Ngaji Aqidah Part II

Ngaji Aqidah Part II

BAGIKAN

#Ngaji #Aqidah #Part #2

Selanjutnya istilah Aqidah ini dijadikan penyebutan secara umum apapun yang diyaqini oleh seseorang, walaupun keyaqinan yang disebut Aqidah tadi tidak masuk dalam bab bab terpisah dari Ushuluddin.

Seperti misalnya perkataan seseorang yang menyatakan keyaqinannya akan terpengaruhinya sewadah air yang mampu berubah energi ketika disuwuk, maka orang orang bersumbu pendek akan mengatakan bahwa orang tersebut  beraqidah dukun.

Atau misalnya orang yang berkeyaqinan hadirnya Nabi Muhammad (tanpa harus dengan penjelasan apakah hadirnya secara ruhani atau fisik)  ketika mahallul Qiyam pada pembacaan al abrzanji, maka orang bersumbu pendek akan mengatakan keyaqinan seperti itu adalah aqidahnya para shufi atau aqidahnya syiah.

Maka jika dikatakan “Aqidahnya Para Sahabat” maka yang dimaksud adalah salah satu dari keyaqinan yang sempat diutarakan, bukan Aqidah sebagaimana yang dimaksud sebagai keyaqinan dalam satu paket doktrinalnya.

Harap anda tidak tertipu dengan permainan klaim mereka, karena para Sahabat dan Tabi,in tidak pernah mendokumentasikan keyakinan keyakinan mereka dalam satu paket disiplin ilmu aqidah, sebagaimana terdokumentasikannya ilmu ilmu semacam hadits, nahwu, shorof, manthiq dan lain sebagainya oleh geberasi berikutnya.

Jadi Aqidah, jika dalam pembicaraan pelajaran, adalah ilmu tersendiri yang berdiri sendiri dengan metode tersendiri pula, bukan sebuah ilmu yang dibicarakan secara acak dan campur aduk juga disejajarkan dengan ilmu ilmu lain, kecuali dalam kitab kitab tafsir yang pengarangnya lebih condong kepada basic keilmuan yang dimilikinya.

Ilmu Aqidah/akidah/aqoid juga sering disebut sebagai Ilmu Tauhid dan Ilmu Kalam, disebut Ilmu Tauhid karena sudah jelas bahwa didalamnya lebih banyak membicarakan Ketuhanan yang pada intinya mengerucut kepada keMaha Tunggalan atau keEsaan Alloh baik dari sisi Dzat, Shifat dan PerbuatanNya.

Disebut Ilmu Kalam karena dalam penyampainnya memakai metode  argumentatif  sebagai pengenalan manusia terhadap Tuhan semesta alam dalam koridor rasio, akal dan nalar.

Teologi ini berangkat dari kesadaran pengonsepnya dimana Teologi yang hanya berpijak pada fitrah manusia dan beku pada teks teks semata  tidak bisa menjadi suatu pedoman tertulis bagi orang lain, karena realitas hubungannya kepada Tuhan sangat pribadi dan berdasarkan pengalaman yang satu sama lain berlainan, sehingga akan sulit ditransfer kepada orang lain melalui percakapan atau diskusi semantik atau munadhoroh.

Juga menyadari bahwa yang ingin ditauhidkan bukanlah sapi, onta, kambing atau mahluk mahluk yang tidak berakal, yang mampu membantah, yang punya argumen, yang punya daya nalar dan lain sebagainya.

Dalam Kitab ‘Umdatu Ahli al Taufiq yang dinuqil dari Imam Baydlowi, mendifinisakan munadhoroh sebagai berikut:

ترتيب أمور معلومة على وجه يؤدي إلى استعلام ماليس بمعلوم

“Mentertibkan perkara perkara yang sudah diketahui pada bentuk yang dapat mendatangkan pengetahuannya sesuatu yang tidak bisa diketahui”

Bersambung

TINGGALKAN KOMENTAR