MITOS : Apakah Hanya Soal Fakta???

MITOS : Apakah Hanya Soal Fakta???

BAGIKAN

Mitos sebagai sebuah cerita dia mempunyai unsur-unsur : suci (transenden), tokoh dewa/setengah dewa, memungkinkan adanya kebenaran dan ketidakbenaran (khayalan/karangan). Apakah sebuah cerita termasuk mitos atau tidak, maka dengan ketiga unsur tersebut kita dapat mengkajinya. Mitos biasanya bercerita mengenai asal-usul alam, tempat, tokoh, binatang.

Cerita asal-usul Joko Tarub menyangkut perkawinan manusia dan bidadari, dapat dikatakan sebuah mitos, karena cerita tersebut bercerita tentang bidadari/makhluk dewa. Kisah tersebut suci, karena bukan hasil karya karangan manusia, ini berbeda dengan novel atau cerpen. Soal kebenaran atau ketidakbenarannya memang menyelimuti cerita tersebut.

Orang seringkali menilai sebuah cerita itu mitos atau tidak hanya karena unsur, kebenaran atau ketidakbenaran, obyektiv atau tidak obyektif, masuk akal atau tidak masuk akal. Dalam konteks sosiologis, mitos adalah sebuah realitas. Dia bisa jadi tidak benar secara obyektif, tetapi ada secara realitas, dalam konstruksi pemikiran masyarakat yang memegang dan mempercayai sebuah mitos. Ketika ukuran mitos atau tidaknya adalah soal kebenaran atau ketidakbenaran semacam ini, maka layaklah sebuah agama adalah MITOS belaka.

Dalam kisah hidup Nabi Muhammad, pernah membelah bulan. Kalau ukurannya adalah soal fakta, maka bisa termasuk mitos. Pembuktian adanya bekas belahan di bulan yang akhir-akhir ini ditemukan, bisa menjadi pembantah bahwa cerita tersebut adalah bukan mitos. Okelah itu diterima, kemudian ada yang bertanya, bagaimana mungkin? Tidak masuk akal itu. Lagi-lagi cerita tersebut kembali menjadi mitos.

Walisongo, yang merujuk pada keberadaan ulama di tanah Jawa tempo dulu, bisa dikategorikan sebagai mitos. Hanya karena tidak valid, belum tentu benar adanya. Kalau ukurannya itu, maka dapat diajukan beberapa pertanyaan; apakah kerajaan demak juga mitos? Sebab ini sangat berkaitan. Apakah Mataram Islam, Kasultanan Yogyakarta Juga Mitos?

Jika yang dilihat adalah cerita kesaktian dan kemampuan-kemampuan supranatural, maka saya setuju : bisa benar, bisa juga tidak. Sekali lagi, ini tidak secara mutlak kemudian menegaskan bahwa Walisongo itu mytos belaka. Sebab dalam konstruksi mytos, sebenarnya persoalannya adalah : dianggap riil atau bukan. Hanya itu. Ketika dianggap riil, maka itu sebuah realitas, kemudian obyektif atau tidak itu soal pembuktian sejarah.

Akhirnya, mitos atau bukan adalah soal anggapan, sangkaan. Dan sangkaan itu sendiri juga menyimpan : mungkin benar, mungkin salah. Oleh karena itu, jika mau lebih cermat, tentu ada hal-hal yang perlu disangka, ada yang tidak perlu disangka. Ada hal yang perlu diamati secara obyektiv dan ada yang tidak bisa diamati secara obyektif. Kisah kehidupan Nabi Muhammad itu sendiri, bisa jadi akan memuat mitos (bagi yang bersangka demikian), sebab Nabi Muhammad adalah manusia suci, kehidupan beliau didasari atas petunjuk langit (suci, transenden). Banyak hal terjadi juga tidak masuk akal.

Jadi… mari bijaklah dalam menilai sesuatu, jangan-jangan kita sedang membangun mitos itu sendiri.

 

Wallahu ‘alamu bisshawab

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR