Mujassimah & Neo Mujassimah

Mujassimah & Neo Mujassimah [seri 1]

BAGIKAN

Mujassimah MusyabbihahMujassim maksudnya orang yang mengatakan Allah adalah benda (Jism) atau bersifat dengan sifat benda (Jism), bicara tentang Mujassimah pasti tidak terlepas dari Musyabbihah, Musyabbihah adalah orang yang menyamakan Allah dengan dzat makhluk atau sifat makhluk, antara Musyabbihah dan Mujassimah tidak bisa dipisahkan karena keduanya bersatu dalam satu dalil dan satu hukum, cuma berbeda bentuk dan cara nya saja, karena kadang-kadang seorang Mujassimah menampakkan Tajsim nya secara nyata (shorih) tapi tetap saja ada Tasybih tidak nyata dalam Tajsim tersebut, dan terkadang seorang Mujassimah menyembunyikan Tajsim nya, tapi menampakkan Tasybihnya, dan dari segi bentuk dan cara nya Mujassimah dan Musyabbihah dapat terbagi kepada 4 macam yaitu :

  1. Mujassimah shorih (nyata), Musyabbihah ghairu shorih (tidak nyata).
  2. Mujassimah ghairu shorih (tidak nyata), Musyabbihah shorih (nyata).
  3. Mujassimah dan Musyabbihah shorih keduanya.
  4. Mujassimah dan Musyabbihah ghairu shorih keduanya.

Mujassimah dan hukumnya tentu tidak ada nash yang shorih tentang nya dalam Al-Quran ataupun Hadits, tapi hukum nya dikembalikan ke hukum Musyabbihah, karena Mujassimah termasuk dalam bagian Musyabbihah, bahkan kesesatan Mujassimah adalah kesesatan Musyabbihah itu sendiri, yaitu Tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk), dan dalam Tajsim ada Tasybih yang tidak nyata, maka keduanya Mujassimah dan Musyabbihah sesat karena satu kesalahan yang sama yaitu menyerupakan Allah dengan makhluk (Tasybih), berdasarkan ayat berikut ini :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah, dan Dia (Allah) itu Maha Mendengar dan Maha Melihat”

 

Mereka Menyebar Kebohongan Aqidah padahal Ayat ini adalah dasar Tauhid yang kuat bagi siapa pun, agar tidak terpengah dengan syubhat-syubhat Tauhid dalam rangka mencari hakikat Tuhan, ayat ini menjadi dasar untuk menafsirkan ayat atau Hadits lain yang dhohirnya menunjuki kepada kesamaan dzat atau sifat Allah dengan dzat atau sifat makhluk, dengan melupakan ayat ini maka seseorang akan sangat mudah tergelincir dalam jurang Tasybih dan Tajsim, ayat ini meniadakan sekaligus larangan menyerupakan Allah dan sifat-Nya dengan makhluk, sama sekali tidak ada keserupaan antara Khaliq dan Makhluk, baik pada hakikatnya atau kaifiyatnya, baik secara shorih atau tidak shorih, ayat ini adalah nahs yang sangat jelas tentang larangan Tasybih, dan juga sebagai dalil larangan Tajsim, karena Tajsim terkandung Tasybih yang tidak shorih di dalam nya, maka Aqidah Tasybih dan Tajsim adalah Aqidah sesat dan kafir siapa saja yang beraqidah demikian, dan inilah aqidah wahabi itu.

MUJASSIMAH DALAM MADZHAB HANAFI

Mujassimah menurut pandangan ulama Madzhab Hanafi, terbagi dalam beberapa macam, hukum nya tergantung bagaimana Tajsim /Tasybih nya, karena ini masalah Aqidah tentu tidak ada yang tau, kecuali dia sendiri yang menampakkan perkataan nya, dari dhohir perkataan nya itulah di kaji bagaimana hukum orang yang berkata demikian, para Ulama Hanafi membagi dua macam sebagi berikut :

  1. Orang yang berkata bahwa Allah itu benda seperti benda-benda lain, atau  ia berkata bahwa Allah itu benda tanpa menyamakan dengan benda lain, maka ia sudah terjatuh dalam Bid’ah yang mengkafirkan nya [Bid’ah Mukfirah], begitu juga hal nya orang yang menyatakan Allah punya tangan seperti tangan lain-Nya, punya mata seperti mata makluk, punya telinga seperti telinga makhluk, atau anggota /sifat makhluk lain nya, maka ini termasuk dalam pernyataan Bid’ah yang membuat orang tersebut menjadi kafir sebagaimana pendapat ini. [Maha suci Allah dari segala sifat makhluk].
  2. Orang yang berkata bahwa Allah itu benda tapi bukan seperti benda lain, maka ia telah berada diantara dua pendapat, menurut pendapat yang kuat ia telah terjatuh dalam Bid’ah yang memfasiqkan nya [Bid’ah Mufsiqah], dan menurut satu pendapat lagi, ia termasuk dalam Bid’ah Mukfirah juga. Begitu juga orang yang menyatakan Allah punya tangan tapi tidak sama dengan tangan lain, punya mata tapi tidak sama dengan mata makhluk, punya telinga tapi tidak sama dengan telinga makhluk, atau anggota badan makhluk lain nya, maka orang tersebut termasuk dalam pendapat ini yaitu antara dua pendapat fasiq atau kafir, lain hal nya bila menyatakan tangan Allah tapi maksud nya bukan tangan [bukan anggota badan], tapi maksud nya kekuasaan atau lain sebagainya, maka ini hanya bahasa kiasan dan bukan dalam artian yang sebenarnya. [Maha suci Allah dari segala sifat makhluk].

Setiap muslim hendaknya berhati-hati dalam masalah Aqidah ini, apalagi akhir-akhir ini banyak pernyataan atau tulisan orang-orang yang terlalu kagum dengan kecerdasan nya hingga menyatakan apa yang bertolak belakang dengan Aqidah para Ulama, kecerdasan mereka tidak diimbangi oleh kehati-hatian dalam Aqidah, hingga tanpa sadar telah bertentangan dengan Aqidah Islam sesungguhnya, sebagaimana Aqidah Rasulullah dan para sahabat nya, dan dilanjutkan oleh para ulama Salaf dan Kholaf dan seterusnya, Ahlus Sunnah Waljama’ah sangat membedakan Allah dengan makhluk-Nya sebeda-beda nya, sedikitpun tidak ada persamaan Allah dengan makhluk-Nya, baik pada dzat-Nya atau sifat-Nya, baik sebelum menjadikan makhluk-Nya atau sesudah menjadikan makhluk-Nya, baik sebelum menciptakan ‘Arasy-Nya atau sesudah menciptakan ‘Arasy-Nya, adapun kesamaan nama-nama sifat seperti mendengar, melihat dan sebagainya, itu hanyalah kesamaan nama saja, sementara hakikat atau maksud dari sifat tersebut sunggung sangat jauh berbeda dengan hakikat sifat makhluk, kesamaan nama ini memang telah ada dalam Al-Quran, Allah sendiri memberitakan tentang-Nya dalam Al-Quran dengan bahasa manusia, menggunakan bahasa manusia untuk mengenali sifat-Nya tentu saja terjadi kesamaan nama.

PENDAPAT ULAMA MADZHAB HANAFI TENTANG MUJASSIMAH

Berkata Imam Abu Hanifah

“من قال بحدوث صفة من صفات الله أو شكّ أو توقف كفر”

“Siapa yang berkata baharu sifat dari sifat-sifat Allah atau ragu-ragu atau terhenti (antara baharu atau tidak) niscaya ia telah kafir”. [kitab Al-Washiyyah]

Berkata Fakhruddin Utsman Ibnu Ali Adz-Dzaila’i Al-Hanafi

وَلَا يُصَلِّي خَلْفَ مُنْكِرِ الْمَسْحِ عَلَى الْخُفَّيْنِ وَالْمُشَبِّهِ إذَا قَالَ لَهُ تَعَالَى يَدٌ وَرِجْلٌ كَمَا لِلْعِبَادِ فَهُوَ كَافِرٌ مَلْعُونٌ وَإِنْ قَالَ جِسْمٌ لَا كَالْأَجْسَامِ فَهُوَ مُبْتَدِعٌ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ فِيهِ إلَّا إطْلَاقَ لَفْظِ الْجِسْمِ عَلَيْهِ وَهُوَ مُوهِمٌ لِلنَّقْصِ فَرَفَعَهُ بِقَوْلِهِ لَا كَالْأَجْسَامِ فَلَمْ يَبْقَ إلَّا مُجَرَّدَ الْإِطْلَاقِ وَذَلِكَ مَعْصِيَةٌ تَنْتَهِضُ سَبَبًا لِلْعِقَابِ لِمَا قُلْنَا مِنْ الْإِيهَامِ بِخِلَافِ مَا لَوْ قَالَهُ عَلَى التَّشْبِيهِ فَإِنَّهُ كَافِرٌ وَقِيلَ يَكْفُرُ بِمُجَرَّدِ الْإِطْلَاقِ أَيْضًا وَهُوَ حَسَنٌ بَلْ أَوْلَى بِالتَّكْفِيرِ

“Dan tidak boleh Sholat di belakang orang ingkar boleh menyapu dua sepatu, dan di belakang Musyabbihah, apabila ia menyatakan bagi Allah ada tangan atau kaki sebagaimana yang ada pada hamba, maka ia kafir lagi terlaknat, dan jika ia berkata bahwa Allah itu benda bukan seperti benda-benda lain, maka ia adalah ahlu Bid’ah [Mubtadi’] karena tidak ada dalam pernyataan nya tersebut kecuali hanya sebatas pemakaian kata “BENDA”  untuk dzat Allah subhanahu wata’ala, dan penyebutan benda kepada dzat Allah seperti itu dapat menunjuki kepada kurang atau keserupaan pada dzat Allah dan telah di hilangkan dengan pernyataan sesudahnya “Laa Ka al-Ajsam” [tidak sama dengan benda lain], maka pemakaian kata “BENDA” bukan maksudnya benda seperti biasa, tapi maksudnya adalah dzat Allah, dan pernyataan seperti demikian kepada dzat Allah adalah maksiat yang menggiringnya kepada sebab diazab nya karena alasan yang telah kami sebutkan yakni dapat menunjuki kepada kurang pada dzat Allah, sebaliknya bila ia menyatakan dengan menyerupakan Allah, maka ia menjadi kafir, dan menurut satu pendapat ia juga menjadi kafir hanya dengan pernyataan yang mutlak, pendapat tersebut bagus, bahkan orang ini lebih aula menjadi kafir (dengan pernyataan mutlak nya)”. [Tabyin Al-Haqaiq Syarah Kanzu Ad-Daqaiq- Jilid 1 halaman 135]

Selanjutnya pada halaman yang sama :

وَاعْلَمْ أَنَّ الْحُكْمَ بِكُفْرِ مَنْ ذَكَرْنَا مِنْ أَهْلِ الْأَهْوَاءِ مَعَ مَا ثَبَتَ عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ وَالشَّافِعِيِّ عَنْ عَدَمِ تَكْفِيرِ أَهْلِ الْقِبْلَةِ مِنْ الْمُبْتَدَعَةِ كُلِّهِمْ مَحْمَلُهُ أَنَّ ذَلِكَ الْمُعْتَقَدَ نَفْسُهُ كُفْرٌ فَالْقَائِلُ بِهِ قَائِلٌ بِمَا هُوَ كُفْرٌ وَإِنْ لَمْ يَكْفُرْ بِنَاءً عَلَى كَوْنِ قَوْلِهِ ذَلِكَ عَنْ اسْتِفْرَاغِ وُسْعِهِ وَمُجْتَهِدًا فِي طَلَبِ الْحَقِّ لَكِنْ جَزْمُهُمْ بِبُطْلَانِ الصَّلَاةِ خَلْفَهُ لَا يَصِحُّ هَذَا الْجَمْعُ

“Ketahuilah, bahwa hukum kufur mujassimah yang telah kami sebutkan dari ahlu hawa, padahal telah sebut dari Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’I bahwa tidak mengkafirkan ahlu qiblat dari semua ahlu Bid’ah, sasarannya (mahalnya) adalah bahwa diri sesuatu yang dii’tiqad (Mu’taqad) itu kufur, maka orang yang berkata demikian berarti ia berkata dengan perkataan kufur, sekalipun ia tidak menjadi kafir karena ketidakmampuan nya dan sedang mencari kebenaran (ia belum tau itu tidak boleh), tetapi jazam para ulama dengan batal sholat di belakangnya, tidak boleh ini gabungan (artinya batal sholat di belakangnya sekalipun ia tidak menjadi kafir dengan aqidah nya karena keadaan nya yang awam)”. [Tabyin Al-Haqaiq Syarah Kanzu Ad-Daqaiq- Jilid 1 halaman 135]

Berkata Ibnu Najim Zainuddin Ibnu Ibrahim

وإنما يجوز الاقتداء به مع الكراهة إذا لم يكن ما يعتقده يؤدي إلى الكفر عند أهل السنة أما لو كان مؤديا إلى الكفر فلا يجوز أصلا كالغلاة من الروافض ………………………

 وكالجهمية والقدرية والمشبهة القائلين بأنه تعالى جسم كالأجسام ومن ينكر الشفاعة أو الرؤية أو عذاب القبر أو الكرام الكاتبين أما من يفضل عليا فحسب فهو مبتدع من المبتدعة الذين يجوز الاقتداء بهم مع الكراهة وكذا من يقول أنه تعالى جسم لا كالأجسام ومن قال أنه تعالى لا يرى لجلاله وعظمته

“Dan sesungguhnya boleh beserta makruf ikut imam dengan nya, apabila tidak adalah sesuatu yang dii’tiqad nya membawa kepada kufur menurut Ahlus Sunnah, adapun bila dapat membawanya kepada kufur maka tidak boleh ikut sholat di belakang nya sama sekali, contoh yang kafir seperti Syi’ah Rafidhoh yang ghuluw (dan seterusnya………), dan seperti Jahmiyyah, dan Qadariyyah, dan Musyabbihah yang berkata sesungguhnya Allah ta’ala itu benda (Jism) seperti benda lain, dan seperti orang yang ingkar Syafa’ah atau Ru’yah atau Azab kubur, atau Kiram al-Katibin, adapun orang yang melebihkan Sayyidina Ali, maka ia boleh [jadi Imam], ia termasuk Mubtadi’ yang boleh diikuti tetapi makruf, begitu juga orang yang berkata sesungguhnya Allah itu benda (Jism) tapi tidak sama dengan benda lain, dan begitu juga orang yang berkata bahwa Allah tidak bisa di lihat karena keagungan-Nya dan kebesaran-Nya (bukan karena kekurangan-Nya)”. [kitab Al-Bahru Ar-Raik- Jilid 5 halaman 151]

Berkata Al-Khadimi Al-Hanafi :

والكفر كاعتقاد الجسمية كسائر الأجسام

dan yang kufur (dari aqidah bid’ah) itu seperti I’tiqad men-Jism-kan Allah seperti Jism lain” [kitab Bariqah Mahmudiyah- Jilid 1 halaman 95″

Lebih lanjut Al-Khadimi menuliskan

( وفيها ) ( رجل وصف الله تعالى بالفوق أو بالتحت ) ( فهذا تشبيه ) أي بالأجسام فتجسيم ( وكفر ) لعله إن كان مراده من الفوق هو العلو , والرفعة , والقهر , والغلبة فلا يكفر بل ينبغي إجراء التفصيل السابق من إرادة حكاية ما في الأخبار

Dan dalam nya (kitab Fatawa At-Tatarkhaniyah) disebutkan, seorang yang mensifati Allah ta’ala dengan “di bawah” atau “di atas” maka ini adalah Tasybih (menyerupakan) yakni dengan semua benda, maka di sebut Tajsim, dan ia telah kafir, tapi mudah-mudahan jika ia maksud dari kata “di atas” adalah tinggi martabat (bukan tinggi tempat) dan menguasai, maka ia tidak kafir, tapi sepantasnya di sini berlaku rincian yang telah disebutkan yaitu karena hendak menghikayah lafadh yang ada dalam khabar”[kitab Bariqah Mahmudiyah- Jilid 1 halaman 228]

Berkata Ibnu Abidin

( قوله كقوله جسم كالأجسام ) وكذا لو لم يقل كالأجسام , وأما لو قال لا كالأجسام فلا يكفر لأنه ليس فيه إلا إطلاق لفظ الجسم الموهم للنقص فرفعه بقوله لا كالأجسام , فلم يبق إلا مجرد الإطلاق وذلك معصية )

“(Qauluhu : seperti perkataannya “Allah itu Jism seperti Jism lain”) dan seperti demikian kalau ia tidak berkata “seperti benda lain” , dan adapun kalau ia berkata “tidak sama dengan benda lain” maka ia tidak kafir, karena tidak ada pada perkataan nya kecuali hanya pemakaian kata “Jism” yang menunjuki kepada kekurangan, maka ia hilangkan kekurangan tersebut dengan kata “tidak sama dengan Jism lain” maka yang tersisa hanya pemakaian kata saja (tanpa makna sesungguhnya), dan yang demikian itu maksiat (tidak kufur tapi berdosa)”.[kitab Hasyiyah Ibnu Abidin- Jilid 1 halaman 562]

Berkata : Al-Mulla ‘Ali Al-Qari

من اعتقد أن الله لا يعلم الأشياء قبل وقوعها فهو كافر وإن عُدّ قائله من أهل البدعة، وكذا من قال: بأنه سبحانه جسم وله مكان ويمرّ عليه زمان ونحو ذلك كافر، حيث لم تثبت له حقيقة الإيمان

Siapa yang meyakini bahwa Allah tidak mengetahui semua sesuatu yang belum terjadi, maka ia kafir, sekalipun yang berpendapat (berfatwa) ini di anggap sebagai ahlu Bid’ah, dan seperti demikian juga orang yang berkata bahwa Allah (subhanahu wa ta’ala) itu Benda (Jism) dan bagi-Nya ada tempat, dan berlaku masa bagi-Nya, dan seumpama demikian, maka ia menjadi kafir, sekiranya tidak sebut baginya hakikat Iman”.[kitab Syarah Al-Fiqh Al-Akbar – halaman 271]

Berkata Ibnu Amir Al-Hajj Al-Hanafi

ولا تقبل شهادة المجسمة لأنهم كفرة

“Dan tidak bisa di terima kesaksian Mujassimah (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk) karena sesungguhnya mereka kafir”. [kitab At-Taqrir wa At-Tahbir- Jilid 3 halaman 319]

Itulah nash-nash ulama Madzhab Hanafi tentang siapakah Mujassimah dan Musyabbihah serta hukum nya, hendaknya pendapat-pendapat ulama tersebut dapat membantu kita kembali ke Al-Quran dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman Rasul dan para sahabat serta para Salafus sholeh, bukan malah sebaliknya, kembali ke Al-Quran dan As-Sunnah dengan meninggalkan dan bahkan mengabaikan pendapat para ulama dan lebih memilih pemahaman sendiri dengan segenap kebodohan yang ada, niat yang baik ingin kembali ke Al-Quran dan As-Sunnah justru semakin tersesat lebih jauh lagi, insyaallah dengan dengan bimbingan para ulama ahlus sunnah wal jama’ah, kita bisa mengerti mana yang dilarang dalam Al-Quran tentang Musyabbihah, kita lebih tau rincian Mujassimah dan batas-batas nya, hingga kita terhindar dari Aqidah Tajsim dan Tasybih dan tetap berada dalam Manhaj Aqidah yang selamat, tanpa para ulama kita akan bingung mana yang selamat mana yang sesat, tanpa para ulama kita Cuma bisa mengandalkan akal dan nafsu untuk bisa keluar dari kebingungan, akhirnya terjebak dalam kehinaan Tajsim dan Tasybih, na’uzubillah, Semoga kita senantiasa dalam Aqidah Tanzih, insyaallah.

Maha suci Allah dari segala sifat makhluk.

Bersambung ke : Mujassimah & Neo Mujassimah [seri 2]

TINGGALKAN KOMENTAR