Ngaji Tentang Bid’ah Episode 1-F

Ngaji Tentang Bid’ah Episode 1-F

BAGIKAN

Ngaji Tentang Bid’ah Edisi 1-F

Masih seputar riwayat Sayyidina Umar yang mengomentari pernyataan Sayyidina Ibnu Abbas tentang munculnya pendapat pendapat akibat tidak memahami Al Quran.

Tentu saja yang menyebabkan orang itu faham adalah dengan berfikir dan ada yang dibuat untuk memikirkan, atau seperangkat alat untuk memahaminya, berulang kali dalam Al-Qur”an menghimbau kita untuk berfikir.

Diceritakan pula dari Siti ‘Aisyah:Setelah turunnya ayat yang menyebutkan bahwa tanda-tanda penting yang memperkuat Iman seseorang adalah terdapat dalam penciptaan langit dan bumi serta berselisihnya Siang dan Malam, maka Rusulullah SAW menghimbau Manusia agar suka berfikir.

Demikian juga, dalam memahami Al Quran, seseorang harus beriilmu, setidaknya ia harus tahu disiplin ilmu bahasa arab, nahwiyyahnya, shorfiyyahnya, balaghohnya, mantiqiyahnya, ilmu pokok pokok agama, pokok fiqih, riwayatnya, sebab sebab diturunkannya dll.

Ketika seseorang memahami Al Qurab tanpa dengan seperangkat alat minimal yang tersebut diatas, maka ia telah memahami alquran melulu dengan akalnya saja, nah mentafsirkan Al Quran dengan Rokyu (pendapat sendiri yang mandiri) itulah yang dilarang seperti pernyataan Kanjeng Nabi:

من فسر القرآن برأيه فاليتبوأ مقعده في النار

“Siapa yang mentafsirkan Al Quran dengan pendapatnya maka bersiap siaplah tempatnya di neraka” aw kama Qolar Rosul صلى الله عليه وسلم

Dan yang sangat penting menjadi peringatan kita adalah, bahwa ternyata seorang yang ahli tafsir tidak serta merta membuat ia menjadi seorang mujtahid, yang dengan ilmunya itu bebas menggali hukum halal haramnya sesuatu, walaupun banyak diantara para mufassir yang dalam penafsirannya menjelaskan ayat ayat tertentu berdasarkan kerangka ilmunya, seperti Imam Fachrur Rozi dengan Ilmu Aqidahnya, Imam Al Thobari dengan ilmu fiqihnya dll, dan ingat juga bahwa pro dan kontro itu selalu ada di dalam arena ilmiyah.

Kesimpulannya, mengartikan Al Quran dengan Ilmu yang kurang memadailah yang menyebabkan para intlektuil bangkit menentang, jika pemahamannya tersebut menjadi sebuah pergerakan, seperti Ibni Abdil Wahhab. Dan juga walaupun dari para intlektual sekalipun seperti Yusuf Al Qordlowi, Almaududi dll. Berbeda dengan pemahaman yang sebatas wacana atau dalam ruang keilmuan tertentu, seperti Ibnu Sina, Al Zamakhsyari, Alkindi dll.

من قال في القرآن بغير علم فليتبوأ مقعده من النار

“Siapa yang berkata kata di dalam Alquran dengan tanpa Ilmu, maka bersiap siplah tempatnya dari neraka”

Salam Tabik ToniBoster

TINGGALKAN KOMENTAR