Orang Gila Meracau Di Facebook

Orang Gila Meracau Di Facebook

BAGIKAN

 Sesuai dengan Judul diatas, memang benar bahwa ada orang gila yang meracau di facebook, tiap saat berbicara masalah Agama dengan disertai menghujat para ‘Ulama yang kebetulan berseberangan dengan ideologi yang dianutnya.

Kali ini yang menjadi korban racaunnya adalah seorang Mufassir yang akhir akhir ini juga telah menjadi korban penyunatan karya ilmiyyahnya yang fenomenal yaitu Kitab Tafsir Al Showi, dan setelah kecurangan pihak Wahhabi mulai terkuak, salah satu pengikutnya berusaha mati matian untuk selalu memojokkan Beliau dengan membawa Perkataan perkataan Para Ulama Kita yang berseberangan dengan beliau.

Coba anda perhatikan orang gila tersebut telah meracau dalam salah satu status yang di buatnya, saya ditag didalamnya, namun karena berbicara dengan orang gila sama artinya telah menjadi gila, maka kaedah tersebut saya pegang teguh, dan untuk mencegah mewabahnya penyakit gila tersebut, saya lebih memilih membuat artikel dimana didalamnya saya hadirkan hujjah hujjah yang kuat dari para ‘Ulama.

Silahkan amati status orang gila tersebut yang meracau tempo hari dibawah ini:

Orang Gila Meracau

 Anda Lihat Orang gila itu telah meracau, dan mencoba bertindak bak profesional dengan cara membandingkan perkataan Imam Ahmad, padahal saya yakin pembaca juga  tahu, antara perkataan Al Showi dan Imam Ahmad yang Ahli Tahrif Kata Wahhabi tidak ada hubungannya sama sekali, ya… begitulah jika orang gila meracau itu, suka berkata yang tidak nyambung.

Sebagaimana sering diutarakan dalam berbagai buku wahhabi bahwa golongan Wahabi dan pengikutnya, percaya bahwa Al-Qur’an dan Sunnah hanya bisa diartikan secara tekstual (apa adanya tekst) atau literal dan tidak ada arti majazi atau kiasan didalamnya. Pada kenyataannya terdapat ayat al-Qur’an yang mempunyai arti harfiah dan ada juga yang mempunyai arti majazi, yang mana kata-kata Allah swt. harus diartikan sesuai dengannya. Jika kita tidak dapat membedakan diantara keduanya maka kita akan menjumpai beberapa kontradiksi yang timbul didalam Al-Qur’an. Maka dari itu sangatlah penting untuk memahami hal tersebut. Kami mengutip berikut ini beberapa ayat Ilahi yang mutasyabihat (kalimat perumpamaan atau kalimat samar) dalam menerangkan keadaan diri-Nya, seperti dalam firman-firman-Nya surat An-Nur: 35 :

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

Jika wahhabi konsisten dengan berpegang teguh kepada apa adanya teks atau dhahirnya ayat tersebut maka jika diterjemahkan menjadi:

“Allah Cahayanya Langit dan Bumi”

Lalu apakah Allah adalah cahaya? Dan yang dimaksud dengan cahaya itu apa?  Itulah kenapa kebanyakan Mufassir mentafgsirkan ayat tersebut dengan mentakwilkannya.

Dalam tafsir Ibnu Katsir member penjelasan dengan menuqil perkataan Ibnu Mas’ud sebagai berikut:

قال ابن عباس: هادي أهل السماوات والأرض، فهم بنوره إلى الحق يهتدون وبهداه من الضلالة ينجون

 

“Berkata Ibnu ‘Abbas: (Allah) adalah petunjuknya penduduk langit dan bumi, mereka mendapat petunjukNya dengan CahayaNya kepada jalan yang benar, dan dengan PetunjukNya pula mereka selamat dari kesesatan”

Apakah Ibnu Katsir dan Ibnu Mas’ud telah gila, sebab tidak berpegang teguh dengan Dhahirnya ayat?

Sekali lagi mari kita kaji ayat berikut:

 فَاليومَ نَنْساهُمْ كما نَسُوا لِقاءَ يومِهِم هَذَا

“Maka pada hari ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupa kan pertemuan mereka dengan hari ini…” (QS.7 [al A’râf];51)

Ibnu Abbas ra. menta’wil ayat ini yang menyebut (Allah) melupakan kaum kafir dengan ta’wîl ‘menelantarkan/membiarkan’.

Ibnu Jarir berkata: ‘Yaitu maka pada hari ini yaitu hari kiamat, Kami melupakan mereka, Dia berfirman, Kami membiarkan mereka dalam siksa..’ (Tafsir Ibnu Jarir, 8/201)

Di sini Ibnu Jarir mena’wîl kata melupakan dengan membiarkan. Dan ia adalah penggeseran sebuah kata dari makna aslinya yang dhahir kepada makna majazi/kiasan. Beliau telah menukil ta’wîl tersebut dengan berbagai sanad dari Ibnu Abbas ra., Mujahid dan lain-lain.

Ibnu Abbas ra. adalah seorang sahabat besar dan pakar dalam tafsir Al Qur’an….Mujahid adalah seorang tabi’în agung…Ibnu Jarir, ath-Thabari adalah Bapak Tafsir kalangan Salaf…

Dan sebenarnya masih banyak lagi ayat ayat Al Quran yang ditafsirkan atau di takwilkan, dan tidak difahami sebagaimana Dhahirnya Ayat tersebut.

Nah kalau kita baca, bukankah banyak para ulama pakar memalingkan kata-kata yang dzahirnya menunjukkan tajsim dengan memaknai yang sesuai dengan ke-Maha Sucian dan ke-Maha Agungan Allah swt.? Dengan menafsirkan ayat-ayat atau hadits-hadits sifat sesuai dengan ke-Maha Sucian dan ke-Maha Agungan Allah swt, maka tidak akan berlawanan dengan firman-firman Ilahi yang telah dikemukakan, (QS. Asy-Syuura [42]:11; QS Al-An’aam [6] : 103; QS Ash-Shaffaat [37] : 159) atau ayat-ayat lainnya yang serupa. Untuk lebih lengkapnya bacalah kitab Daf’u Syubahi At Tasybih bi Akuffi At-Tanzih karya Ibnu al-Jauzi, seorang ulama bermadzhab Imam Ahmad bin Hanbal, disana semua syubhat yang selama ini menghinggap dalam pikiran sebagian golongan muslimin, insya Allah tersingkap…. atau paling tidak mereka mengetahui dalil-dalil para ulama yang menentang aliran Mujassimah.

Dari Sufyan yang berkata, “Yang dimaksud ialah ‘kecuali yang dikehendaki wajah-Nya, dari amal perbuatan yang saleh’ “. Oleh karena itu –para ulama sezaman dengan Ibnu Taimiyyah– tidak tinggal diam atas perkataan-perkataannya (yang menyifati Allah swt. secara hakiki). Mereka memberi fatwa tentangnya dan memerintahkan manusia untuk menjauhinya. Dikarenakan keyakinan-keyakinan tajsim dan tasybih itu, akhirnya Ibnu Taymiyyah dipenjara, dilarang menulis didalam penjara, dan kemudian beliau meninggal dunia didalam penjara dikota Damaskus.

Banyak dari kalangan para ulama dan huffadz yang telah menulis kitab untuk membantah keyakinan-keyakinan beliau ini. Umpamanya, Adz-Dzahabi telah menulis surat kepadanya, yang berisi kecaman terhadapnya atas keyakinan-keyakin an yang dibawanya. Surat adz-Dzahabi tersebut cukup panjang, yang mana ‘Allamah al-Amini telah menukil surat adz-Dzahabi ini secara lengkap di dalam kitab al-Ghadir, jilid 7, hal 528, yang dia nukil dari kitab Takmilah as-Saif ash-Shaqil, karya al-Kautsari, hal.190.

Kemudian banyak juga hadits yang jika di artikan secara tekstual justru akan mendapatkan arti yang sangat menyesatkan, jadi wajar jika seprofesional Imam Al Shawi membuat statemen seperti itu.

 

Coba anda Lihat teks Hadits berikut yang ditakhrij dalam kitab سير أعلام النبلاء الذهبي oleh Imam Al Dzahabi,  السنة لابن أبي عاصم oleh Ibnu Abi ‘Ashim dan المعجم الأوسط للطبراني Oleh Imam Ibni Ahmad al Thobroni akan saya terjemahkan langsung isi daripada konteks haditsnya secara Dhahir:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ صَالِحٍ ، عَنِ اللَّيْثِ بْنِ سَعْدٍ ، عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ ، عَنْ خَالِدِ بْنِ أَبِي عِمْرَانَ ، عَنْ أَبِي عَيَّاشِ بْنِ أَبِي مِهْرَانَ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إِنَّمَا قَلْبُ ابْنِ آدَمَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ ” .

“Bersabda Rosulullah: Sungguh hati anak adam itu berada diantara dua jari dari jari jari Al Rahman”

Jika haditr tersebut diambil makna Dhahirnya, berarti telah menetapkan shifat Allah itu berjisim dan menetapkan adanya jari jari Allah yang bermilyaran jumlahnya sesuai dengan jumlah Manusia.

Disamping yang telah dikemukakan tadi, masih banyak lagi hadits-hadits Shifat yang tidak tercantum disini yang ditakwil maknanya oleh para ulama pakar (antara lain Imam Bukhori, Muslim dan lainnya) sesuai dengan sifat Kemaha-Sucian dan Kemaha-Agungan Allah swt. Umpama lagi kata, و جاء رَبُّكَ arti secara bahasa; ‘Dan datanglah Tuhamu’ ,tapi ditakwil oleh para ulama pakar ialah: جاء ثوابُهُ artinya: ‘Datang pahala-Nya’. Dan kata الضحك atau يَضْحَكُ artinya secara bahasa tertawa tapi ditakwil oleh para ulama pakar berarti Rahmat dan ada lagi yang mengartikan kerelaan dan kebaikan balasan. Tertawa yang dialami manusia misalnya adalah dengan membuka mulut, dan tentunya makna ini mustahil disamakan maknanya atas Allah swt.

Andai seorang mau merenungkan dan meresapi keterangan di atas pasti ia akan selamat dari syubhat kaum Mujassimah dan pemuja riwayat yang mutasyabihat yakni golongan al-hasyawiyah. Jadi para ulama telah mengarti- kan/memaknai hadits-hadits yang memuat redaksi yang mengesankan Dzat Allah berupa jisim atau materi dengan pemaknaan yang sesuai dengan Kemaha Sucian dan Kemaha Agungan Allah swt.. Akan tetapi golongan Mujassimah dan mereka yang tertipu oleh syubhat kaum Mujasimah ini lebih tertarik mengemukakan hadits-hadits dengan redaksi yang mendukung konsep dan pandangan Tajsîm yang mereka yakini, walaupun mereka enggan disebut sebagai Pewaris Madzhab Mujassimah.

 

5 KOMENTAR

  1. menurut saya islam klw ga ada org kaya gitu tentunya islam akan menjadi sebuah dongneng…
    biaralah waktu yang berbicara, selagi ada org2 model begini” insyAllah pasti Allah ga akan membiarkannya. akan ada org2 yang membela agama Allah karena Allah adalah maha segalanya..
    dan ane yakin masih banyak org2 model gini yang lebih parah dari ini…نسالكيا الله بالهدى

  2. Subehanallah semoga kita tak terinfeksi virus syarafnya….mari kita tholabil’ilmi pada guru2 yg kompeten

TINGGALKAN KOMENTAR