepemerintahannya.

Sayyidina Ali rupanya lebih mengutamakan stabilitas terlebih dahulu, dari sikap yang dianggap lamban seperti ini, muncullah bibit ideologi Khawarij yang menjadi lawan dari sikap politik kaum murji-ah, yaitu sangat mudah mengkafirkan siapapun yang berdosa.

Murji-ah dari makna bahasanya adalah menangguhkan, terambil dari Irja. Orang orang menyebutnya demikian karena orang orang murjiah selalu mengambil sikap untuk mengembalikan keputusan benar dan salahnya sesorang hingga pada keputusan Alloh besok di Yaumil Qiyamah.

Ketika ditanyakan kepada mereka, siapakah yang salah diantara kaum khawarij, mu’awiyah dan syi’ah? Mereka menjawab; kita tangguhkan saja sampai ke pengadilan Alloh besok di akhirat, kita akan tahu siapa yang benar dan siapa yang salah.

Sepintas sikap mereka mirip dengan para Sahabat seperti Sayyidina Abdulloh bin Umar, Abi Bakrah, Imron bin husain dan Muhammad bin Sholah yang lebih memilih menghindari fitnah dengan tidak memihak kepada Sayyidina Ali ataupun Mu’awiyyah dengan tidak ikut membai’at salah satunya. Tetapi para Sahabat ini tidak membawa masalah politik kedalam bentuk keyakinan untuk dikembangkan. Sikap para Sahabat ini agaknya bertendensi dengan salah satu sabda Rosulullah صلى الله عليه وسلم :

: “إنها ستكون فتن، ألا ثم تكون فتنة، القاعد فيها خير من الماشي فيها، والماشي فيها خير من الساعي إليها، ألا فإذا نزلت – أو وقعت – فمن كان له إبل فليلحق بإبله، ومن كانت له غنم فليلحق بغنمه، ومن كانت له أرض فليلحق بأرضه”، قال: فقال رجل: يا رسول الله، أرأيت من لم يكن له إبل ولا غنم ولا أرض؟ قال: “يعمد إلى سيفه فيدق على حده بحجر ثم لينج إن استطاع النجاة

‘ Akan ada fitnah ( kekacauan ), maka orang yang duduk lebih baik dari yang berjalan, orang yang berjalan lebih baik dari orang yang ikut berusaha menghidupkan fitnah itu. ( kata nabi Muhammmad SAW ) apabila terjadi fitnah itu, maka yang punya onta kembalilah kepada ontanya, orang yang punya kambing kembalilah kepada kambingnya, orang yang punya tanah kembalilah kepada tanahnya”.

Seorang sahabat bertanya : ” Ya Rasulullah. Kalau ia tidak punya onta, tak punya kambing, dan tak punya tanah, bagaimana ? ”

Nabi menjawab : ” Ambillah pedangnya, pecahkan dengan batu mata pedangnya itu dan kemudian carilah jalan lepas kalau mungkin ” ( HR : Bukhari dan Muslim )

Dan agaknya, sikap seperti ini pula yang diikuti oleh sebagian para ‘Ulama Nusantara yang lebih memilih diam dalam menghadapi rebutan jabatan di pil pil yang diselenggarakan pemerintah, bagi para Ulama itu, pil pil yang ada lebih banyak mudlorrot yang harus dihindarinya. Sikap seperti itu lebih mengamankan hati ummat dan menyelamatkan fungsi ulama yang nanti bebas beramar ma’ruf nahi munkar.

Sejarawan berbeda pendapat siapa pendiri Murjiah yang sebenarnya, tetapi para pemukanya diketahu antara lain:

Dzar bin Abdillah Al Hamdani (ذر بن عبد الله الهمدني) ,

Qois Al Mashir (قيس الماصر)

Hammad bin Abi Salim (حماد بن أبي سالم) salah satu Guru Imam Hanafi.

Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrohim Al Anshori (أبو يوسف يعقوب بن إبراهيم الأنصاري) berjuluk Qodlil Qudlot bermadzhab Hanafi (113 h – 182 h) salah satu murid Imam Abu Hanifah yang muhaddits dan ahli fiqih.

Abu Abdillah Muhammad bin Al Hasan Al Syaibani (أبو عبدالله محمد بن الحسن الشيباني) terkenal dengan Faqihul Iroq (paling alim alimnya fiqih tanah irak)  sahabatnya Imam Abu Hanifah, pengarang kitab Al Mabsuth dan Al Jami’ul Kabir  (131 h – 189 h). Beliau berguru fiqih kepada AlQodli AbubYusuf, berguru juga kepada Shufyan Al Tsauri, Al Awza,i, Anas bin Malik dll.

Sekarang katakan, kembali kepada Al Quran dan Hadits menurut pemahaman Salafus Salih yang bagaimana dan seperti apa yang kalian kehendaki, jika salah satu firqoh dari sekian firqoh yang kalian sesatkan ternyata banyak tokoh yang melewatkan jalur keilmuannya dari mereka?

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR