Mujassimah & Neo Mujassimah

Mujassimah & Neo Mujassimah [seri 3]

BAGIKAN

Bahaya Aqidah Salafi WahabiDalam artikel sebelumnya Mujassimah & Neo Mujassimah [seri 2] kami telah menukilkan tentang Mujassimah dan Musyabbihah dalam pandangan Ulama Madzhab Maliki, selanjutnya dalam artikel ini kami insyaallah akan kami nukilkan pandangan Ulama Madzhab Syafi’i tentang Mujassimah dan Musyabbihah, dengan harapan kita semua dapat memahami dengan sebenarnya seluk-beluk Mujassimah dan Musyabbihah, agar kita semua terhindar dari jurang Tajsim dan Tasybih, dan tetap dalam Aqidah yang selamat dan menyelamatkan.

MUJASSIMAH DALAM MADZHAB SYAFI’I

Dalam Madzhab Syafi’i, para Ulama berbeda pendapat tentang hukum Tajsim/Mujassimah, ada yang berpendapat bahwa Tajsim hukum nya kufur secara mutlak, ada yang mengatakan bahwa Tajsim itu tidak kufur secara mutlak, akan tetapi perkataan nya bukan berarti benar, dan ada pendapat tidak mutlak yakni sebagian Tajsim bisa menjadi kufur dan sebagian Tajsim lagi tidak menjadi kufur, al-hasil dalam Madzhab Syafi’i ada 3 pendapat sebagai berikut :

1.         Orang yang berkata bahwa dzat Allah adalah benda (Jism) atau berkata Allah bersifat dengan sifat benda, maka ia telah menjadi kafir secara mutlak, baik Tajsim nya shorih seperti orang yang berkata Allah adalah benda seperti benda lain, atau tidak shorih seperti orang berkata Allah bertempat atau menempati ruang.

2.         Orang yang berkata bahwa dzat Allah adalah benda (Jism) atau berkata bahwa Allah bersifat dengan sifat benda, maka ia tidak kafir secara mutlak, baik Tajsim nya shorih atau tidak shorih, sebagaimana contoh di atas.

3.         Orang yang berkata bahwa dzat Allah adalah benda (Jism) atau bersifat dengan sifat benda, maka hukum nya ada dua macam, yakni bila Tajsim nya shorih maka ia kafir, dan bila Tajsim nya tidak shorih maka ia tidak menjadi kafir, sebagaimana contoh di atas.

PANDANGAN ULAMA MADZHAB SYAFI’I TENTANG MUJASSIMAH

Berkata Al-‘Izzu Ibnu Abdis salam :

قد رجع الأشعري رحمه الله عند موته عن تكفير أهل القبلة , لأن الجهل بالصفات ليس جهلا بالموصوفات

“Sungguh Imam Asy’ari telah rujuk ketika akhir hayat nya dari mengkafirkan ahli Qiblat, karena sesungguhnya jahil dengan sifat (sifat Allah) bukan jahil dengan yang bersifat (Allah)”.[Kitab Qawa’id- Jilid 1- halaman 202]

Dan Imam Al-Izzu melanjutkan :

فكذلك اختلاف المسلمين في صفات الإله ليس اختلافا في كونه سبحانه وتعالى في جهة كونه خالقهم وسيدهم المستحق لطاعتهم

فإن قيل : يلزم من الاختلاف في كونه سبحانه وتعالى في جهة كونه حادثا

قلنا : لازم المذهب ليس بمذهب , لأن المجسمة جازمون بأنه في جهة وجازمون بأنه قديم أزلي ليس بمحدث

“Seperti demikian perselisihan kaum muslimin pada sifat Tuhan, bukan karena perbedaan pada keadaan Allah subhanahu wa taala pada arah (jihat), lantas berbeda pada keadaan Allah itu pencipta mereka dan tuan mereka yang berhak bagi taat mereka.

Maka jika dikatakan : berbeda pada keadaan-Nya pada arah (jihat), melazimi kepada keadaan-Nya baharu (hadits).

Kita jawab : bahwa yang lazim dari pendapat bukanlah sebuah pendapat, karena seorang Mujassim yakin bahwa Allah ada di arah (atas) dan juga yakin bahwa Allah ada tanpa bermula (Qadim dan Azali) dan bukan baharu (hadits)“. [Kitab Qawa’id- Jilid 1- Halaman 202]

Tetepi Imam Al-‘Izzu melanjutkan :

وكل ذلك مما لا يمكن تصويب للمجتهدين فيه بل الحق مع واحد منهم , والباقون مخطئون خطأ معفوا عنه لمشقة الخروج منه والانفكاك عنه , ولا سيما قول معتقد الجهة فإن اعتقاد موجود ليس بمتحرك ولا ساكن ولا منفصل عن العالم ولا متصل به , ولا داخل فيه ولا خارج عنه لا يهتدي إليه أحد بأصل الخلقة في العادة , ولا يهتدي إليه أحد إلا بعد الوقوف على أدلة صعبة المدرك عسرة الفهم فلأجل هذه المشقة عفا الله عنها في حق العادي

“Dan semua itu adalah sebagian dari sesuatu yang tidak mungkin membenarkan bagi semua Mujtahid, tapi yang benar tetap satu dari mereka (karena bukan masalah furu’iyah), sementara yang lain salah tapi dimaafkan (tidak menjadi kafir) karena sulit keluar dan terlepas dari kesalahan tersebut, apalagi perkataan orang yang meyakini arah (Jihat), karena sesungguhnya keyakinan Allah ada tanpa bergerak dan tidak tetap, tidak terpisah dari alam dan tersambung dengan alam, tidak di dalam alam dan tidak di luar alam, itu sungguh tidak terpetunjuk seorang pun kepada aqidah tersebut dengan fitrah pada adat, dan tidak terpetunjuk seorang pun kecuali setelah berhenti atas dalil-dalil yang sukar dan sulit dipahami, maka karena kesulitan inilah, Allah memaafkan nya pada orang awam”. [Kitab Qawa’id –Jilid 1- Halaman 202]

Dan pada akhirnya Imam Al-‘Izzu berkata :

ومن زعم أن الإله يحل في شيء من أجساد الناس أو غيرهم فهو كافر لأن الشرع إنما عفا عن المجسمة لغلبة التجسم على الناس فإنهم لا يفهمون موجودا في غير جهة بخلاف الحلول فإنه لا يعم الابتلاء به ولا يخطر على قلب عاقل ولا يعفى عنه

“Dan siapa yang mendakwa bahwa Tuhan bertempat pada sesuatu apapun baik dari badan manusia atau lain nya, maka ia menjadi kafir, karena bahwa Syara’ hanya memaafkan dari Mujassimah karena sulit menghindar dari Tajsim, karena mereka tidak bisa memahami sesuatu yang ada tapi tanpa arah (jihat), lain dengan aqidah bertempat, karena tidak semua orang tertimpa dengan aqidah bertempat, bahkan tidak dalam hati orang yang berakal, dan tidak dimaafkan dari aqidah tersebut (aqidah Allah bertempat)”. [Kitab Qawa’id- Jilid 1- Halaman 202]

Berkata Imam Nawawi Asy-Syafi’i :

قد ذكرنا أن من يكفر ببدعته لا تصح الصلاة وراءه , ومن لا يكفر تصح , فممن يكفر من يجسم تجسيما صريحا

“Dan telah kami sebutkan bahwa orang yang kafir dengan sebab Bid’ah nya, tidak sah Sholat dibelakangnya, dan orang yang tidak kafir (dengan sebab Bid’ah nya), niscaya sah Sholat (dibelakangnya), maka sebagian dari orang yang kafir, adalah orang yang membendakan Tuhan secara shorih”. [Kitab Al-Majmu’- Jilid 4- Halaman 150]

Berkata Syihabuddin Ar-Ramli Asy-Syafi’i :

سئل عمن قال إن الله في جهة هل هو مسلم , وإن لزمه التجسيم ; لأن لازم المذهب ليس بمذهب أم لا ؟

 فأجاب بأن القائل المذكور مسلم , وإن كان مبتدعا

“Ditanyai tentang orang yang berkata bahwa Allah pada arah (jihat), adakah ia seorang muslim ? sekalipun perkataan nya melazimi Tajsim, karena bahwa lazim dari perkataan bukanlah sebuah pernyataan, ataukah ia bukan seorang muslim ?

Maka beliau menjawab, sesungguhnya orang yang berkata demikian itu muslim, sekalipun ia telah melakukan bid’ah (Mubtadi’)”.[Kitab Fatawa Ar-Ramli- Jilid 4- Halaman 20]

Berkata Ibnu Hajar Al-Haitami :

من ثم قيل أخذا من حديث الجارية يغتفر نحو التجسيم والجهة في حق العوام ; لأنهم مع ذلك على غاية من اعتقاد التنزيه والكمال المطلق

“karena itu dikatakan karena dipahami dari Hadits Jariyah, bahwa dimaafkan untuk orang awam (tidak dihukumi kafir sekalipun beraqidah salah), pada seumpama menyatakan jism dan arah (bagi Allah), karena sesungguhnya mereka (orang awam) beserta demikian (Tajsim dan menyatakan arah), mereka sangat meyakini Tanzih (suci Allah dari serupa makhluk) dan meyakini kesempurnaan Allah secara mutlak”. [Kitab Tuhfah Al-Muhtaj- Jilid 9- Halaman 86]

Berkata Badruddin Az-Zarkasyi :

وأما المخطئ في الأصول والمجسمة

فلا شك في تأثيمه وتفسيقه وتضليله . واختلف في تكفيره

وللأشعري قولان . قال إمام الحرمين وابن القشيري وغيرهما : وأظهر مذهبيه ترك التكفير , وهو اختيار القاضي في كتاب ” إكفار المتأولين

“Adapun orang yang salah dalam dasar Tauhid dan Mujassimah, maka tidak diragukan pada berdosanya, fasiknya dan sesatnya, dan terjadi khilaf pada kafirnya, bagi Imam Asy’ari ada dua pendapat tentang ini, menurut Imam Haramain, dan Ibnu Qusyairi dan lain keduanya, bahwa yang kuat dari dua pendapat Asy’ari adalah tidak mengkafirkan mereka, dan pendapat ini juga dipilih oleh Al-Qadhi dalam kitab Ikfar Al-Mutaawwilin”.[Kitab Al-Bahru Al-Muhith li Az-Zarkasyi- Jilid 8- Halaman 280]

Berkata Asy-Syarbini :

في الروضة

لو قال فلان في عيني كاليهودي والنصراني في عين الله أو بين يدي الله فمنهم من قال كفر ومنهم من قال إن أراد الجارحة كفر وإلا فلا

قال الأذرعي : والظاهر أنه لا يكفر مطلقا لأنه ظهر منه ما يدل على التجسم والمشهور أنا لا نكفر المجسمة

“Dalam kitab Raudhah (karangan Imam Nawawi) Kalau seorang berkata : si Fulan dimataku seperti Yahudi dan Nasrani dimata Allah atau di dua tangan Allah, maka sebagian Ulama berkata ia menjadi kafir (karena menyatakan Mata dan Tangan bagi Allah), dan sebagian Ulama berkata jika ia maksud adalah Jarihah (Mata kepala dan Tangan anggota badan) niscaya ia menjadi kafir, dan jika ia maksud bukan begitu, maka ia tidak kafir, berkata Al-Adzra’i : yang dhohir bahwa tidak menghukumi kafir secara mutlak, karena ada tanda-tanda yang menunjuki kepada Tajsim, dan pendapat yang masyhur bahwa kita tidak menghukumi kafir Mujassimah”. [Kitab Mughni Al-Muhtaj Al-Syarbini- Jilid 4- Halaman 133]

Berkata Imam As-Suyuthi :

قال الشافعي لا يكفر أحد من أهل القبلة, واستثني من ذلك المجسم, ومنكر علم الجزئيات

“Berkata Imam Syafi’i Tidak dikafirkan seorang pun dari ahli Qiblat, dan dikecualikan dari demikian Mujassim dan pengingkar ilmu Allah terhadap semua juziyat”.[Kitab Al-Asybah wa An-Nadhoir Suyuthi- halaman 488]

Berkata Ibnu Hajar Al-Haitami :

واعلم أن القَرَافي وغيره حكوا عن الشافعي ومالك وأحمد وأبي حنيفة رضي الله عنهم القول بكفر القائلين بالجهة والتجسيم، وهم حقيقون بذلك

“Ketahui oleh mu bahwa Qurafi dan lain nya telah menghikayah dari Imam Syafi’I dan Imam Malik dan Imam Ahmad dan Imam Abu Hanifah –Radhiyallahu ‘anhum- akan satu pendapat tentang kafir orang yang berkata dengan Jihat (arah bagi Allah) dan orang yang berkata dengan Tajsim (bentuk dzat Allah), dan mereka (para Imam) mentahqiq dengan demikian”. [Kitab Al-Minhaj Al-Qawim- Halaman 224]

Berkata Zakaria Al-Anshori :

 قوله لا نكفره ) أي ببدعته خرج من نكفره ببدعته كالمجسمة ومنكري البعث وحشر الأجساد , وعلم الله تعالى بالمعدوم أو بالجزئيات لإنكارهم ما علم مجيء الرسل به ضرورة فلا يجوز الاقتداء به لكفره , والمعتمد في المجسم عدم التكفير ا هـ . ز ي أي ما لم يجسم صريحا , وإلا فيكفر ا هـ . شيخنا

“(Qauluhu La Nukaffiruhu) artinya dengan Bid’ah nya, tidak termasuk orang yang kita hukumi kafir dengan Bid’ah nya, seperti Mujassimah, dan pengingkar hari bangkit dan kebangkitan jasad, dan orang ingkar pengetahuan Allah dengan yang tidak ada, atau mengingkari ilmu Allah dengan semua juziyat, karena mereka mengingkari sesuatu yang diketahui dengan mudah dari risalah yang dibawakan oleh rasul, maka tidak boleh ikut imam dengan orang tersebut, karena kufur nya, dan pendapat mu’tamad tentang Mujassimah ialah tidak menghukumi kafir.

Syaikh Sulaiman Al-Jamal berkomentar : maksud nya selama tidak menjisimkan dengan shorih, jika tidak (artinya Tajsim shorih) maka ia kafir”.[Kitab Hasyiah Jamal- Jilid 1- halaman 531]

Berkata Taqiyuddin Abu Bakar Al-Hashni :

لكن هنا تنبيه هو أن المجسمة ملتزمون بالألوان والاتصال والانفصال وكلام الرافعي في كتاب الشهادات يقتضي أن المشهور أنا لا نكفرهم وتبعه النووي على ذلك إلا أن النووي جزم في صفة الصلاة من شرح المهذب بتكفير المجسمة

قلت : وهو الصواب الذي لا محيد عنه إذ فيه مخالفة صريح القرآن قاتل الله المجسمة والمعطلة ما أجرأهم على مخالفة من { ليس كمثله شيء وهو السميع البصير } وفي هذه الآية رد على الفرقتين والله أعلم

“Tetapi di sini memberitahu bahwa sesungguhnya Mujassimah itu melazimi kepada warna dan tersambung dan terpisah, dan kalam Imam Rafi’i dalam kitab Al-Syahadat, menunjuki bahwa pendapat yang masyhur bahwa kita tidak menghukumi kafir mereka (Mujassimah), dan Imam Nawawi ikut dengan Imam Rafi’i tentang demikian (pendapat masyhur), tetapi Imam Nawawi dalam sifat Sholat di Syarah Muhadzdzab memastikan dengan kafir Mujassimah, Saya (Taqiyuddin Al-Hashni) berkata : pendapat Imam Nawawi dalam Syarah Muhazdzab itulah yang benar dan tidak terelakkan, karena pada Mujassimah terjadi pertentangan dengan shorih Al-Quran, Allah memerangi Mujassimah dan Mu’atthilah akan apa yang dapat membawa mereka kepada bertentangan dengan ayat , dan dalam ayat ini Allah menolak atas dua firqah (Mujassimah dan Mu’atthilah), wallahu a’lam”.[Kitab Kifayatu Al-Akhyar li Al-Hashni- halaman 647]

Masih banyak pernyataan para ulama Madzhab Syafi’i yang lain yang tidak kami nukil ke sini, tapi intinya ada 3 macam seperti yang telah kami sebutkan di awal tulisan ini, dan perbedaan nya cuma dalam hukum orang nya, dihukumi kafir atau tidak, tapi semua ulama sepakat bahwa Aqidah Tajsim dan Tasybih itu telah melenceng dari tuntunan Al-Quran dan As-Sunnah, dimaafkan bagi sebagian orang awam pada sebagian perkataan yang tidak shorih Tajsim dan Tasybih nya, bukan berarti aqidah nya itu benar dan masih dalam kategori aqidah Ahlus Sunnah Waljama’ah, tapi perkataan dan aqidah nya salah dan sesat, tapi kemungkinan dimaafkan karena pertimbangan keadaan orang awam, tidak seperti kaum Salafi Wahabi, yang hanya mencoba menghindar dari hukum, dan mencari celah agar tetap dalam aqidah Tajsim dan Tasybih, semoga Allah memberi mereka hidayah-Nya, dan semoga Allah memaafkan orang awam dari mereka, karena mereka adalah korban dari orang yang bermain demi kepentingan yang terselubung dibalik bendera dakwah Islamiyah.

Maha Suci Allah Dari Segala Sifat Makhluk

 

BERSAMBUNG [insyaallah] ke Mujassimah & Neo Mujassimah [seri 4]

TINGGALKAN KOMENTAR