Pemilik Tanah Palestina

Pemilik Tanah Palestina

BAGIKAN
Palestina merupakan negeri yang membentang dari barat Sungai Yordan hingga selatan Laut Mati dan Teluk Aqabah. Negeri ini berada di ujung barat Asia, menjadi penghubung Benua Asia dengan Benua Afrika. Selain itu, Palestina juga berbatasan dengan Libanon, Syria, Yordania, Arab Saudi, dan Mesir. Negeri ini juga menjadi salah satu negeri di pantai timur Laut Mediterania (hlm. 133). Tanah Palestina menjadi istimewa karena merupakan tempat diturunkannya semua agama samawi, tempat peradaban kuno muncul, jembatan aktivitas komersial, dan tempat penyusupan ekspedisi militer di sepanjang era berbeda. 

Lokasi strategis Palestina menjadikannya penghubung antara berbagai benua bagi dunia kuno Asia, Afrika dan Eropa. Palestina juga menjadi pintu masuk bagi perjalanan ke negara-negara tetangga. Ia menjadi jembatan penghubung bagi manusia sejak dahulu kala, sebagaimana ia juga menjadi lokasi sentral (pusat) yang memikat sebagian orang yang mau bermukim dan hidup dalam kemakmuran (id.wikipedia.org).

Abu Bakar menguraikan, sebagai tempat diturunkannya semua agama samawi, negeri Palestina menjadi tanah suci bagi Yahudi, Kristen, dan Islam. Israel-Yahudi percaya Beit Ha Mikdas atau Kuil Sulaiman sebagai tempat kehadiran Tuhan Yahweh di bumi. Di Tanah Suci itulah Mesiah kelak datang untuk menegakkan kebebasan, kemenangan, dan kemegahan Israel. Mesiah akan memaksa bangsa lain hormat dan tunduk kepada mereka. Mereka juga percaya bahwa sisa-sisa Beit Ha Mikdas atau Kuil Sulaiman masih ada. Bangunan tersebut berupa sebuah dinding besar dan tinggi yang panjangnya sekitar 485 meter (kini tinggal 60 meter) dan lebih dikenal dengan Tembok Ratapan. Di tembok itulah Tuhan Yahweh selalu hadir di bumi. Oleh karena itu, berdoa di sana berarti berkomunikasi langsung dengan Tuhan.

Lain Israel-Yahudi lain pula Kristen. Kristen melihat keutamaan Palestina pada kisah Yesus Kristus. Mereka percaya Palestina merupakan tempat Yesus menjalani kehidupannya di bumi sampai penyaliban dan pengebumiannya. Melalui persentuhan dengan tubuh Yesus-lah tanah Masjidil Aqsha di Yerussalem serta sejumlah kota lain, seperti Nazareth, Betlehem, dan Bukit Zaitun dianggap terkait secara langsung dengan surga. Cerita yang mirip dengan tradisi Israel-Yahudi yang menempatkan unsur material sebagai penghubung antara dunia dengan Tuhan (dengan menganggap Tembok Ratapan sebagai tempat kehadiran Tuhan Yahweh).

Di tanah Masjidil Aqsha itulah jenazah Yesus dibaringkan seusai disalib di Bukit Zaitun. Yesus diletakkan di sebuah bongkahan batu, yang konon masih ada di Gereja Makam Suci. Ia kemudian dikuburkan di suatu daerah di dekat tembok kota. Menurut umat kristiani makam Yesus berada di sebuah ruangan yang untuk menuju ke sana harus melalui pintu yang mirip goa. Di makam itu terdapat sebuah kapel (ruangan kecil) tempat berdoa. Pada masa Hedrian, makam tersebut ditutupi podium beton. Sebagai gantinya, didirikan Kuil Dewi Aphrodite dan Venus.

Kemudian, zaman Konstantin Agung, di tempat tersebut didirikan gereja megah Konstantin. Saat Kisra Parviz menyerang, gereja tersebut diruntuhkan. Baru pada masa Kaisar Heraklius gereja Konstantin kembali dibangun bahkan lebih megah. Bangunan itulah yang kini dikenal dengan Gereja Makam Suci. Umat Kristen percaya, di gereja itulah kelak Yesus Kristus akan bangkit untuk memerangi Anti-Kristus dan memimpin Kristen menuju kemenangan.

Berbeda dengan kedua agama tersebut, Islam mengakui kesucian Masjidil Aqsha dikarenakan kehendak Allah. Sama halnya ketika Islam memandang keutamaan Masjid al-Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah. Walaupun begitu, Islam mengakui Yahudi dan Nasrani sebagai ajaran dari Allah. Islam juga mengimaninya, bahkan sekaligus turut memiliki nabi dan rasul sebelum kemunculan Muhammad itu. Islam pun menghargai kitab-kitab suci mereka, seperti Taurat Nabi Musa, Zabur Nabi Daud, dan Injil Isa putra Maryam. Dalam tradisi Islam, Yerussalem disebut Madinatu al-Quds.

Tahun 638 M, Masjidil Aqsha menjadi milik kaum muslim setelah Pendeta Agung Sophronius menyerahkanYerussalem kepada Khalifah Umar bin Khattab. Kemudian, Umar mengerjakan salat Zuhur di dekat Gereja Makam Suci. Di bekas tempat salat itu didirikan Masjid Umar dengan bentuk sederhana. Satu hal yang perlu dicatat, Umar mengizinkan umat kristiani melestarikan Gereja Makam Suci. Hal sama juga berlaku atas Gereja Kelahiran di Betlehem. Konon, Nabi Muhammad pun dalam peristiwa Isra Mikraj sempat menunaikan salat dua rakaat di Betlehem sebagai penghormatan kepada Nabi Isa. Sementara, Tembok Ratapan adalah tempat mengaitkan tali Buroq.

Dalam perjalannya, Yerussalem kembali diperebutkan oleh Yahudi, Kristen, dan Islam. Ketiganya mengaku sebagai pemilik Tanah Suci tersebut. Secara politis dan hukum, Palestina adalah milik umat muslim. Namun, secara keagamaan, Tanah Suci tetap milik Yahudi, Kristen, dan Islam. Betapa tidak, Masjidil Aqsha yang merupakan tanah lapang berbentuk persegi panjang tersebut merupakan tempat Nabi Sulaiman membangun Baitul Maqdis, Nabi Isa tinggal dan mangkat, serta Nabi Muhammad melakukan Mikraj. Masjidil Aqsha lebih mirip sebuah kompleks bangunan tempat peribadatan, ada Tembok Ratapan, Gereja Makam Suci, serta Masjid Kubah Batu dan al-Aqsha yang dibangun Khalifah Abdul Malik. Maka sangat mengherankan jika ada fatwa dari imam kaum puritan wahabi/salafi yg mewajibkan Kaum Muslimin penduduk Palestina agar keluar dari wilayah Palestina dg alasan wilyah itu telah di kuasai Israil!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Itu hanyalah sekelumut dari kisah yang diurai dalam buku terbitan Insan Madani ini. Melalui buku setebal 304 halaman ini pembaca juga dapat mendalami sejarah bangsa Israel, kebangkitan Islam, Perang Salib, hingga Zionisme. Foto-foto pun tak urung ditampilkan sebagai fakta sejarah yang semakin menguatkan bahwa buku ini pantas dibaca, ditelaah, dan dicerna oleh siapapun. Melalui buku ini pembaca pun dapat belajar atas berbagai alasan yang membuat “berdarah”-nya tanah suci tersebut.

http://abunyasyamil.multiply.com/journal/item/221/Siapa_Pemilik_Tanah_Palestina

 

TINGGALKAN KOMENTAR