Ngaji Tentang Bid’ah Edisi 1-E

Ngaji Tentang Bid’ah Edisi 1-E

BAGIKAN

Ngaji Tentang Bid’ah Edisi 1-E 

Riwayat Sayyidina Umar sangat jelas bahwa munculnya pertikaian intlektual itu bersumber dari ketidak fahaman mereka dengan esensi Al Quran, dari situlah kemudian bermunculan berbagai bid’ah pendapat yang sebenarnya sangat jauh berbeda dari pendapatnya para sahabat dan tiga generasi terbaik ummat ini.

Seperti yang sudah sangat maklum, pertentangan masalah bid’ah ini menjadi pemicu pertikaian fisik kaum Muslimin, kelompok yang satu memgatakan bid’ah yang lain ngotot mengatakan tidak, setelah pertentangan tersebut ditumpangi oleh orang yang berkepentingan, kekerasan fisik dan material tidak lagi bisa dihindarkan.

Terlepas toleransi berpendapat yang telah sekian lama dijaga oleh para pemuka Agama Islam dalam tiga generasi terbaiknya, dimana belum pernah kita temukan adanya wacana bid’ah dan tidaknya sebuah amalan dijadikan prioritas jihad oleh berbagai kelompoknya, tak ada cerita pemuka Madzhab Maliki mendakwahi mebid’ah bid’ahkan pemuka madzhab syafi,i atau sebaliknya, demikian juga yang terjadi di dalam Madzhab Hanafi, syafi,i dan Hambali kecuali sedikit hambalian pada detik detik terahir eksisnya madzhab tersebut. Belakangan ada semacam pembenaran bagi kelompoknya sendiri ketika merespon ucapan Sayyidina Umar نعمة البدعة هذه (sebaik baik bid’ah ya ini) dengan alasan yang justru dikaji akan meruntuhkan pendapatnya sendiri.

Jelas jelas Sayyidina Umar mengatakan “Sebaik baiknya Bid’ah itu ini” tak ada tendensi apapun dan tak ada maksud apapun bahwa Sayyidina Umar mengatakan demikian adalah seperti yang ditakwilkan oleh beberapa ulama panutan mereka, sebab mereka hanya punya asumsi yang tidak ada sumbernya langsung dari yang mengatakan kata kata tersebut.

Mereka bilang jika yang dimaksud Sayyidina Umar itu Bid’ah Lughowi, dimana istilah itu tidak ada sumbernya langsung dari yang mengatakannya, Sayyidina Umar tidak diketahui mengklarifikasi ucapannya setelah itu. Lalu dengan alasan apa mereka mengatakan itu sebagai bid’ah lughowi? Bukankah asumsi yang tidak ada sumbernya langsung adalah bid’ah yang sebenarnya?

Salam Puyeng ToniBoster 

TINGGALKAN KOMENTAR