Ngaji Tentang Bid’ah Edisi 4

Ngaji Tentang Bid’ah Edisi 4

BAGIKAN

B. Melafadhkan Niyat

Contoh hal hal baru yang diiyakan oleh Ulama Madzhab Hanafi yang kedua ini adalah tema yang sangat ramai diperbincangkan oleh para Salafy wahhabi, bahkan mereka begitu sangat merendahkan dan menghina pendapat yang melegalkannya, yaitu masalah “melafadhkan niyat”

Seorang Mufti Madzhab Hanafi, ahli fiqih, muhaddits, mufassir, ahli bahasa dan ahli ushul yaitu Syaikh Muhammad bjn Ali bin Muhammad bin Ali bin Abdir Rohman bin Muhammad Al Khushoni yang terkenal dengan julukan Al Hashkafi ( محمد بن علي بن محمد بن علي بن عبد الرحمن بن محمد الحصني    المعروف بعَلَاء الدِّين الحَصْكَفي) dalam Kitabnya berjudul الدر المختار في شرح تنوير الأبصار juz 1 hal 448:
(والتلفظ) عند الإرادة (بها مستحب) هو المختار، وتكون بلفظ الماضي ولو فارسيا لأنه الأغلب في الانشاءات، وتصح بالحال. قهستاني (وقيل سنة) يعني أحبه السلف أو سنه علماؤنا إذ لم ينقل عن المصطفى ولا الصحابة ولا التابعين، بل قيل بدعة

” (melafadhkan niyat) ketika menghendaki (dengan sholar itu Mustahabb) inilah pendapat yang terpilih, dan melafadhkan niyat itu dengan lafadh yang kemaren walaupun dengan bahasa paris, karena bahasa paris lebih mendominasi dalam penyusunannya, dan sahlah sholat tersebut seketika. Ohastani (dan ada dikatakan talaffudh itu sunnah) maksudnya orang salaf menyukainya, atau para ulama kita memberlakukannya, karena demikian itu tidaklah ternuqil dari dari Al Mushthofa, Sahabat dan Tabi,in, malah ada yang mengatakan bid’ah”

Malah di alenea sebelumnya dikatakan bahwa niyat itu jika hati sulit untuk mengkonsentrasikannya, maka cukup dengan lisan, dan ingat!!!  Bahwa dalam Madzhab Hanafi, niyat bukanlah menjadi syarat sahnya sholat, tetapi niyat hanya sunnah saja.

TINGGALKAN KOMENTAR