Ngaji Tentang Bid’ah Episode 1-D

Ngaji Tentang Bid’ah Episode 1-D

BAGIKAN

Sekarang mari kita telaah perkataan Sayyidina Umar, dimana akan kita dapati suatu sebab munculnya perlawanan Sunnah dalam arti tutur kata dan prilaku Kanjeng Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.

ذات يوم حدث نفسه؛ فأرسل إلى ابن عباس- رضي الله عنه – فقال: ” كيف تختلف هذه الأمة ونبيها واحد، وكتابها واحد، وقبلتها واحدة؟
فقال ابن عباس : ” يا أمير المؤمنين إنا أنزل علينا القرآن فقرأناه وعلمنا فيم أنزل، وإنه سيكون بعدنا أقوام يقرأون القرآن ولا يعرفون فيم نزل، فيكون لكل قوم فيه رأي، فإذا كان لكل قوم فيه رأي اختلفوا، فإذا اختلفوا اقتتلوا، فزبره عمر وانتهره، فانصرف ابن عباس، ثم دعاه بعد فعرف الذي قال، ثم قال: إيه أعد علي” سنن سعيد بن منصور 1/176

“Suatu hari beliau menceritakan dirinya (Umar), maka beliau kirimkan pada Sayyidina Ibni Abbas: Bagaimana bisa Ummat ini berselisih, padahal Nabinya, kitabnya dan qiblatnya satu?  Ibnu Abbas dawuh: Wahai Amirul Mukminin sesungguhnya kita dituruni Al Quran, kemudian kami membaca dan mengetahuinya, sesungguhnya akan ada suatu kaum setelah kita, mereka membaca Al Quran dan tidak memahami apa yang diturunkan, maka bagi tiap tiap kaum itu suatu pandangan/pendapat yang berbeda beda, maka ketika mereka saling berbeda, mereka saling memerangi, maka Sayyidina umur memotong bicaranya (Ibnu Abbas) dan membentaknya, Ibnu Abbas kemudian berlalu, kemudian Sayyidina Umar memanggilnya kembali sehingha Ibnu Abbas tahu apa yang dikatakan Sayyidina Umar, beliau berkata: Heh!!!  Kembali kepadaku”

———————————————-

Pertama adalah ketidak fahaman Al Quran, dimana sebab inilah muncul pendapat pendapat yang bertentangan dengan konteks sebuah ayat.

Kita tahu bahwa dalam rangka memahami Al Quran dibutuhkan seperangkat ilmu yang sangat banyak, mulai dari ilmu bahasa, gaya rangkaian bahasa atau balaghoh, gaya percakapan atau mantiq, riwayat, dll.

Kita juga tahu bahwa setiap daerah itu mempunyai verbal bahasa masing masing dalam mengungkapkan apa yang dimaksud, termasuk pemanis bahasa lisannya yaitu bahasa tubuh atau gerak geriknya.

Dan untuk menyingkap itu semua dibutuhkan membuka kembali perbendaharaan kesusasteraan khas arab di zaman Al Quran diturunkan yang tentu seiring zaman yang berlalu, gaya bahasa itu bisa berubah bahkan berlawanan dengan arti yang dimaksud oleh bahasa masa kini.

Dengan demikian, dapat dipastikan mengartikan bahasa arab kuno dengan segala karakter khasnya dengan bahasa arab masa kini tidak akan bisa mencapai arti yang sesungguhnya, kemungkinan salah dan melenceng sangat besar.

Apalagi sebuah pendapat yang mengatakan bahwa Al Quran harus diartikan apa adanya, sedangkan apa adanya sendiri itu juga tidak jelas tolok ukurnya, nah mengartikan Al Quran dengan apa adanya inilah yang ternyata kemudian memunculkan pendapat pendapat baru yang terkadang antara satu kelompok dengan kelompok yang lainnya saling bertentangan. Bahkan pertentangan itu bisa terjadi dalam satu kelompok saja.
——————————————

Kemudian seperti yang ada di Sunan Dar Quthni, Sayyidina Umar berkata:

: ” إياكم وأصحاب الرأي فإنهم أعداء السنن، أعيتهم الأحاديث أن يحفظوها فقالوا بالرأي، ضلوا أضلوا ”

“Takutlah kalian akan pemakai logika, mereka mengkonsumsi hadits hadits untuk dihafalnya, maka mereka berkata dengan pendapatnya, mereka sesat dan menyesatkan”
————————

Disini semakin jelas, munculnya pendapat pendapat baru akibat keberanian mengartikan Al Quran berdasarkan akan ketidakfahaman itulah yang sebenarnya melahirkan musuh musuh sunnah.

Kemudian kerusakan itu semakin diperparah oleh sifat pede mereka bahwa sebenarnya mereka kembali kepada Al Quran dan Hadits, semakin rusak lagi mereka dengan pedenya mengaku sebagai golongan yang paling faham akan  jalan yang ditempuh oleh para Salaf dalam memahami Al Quran dan Hadits.

Padahal, para salaf sendiri juga punya karakter bahasa khasnya masing masing, dan mereka tidak pernah bertemu dengan para salaf itu, jika tidak percaya, coba anda amati kitah kitab karangan para salaf itu, antara satu dan yang lain punya gaya bahasa penyampain masing masing, dan untuk mengenali gaya bahsa beliau beliau kita musti membaca tulisannya mulai muqoddimah sampai ahir, itupun harus diulang sekian kali dan membandingkannya dengan kitab sekarangannya yang lain.

Tidak usah jauh jauh, bagi anda yang suka membaca tulisan saya, anda tentu akan tahu gaya bahasa saya, walaupun misalnya tulisan saya dicopas dan tidak dicantumkan sumbernya.

Salam Pede ToniBoster 

TINGGALKAN KOMENTAR