Merajut Benang Cinta

Merajut Benang Cinta

BAGIKAN

Inilah kisah yang dirajut dengan benang kehidupan dan rumbai rumbai cinta. Inilah cerita yang dibangun untuk mendiami diri berselimut kasih sayang berdawaikan asmara, inilah haru biru yang membuncah di jelaga matahari, menembus ruang kosong di sulbi dan menjelma jadi perasaan ngilu di hati……dan inilah kehidupan dengan sejuta pilihan untuk memastikan siapa di antara kita mampu memilih mana yang terbaik bagi diri sendiri dan kasih tercinta.

——————————————————————————————————————————————————————-

Aku masih bersamamu walau kuhinggapi rasa sendiri, tulang-tulangku semakin rapuh jikalau engkau tak lagi menguatkan diriku ini, dan aku sadar cinta terlarang ini sudah di tengah lautan asmara antara kita, dengan mendayung sampan hari menikmatinya walau tak melanggar aturan mainNya.  Aku sadar ini bukan waktu yang tepat untuk melupakan ataukah mengingatnya, inilah waktu yang sangat tepat untuk menghakimi diri dengan apa kita akan bisa hidup mengabadi walau dengan kisah cinta antara kita.

Detik demi detik yang berdentang seurut nada denting hatiku bertallu. Engkau masih tetap menabuhnya walau aku tak lagi menciptakan nada-nada cinta bersahutan layaknya hari hari yang telah lalu. Perjalanan kita yang bagai ombak menerpa ditambah badai dari sang Papamu yang mengiba untuk kebersamaan kita nantinya, adalah suatu yang wajar wahai cinta. Menginginkan yang terbaik untuk putrinya dan melarangnya untuk dimiliki sosok manusia yang jelas melanggar norma.  seolah takdir dipastikan oleh Papamu tercinta. Aku tak menolak setiap perkataan bahwa aku penuh dengan kurang dan khilaf namun aku tak mau menyalahkan orang tuaku dengan kesalahanku terlahir sebagai anak nomor ganjil seperti yang Papamu takutkan. Dulu waktu kita masih bersama baru dua bulan, pelarangan itu aku langgar dengan membuatmu tertawa terpingkal-pingkal seolah tiada beban memberatkan. Namun kini di tengah perjalanan cinta suci yang turut mengabadi, berjalan dua tahun diiringi doa-doa kepada Ilahi di tengah malam sepi. Menyurutkan nyali di saat Papamu melarangku untuk kembali lagi. Inikah kebenaran cinta yang kita idam-idamkan? Inikah kesalahan yang bertubi-tubi kita hindarkan? Inilah kemasaman hati untuk meraih dalam – dalam cinta dan kerinduan.

Daku masih bersabar setahun lagi untuk bisa tahu ke mana hati, jiwa dan raga ini akan tertambatkan. Saat itu pula daku kan berjuang mendapatkanmu walau waktu tak lagi luang. Papamu yang keras bukanlah cara untuk bersikeras pula untuk melumpuhkan hati. Percayalah kita masih punya Tuhan yang selalu memberi nafas tiap insan. Aku adalah nyala yang mengobarkan semangat di tiap cinta. Aku adalah kedamaian yang membawa misi perdamaian walau melalui peperangan. Aku ingin membunuh hati yang keras dengan guyuran air mata yang melembutkan. Aku adalah udara yang memberimu semangat untuk memerangi nafsu dan keinginan. Aku adalah seonggok kerinduan yang diciptakan atas nama Tuhan, dan aku adalah takdirmu untuk menyatukan hati walau di luar nalar dan pikiran. Pernah engkau menangis sebab rasa takut untuk kehilangan, pernah tertawa bersama saat tahu cinta adalah kebutuhan, pernah tergelak manja saat tahu engkau butuh perhatian, pernah merenung saat menjiwai rasa cinta yang Dia titipkan, pernah  cemburu sebagai bukti ketulusan, dan pernah merasakan damai saat aku ada di sisimu, membayangkan kebersamaan itu akan ada untuk selamanya. Kini kisah-kisah itu telah menarik ke ujung pintu pemusnahan. Saat Papamu semakin melarang kisah cinta yang telah terajut sekian lama dan terimpikan. Aku hanyalah manusia biasa yang terus menerus berharap bahwa cinta yang sejati telah kita temukan. Dulu engkau pernah berujar padaku.

“Kanda, andai larangan ini kita langgar apakah ini sebuah pembuktian cinta kita suci?” suaramu bergetar di ujung sana.

“Dinda, jika penyatuan dua hati kita dilarang,kenapakah engkau diizinkan mengenal cinta tanpa harus kehilangan norma-norma? Kita makhluk yang punya keinginan, dan engkau adalah milik Papamu, selebihnya Papamu adalah milik Tuhan, janganlah mencoba melanggar atas nama cinta untuk kita dengan mengabaikan cinta kita padaNya. Dialah pemilik hati kita termasuk hati Papamu, Dinda” ku jawab dengan penuh perasaan.

“tapi Kanda, bukankah pelarangan itu membawa hasil bahwa cinta kita sedang diuji?” terangnya.

“itu boleh terjadi tiap ujian mengandung kelulusan kita nantinya, ujian cinta sekalipun, namun tak tahukah engkau bahwa jawaban cinta kita ada di tanganNya bukan ungkapan kata-kata Papamu” belaku .

“Dinda tidak tahu apakah akan bisa mengenali cinta lagi jika perjalanan kita gagal nantinya, Dinda akan pilih jalan rabiah dan tak mau tahu omongan orang orang sekitarku” dia melemah. Aku tertawa mendengar omongan yang ini tadi.

“jalan cinta yang engkau pilih bukan satu-satunya jalan menuju ke arahNya, Kanda takut Dinda akan tersesat dengan pilihan yang riskan itu. Menikahlah dengan siapa saja yang Dia kehendaki, bukalah hatimu pilihan hati kadang memang tak sesuai dengan kenyataan” aku menghela nafas dalam – dalam, ada titik-titik air mata yang menggenang di pelupuk mataku meski begitu masih aman karena telpon ini hanya mengenal suara tanpa penampakan.

“ jika begitu keinginan Kanda, maka pilihkan dia untukku siapa dia dan minta persetujuan Papamu untuk menimbangnya. Jika iya maka Dinda menurut kata-kata yang Kanda sampaikan.” Aku menghela nafas dalam sekali lagi dengan hembusan yang membahana di ruang kosong hati, ku harap ia tak mendengar suara hembusan itu.

“bagaimana Kanda bisa memilihkan sementara diri Kanda tak berharga di hadapan  Papamu? Apakah pantas hal itu Kanda laksanakan sesuai aba aba Dinda hanya untuk menuruti kata-kata Kanda yang tersampaikan? Tidak Dinda, lebih baik bukalah hatimu untuk pilihan Papamu bukan pilihanku yang diperuntukkan untuk Dinda, jikalau saja pilihan itu ada maka Kanda akan memilih diri Kanda sendiri untuk bisa membahagiakan hati dan jiwa Dinda, jika ayahmu mengizinkannya, namun jika toh tidak, selayaknya kita hanya bisa berdoa, karena doa adalah senjata orang-orang mukmin, termasuk kita Dinda” jelasku panjang lebar.

Sepekan setelah telfon itu, tidak ada kabar dan tidak ada berita darinya, ia tetap menjaga hati untuk cintanya yang suci dan tulus, sementara diri ini disibukkan dengan tugas mata kuliah dan seabrek aktifitas untuk mensukseskan KKN di akhir semester ini.

Iringan jalan hati masih meracaukan kesempatan bermula. Kadang hati ini menjadi bimbang dan ragu untuk maju atas ujian hati yang terus bertubi-tubi. Tidakkah engkau pahami Dinda, ketulusan yang telah tertancapkan merupakan buah karya hati yang tak peduli pada norma dan adat istiadat kebisaaan jawa. Aku menghargai pilihan adalah sesuatu yang riskan dengan ribuan musuh dan penerima wacana. Inilah keanehan yang akan terus berlanjut jika terus menerus jadi momok hubungan cinta. Aku yakini inilah kisah yang ribuan orang jawa mampu mengalaminya dan gagal dalam perjuangan. Hatiku bersamamu tak kan patah dengan menebarkan kekalahan sebelum peperangan ini akan berakhir. Tiba-tiba engkau menelponku pagi ini dan mencurahkan kegelisahan yang sama. Aku yang tak punya solusi mencoba menghiburkan dirimu meski diriku semakin mengiba kasih ini tak ada ujungnya.

“Kanda, sibukkah Kanda menampung cerita Dinda kali ini?” sapamu.

“enggak Dinda, gerangan apa yang membuat Dinda begitu nestapa?” tanyaku.

“Dinda tak mau sendirian menanggung sendiri beban cinta yang membuncah tak tertahankan, masihkan kita memperjuangkan kisah pahit ini demi mendapatkan permusuhan dari Papaku, Kanda?” engkau bertanya seraya menghela nafas dalam-dalam.

“Dinda, tantangan ini merupakan kebermulaan sebuah ujian dalam hidup sebagai pilihan, dengan begitu kita akan tahu kebahagiaan macam apa yang akan kita bandingkan dengan penderitaan yang kita ujikan, kita adalah pemain cerita hidup ini dan sutradaranya adalah Kekasih sejati kita tercinta yang telah sudi mengenalkan cinta antara kita.” Terangku.

“namun Kanda semenjak kita tak lagi sejalan, ada ketakutan untuk kehilangan sebelum Dinda memilikinya, merasa sendiri meski dalam keramaian, adakah penawar hati untuk bisa terus bertahan tanpa Dinda harus kehabisan air mata yang kekeringan?” engkau terisak di seberang sana. Aku turutkan kepedulian dengan menyahut jawaban dengan terang.

“Dinda, dalam kesibukan yang bertubi Kanda laksanakan, kelebat bayanganmu selalu menemani, cinta ini begitu mendalam hingga Kanda tak sudi untuk lepaskan, terus menemani tiap terjaga dan tidur Kanda, selalu memberi harapan dan kebahagiaan yang kita impikan, tetaplah pada semangatmu untuk bertahan, tetaplah sudi memiliki hati yang sekuat karang. Di situlah kesabaran cinta ini kan buktikan bahwa kesulitan ini begitu mudah kita jalankan” jelasku panjang lebar menguatkan hatimu yang semakin menipis untuk bertahan dari segala halangan yang terus menghimpitkan.

“tapi Kanda, mama selalu menangis di tiap telpon Dinda, menanyakan kabar Kanda dan perjalanan cinta ini, sampai suara ini tak tahan untuk mampu ungkapkan bahwa kita telah berjalan sendiri-sendiri menuju ujung penantian. Mama selalu tersedu sedan di tiap mendengarkan kisah cinta antara kita yang terus dilarang….sampai kapan kita terus membuat hati mama Dinda bisa kuat untuk tak teteskan airmata yang kekeringan di tiap pertanyaan?” engkau semakin basah dengan suara yang terasa berat mencoba merengkuh diri ini walau melalui telpon pagi itu.

“Dinda, keterbukaan hati sesorang akan ada jika mempunyai cinta, dan di tiap insan memiliki cinta itu pada hatinya. Hati itu akan merasakan cinta saat ia mampu membukakan pintu hatinya sendiri tanpa harus dipaksakan. Kita berharap kepada sang pemilik hati yang suci untuk mampu bukakan hati Papamu Dinda untuk menerima cinta yang telah kita rajutkan, jangan kisahkan kebenaran cinta kita menjadi kesedihan yang bertubi yang Dinda tularkan pada sang mama biarkan dia akan tahu ending kita nantinya tanpa harus mengetahui betapa berat perjalanan kita ini akan diakhirkan oleh sang sutradara, dan biarkan Dia dengan kemahaperkasaanNya mampu mengubah segala kesedihan ini menjadi kebahagiaan yang mengabadi sepanjang masa, kita akan mampu mendalami cinta saat kita kehilangan sebelum memiliki dan ini menjadi keindahan masa yang luar bisaa sampai kita yakini bahwa Dialah pembuat segala rencana” aku kuatkan hati di balik tekanan dan intonasi yang ku taburkan di tiap pesan yang aku sampaikan.

“ Dinda sudah merasa baikan dengan pesan dan nasehat yang Kanda sampaikan, Dinda sudah lega dan merasa berteman walau dalam kesendirian, terima kasih Kanda dengan segala kesabaran dan kesempatan yang ditaburkan, ingin sekali mendulang damai ini walau hanya dalam sebuah impian, ingin sekali merasa bahagia ini meskipun kurasakan dalam nestapa ini berkelanjutan namun ada Kanda di sisi ini” engkau menghela nafas dalam dalam tanda kepuasan batin yang tertambatkan pada harapan dan impian.

“inilah buah kerinduan yang masih membuka dan bertahan dalam kebekua, inilah kedalaman lautan cinta yang terus menerus di terba gelombang pelarangan dan hambatan, inilah kemegahan rasa hati yang menjadi bukti pada sejarah anak cucu kita yang terus lanjutkan, dan inilah tikungan-tikungan tajam kehidupan sebagai pilihan, tebing rumpil yang terus menerus jatuhkan bebatuan pada tiap panjatan. Dan yakini hati Dinda, kita ada untuk saling melengkapi dan membahagiakan. Di tiap kesabaran ini kita akan dapatkan pahala yang tanpa hitungan” kudengar salam darimu di akhir pembicaraan, dan kututup perlahan, aku memuji pada yang maha kuasa semoga perjalanan ini akan sampai pada tujuan sesuai dengan inginNya dan ingin kita dan itulah harapan yang kita panjatkan di tiap doa doa malam yang panjang.

Aku tak tahu sampai sebatas mana akan bertahan dengan kekuatan cinta yang terus menerus diujikan bebagai soal kehidupan dan larangan. Bertubi-tubi masalah dan solusinya telah kita laksanakan sesuai dengan cobaan dan terus bertahan. Dinda, engkau masih di sana menanti sang pangeran datang, pelarangan cinta itu tak membuktikan apa-apa kecuali ujian kehidupan. Sadarilah kita masih terus menerus diciptakan, dari berbagai unsur dan gaya pengenalan padaNya dan masih Dia langsungkan. Kita sudah bertahan sekian lama dan terus menerus berharap ending yang manis seperti yang kita impikan. Kita sudah kekeringan air mata untuk melajukan perjalanan cinta yang tak berhujung kemana akan ditepikan. Dan kita masih terus seperti ini jika perjalanan cinta ini sudah diakhirkan oleh Papamu Dinda yang terus menerus keraskan hati, mendalangi sejarah kehidupan kita walau tak lagi bersama. Aku tak tahu siapa yang akan mampu mengobati luka yang ia tancapkan dengan pelarangan untuk memintamu tinggal di sisi jiwa ragaku. Namun yakinilah Dinda, kita masih bertuhan yang kepadaNyalah semuanya akan dikembalikan. Permasalahan yang kita hadapi adalah sebagian kecil dari skenarioNya. Masih banyak cerita yang lebih menyedihkan dan menyakitkan disbanding dengan apa yang kita rasakan. Dengan melihat itu kita akan mencintaiNya dengan ketulusan, dan merindukanNya dengan sejuta harapan dan impian. Kanda terus menerus berdoa kisah ini akan berakhir penuh dengan kebahagiaan. Mengabadi sepanjang zaman melewati batas kehidupan.

Ponorogo, November Rain,  2010

TINGGALKAN KOMENTAR