Pemikiran Dan Sikap HOS Tjokroaminoto

Pemikiran Dan Sikap HOS Tjokroaminoto

BAGIKAN

Sikap Kooperatif sebagai StrategiSikap Koperatif HOS Tjokroaminoto

Pada awal kepemimpinannya di SI, Tjokroaminoto cenderung masih bersikap kooperatif dan lunak terhadap pemerintah kolonial Belanda. Hal ini dapat dilihat dalam pidato-pidatonya pada Kongres Nasional Pertama SI, tanggal 17-24 Juni di Bandung. Dalam pidatonya mengenai Zelf Bestuur (pemerintahan sendiri) dan Dewan Rakyat tersebut Tjokroaminoto dianggap belumlah terlalu radikal. Ia masih merupakan ’satria di bawah perlindungan pemerintah’. Nadanya masih berbau seperti yang sering diucapkan kaum etisi. Di pikirannya, Tjokroaminoto belum melihat Zelf Bestuur seradikal kemerdekaan, melainkan kebebasan untuk memerintah dan mengurus negerinya sendiri seperti halnya pemerintahan serikat yang tetap bernaung kepada negeri induknya yaitu Belanda. Hal ini dapat dilihat dari kata-katanya ”..bersama-sama pemerintah dan menyokong pemerintah menuju arah yang betul. Tujuan kita adalah mempersatukan Hindia dengan Nederland, dan untuk menjadi rakyat ’Negara Hindia’ yang berpemerintahan sendiri.”

Namun, pernyataannya tersebut juga merupakan sebuah taktik untuk mengamankan penilaian pemerintah pada SI, sambil memberikan keyakinan pada masyarakat bahwa pribumi bisa memerintah dirinya sendiri. Apa yang dinyatakan Tjokroaminoto jelas sangat menggembirakan kaum liberal di Belanda. Di Hindia, politik asosiasi yang menyatukan negeri Belanda dan Hindia dalam satu ikatan yang lebih sederajat telah berkembang. Mungkin di antara perkumpulan-perkumpulan lain di Hindia, perkumpulan Theosofi-lah yang paling jauh mengembangkannya, yang memandang persaudaraan antar manusia yang meliputi semua kepercayaan dan ras.

Berubah Menjadi Radikal

Sikap radikal Tjokroaminoto sendiri tumbuh seiring dengan semakin radikalnya kaum pergerakan pada saat itu. Ada dua hal yang memicu tumbuhnya keradikalan dalam diri Tjokroaminoto:

Pertama, penangkapan terhadap dirinya dengan tuduhan keterlibatan dalam kasus SI Seksi B dan peristiwa Garut tahun 1919. SI Seksi B adalah unit dari Sarekat Islam yang bersifat revolusioner dengan orientasinya yang terlihat kejam yaitu membunuh semua orang Eropa dan Cina, dan dengan cara ini mengambil alih pemerintahan. Anggota-anggota dari SI Seksi B inilah yang diduga menimbulkan kerusuhan dalam peristiwa Garut.Tjokroaminoto dianggap telah memberikan persetujuan secara diam-diam terhadap organisasi tersebut namun tidak secara aktif mendorongnya. Walaupun sebenarnya ada indikasi bahwa kerusuhan tersebut merupakan rekayasa yang sebenarnya dibuat oleh residen, kontrolir, bupati, wedana, camat, serta polisi yang masih mempertahankan Tanam Paksa untuk Jawa Barat. Kerusuhan ini sendiri dipicu oleh perintah residen agar menembak Haji Hasan. Tjokroaminoto pun dipermalukan dengan penahanan selama sembilan bulan dan kemudian dibebaskan karena tidak ada bukti-bukti yang kuat. Bahkan pers Belanda dan anggota Volkskraad yang radikal pun berpendapat bahwa Tjokroaminoto sama sekali tidak terlibat dalam gerakan SI Seksi B. Akibat dari penahanan ini Tjokroaminoto merasa tidak perlu untuk melanjutkan sikap politiknya yang kooperatifnya kepada pemerintah kolonial.

Kedua, pasca dibebaskan pada bulan April, Tjokroaminoto mendapati SI sedang berada di ambang perpecahan. Hal ini tidak lain merupakan ekses dari adanya konflik dengan kubu komunis yang menyusup ke dalam SI hingga memunculkan dua faksi yaitu SI Putih yang diwakili oleh Salim dan SI Merah yang dipunggawai oleh Semaoen. Tjokroaminoto yang awalnya bersikap lebih toleran terhadap orang-orang komunis pada akhirnya memilih untuk bersikap lebih tegas dari sebelumnya.

Terlibat Konflik dengan Murid-muridnya

Sebagai pemimpin SI kala itu, rumahnya sering disinggahi para pemuda dan kebetulan rumahnya menjadi tempat kost bagi pelajar yang sedang menyelesaikan studinya di Surabaya. Ia banyak memberikan kursus-kursus. Diantara murid-muridnya adalah Soekarno, S.M. Kartosoewirjo, Abikoesno Tjokrosoejoso, Hamka, Alimin, Moesso dan banyak lainnya.

Dalam setiap kesempatan Tjokroaminoto pergi mempropagandakan Sarekat Islam, biasanya seorang atau dua diantara mereka ikut dibawa serta. Pada kesempatan ini yang sering mendapat giliran adalah Ir. Soekarno dan adik beliau sendiri yaitu Abikoesno Tjokrosoejoso.21 Soekarno yang kelak menjadi Presiden Republik Indonesia pertama bahkan pernah menjadi menantunya. Ia pernah menikahi Siti Oetari, putri Tjokroaminoto, walaupun hanya dengan kawin gantung.

Namun yang istimewa, murid-muridnya ini dalam perkembangannya justru saling berbeda dalam mengusung ideologi perjuangannya masing-masing. Soekarno menjadi seorang kampiun nasionalis, Alimin dan Moesso memilih komunis, dan Kartosoewirjo kelak menjadi pemimpin kaum fundamentalis Islam.

Soekarno menyerap kecerdasan Tjokroaminoto, terutama dari gaya berpidato. Pada masa kemerdekaan, Soekarno dikenal sebagai tokoh nasionalis, proklamator dan presiden R.I., Kartosuwiryo, juga pernah beberapa tahun tinggal bersama Tjokroaminoto. Setelah kemerdekaan, Kartosuwiryo mendirikan Darul Islam (NII) sebagai perlawanan terhadap Soekarno. Musso-Alimin, dua tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI), juga merupakan murid beliau. Keduanya, Pada tahun 1948 di Madiun, juga bertarung dengan Soekarno. Jadi pertarungan Nasionalisme Sukarno – Islam Kartosuwiryo – Komunis Musso/Alimin, adalah pertarungan antara murid-murid Tjokro. Hal ini mengisyaratkan bahwa pemikiran Tjokroaminoto diinterpretasikan berbeda oleh para muridnya. Dalam beberapa hal, ide Tjokro lebih dimengerti Soekarno yang mengolahnya menjadi Nasakom (Nasionalisme, Agama/Islam dan Komunisme), sebagai lambang persatuan nasional.

Tjokroaminoto sendiri pernah terlibat konflik dengan beberapa muridnya tersebut. Hal ini sejalan dengan semakin dinamisnya dunia pergerakan waktu itu sehingga perbedaan pandangan amat mungkin terjadi. Beberapa muridnya melihat bahwa ide-ide beliau sudah tidak cukup relevan lagi dengan kondisi pada waktu itu. Hal ini berkaitan dengan ’semangat zaman’ ditengah-tengah perjuangan nasional untuk merebut kemerdekaan (terlepas dari masih terbaginya wacana asosianis-penyatuan secara sejajar antara Belanda dengan Hindia yang berpemerintahan sendiri atau pemisahan secara tegas) banyak di antara tokoh-tokoh pergerakan yang tiba pada kesimpulan kapitalisme-lah biang keladi terjadinya imperialisme, sehingga mereka mencari landasan ideologis yang sesuai dengan keyakinan perjuangannya masing-masing seperti Alimin dan Moesso yang menemukannya dalam komunis atau Soekarno yang hampir mirip dengan H. Misbach yang berusaha untuk mensitesiskan Islam dan komunisme.

Alimin-Moesso bersama Semaoen, Darsono, Misbach dan Mas Marco bersiteru dengan Tjokroaminoto yang disokong oleh H. Agus Salim, Abdul Moeis, dan Suryopranoto dalam kasus internal SI Semarang. Alimin-Moesso bersama keempat rekannya tersebut yang mengkooptasi SI Semarang sehingga menimbulkan perpecahan dan menciptakan faksi-faksi dalam tubuh SI, yaitu antara SI Merah dan SI Putih. SI Merah inilah yang nantinya akan bertransformasi menjadi Partai Komunis Indonesia (selanjutnya disebut PKI). Mereka ber-enam inilah yang menjadi kader-kader awal dari Sneevliet, seorang sosialis radikal yang berasal dari Belanda. Ia-lah orang yang mendirikan ISDV, sebuah perkumpulan Marxis pertama di Hindia pada tahun 1914. Snevliet pula orang yang menyebarkan ’virus’ sosialis dalam tubuh SI lewat doktrinasinya kepada Alimin-Moesso dkk. Ia dengan jeli melihat SI adalah organisasi rakyat yang memiliki basis massa yang demikian besar, oleh karena itu ia masuk dan menanamkan pengaruhnya dengan membangun blok komunis di tubuh SI.

Alimin dan Moesso tentu saja juga adalah ’murid’ Tjokrominoto. Sewaktu di Surabaya mereka pernah mondok di rumah Tjokroaminoto dan belajar banyak darinya. Mereka berdua adalah sahabat karib. Alimin sampai tahun 1918, meski telah menjadi anggota ISDV tapi masih dianggap ’anak buahnya’ Tjokroaminoto. Namun saat terjadinya perpecahan dalam tubuh SI ia berpaling pada pihak komunis. Sementara Moesso adalah seorang individu yang keras dan bertemperamen tinggi. Awal perkenalan dan interaksinya dengan orang-orang komunis banyak dilakukan sewaktu ia dipenjara dengan tuduhan terlibat dalam SI Seksi B. Walaupun demikian Moesso tidak serta merta pro komunis. Dalam konflik Semaoen-Darsono dengan Agus Salim-Abdul Moeis, ia masih dianggap pro Tjokroaminoto. Namun kemudian ia malah berpihak pada komunis dan pada tahun 1920 bersama Alimin, Semaoen, Darsono, Marco, dan Misbach mendirikan PKI. Moesso-lah orang yang paling bertanggung jawab terhadap pemberontakan PKI 1926/1927 dan kemudian diulanginya pada tahun 1948 di Madiun terhadap pemerintah resmi yang dipimpin Soekarno. Ia kemudian tewas pada peristiwa tersebut.

TINGGALKAN KOMENTAR