Ngaji Tentang Bid’ah Edisi 3 – C

Ngaji Tentang Bid’ah Edisi 3 – C

BAGIKAN

Masih seputar pernyataan para Tokoh Madzhab Hanafi, kali ini adalah orang yang ahli dalam berbagai bidang, termasuk didalamnya adalah sejarah:

3. Imam Al ‘Aini nama komplitnya adalah الحافظ المحدث المؤرخ العلامة أبو محمد بدرالدين محمود بن أحمد بن موسى بن أحمد العيني الحنفي (٧٦٢ ه – ٨٥٥ 
)

Beliau mengatakan dalam kitabnya Syarah Bukhori (271/2) sebagai berikut:

والبدعة لغة كل شيء عمل على غير مثال سابق وشرعا إحداث ما لم يكن له أصل في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Bid’ah dalam segi bahasanya adalah setiap sesuatu yang dikerjakan tanpa atas contoh yang lalu, dan menurut Syara’ adalah memperbarukan apa yang tidak berdasarkan asal/pokok (sumber hukum)  dizaman Rosulillah SAW” 

Sering kali kita temukan terjemahan atau penjelasan dari bahasa arab “Ma Lam Yakun Lahu Ashlun” ini dengan “Yang tidak ada asalnya atau tidak ada asal usulnya” sehingga pembaca dibawa kepada pemahaman asal itu sebagaimana contoh konkrit atau perkataan yang jelas, pemahaman seperti inilah yang dikehendaki mereka untuk mengaburkan makna asal itu sebagai hal yang jika tidak terdapat percontohannya dikatakan sebagai bid’ah bagi yang melakukannya, bahkan dikatakan sebagai pelanggaran terhadap Syari’at, menambah nambah Syari’at dan lain sebagainya.

Padahal sebagaimana tulisan yang dulu, bahwa arti daripada asal adalah dasar hukum atau pokok hukum.

Selanjutnya beliaupun berkata dalam kitab yang sama (126/11) sebagai berikut:

البدعة في الأصل إحداث مالم يكن في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم, ثم البدعة على نوعين: إن كانت مما يندرج تحت مستحسن في الشرع فهي بدعة حسنة وإن كانت مما يندرج تحت مستقبح في الشرع فهي بدعة قبيحة

“Pada dasarnya bid’ah adalah perbaruan yang tidak ada di zaman Rosululloh saw, kemudian bid’ah ada dua macam: jika bid’ah tersebut dari apa yang termasuk dibawah kepentingan/perbaikan dalam Syara’ maka ia adalah bid’ah yang baik, dan jika bid’ah tersebut dari apa yang termasuk dalam kejelekan dibawah kerusakan syari’at, maka ia adalah bid’ah jelek”

Seperti yang sudah maklum, bahwa di dalam Madzhab Hanafi terdapat konsep Istihsan yang dalam madzhab lain diustilahkan dengan istilah lain, istihsan dapat difahami seperti ini:

العدول عن حكم في مسألة بمثل حكمه في نظائرها إلى خلافه لوجه أقوى منه

“Penyelarasan dari hukum dalam suatu masalah dengan (pertimbangan)  contoh hukumnya dalam penalarannya menuju sebaliknya karena melihat sisi yang lebih kuat”

Hehehe tambah mbundet dan mbulet ya?  Atau mungkin bisa lebih simplenya istihsan adalah:

حكم خاص يخالف الأصل العام أو القاعدة الكلية

“Hukum husus yang menyelisihi asal umumnya atau kaedah keseluruhannya”

Masih juga ruwet, mungkin bisa lebih sedikit terhibur jika anda kembali membaca status saya yang berjudul #bacalah

Salam Mbliyur ToniBoster

TINGGALKAN KOMENTAR