MEROSOTNYA AKHLAK

MEROSOTNYA AKHLAK

BAGIKAN

 MEROSOTNYA AKHALAK

MEROSOTNYA AKHLAK

Akhlak berperan penting bagi kemajuan, perkembangan dan keindahan Islam. Karena itlah maka Baginda Nabi Muhammad SAW sendiri bersabda;

ﺇﻧﻤﺎ ﺑﻌﺜﺖ ﺻﺎﻟﺢ ﺍﻻﺧلأﻖ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik” (HR. Bukhari, Bab Adab).

Dalam hadis lain, dari Anas r.a., juga disebutkan;

ﻛﺎﻥ ﺍﺣﺴﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺧﻠﻘﺎ

“Nabi SAW adalah manusia dengan akhlak terbaik” (HR Muslim dan Abu Dawud).

 

Namun di akhir zaman ini, akhlak cenderung diabaikan atau tak lagi menjadi perhatian utama. Hal ini menyebabkan timbul banyak kekacauan, kerusakan serta kebrutalan di banyak tempat. Dan ironisnya kemerosotan akhlak ini dilakukan oleh orang-orang dari hampir semua golongan usia dan status sosial. Anak sudah berani membentuk atau bahkan menginjak harga diri orang tuanya. Bahkan sering kita dengar di era ini hanya karena persoalan sepele seorang anak berani membunuh orang tuanya sendiri — naudzubillahi mindzalik.

 

Bagaimana sesungguhnya membangun akhlak ini? Pada dasarnya, peran orang tua sangat penting dalam membangun dan membentuk akhlak pada diri anak, sebab orang tua lah yang merupakan pendidik pertama. Karena itu, seharusnya orang tualah yang menanamkan pendidikan akhlak sejak usia dini, dengan memberi suri tauladan dan perkataan yang baik. Ini berarti pula bahwa orang tua juga harus berusaha mengubah cara hidupnya sehari-hari ke perbuatan yang lebih baik, sehingga anak akan merekamnya dalam memori. Melalui suri tauladan orang tua, besar kemungkinan secara perlahan tapi pasti pada diri anak akan tertanam akhlak yang baik, yang melahirkan perilaku yang insya Allah baik pula.

 

Karena itu, dalam satu pengertian, jangan lekas menyalahkan anak bila ia memaki, jangan lekas memarahi anak jika ia mencaci, jangan memukul anak bila ia membenci, sebab boleh jadi mereka meniru perilaku tak terpuji pada diri orang tuanya yang cenderung mengedepankan emosi dalam mengurus rumah tangga.

Merebaknya pergaulan bebas, seperti seks bebas, dan juga mafia-mafia berdasi, sangat mungkin disebabkan karena perbuatan tercela itu sudah terbentuk sejak dini akibat pengaruh dari orang tua yang keras dan beringas dalam menjalani hidup.

Selain berperan penting dalam melahirkan perilaku saleh sehari-hari, akhlak juga berperan penting dalam mewujudkan ilmu yang bermanfaat. Sebab, untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat, selama proses belajar seorang murid harus juga berakhlak baik, seperti ta’dzim (hormat) dan patuh kepada guru.

 

Sebenarnya para ulama telah berusaha untuk mengembalikan akhlak yang mulia dengan mendirikan berbagai macam institusi pendidikan, seperti pesantren. Akan tetapi, di sisi lain, terkadang murid yang belajar itu salah niat. Mereka hanya ingin tahu, namun tidak mau memahami atau menghayati ilmu yang didapatnya, sehingga ajaran dan didikan dari para ulama, kyai dan guru itu bagaikan air yang menetes di daun talas, cepat meluncur jatuh hilang tak berbekas. Hal ini menyebabkan santri kurang memiliki akhlak yang baik, dan ironisnya, bahkan kadang-kadang lebih buruk ketimbang orang yang tak mengenyam bangku pendidikan.

 

Karena itu, mari kita berbenah diri, menyadari diri, dengan berusaha mengutamakan dan menanamkan akhlak kepada anak kita sejak dini, dengan memberikan contoh yang baik kepada anak melalui sifat dan perilaku kita yang terpuji sehingga kelak mereka menjadi manusia yang berakhlak mulai dan mampu memberikan maslahat atau kontribusi berguna di muka bumi ini.

Salam Aswaja.

 

Kiriman no 16 dari Hasanul Zain

TINGGALKAN KOMENTAR