PADA SEBUAH KERETA

PADA SEBUAH KERETA

BAGIKAN

perjalanan ini sangat melelahkan, namun bagaimanapun juga harus kutempuh meskipun tertatih dan menyayat hati, mumpung liburan maulud, kusempatkan diri berkunjung kepada para alumni yang dulu pernah mengisi hari bersama. Di kereta ini ada beratus-ratus orang bersama angan-angan mereka menuju ibukota, duduk di sebelahku seorang cowok yang memandangi seorang ibu separuh baya dengan seksama yang tak henti-hentinya mengunyah makanan kesukaannya, kacang garing.
“mau kemana, Mas?”kubuka percakapan dengan cowok itu, karena rasa penasaranku tak juga bisa menjawab pertanyaan hatiku.
“ke Jakarta, menyusul Bapak, yang telah setahun kerja di sana”,
“mas lapar ya?”
“tidak!
“tapi saya lihat tadi terus memandangi ibu yang ada di depanmu, ada yang aneh?” selidikku padanya.
“aku merindukan sosok seperti dia, ibuku dan juga bapakku meninggalkan aku waktu kami masih berumur dua tahun dan adikku 50 hari”, kulihat ada ada mutiara bening di sudut matanya.
“maksud Mas pergi atau….?”tak kuasa kuteruskan kata-kataku, karena aku takut salah ucap.
“Tidak, mereka meninggalkan kami menuju negeri tetangga untuk berniat memperbaiki ekonomi kami”. Sejenak dia menarik nafas dalam–dalam sehingga dia rasakan lega di dadanya, mulailah ia menuturkan sebuah perjalanan hidupnya yang berliku siapapun yang mendengarnya bakal terperanjat, ada beribu-ribu hikmah yang terurai dari cerita yang menyayat ini.
Alkisah, syahdan, sebut saja si gadis belia bernama Juleha, sangat mencintai joko, teman sepermainannya di waktu masih kecil, joko adalah cinta pertama dan cinta mati si Juleha,namun sayang cinta yang membara itu tak juga direstui orang tua Juleha, sampai akhirnya menikahlah keduanya di rumah seorang kerabat yang dekat dengan rumah si Joko dan berwalikan sang paman, adik bapaknya. Kenyataan berujung lain cinta itu bersemi dan tak mekar lagi, karena si Joko masih belum juga mapan perekonomiannya,setiap hari marah-marah terus, keduanya berumahkan sebuah gubuk renta ukuran empat kali delapan meter, sampai suatu hari badai puting beliung menerpa rumah reot itu dan merobohkannya, hanya isak tangis yang terdengar lirih membumbung ke angkasa, akhirnya keduanya tinggal di rumah orang tua mereka, bapak ibu si Joko. Keduanya bertekat untuk pergi meninggalkan desa itu menuju negeri jiran Malaysia, sayang si Juleha keburu hamil enam bulan gagallah dia bersama suami pergi ke sana.
“Kita besarkan dulu ya Mas, sampai dua tahun, cukuplah kita hidup lewat tanam tembakau ini”, kata juleha. Niat perginya urung, namun belum sampai si bayi mungil itu cukup dewasa, sekitar usia satu setengah tahun, Juleha hamil lagi, usia kandungannya 1 bulan, dengan terseok-seok Juleha hamil sekaligus menyusui sang anak dan si jabang bayi yang akan segera menyusul ayah ibunya ke dunia fana ini, bulan kelahiran telah di depan mata, lahirlah bayi mungil anak kedua, Bayu namanya, karena waktu kelahirannya, angin kencang juga sempat menerpa rumah tua itu meski tak sampai merobohkannya.
Si Bobi sudah mulai berlarian, berusia dua tahun genap, adiknya baru lima puluh hari usianya.
“Bobi, jaga adikmu ya, baik baik sama Mbah, jangan nakal!,aku dan bapakmu akan pergi dulu” Juleha menahan isak tangis di rengkuhan Joko, Bobi hanya menggangguk tanda setuju meski tak tahu, yang dia ingat, dia dapat baju baru dan celana baru sebelum kedua orang tuanya mencium pipinya lama sekali, “holeee,baju balluuuu”teriaknya waktu itu. Bobi besar bersama sang kakek nenek yang telah udzur. Ada kesulitan yang menyelinap dipikiran Bobi untuk mengingat wajah kedua orang tuanya,dia sering melamun sendiri di dalam kamar, bertanya tentang perasaan apa yang menyebabkan orang tuanya pergi jauh dari darinya, sampai dia berprasangka buruk bahwa kehadiran dia tidak diinginkan.
“Nek, benarkah aku ini anak buangan? Juga adikku!”
“Huss, siapa bilang?!, ayah ibumu itu bekerja siang malam untuk bisa membahagiakan kehidupanmu dan juga adikmu”
“Tapi kan tidak begini caranya, Nek” Bobi kecil usia enam tahun sudah mulai kritis mempertanyakan statusnya pada Nenek yang renta itu, sementara Bayu masih belum memahami situasi sebenarnya, bahkan dia tidak punya perasaan bahwa dia lahir dari seorang ibu yang sekarang meninggalkannya jauh di seberang, dia hanya merasa Kakek dan Nenek tua itulah induk semangnya.
Semakin hari rumah Kakek Nenek dan dua cucu itu semakin mapan, kiriman bertubi tubi dihantarkan oleh pihak bank, tak kurang dari lima juta mengalir setiap bulannya, kini rumah-atau yang lebih pantas gubuk-yang dulu roboh kini berkeramik dan bertingkat dan menjadi daya tarik tersendiri bagi penduduk desa di situ yang selalu mengelu-elukan orang tua Bobi dan Bayu.
“Enak ya si Bayu dan Bobi, wah nikmat sekali!” begitu kira-kira pujian yang diutarakan para tetangga yang melihat kesuksesan orang tua keduanya.
“Aku lebih memilih ibu yang sederhana yang hidup berkecukupan dari pada rumah mewah yang tak berpermaisuri seperti ini”, begitu kira-kira pikiran Bobi muncul tiap kali ada pujian datang padanya, hari berganti hari bulan berganti bulan tak terasa 25 tahun hidup tanpa kasih sayang orang tua, dalam pada itu si Bayu justru mewujudkan segala kesenangannya dengan membeli barang barang haram; narkotika, ganja, an alkohol adalah menu sehari hari adik semata wayangnya itu, bahkan sang tak bias berfikir dengan jernih atas apa yang menimpa adiknya itu, ada apa dengan adik?, Apakah itu buah dari kasih sayang yang mengkristal dan menjadi kebencian dan terlampiaskan dalam kesenangan sesaat atau hanya salah pergaulan yang rata-rata memang hidup dengan barang itu?, Bobi tak tahu, dia hanya tahu bahwa uang kirirman tiap bulan yang dikirimkan oleh ayah ibunya berbuah kejahatan dan kefatalan bagi adiknya, adiknya yang dulu pendiam kini berteman dengan preman-preman jalanan dan bertato, yang dulu tunduk pada Tuhan dengan pergi ke musholla dekat rumahnya, kini main gitar dan berjingkrak-jingkrak serta merokok bahkan minum alcohol.
“Duh gusti, inikah ujian kekayaan yang engkau berikan pada kami?”,:begitu ratapan si Bobi tiap malam dalam bait-bait doanya yang ia bisikkan kepadaAllah.
“Halo,gimana kabar kalian Nak?” suara itu diloudspeaker terdengar dari hp Bayu,
“Ma,kapan pulang?, mama sudah lupa pada kami ya?”Bayu menimpali,
“tidak, Nak, justru kepergian mama ini untuk memberikan yang terbaik bagi kamu dan kakakmu, barangkali tahun 2010 aku akan pulang,Bapakmu sudah duluan setahun yang lalu,apa tidak ada dirumah?”
‘Tidak pulang Ma,kapan pulangnya? Dan kemana sekarang? Apa Papa sudah lupakan kami?”
“Bener Bayu, Papamu tidak pulang ke situ, tapi dulu pamitnya dia langsung tinggal di rumah bersama kalian”
“Benar, Ma tidak ada kabar kok kalau Papa pulang ke sini”
“Baik – baik ya dirumah, kiriman mama selalu sampai khan ke kamu?’tanya ibu itu dari kejauhan.
Pasangan suami istri itu telah pisah ranjang sejak setahun yang lalu, si Joko kini berada di Jakarta, meneruskan keahliannya sebagai tukang kayu di sebuah perusahaan meubel OLIMPIC di sana. Kabar itupun diketahui tanpa sengaja oleh pak Diryo, tetangga Bobi yang mengadu nasib di sana dan bertemu dengan Papa Bobi.
“Anak-anakmu sudah besar sekarang, apa tidak mau melihat mereka dan memberinya kasih sayang?”kata Pak Diryo menasehati Joko seraya menyeruput kopi di sebuah warung kecil yang bersebelahan dengan tempat Joko bekerja, Pak diryo adalah sopir angkota di daerah lebak bulus, belasan tahun dia mengadu nasib di sana.
“Tidak,Kang, Lawong aku tuh sudah terlanjur malu sama anak-anakku, mereka pasti marah padaku, aku pasti tidak dihargai sama mereka lagi, apalagi aku sedang ada masalah dengan si Jul, istriku itu”, begitu penjelasan Joko waktu itu pada Kang Diryo.
“Apa salahnya mencoba, belum mencoba untuk pulang kok sudah memvonis anak-anakmu, mereka itu butuh kamu, kasih sayangmu, kamu malah enak-enakan di sini”,kata Kang diryo menimpali.
“Kapan pulang ke Bojonegoro lagi, Kang?, aku titip uang dan alamat ini untuk Bobi, ya Kang?”
“Seminggu lagi aku pulang ke sana, kamu nggak sekalian ikut?, kita bareng-bareng pulang ke desa”
“Tidak, Kang, kapan-kapan saja, katakan pada mereka aku baik-baik saja di Jakarta, ya Kang?”
“Iya nanti saya sampaikan, kamu itu sebagai Bapak harus tahu bahwa anak itu tidak hanya butuh uangmu saja tapi juga perhatian dan kasih sayangmu, justru perhatian dan kasih sayang itu melebihi segala-galanya” kata Kang Diryo pada tetangganya itu, Joko hanya tertunduk lesu menyadari kekhilafannya yang telah membatu dan mengkristal berpuluh-puluh tahun. Akhirnya keduanya pisah dan sibuk dengan pekerjaan masing-masing di ibukota itu, sampai seminggu kemudian uang dan alamat Joko disampaikan oleh Pak diryo pada Bobi.
“Ma, makasih ya ma, kiriman Mama sudah sampai, oh ya Ma, doakan ya Ma Bayu lulus tahun ini, kutunggu kedatangan mama”.klik,telpon itu terputus dan Bayu serta teman-teman dugemnya melanjutkan acaranya sampai larut malam.
Begitulah gaya hidup Bayu dan teman-temannya, Bobi yang sebagai kakaknya sudah tak kuasa lagi untuk mengingatkan adik kesayangannya itu.
“Apa kakak tidak sadar?, beginilah kita bisa menikmati hidup, apa kita menunggu mama papa sampai mati sampai mereka tak ingat kita lagi, persetan itu dengan jalan benar, jalan lurus, inilah manfaat uang yang dikirimkan Mama tiap bulan.”
“Istighfar. Dik!! Kita terlahir dari mereka berdua, harusnya kita menghargai keduanya walau kini belum bersama kita lagi”,kata Bobi mengingatkan.
“Alaaah, Kakak nggak sadar ya? Kita itu dibuang sia-sia sama mereka”, begitu kritikan pedas itu terlontar dari mulut yang selalu bau dengan alkohol tiap malam, sejak Bayu menjadi seorang pendekar bersabuk biru, keberaniannya untuk adu fisik selalu menjadi bahan perbincangan orang, namun tak satupun masyarakat yang berani menegur atau menasehatinya, karena takut nyawanya terancam.
Kelulusan Bayu telah tiba, pesta dugem di rumah mewah pun digelar, alkohol plus pirtus, dicampur dengan berbagai obat penenang dioplos jadi satu, satu orang dengan bergiliran menegak satu gelas air yang mirip air comberan itu, sepuluh orang yang berpesta malam itu sudah terlihat teler, tiba tiba tujuh dari anak itu menggelepar di lantai seraya memegangi leher mereka, seolah ada yang mencekik leher-leher itu akhirnya ketujuh anak itu memuntahkan busa berwarna merah darah, tujuh orang itu sekarat”achhhhuuuugh, toolloong aku!!, ” begitu rintih mereka bertujuh, ada satu rasa yang tak bisa di ungkapkan yang terpancar dari ketujuh orang itu, sementara itu tuan rumah melihatnya dengan keadaan mabuk berat, namun masih bisa melihat teman-temannya satu persatu meregang nyawa,dan masih ada dua temannya yang tersungkur di lantai yang salah satunya masih sempat melihat teman-temannya meregang nyawa dan yang satunya tertidur pulas, dengan tenaga yang tersisa, Bayu terseok-seok menuju air oplosan tadi, dan”byuur, :”’,,,! Air itu tumpah di lantai, pintu yang terkunci, musik DJ yang volumenya begitu keras tidak terdengar sedikitpun dari luar, sementara itu Bobi sedang berada di mushola untuk sholat isya berjama’ah. Sepulang dari musholla, ada perasaan ganjil dengan kamar adiknya, sepi tak ada teriakan dan lolongan panjang dari mereka Ketika mengetuk pintu kamar adiknya, tak ada suara tawa yang biasa terdengar dari kamar adiknya.
“Bayu!!,,,sedang apa di dalam….?” Perasaan tidak enak berkecamuk di dada sang kakak,kecurigaan berawal ketika kamar itu seperti tak berpenghuni dan akhirnya”brak!” pintu kamar adiknya yang kedap suara itu pun dijebol oleh tendangan Bobi, tujuh orang teman si Bayu telah menjemput ajal dengan berbagai macam rupa, dan yang paling ngeri adalah seorang yang terkenal dengan jago minum,si Bimo menjulurkan lidahnya dan matanya melotot kaku, tewas mengenaskan.
Bayu dan dua orang yang selamat langsung di bawa ke rumah sakit terdekat untuk menjalani perawatan medis. Bayu yang tersadar sejak kali pertama melihat bayangan satu persatu temannya yang mati; Edi, Joko, waluyo, Bambang, Rio dan Septian, serta Bimo si jago minum itu adalah korban kegilaan mereka bersepuluh untuk pesta atas kelulusannya.
Bayu menatap kosong langit langit rumah sakit itu, pikirannya melayang pada kejadian yang tadi malam menimpanya, air mata tak terasa mengalir deras membasahi pipinya, Bobi sang kakak setia menungguinya meski tak pernah bertanya tentang apa yang telah dilihat oleh sang adik, karena dia sendiri tahu bahwa sang Adik mengalami depresi berat menyaksikan teman-temannya ketika meregang nyawa dan kesakitan, seolah disembelih dan dijerat dengan rantai besi, tak bernafas, hanya engalan dab batuk tyang terdengar berat seperti orang tercekik yang menyisakan mati, tak bergerak dan terbujur kaku. Air mata itu terus membasahi pipi sang Adik, ia mulai menyadari betapa hidupnya ini tak berarti andai kata ia juga menyusul kematian seperti teman-temannya, namun dia penasaran, kenapa dia dan kedua temannya saja yang selamat, sementara yang lain meninggal dengan cara yang mengenaskan, adakah sebuah keajaiban yang diberikan oleh Tuhan?.
“Beruntunglah kau Bayu, Allah masih sayang padamu, kamu dan kedua temanmu masih tertolong, kemarin sore kamu masih sempat minum es degan dengan kedua temanmu itu, dan es buah kelapa itulah yang menyelamatkan nyawamu, begitu kata dokter yang merawatmu”, kata Bobi.
“Subhanallah, nyawaku tergantung pada segelas air kelapa yang kuminum kemarin sore”, bisiknya dalam hati. Air matanya meleleh lagi terharu terhadap apa yang telah menimpanya, kasih sayang-Nya melebih kasih sayang kedua orang tuanya, dia baru sadar bahwa keselamatan nyawanya lebih berharga melebihi apapun yang ada di dunia ini, pikirnya.Tiga hari dia diinfus di rumah sakit itu.
“Bayu, bagaimana kabarmu?” Sandi menghampiri ruangan Bayu, Sandi adalah salah satu teman Bayu yang selamat.
“Aku sudah mendingan, kamu sendiri?, siapa lagi yang masih tersisa?” katanya pada sahabat karibnya itu.
“Si Dedi, hanya kita bertiga, dan yang lain………”, suara Sandi tertahan…..ada butir mutiara tertanam di ujung mata pemuda itu….keduanya berangkulan dan menyesali kejadian tiga hari yang lalu….keduanya menyaksikan satu persatu temannya mati mengenaskan karena over dosis minuman setan itu…..dan nyawa mereka terselamatkan tatkala ketiganya minum es kelapa sore itu di kantin sekolah. Bobi bersyukur adik semata wayangnya masih diselamatkan oleh-Nya. Karena hanya dialah satu-satunya yang ia punyai, Mama dan Papanya hanya ada dalam dongeng menjelang tidur, seolah takkan bisa diharapkan menjadi nyata.

Mata itu menerawang ke pematang sawah, menitik air mata dan sesekali memandangi sosok ibu yang ada di hadapannya, aku tahu ada rindu yang membiru di dada pemuda itu terhadap sosok ibu seperti yang duduk di hadapannya, ada keharuan yang menyergap hati kecilnya, tentang adik kecilnya yang kini sadar atas kekhilafannya, tentang kasih sayang kedua orang tuanya yang berwujud uang dari seberang, yang sekarang keduanya berpisah dan sang Ayah kerja di Jakarta, aku yakin ……dia menunggu sosok ibu dan ayahnya yang tak tentu kapan pulang, sampai saat pada penghujung dua ribu sepuluh yang masih tersisa tiga tahun mendatang.
Kereta Brantas telah datang di kota batik Pekalongan pada pukul dua belas malam, aku beringsut dari pemuda yang telah menyisakan haru di hati, aku berpamitan meskipun dia terlihat kelelahan dan tidak tidur semalaman,…kudoakan engkau ‘kan memaafkan kesalahan Ayah Ibumu, kuberharap semoga Engkau bertemu Ayahmu di Jakarta sana dan juga kau dapatkan kasih sayang yang selama ini kau rindukan, sebuah keluarga utuh yang berbalut kedamaian dan cinta. …….sampai bertemu Papamu di Jakarta..Teman!!.belum sempat aku sebutkan namaku padamu teman, namun aku yakin kamulah Bobi, sang kakak yang dengan tabah menjalani peran sebagai orang baik dan berbudi meski tanpa balutan kasih sayang kedua orang tuanya, aku yakin liku-liku kehidupanmu akan mendewasakanmu sedemikian rupa. Dan adikmu yang merana, kudoakan semoga engkau tersadar atas ujan Allah yang telah diberikan padamu, hargai hidupmu! Karena Cuma sekali, dan kita semua tak pernah ingin menjadi kenangan buruk bagi diri kita masing-masing bahkan bagi orang lain, hanya Dia yang tahu bahwa lahir, rizki, kematian hanya Dia yang berhak tahu dan memutuskan, karena keputusanNya merupakan keadilan dan kebijaksanaan yang tiada tara.

TINGGALKAN KOMENTAR