NKRI Haraga Mati Dalam Tinjauan Agama

NKRI Haraga Mati Dalam Tinjauan Agama

BAGIKAN

Bismillahir Rohmanir Rohiim

NKRI Harga Mati

Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin, Asholatu Wassalamu ‘Ala Saiyidina Muhammadin Wa alihi Washohbihi Ajma’in..

Segala puji syukur kehadirat Illahi Robby, Robbynya para Izzati Robbynya para Insani, Sholawat serta salam tercurah tuk baginda Rosul SholaAllahu ‘Alaihi Wassalam, keluarga, sahabat dan ummat beliau hingga akhir zaman. amien…

Selanjutnya penulis ingin mengupas suatu mas’alah yang sedang hangat yang menimpa bangsa dan negara ini yaitu tindakan merongrong kewibawaan Negara. Dan NKRI adalah suatu pencapaian pendirian Negara yang wajib di pertahankan oleh seluruh elemen Bangsa.

Akhir-akhir ini kita melihat, mendengar dan membaca berita-berita tentang Negara Islam, baik sebagai wacana maupun sebagai gerakan yang ada ditengah-tengah masyarakat. Jika Negara Islam hanya bersifat wacana maka tidaklah menjadi persoalan, jika sudah menjadi gerakan maka gerakan tersebut dapat digolongkan tindakan makar terhadap negara.

Dan bagaimana dalam pandangan Islam itu sendiri terutama berbicara tenteng Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pembahasan dimulai dari sejarah berdirinya NKRI dan dikompilasikan dengan sejarah Islam yang berbicara tentang suatu negara. Kemudian dalil dalil pendukung yang diambil dari Al Qur’an dan sunah Rosul, sebab pendiri bangsa ini tidak mungkin meninggalkan dasar agama sebagai dasar pemikiran awal berdirinya NKRI tersebut.

Sejarah Bangsa.

Sudah sama-sama diketahui bahwa Negara ini dibentuk menjadi sebuah bangsa berawal dari senasib sepenanggungan sebagai negri jajahan Hindia Belanda dari Sabang sampai Meroke. Perjuangan mengusir penjajah dilakukan oleh seluruh bangsa yang berawal dari bersifat kedaerahan masing-masing hingga menjadi perjuangan kebangsaan yang bersifat nasional. Dari berdirinya Budi Utomo, Syarikat Islam, Muhamadiyah, Nahdlotul Ulama hingga pernyataan Sumpah Pemuda dari semua unsur Kedaerahan yang menyatakan satu kesatuan Bertanah Air, Berbangsa dan Berbahasa Satu yaitu INDONESIA. Kemudian proses berdirinya negara dimulai dari dibentuknya suatu badan yaitu BPUPKI kemudian membentuk kepanitiaan PPKI yang merumuskan bentuk negara dan dasar negara yang dilakukan oleh tim sembilan terdiri dari satu unsur kristen, empat Islam santri dan empat dari unsur Islam Nasionalis, merekalah para pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pertanyaannya Mengapa mereka yang mayoritas beragama Islam tidak mendirikan Negara Islam saja..? Pastinya mereka mencari rujukan, dalil-dalil dan dasar agama atau contoh-contoh negara-negara yang sudah ada saat itu. Perlu diingat, sebelum berdirinya Negara Republik Indonesia itu sudah ada kesultanan, kerajaan-kerajaan yang bersifat kedaerahan dan mereka para kesultanan meleburkan diri kedalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berdasar ke-bineka tunggal ika-an lah bangsa ini terbentuk, bukan dari satu suku saja, bukan dari satu agama saja, bukan dari satu bahasa saja, semua dengan ikhlas beleburkan diri menjadi satu tanpa ada paksaan diantara anak bangsa tersebut.

Sebagai contoh kerajaan Siak Sri Indrapura di Daerah Riau, Kesultanan Siak, Sultan Syarif Qasim II dengan ikhlas menyerahkan mahkota kerajaanya kepada presiden Indonesia Ir. Sukarno di jakarta termasuk Istananya. Dan Sultan melepas semua atribut kesultanan beliau, beliau sendiri menetap di Jakarta sebelum akhirnya kembali ke kota Pekanbaru, Riau. Begitupun kerajaan-kerajaan lain menyatakan diri menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia walau sebelumnya kerajaan-kerajaan tersebut adalah negara-negara merdeka yang berdaulat dan diakui oleh dunia internasional.

Semua itu karena ke-BINEKA TUNGGAL IKA-an dan negara berdasarkan PANCASILA dan UUD 1945. Sejarah membuktikan bahwa tidak ada satu kerajaan di bumi nusantara ini yang bergabung atas dasar pemaksaan.

Sejarah Islam.

Harus kita buka sejarah Islam sebagai rujukan dalam pembahasan ini. Tentunya tentang bagaimana Rosulullah sebagai utusan Tuhan memulai suatu peradaban baru yang bernama MADINAH.

Sebelum Rosulullah hijrah, Rosulullah dua kali menerima utusan dari daerah Yatsrib yang menyatakan sumpah setia pada Rosulullah dan Berbai’at mengangkat Rosulullah sebagai pimpinan mereka dan meminta Rosulullah berhijrah ke daerah mereka. Ketika Rosulullah berhijrah bersama sahabat Beliau yaitu Abu Bakar Assiddiq RA, Beliau disambut dengan sangat meriah layaknya kedatangan sang pemimpin mereka. Kemudian apa yang pertama dilakukan Rosul sebagai pemimpin mereka setelah mendirikan masjid yaitu mengumpulkan semua penduduk Yatsrib yang tersiri dari kaum pribumi yaitu kaum anshor, kaum pendatang yaitu kaum muhajirin dan dua suku bangsa yahudi. Rosulullah membuat suatu pernyataan kesepakatan yang mengikat untuk ketiga unsur penduduk Yatsrib tersebut dengan nama PIAGAM MADINAH. Piagam tersebut tidak menyebutkan bentuk negara Islam ataupun negara apapun kecuali MADINAH.

Ini fakta sejarah yang dapat diambil sebagai rujukan atau dalil agama sebagai pola berfikir awal saat pembentukan Negara Republik Indonesia. Di samping dalil-dalil dari nash Al Qur’an juga jadi bahan pertimbangannya.

Pertimbangan Al Qur’an.

Sejarah membuktikan bahwa NKRI didirikan berdasarkan hasil musyawarah diantara para pejuang kemerdekaan dengan BPUPKI kemudian menjadi PPKI dan membentuk panitia sembilan yang bertugas merumuskan bentuk negara sebelum akhirnya memproklamirkan berdirinya sebuah negara merdeka oleh Ir. Sukarno dan Dr. Moh. Hatta, atas nama bangsa Indonesia.

Musyawarah, sebagai perintah agama terdapat dalam Al Qur’an Surat Ali ‘Imron ayat 159 : “Wasyawirhum fil amri”, bermusyawarahlah kalian dalam urusan kalian. kemudian surat Asy-Syuro ayat 38 : “Walladzinas tajabu lirobbihim wa aqomushsholata wa amruhum syuro bainahum wamimmaa rodzaqnahum yunfiquun”, Dan bagi orang-orang yang menerima ( mentaati ) seruan Tuhannya dan melaksanakan sholat sedang urusan mereka diputuskan dengan musyawaroh antara mereka dan mereka menginfaqkan sebagian dari rizqi yang kami berikan kepada mereka.

Itulah dua ayat yang memerintahkan musyawaroh dan batasannya jelas, yaitu melaksanakan sholat dan menginfaqkan rizki atau berzakat.

Kemudian sampai kapan hasil musyawaroh itu disepakati, Al Qur’an surat Al Isro’ ayat 34 : “Wa awfu bil’ahdi, innal ‘ahda kaana mas’ulaa”, dan penuhilah janji (kesepakatan), karena janji itu pasti dimintai pertanggung jawabannya.

Jelaslah bahwa mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonsia itu adalah suatu kewajiban yang diperintahkan Al Qur’an dimana kesepakatan hasil musyawaroh itu wajib dipenuhi. Dan Negara Wajib menumpas setiap perbuatan atau gerakan yang menentang Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.

Penutup.

Demikian uraian ini saya tulis atas dasar keprihatinan sebagai anak bangsa. Dan jika ada yang tidak berkenan penulis mohon maaf dimana kebenaran datangnya dari Allah SWT, dan segala kekurangan datangnya dari diri penulis sendiri.

WaAllahul muaffiq ila aqwaniththoriq.

Wassalamu’alaikum

Amrullah Kareem @amrullahkareem1

http://menjadihebat.blogspot.com/2012/05/teks-asli-piagam-madinah-beserta.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Siak_Sri_Inderapura

http://id.wikipedia.org/wiki/Panitia_Persiapan_Kemerdekaan_Indonesia

http://pemudaindonesiabaru.blogspot.com/2010/12/sejarah-kesultanan-yogyakarta.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Piagam_Jakarta

Artikel no 5 oleh amrullah…..

TINGGALKAN KOMENTAR