Mujassimah & Neo Mujassimah

Mujassimah & Neo Mujassimah [seri 2]

BAGIKAN

Hindari Aqidah Tajsim dan TasybihPada artikel sebelum nya “Mujassimah & Neo Mujassimah [seri 1]” ,kami telah membahas tentang Mujassimah dalam pandangan ulama Madzhab Hanafi, dan insyallah kali ini kita akan membahas tentang Mujassimah & Neo Mujassimah dalam pandangan ulama Madzhab Maliki, semoga kita semua terlepas dari segala bentuk Tajsim dan Tasybih, dan mantap dalam aqidah Tanzih [men-sucikan Allah dari keserupaan makhluk], madzhab Maliki sama dengan madzhab Hanafi dalam masalah Mujassimah dan Musyabbihah, baik hukum maupun rincian nya, sebagaimana yang telah kami sebutkan :

MUJASSIMAH DALAM MADZHAB MALIKI

Mujassimah menurut pandangan ulama Madzhab Maliki, juga terbagi dalam dua macam, hukum nya tergantung bagaimana Tajsim /Tasybih nya, sebagai berikut :
1.    Orang yang berkata bahwa Allah itu benda seperti benda-benda lain, atau  ia berkata bahwa Allah itu benda tanpa menyamakan dengan benda lain, maka ia sudah terjatuh dalam Bid’ah yang mengkafirkan nya [Bid’ah Mukfirah], begitu juga hal nya orang yang menyatakan Allah punya tangan seperti tangan lain-Nya, punya mata seperti mata makluk, punya telinga seperti telinga makhluk, atau anggota /sifat makhluk lain nya, maka ini termasuk dalam pernyataan Bid’ah yang membuat orang tersebut menjadi kafir sebagaimana pendapat ini. [Maha suci Allah dari segala sifat makhluk].

2.    Orang yang berkata bahwa Allah itu benda tapi bukan seperti benda lain, maka ia telah berada diantara dua pendapat, menurut pendapat yang kuat ia telah terjatuh dalam Bid’ah yang memfasiqkan nya [Bid’ah Mufsiqah], dan menurut satu pendapat lagi, ia termasuk dalam Bid’ah Mukfirah juga. Begitu juga orang yang menyatakan Allah tangan tapi tidak sama dengan tangan lain, punya mata tapi tidak sama dengan mata makhluk, punya telinga tapi tidak sama dengan telinga makhluk, atau anggota badan makhlukl, maka orang tersebut termasuk dalam pendapat ini yaitu antara dua pendapat fasiq atau kafir, lain hal nya bila menyatakan tangan Allah tapi maksud nya bukan anggota badan, tapi maksud nya kekuasaan atau lain sebagainya, maka ini hanya bahasa kiasan dan bukan dalam artian yang sebenarnya. [Maha suci Allah dari segala sifat makhluk].

PANDANGAN ULAMA MADZHAB MALIKI TENTANG MUJASSIMAH

Berkata Ahmad ibnu Ghanim An-Nafrawi Al-Maliki :
وقع نزاع في تكفير المجسم قال ابن عرفة : الأقرب كفره , واختيار العز عدم كفره لعسر فهم العوام برهان نفي الجسمية
“Dan telah terjadi perbedaan pada masalah Mujassimah kafir atau tidak, berkata Ibnu Ruf’ah : pendapat yang kuat, Mujassimah kafir, dan Imam Al-‘Izzu lebih memilih pendapat tidak kafir nya Mujassimah, karena orang awam sulit memahami dalil Allah bukan Jism”.[Kitab Al-Fawakih Al-Dawani syarah Risalah Abi Zaid Al-Qairawani, Jilid 1, Halaman 94]

Berkata Muhammad Al-Kharasyi Al-Maliki :
مثال اللفظ المقتضي للكفر أن يجحد ما علم من الدين بالضرورة كوجوب الصلاة , ولو جزءا منها , وكذا إذا قال : الله جسم متحيز
“Contoh ucapan yang bisa menjadikan kufur adalah bahwa ia mengingkari sesuatu yang diketahui dari Agama dengan mudah, seperti wajib Sholat, sekalipun satu bagian dari Sholat, dan begitu juga apabila ia berkata : Allah benda (Jism) yang menempati ruang”.[Kitab Syarah Mukhtasar Khalil, Jilid 8, Halaman 62]

Berkata Abu Hasan Ali Ibnu Ahmad Al-‘Adawi :
( قوله : وكذا إذا قال : الله جسم متحيز ) أي : آخذ قدرا من الفراغ , والمراد أنه قال : جسم كالأجسام هذا هو الذي يكفر قائله , أو معتقده , وأما من قال : جسم لا كالأجسام فهو مبتدع على الصحيح
“(kata Musannif : dan seperti demikian apabila seorang berkata bahwa Allah adalah benda yang Mutahayyaz) artinya benda yang menempati ruang hampa, dan maksudnya adalah bahwa ia berkata Allah adalah benda seperti benda lain, inilah perkataan yang menjadikan kafir siapa yang berkata demikian, atau beri’tiqad demikian, adapun orang yang berkata bahwa Allah adalah benda tidak sama seperti benda lain, maka ia adalah ahlu bid’ah (Mubtadi’) atas pendapat yang shohih”.[Hasyiyah Adawi ala Syarah Mukhtasar Khalil, Jilid 8, Halaman 62]

Berkata Abu Hasan Ali Ibnu Ahmad Al-‘Adawi :
فالذنب المخل بالإيمان يكفر به ; لأنه حينئذ ليس بمسلم أي كرمي مصحف بقذر وكمن يعتقد أن الله جسم كالأجسام , وأما من يعتقد أنه جسم لا كالأجسام فلا يكفر إلا أنه عاص ; لأن المولى سبحانه وتعالى ليس بجسم
“Maka Dosa yang dapat mencederai Iman ialah dosa yang kufur dengan nya, karena ketika itu ia bukan lagi Muslim, artinya seperti melempar Mushaf (Al-Quran) dengan kotoran, dan seperti orang yang meyakini bahwa Allah adalah benda seperti benda lain, adapun orang yang meyakini bahwa Allah adalah benda tapi bukan seperti benda lain, maka ia tidak kafir, tapi ia berdosa, karena bahwa Allah subhanahu wa ta’ala bukan benda (Jism)”.[Kitab Hasyiyah Adawi ala Kifayah At-Thalib, Jilid 1, Halaman 102]

Berkata Ahmad ibnu Muhammad As-Showi Al-Maliki :
قوله : [ أي يقتضي الكفر ] : أي يدل عليه دلالة التزامية كقوله جسم متحيز أو كالأجسام , وأما لو قال : جسم لا كالأجسام فهو فاسق , وفي كفره قولان رجح عدم كفره
“kata Musannif [artinya ia menunjuki akan kufur], artinya ia menunjuki atas kufur secara melazimi, seperti perkataan nya “Allah adalah benda yang menempati ruang atau benda seperti benda lain”, adapun kalau ia berkata “Allah adalah benda tidak seperti benda lain, maka ia telah fasiq, dan tentang kufur atau tidak nya, ada dua pendapat, pendapat yang kuat ia tidak kufur”.[Kitab Hasyiyah As-Showi ala Asy-Syarhi As-Shoghir, Jilid 4, Halaman 432]

Berkata Muhammad ibnu Ahmad ‘Ulaisyi Al-Maliki :
) باب الردة كفر المسلم بقول صريح أو بلفظ يقتضيه ) أي يستلزم اللفظ الكفر استلزاما بينا كجحد مشروعية شيء مجمع عليه معلوم من الدين ضرورة , فإنه يستلزم تكذيب القرآن أو الرسول , وكاعتقاد جسمية الله وتحيزه , فإنه يستلزم حدوثه واحتياجه لمحدث ونفي صفات الألوهية عنه جل جلاله وعظم شأنه
“(Bab Riddah, kafirlah seorang Muslim dengan perkataan yang shorih atau dengan ucapan yang melazimi kufur), artinya ucapan yang melazimi kufur lagi yang nyata, seperti mengingkari syariat sesuatu yang telah Ijma’ lagi maklum dari Agama secara mudah, maka lazim ia telah mendustai Al-Quran dan Rasul, dan seperti I’tiqad kebendaan Allah dan Allah menempati ruang, maka ia melazimi kepada baharu Allah dan berhajat-Nya kepada pembaharu, dan hilanglah sifat ketuhanan dari-Nya, maha agung Allah lagi maha besar”.[Kitab Manhu Al-Jalil syarah Mukhtasar Khalil, Jilid 9, Halaman 206]

Begitu banyak penjelasan ulama tentang aqidah Tajsim dan Tasybih, agar ummat Islam semua terhindar dari sengaja/tidak sengaja menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, tapi sayang nya masih banyak ummat yang mengaku bertauhid, justru menghindari atau mengelak dari nash ulama tapi tetap dalam aqidah Tajsim dan Tasybih, bukan nya menghindar dari aqidah Tajsim dan Tasybih, seorang Muslim yang baik dan benar-benar menjaga hati nya dari aqidah Tajsim dan Tasybih, pasti lebih hati-hati dan menjaga perkatan nya agar tidak ada sedikit pun kotoran Tajsim dan Tasybih yang dapat mengotori aqidah nya, sungguh menjauh dari pinggir jurang Tasybih dan Tajsim, pasti hati nya berada dalam aqidah yang selamat, bukan bermain di pinggir jurang Tasybih, lewat celah-celah pendapat ulama, semoga kita semua selamat dari kesesatan yang tidak kita sadari, dengan menjadikan pendapat ulama sebagai pertimbangan dan peringatan, wallahul muwaffiq ila aqwamit thoriq.

MAHA SUCI ALLAH DARI SERUPA MAKHLUK

Bersambung ke : Mujassimah & Neo Mujassimah [seri 3]

TINGGALKAN KOMENTAR