Ngaji Tentang Bid’ah Edisi 3

Ngaji Tentang Bid’ah Edisi 3

BAGIKAN

Perkataan para Ulama dari berbagai Madzhab

1. Ulama Madzhab Hanafi

Adalah  محمد بن محمد بن مصطفى بن عثمان، أبو سعيد الخادمى الحنفي (المتوفى: 1156هـ

Dalam kitabnya yang berjudul Bariqotun Mahmudiyyatun:

ألبدعة ما أحدث على غير قياس أصل من أصول الدين

“Bid’ah ialah sesuatu yang diperbaharukan tanpa dengan mengkiyaskan yang asal dari beberapa pokok pokok agama”

Definisi ini mungkin masih memberatkan para pembaca untuk memahaminya, apalagi jika hanya berdasarkan terjemah yang leterlig seperti itu.

Begini penjelasannya:

Bahwa berdasarkan definisi ini, maka setiap sesuatu yang baru, yang mana keberadaannya muncul tanpa berdasarkan qiyas dari pokok pokok agama, hal itu disebut bid’ah.

Contoh mudahnya begini, bahwa negara indonesia punya undang undang dasar dan Panca Sila,  dan ini kita asumsikan sebagai “Ashlun” / “Pokok” yang dalam kerangka agama islam adalah Al Quran dan Hadits, nah dari “Ashlun” atau undang undang dasar itu bermunculan hukum hukum baru seperti UU Lalu Lintas, UU Tipikor dll, yang mana semua itu tidak disebutkan secara jelas dalam UUD tersebut.

Maka dari itu, uu tipikor adalah hal yang baru, tetapi tidak bisa disebut bid’ah, sebab ia muncul dari kesepadanan salah satu pasal UUD, kecuali jika UU Tipikor berbunyi misalnya “bagi siapa yang telah terbukti korupsi, maka ia akan mendapat hukuman berupa dinaikkan pangkatnya”, sebab uu yang berbunyi seperti ini menyelisihi daripada salah satu bunyi uud dan panca sila.

Bersambung

Salam Rejekinomplok ToniBoster 

TINGGALKAN KOMENTAR