Nusantara : Negeri yang Dicari

Nusantara : Negeri yang Dicari

BAGIKAN

Pendahuluan : Nama Nusantara

Istilah Nusantara awalnya diambil dari Sumpah Palapa, Patih Majapahit, Gajah Mada “Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa” (Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat”). Dari istilah ini, maka pulau Jawa awalnya tidak masuk dalam konsep Nusantara. Setelah takluknya daerah-daerah di luar Jawa tersebut, maka seluruh bekas wilayah Majapahit juga disebut Nusantara. Kata Nusantara kemudian diartikan, “Nusa” pulau, kepulauan “antara” samudra dan benua. Bisa dibilang kemudian wilayah Nusantara mengacu kepada kepada kawasan kepulauan Asia Tenggara, yang saat ini berada dalam wilayah negara Indonesia, Malaysia dan sekitarnya.

Jauh sebelum Majapahit, orang-orang India menyebutnya Dwipantara (Sansekerta) yang berarti pulau di luar (Dwipa=pulau, antara = luar). Kisah Ramayana dari Walmiki menyebut adanya Swarnadwipa (Sumatra, pulau emas) sebagai bagian dari Dwipanusantara.

Menurut pembagian kawasan dunia, wilayah ini terletak paling timur dalam peta dunia. Orang Eropa menyebut wilayah ini Timur Jauh. Pada abad-abad penjajahan bangsa Eropa, Nusantara biasa disebut Hindia Timur (East Indies). Begitu juga dengan orang Arab dan Timur Tengah, bila dikatakan ‘Timur’ maka dalam maksud lokal bisa bermaksud kawasan di sebelah timur Hijaz (kawasan Mekah dan Madinah), tapi dalam maksud yang lain berarti wilayah di arah timur di luar Jazirah Arab dan Teluk Persia: Nusantara (Taufiq, 2008(a)).

Nusantara : Negeri yang Dicari?

Nusantara atau Dwipantara sudah demikian dikenal oleh bangsa-bangsa lain di berbagai belahan dunia. Banyak daya tarik yang membuat bangsa-bangsa tersebut mencari dan pergi ke nusantara, bahkan menetap dan berketerunan. Salah satu yang menonjol selama ini menjadi alasan mereka adalah kekayaan yang melimpah serta ketentraman yang ada di Nusantara, sehingga membuat para pendatang merasa nyaman dan betah tinggal di Nusantara. Beberapa bangsa yang telah masuk ke Indonesia tidak hanya mengeruk kekayaan Nusantara, tetapi ada juga unsur penyebaran agama. Dengan demikian, maka tidak mengherankan bangsa Nusantara adalah wilayah yang memperoleh pengaruh besar dari beragam agama dan peradaban dunia.

Nusantara : Kebangkitan Islam

Secara garis besar perkembangan Islam dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) periode. Periode pertama adalah 700 tahun pertama hijriyah. Periode ini ini terdapat zaman Salafussoleh, 300 tahun pertama yang disebut oleh Rasulullah sebagai sebaik-baik kurun. Islam menuju mencapai kejayaannya dan menyebar ke suluruh dunia. Kemajuan dalam iman dan ilmu telah menjadikan umat Islam sebagai Pole of Excellent. Pencapaian terakhir periode ini adalah keberhasilan Sultan Muhammad Al Fateh (Mehmed II The Conqueror) menutup sejarah 1500 tahun kekaisaran Romawi dengan menyerahnya ibukota Byzantium/ Romawi Timur, Konstantinopel (Taufiq, 2008(a & b)).

Periode kedua adalah 700 tahun berikutnya. Pada perode ini pengamalan Islam mulai menurun drastis, berbagai perkara mulai hilang satu persatu. Jika sebelumnya kerusakan umat hanya terjadi pada bidang-bidang tertentu maka pada periode ini kemunduran umat Islam terjadi serentak di banyak bidang.

Namun ternyata pada periode inilah wilayah Nusantara memainkan peranan penting sebagai benteng pertahanan yang kuat bagi umat Islam dan ajaran Islam. Sungguh ajaib. Orang Islam di Nusantara dengan jumlah terbesar dan menyatu walaupun mengalami penjajahan selama hampir empat abad. Berkebalikan dengan apa yang terjadi di kawasan lain, misalnya Spanyol/Andalusia yang telah kehilangan identitasnya sebagai bangsa Muslim atau bangsa Arab yang telah terpecah-pecah seolah kembali ke sistem kesukuan (tribal state) zaman jahiliyah (pra Islam).

Penutup

Sampai saat ini, Nusantara (khususnya Indonesia) tetap menjadi negeri yang selalu diincar oleh kekuatan-kekuatan besar di dunia. Tidak hanya kekuatan ekonomi dan politik, tetapi juga kekuatan agama. Belajar dari sejarah, bahwa kejayaan Islam di Nusantara beberapa ratus tahun yang lalu tidak dibangun atas darah dan kekuasaan, tetapi dibangun atas persatuan dan kesantunan dalam berdakwah. Oleh karena itu, prinsip-prinsip kesantunan menjadi hal penting dalam membangun kejayaan Islam di masa mendatang di Nusantara dan belahan dunia lainnya.

Masihkah ada harapan untuk itu????

 Wallahu ‘alam

 

Referensi :
1)    The Secret of Nusantara (1) : Blood of The Prophet, M.R. Taufiq, 2008 (a)
2)    The Secret of Nusantara (2) : The Last Stronghold,  M.R. Taufiq, 2008 (b)
3)    http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Nusantara_pada_era_kerajaan_Hindu-Buddha
4)    Triyono Suwito dan Wawan Darmawan : Proses Masuknya dan Penyebarannya Hindu Budha di Indonesia : http://ssbelajar.blogspot.com/2012/05/proses-masuknya-dan-penyebarannya-hindu.html
5)    Asal Usul Nama Nusantara-Indonesia : http://legendanusantara.wordpress.com/legenda-nusantara/asal-usul-nama-nusantara-indonesia/
 
 
 
 
 
 

TINGGALKAN KOMENTAR