Ngaji Fiqih Dengan Kitab Taqrib

Ngaji Fiqih Dengan Kitab Taqrib

BAGIKAN

Pengantar Mengkaji Kitab al-Ghayah wa at-Taqrib

Karya asy-Syaikh al-Qadli Abu Syuja’

Ilmu fiqih adalah salah satu cabang keilmuan yang ada dalam Islam yang membahas tentang permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan muslim sehari-hari. Permasalahan-permasalahan yang menjadi pembahasan ilmu fiqih di antaranya adalah; (ibadah), muamalah (perdagangan dan hubungan antar sesama), jinayah (hukum pidana), dan munakahat (pernikahan).

Kitab-kitab yang memuat pembahasan tentang ilmu fiqih adalah sangat banyak sekali, mulai dari yang ringkas, sedang, ataupun yang luas pembahasannya. Salah satu kitab ringkas yang membahas tentang ilmu fiqih dan banyak dipakai oleh para ulama kalangan madzhab Syafi’i baik di Indonesia maupun negara-negara Islam yang lain dalam belajar mengajar adalah kitab yang bernama al-Ghayah wa at-Taqrib.

Kitab ini sangat familiar sekali dikalangan masyarakat muslim kuhususnya santri-santri pondok pesantren yang ada di Indonesia. Hampir semua pondok pesantren yang ada di Indonesia memakai kitab ini sebagai salah satu bahan pengajaran untuk santri-santri mereka.

Walaupun kitab al-Ghayah wa at-Taqrib tergolong kitab yang cukup ringkas, tetapi mengandung makna yang sangat luas. Isi dari kitab ini adalah sangat lengkap dan mudah sekali untuk difahami, khususnya bagi kalangan pemula.

Kitab ini terdiri dari 17 pembahasan yang di dalam masing-masing pembahasan terdapat pasal-pasal. Secara urut isi dari kitab al-Ghayah wa at-Taqrib adalah;

1. Mukadimah penyusun.

2. Kitab ath-Thaharah (membahas tentang tata cara bersuci).

3. Kitab ash-shalah (membahasa tentang Shalat dan tata caranya).

4. Kitab az-Zakah (membahas tentang Zakat).

5. Kitab ash-Shiyam (membahas tentang puasa).

6. Kitab al-Hajj (membahas tentang haji).

7. Kitab al-Buyu’ wa ghiriha min al-Mua’ammalat (membahas tentang macam-macam transaksi dan hubungan dengan manusia).

8. Kitab al-Faraidl wa al-Washaya (membahas tentang waris dan wasiat).

9. Kitab an-Nikah (membahas tentang nikah).

10. Kitab al-Jinayat (membahas tentang tidak pidana).

11. Kitab al-Hudud (membahas tentang had-had/sanksi).

12. Kitab al-Jihad (membahas tentang jihad).

13. Kitab ash-Shaid wa adz-Dzabaih (membahas tentang berburu hewan dan hewan sembelihan).

14. Kitab as-Sabaq wa ar-Ramyu (membahas tentang perlombaan dan memanah).

15. Kikat al-Aiman wa an-Nudzur (membahas tentang sumpah dan nadir).

16. Kitab al-Aqdliyyah wa asy-Syahadah (membahas tentang peradilan dan kesaksian).

17. Kitab al-‘Itq (membahas tentang pembebasan budak).

Karena kitab al-Ghayah wa at-Taqrib dipandang sebagai salah satu kitab yang cukup bagus dan cukup lengkap pembahasanya, banyak sekali para ulama kalangan madzhab Syafi’iyyah yang turun tangan untuk menyusun kitab sebagai penjelasan ataupun komentar-komentar mereka terhadap isi kandungan kitab al-Ghayah wa at-Taqrib, baik berupa Syarah (penjelasan kata perkata) ataupun Hasyiyyah (penjelasan/komentar yang lebih luas dari syarah).

Nama-nama kitab yang menjadi syarah ataupun Khasiyyah dari kitab al-Ghayah wa at-Taqrib diantaranya adalah Fath al-Qarib Mujib fi Syarhi Alfadz at-Taqrib karya syaikh Muhammad bin Qasim al-Ghazi, at-Tadzhib fi Adillati al-Ghayah wa at-Taqrib karya Doktor Mushtafa Dib al-Bugha, Kifayah al-Akhyar Syarah Ghayah al-Ikhtishar karya Imam Taqiyuddin bin Muhammad al-Husaini al-Hishni ad-Dimasyqi, Al-Iqna’ fi Hall Alfazd Abi Syuja’ karya al-Khatib as-Sarbini, Hasyiyyah asy-Syaikh Ibrahim al-Bajuri karya syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad al-Bajuri, dan lain sebagainya.

Kitab al-Ghayah wa at-Taqrib disusun oleh al-Alim al-Allamah al-Abid ash-Shalih al-Imam al-Faqih al-Qadli Syihab al-Millah Ahmad bin al-Husain bin Ahmad al-Ashfahani. Dalam satu riwayat beliau dilahirkan pada tahun 443 H di kota Isbahan salah satu kota yang ada di Persia atau Iran saat ini.

Beliau dikenal dengan sebutan Syaikh Abu Syuja’ yang artinya bapak keberanian. Sebutan ini karena beliau dikenal sebagai seorang ulama yang pemberani dalam menegakkan kebenaran dan tidak takut dengan cacian dari orang lain di dalam beliau menegakkan kebenaran. Beliau pernah menjabat sebagai Qadli (hakim agung) pada masa dinasti Bani Saljuk. Selain dikenal dengan Abu Syuja’, beliau dikenal juga dengan sebutan Qadli Abu Thayyib.

Selain dikenal sebagai orang yang sangat pemberani, beliau juga dikenal sebagai orang yang sangat cerdas, ini dibuktikan dengan salah satu karyanya yang sangat diminati oleh banyak muslim yang bermadzhab syafi’iyyah di penjuru dunia. Beliau juga dikenal sebagai orang yang sangat dermawan. Suatu ketika beliau pernah mensedekahkan hartanya sebesar 120 ribu dinar emas kepada para ulama, penuntut ilmu, orang-orang fakir, dan orang-orang yang membuthkannya. Sungguh jumlah yang sangat luar biasa besar. 1 dinar emas itu sama dengan 4,25 gram emas murni, kalau misalnya harga emas saat ini adalah Rp, 490. 000 untuk per gramya, maka sedekah yang beliau keluarkan saat itu adalah sebesar……?!, waow, jumlah yang sangat besar sekali, mencapai angka ratusan milyard rupian jika dikonversikan dengan uang sekarang (untuk jumlah pastinya silahkan hitung sendiri…hehe).

Beliau adalah salah satu ulama yang dikarunia usia yang cukup panjang, menurut satu riwayat, beliau di anugrahi Allah Ta’ala usia lebih dari 150 tahun. Di masa-masa akhir hidupnya, beliau memilih untuk menyibukkan diri dalam ibadah dan hidup sebagai seorang yang zahid yang menjadikan makam Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam sebagai tempat tinggalnya.

Di makam Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam beliau mengabdikan diri sebagai tukang sapu ataupun orang yang memenuhi segala kebutuhan yang ada di makam tersebut.

Salah satu karomah yang dianugrahkah Allah Ta’ala berkat dari ketaqwaan dan ketaatannya adalah walaupun usia beliau sudah cukup lanjut, tetapi tidak ada satu pun anggota tubuh beliau yang menurut kemampuan dan fungsinya, semuanya tetap sehat dan kuat sebagaimana orang yang masih muda. Ketika ditanya tentang resep kenapa beliau bisa seperti itu, beliau menjawab;

ما عصيت الله تعالى بعضو منها فى الصغر, فحفظها الله على فى الكبر

Aku tidak pernah menggunakan anggota tubuhku untuk bermaksiat kepada Allah Ta’ala ketika aku masih muda, maka Allah Ta’ala menjaga anggota tubuhku tersebut ketika aku sudah tua.

Setelah sekian lama menjadi khadim di makam Nabi shalallahu’alaihi wasallam, beliau wafat dan dimakamkan di dekat Bab Jibril yaitu sebuah tempat yang pernah disinggahi malaikat Jibril dan letak kepala beliau berdekatan dengan kamar Nabi shalallahu’alaihi wasallam.

Semoga kita bisa mencicipi sedikit tetesan dari lautan ilmu beliau dan tercurahi oleh setitik berkah yang di anugrahkan Allah kepada beliau. Amiin.

 Bersambung Insyaallah……….

Kang As’ad

6 KOMENTAR

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb.

    Sungguh saya merasa senang dengan tulisan tulisan Mbahlalar,memberikan pencerahan kepada saya hal hakl yang menjadi amaliyah Ahlissnuunnah wal Jamaa’ah.Dan kami mohon izin untuk berbagi guna keperluan da’wah Islamiyah…

  2. MAAF PAK SAYA MAU TANYA APA HUKUM ORANG YANG MENINGGALKAN SHOLAT TAPI DISEBABKAN TIDAK PUNYA PAKAIAN LAIN HANYA SATU SATUNYA ITU PUN SUDAH TERKENA NAJIS.KE 2. MENGAPA ORANG KENTUT ATAU KENCING ATAU YANG LAIN POKOKNYA BYNG MEMBATALKAN WUDHU ITU YANG DI BASUH KETIKA BERWUDHU ITU YANG DIBASUH WAJAH TANGAN KAKI DLL. KO GA YANG BIKIN BATAL AJA,.3 MENGAPA ORANG KELUAR MANI HARUS MANDI BESAR DAN KENAPA SEMUA ANGGOTA BADAN HARUS DI BASUH PADAHALKAN YANG MENGELUARKAN CUMA ALAT KEMALUANYA.TERIMAKASIH

TINGGALKAN KOMENTAR