Ngaji Tentang Bid’ah Episode 2

Ngaji Tentang Bid’ah Episode 2

BAGIKAN

Ngaji Tentang Bid’ah Edisi 2

Wal hasil, para Sababat رضي الله عنهم tidak pernah mendefinisikan bid’ah, memang beliau beliau pernah mengatakan bahwa ini dan itu adalah bid’ah, tetapi tak ada satupun riwayat yang misalnya beliau beliau mengatakan  البدعة هي كذا وكذا. 

Jadi, dalam mendefinisikan bid’ah, setiap Ulama  mengkajinya  dengan disandarkannya dari beberapa kasus para Sahabat yang mengatakan hal hal yang dianggap bid’ah, bukan berdasarkan penuturan Sahabat apalagi Nabi sendiri.

Untuk itu, sebuah kajian tetap dalam posisi semula, tidak akan pernah meningkat menjadi sesuatu yang bersifat pasti dan doktrinal, kecuali dalam beberapa kasus yang para ahli sepakat menghukuminya sebagai hal yang bid’ah, seperti sholat subuh tiga roka’at, dan sejenisnya.

لا رجوع في الإسلام إلا بالعلم

“Tiada kembali di dalam Islam kecuali dengan Ilmu”

Artinya, jika ingin mengembalikan Islam pada kemurniannya, maka haruslah memakai ilmu, tidak cukup dengan hanya membaca terjemah, mendengarkan ceramah beberapa minggu, atau belajar kepada orang orang yang mengaku faham dengan keilmuan para salaf, sedangkan mereka tidak pernah berguru kepada para salaf tersebut, atau minimal belajar kepada orang orang yang belajar kepada para salaf.

Seharusnya, dan memang wajib bagi kita untuk malu kepada para ahli tafsir dan muhaddits kuno itu, ternyata dengan keilmuan mereka yang sekarang kita mencoba untuk mengkaisnya, mereka tidak mudah berfatwa, tidak gampang gampang menghukumi permasalahan ummat, tidak juga serta merta meninggalkan madzhab yang ada.

Memang diantara sekian mufassir dan muhaddits itu ada yang menyusun kitab kitab fiqih, adab, dan ushuluddin, tetapi sedikit sekali yang mengutamakan pendapatnya sendiri, padahal modal untuk itu telah sebagian besar berada di dalam otaknya.

Lalu kita? Apa yang telah kita ketahui tentang ayat ayat alquran dengan keterhubungannya antara yang satu dengan yang lainnya?

Lalu kita?  seberapa dalam kita mengetahui sekian ribu bahkan jutaan hadits dengan segala pembanding dan kesimpulannya?

Saya berikan satu contoh saja, yaitu Imam Bukhori, adakah beliau mandiri dalam berijtihad? Kitab fiqih apa yang telah beliau susun dengan murni mengutarakan hasil ijtihadnya?

Salam Ngewes ToniBoster 

TINGGALKAN KOMENTAR