ngaji Tentang Bid’ah Episode 1-b

ngaji Tentang Bid’ah Episode 1-b

BAGIKAN

Jika benar apa yang dikatakan oleh Sayyidina Abu Bakar dijadikan alasan atau sebagai penggiringan opini akan bahaya bid’ah secara radikal, maka perlu kiranya riwayat itu dilalar dengan menggunakan nalar sederhana saja, setidaknya dua konsntrasi sudah cukup.

1. Teks dhohirnya

Jelas sekali Sayyidina Abu Bakar mengatakan لست تاركا  (aku tidaklah meninggalkan), tentu saja kata kata meninggalkan itu berarti telah ada dan jelas sesuatu yang diperintahkan atau ditetapkan.

Padahal perintah Nabi itu bisa difahami sebagai yang wajib dan ada yang sunnah, oleh sebab itu, jika memang perintah tersebut difahami sebagai hal yang wajib, maka meninggalkannya adalah dosa atau haram. Sesuai definisinya, wajib adalah sesuatu yang ketika dikerjakan mendapat pahala, dan ketika ditinggalkan mendapat siksa.

Namun, jika perintah tersebut masuk kategori sunnah, maka meninggalkannya tidak berdosa, sesuai definisi fiqihnya;  sunnah adalah hal yang jika dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa.

Dengan demikian apa yang dikatakan Sayyidina Abu Bakar, tidak serta merta menjadi dasar acuan pembahasan Bid’ah. Lagi pula, jika riwayat ini dipaksa untuk dijadikan pembenaran atau pendukung tentang bid’ah secara dasariyahnya, maka sangat jelas inti dari pada alasannya adalah meninggalkan perintah, bukan menciptakan enovasi dalam perkara agama.

2. Asbabul Wurud

Secara lengkap, riwayat tersebut menceritakan sikap beliau atas tuntutan Syyidah Fathimah dengan hak waris dirinya dan saudara suadarinya.

Sayyidina Abu Bakar menolak tuntutan itu berdasarkan sabda Nabi:

إنا معشر الأنبياء لانورث ماتركنا فهو صدقة

“Kami semua Nabi tidak diwarisi, apa yang kami tinggalkan adalah menjadi sedekah”

Atau beberapa hadits yang serupa.

Disinilah sebenarnya secara jelas, Sayyidina Abu Bakar mengatakan seperti yang diatas dengan segala alasannya, bukan sebuah kata kata umum yang dapat dijadikan sebagai dasar hukum sesuatu kecuali dengan berbagai syarat qiyasnya. Dan sekali lagi, kronologi dari munculnya  perkataan tersebut sudah sangat jelas, yaitu tidak ingin meninggalkan perintah/ketetapan yang telah diperintahkan/tetapkan secara jelas, yang jika diasumsikan sebagai perintah/ketetapan wajib, meninggalkannya adalah dosa, dan jika diasumsikan sebagai perintah/ketetapan sunnah maka meninggalkannya paling banter cuma dihukumi makruh, bukan bid’ah dengan segala konskwensi hukumnya.

Salam Nglalar ToniBoster 

TINGGALKAN KOMENTAR