Ngaji Aqidah Part III

Ngaji Aqidah Part III

BAGIKAN

Ngaji Aqidah Part |||

A. Asas

Dalam bab inilah oleh tetangga sebelah dikatakan bahwa Aqidah Asy’ariyyah hanya ditumpukan kepada logika saja, dan untuk agar tidak ada dusta di antara kita, sebaiknya masalah ini segera saya tuntaskan lebih dahulu, walaupun sebenarnya saya belumlah ahli didalamnya.

Seperti yang barusan saya tulis, bahwa “Dialektika” adalah sesuatu yang tidak  mudah untuk dikatakan iya dan tidak, maka seperti halnya ketuhanan, kenabian, keagamaan, hukum, negara, pemerintahan, politik dan sejenisnya adalah hal yang membutuhkan metode dealektik untuk menyampaikannya.

Ketika ada orang bilang bahwa Indonesia adalah sebuah Negara berdaulat misalnya, maka orang tersebut haruslah tidak dengan cara memaksakan keyakinannya kepada lawan bicaranya tanpa mengajukan argumen seperlunya, sebab tidak mungkin lawan bicara ikut meyakini apa yang diyakini oleh pembicara tersebut.

Boleh jadi lawan bicara tersebut mempercayai begitu saja, tetapi akan ada banyak sisa sisa pertanyaan di dalam hatinya yang entah kapan akan dapat merobek kepercayaannya itu, jadi metode dealektik adalah sebuah cara untuk meyakinkan seseorang dengan daya nalar yang sepadan dari materi yang sudah ada, yaitu berupa rakyat yang mendiami kepulauan di Indonesia.

Seperti halnya Aqidah, jelas bahannya sudah ada di Al Quran dan Al Hadits, tetapi agar keduanya dapat dipahami sesuai fitrah akal manusia yang suci, dibutuhkanlah metode dealektik tersebut, dan Al Quran sendiri telah mencontohkan sistem dialog itu dalam berbagai Ayat, misalnya:

لو كان فيهما آلهة إلاالله لفسدتا

“Andai di dalam keduanya (langit dan bumi) ada Tuhan selain Alloh, maka rusaklah keduanya” (Al Anbiya:22)

Al Quran sendiri tidak serta merta memperkosa keyakinan manusia agar percaya dengan keberadaan Alloh begitu saja, tetapi Al Quran menggunakan analogi yang sekiranya mampu diserap oleh logika kemudian meyakininya.

Al Quran tidak mengatakan percaya gak percaya pokoknya Tuhanmu itu Alloh, kalau gak percaya kamu kafir dan akan Kami hukum atau perkataan yang senada, bahkan pengakuan seorang Nabi saja selalu disertai bukti bukti keilmuan dan kemampuannya dalam berbagai hal.

Lihat saja, betapa banyak kalimat yang mengajak berpikir, berlogis, merenung dan memperhatikan alam sekitar?

Dengan demikian, yang dimaksud dengan asas berlogika dalam Asy’ariyyah adalah konsep cara menganalogikan aqidah dengan logika logika yang benar, bukan menumpukan keyakinan di atas logika, bahkan dalam konsep Asy’ariyyah sendiri menolak konsep keyakinan yang berdasarkan logika murni, imannya para failusuf itu tidak sah, itu yang sering dikatakan di dalam kitab kitab Aqidah konsep Asy’ariyyah.

Nah, asas atau dasar dealektik didalam memahami Aqidah ini ada tiga, sesuai dengan hukum akal sejak zaman Adam sampai zaman qiyamat nanti, ialah:

1. Wajibul Aqli/Wajib

2. Muhalul Aqli/Muhal

3. Jawazul Aqli/Jaiz

Tanpa mengetahui terlebih dahulu ketiga ushul di atas, tidak mungkin seseorang akan dapat meraih aqidah yang sahih, sebab untuk dapat mengetahui cabang dari suatu masalah haruslah terlebih dahulu memahami pokoknya.

A. Wajib

ما يتصور في العقل وجوده
“Sesuatu yang di dalam akal dapat menggambarkan/menerima keberadaannya”

مالا يتصور في العقل عدمه
“Sesuatu yang di dalam akal tidak mampu menggambarkan ketiadaannya”

B. Muhal

مالا يتصور في العقل وجوده

“Sesuatu yang keberadaannya tidak bisa diterima oleh akal sehat”

ما يتصور في العقل عدمه

“Sesuatu yang di dalam akal sehat menerima ketiadaannya”

C. Jaiz

ما يتصور في العقل وجوده وعدمه

“Sesuatu yang diterima oleh akal sehat ada dan tiadanya”

TINGGALKAN KOMENTAR