Ngaji Tentang Bid’ah Edisi 4

Ngaji Tentang Bid’ah Edisi 4

BAGIKAN

A. Hal hal baru yang dilegalkan oleh ‘Ulama Khanafiyyah.

Kiranya sudah lebih dari cukup apa yang kami sajikan mengenahi definisi bid’ah menurut beberapa Tokoh Madzhab Hanafi,  semoga dengan demikian mampu menyebabkan hati dan pandangan kita terbuka untuk minimal menghormati pendapat pendapat mereka yang tentu dan pasti dari hasil olah ilmiyyah yang memadai. Bukan sebuah kesimpulan yang berangkat dari kebodohan dan kecerobohan dalam memahami agama.

Dan mungkin akan menjdi omong kosong, jika definisi definisi kemren tidak disertai pembuktian applikasinya. Oleh sebab itu, akan kami sajikan bukti bukti pembaharuan di kalangan para cendikia itu dari berbagai bentuk pernyataan dalam amaliyah yang berbeda beda pula.

Antara lain:

Membaca Sholawat dengan keras setelah Adzan yang secara riwayat tidak pernah dilakukan oleh tiga generasi terbaik.

Adalah Ibnu ‘Abidin pemuka Madzhab Hanafi yang nama lengkapnya محمد أمين بن عمر بن عبد العزيز عابدين dalam kitab Hasyiyah Ibni Abidin terdapat penjeladan sebagai berikut:

( قوله : ثم فيها مرتين ) أي في المغرب كما صرح به في الخزائن ، لكن لم ينقله في النهر ، ولم أره في غيره ، وكأن ذلك كان موجودا في زمن الشارح ، أو المراد به ما يفعل عقب أذان المغرب ثم بعده بين العشاءين ليلة الجمعة والاثنين ، وهو المسمى في دمشق تذكيرا كالذي يفعل قبل أذان الظهر يوم الجمعة ، ولم أر من ذكره أيضا .
(Perkataan: kemudian di dalamnya (pembacaan sholawat) dilakukan dua kali) maksudnya di dalam Adzan maghrib seperti yang dijelaskan oleh al khozain, tetapi ia tidak menuqilnya di siang hari, dan aku tiada melihat dalam selainnya (adzan maghrib), dan seakan akan hal itu hanya terjadi di zaman pensyarah, atau yang dimaksud  adalah apa yang dikerjakan setelah adzan maghrib kemudian dikerjakaj juga diantara dua isya (antara maghrib dan isya: pen). Dan ialah apa yang disebut dalam wilayah Dimsyaq sebagai peringatan seperti apa yang dikerjakan sebeluk adzan Dhuhur pada hari jum’at, dan aku tidak melihat penuturannya di selainnya”

( قوله : وهو بدعة حسنة ) قال في النهر عن القول البديع : والصواب من الأقوال أنها بدعة حسنة

“(Perkataan: ialah bid’ah hasanah) berkata (pengarang kitabnya) dalam kitab Al Qoulul Badi, : yang benar sesungguhnya (membaca sholawat dengan jahr)  adalah bid’ah hasanah” (Sumber: Syarah ibnu Abidin juz 1)

Penjelasan di atas adalah menjelaskan matan seperti berikut:

[ فائدة ] التسليم بعد الأذان حدث في ربيع الآخر سنة سبعمائة وإحدى وثمانين في عشاء ليلة الاثنين ، ثم يوم الجمعة ، ثم بعد عشر سنين حدث في الكل إلا المغرب ، ثم فيها مرتين ، وهو بدعة حسنة

Bersambung

TINGGALKAN KOMENTAR