Menyikapi Pergantian Tahun

Menyikapi Pergantian Tahun

BAGIKAN

Allah subhatahu wata’ala tidak akan bersumpah dengan sesuatu apapun melainkan sesuatu tersebut adalah hal yang luar biasa. Satu diantara hal luar biasa tersebut adalah waktu, masa! “Wa al-‘ashri =demi masa!” begitu kata Allah. Ayat tersebut memberikan penegasan kepada kita semua, bahwa waktu adalah hal yang sangat luar biasa bagi manusia. Masa itu adalah umur itu sendiri. Umur itu adalah ajal. Sedang manusia sendiri pasti akan menemui ajal (kematian)nya. Nah, kalau begitu, perjalanan waktu yang kita tempuh selama ini sejatinya adalah perjalanan menuju kematian!

Untuk itu, Kawan, dalam menyikapi pergantian tahun, entah itu kalender hijriyah atau pun kalender masehi, yang harus kita lakuan adalah mengevaluasi diri (muahasabah an-nafs). Evaluasi diri akan kualitas kebaikan yang telah kita lakukan selama ini. Evaluasi akan kualitas hidup yang telah kita jalani selama ini. Evaluasi akan produktifitas kerja yang telah kita kerjakan selama ini. Dan yang terpenting adalah evaluasi akan nilai penghambaan kita kepada Allah selama ini. Kita yang mengaku beriman, kita yang mengaku beragama Islam, sudahkah kita menjadi hamba Allah dengan kualitas dan keislaman sebagaimana mestinya, seperti yang dituntut oleh Allah.

Tak banyak sebenarnya yang Allah tuntut dari kita. Apa yang Allah berikan kepada kita jauh lebih banyak dari apa yang Dia tuntut. Nafas kita, air, kesediaan makanan, sehat diri dan keluarga, semua itu adalah pemberian Allah. Allah hanya menuntut kita untuk bersyukur atas semua itu. Bersyukur dengan hanya menyembah kepada-Nya. Berharap hanya kepada-Nya. Mengadu hanya kepada-Nya.

Apa yang harus dilakukan sebagai perwujudan dari peng-hanya-an kepada-Nya itu? Beribadah dengan tekun, shalat, puasa, zakat, haji (kalau mampu), berbakti kepada orang tua dan merawat anak. Itu adalah kewajiban. Dan dalam rangka peningkatan posisi syurga yang akan kita tempati kelak, Allah menyediakan media untuk kita menuju kesana. Yaitu dengan mengerjakan nawafil (ibadah tambahan), shalat malam, dhuha, sedekah, terlibat aktif dalam kegiatan sosial keagamaan dan kemasyarakatan serta semua perbuatan-perbuatan baik untuk kemaslahatan manusia dan semesta raya. Semua itu kita lakukan bersamaan dengan kesungguhan kita juga meninggalkan semua larangannya. Maksiat, kejahatan dan dosa harus kita jauhi tanpa syarat! Baru semua ibadah dan kebaikan-kebaikan tesebut di atas bisa menjadi takaran kualitas diri kita sebagai manusia yang konon adalah makhluk Allah yang paling sempurna di antara ciptaan-ciptaanNya yang lain.

Kesadaran penuh akan berakhirnya masa kita. Kesiapan tinggi untuk menyongsong kematian, bagi seorang muslim bukan berarti harus khalwat meninggalkan aktifitas dunia. Justru sebagai mukmin, kita harus aktif terus bergerak. Memberikan sebanyak mungkin kontribusi kebaikan untuk peradaban ummat manusia. Kita tidak ingin bahwa kehidupan kita hanya akan berakhir bersamaan dengan kematian kita. Tapi, kita ingin bahwa nama kita akan terus dikenang sepanjang sejarah semesta, sampai kelak kiamat mengakhirinya. Kita ingin bahwa setelah kematian fisik kita, nama baik kita dicatat oleh masa sebagai pelaku sejarah!

Karena generasi terbaik ummat ini telah memberikan teladan kepada kita, bahwa mereka oleh Allah disebut sebagai ummat terbaik (khaira ummah) bukanlah para pertapa di gua-gua. Bukanlah orang-orang yang yang menghabiskan waktunya hanya di masjid. Bukan pula raja-raja yang duduk megah di singgasana, yang tak bergerak kecuali sebatas perintah tanpa kejelasan pelaksanaan. Tapi mereka adalah assabiquna al-awwalun, para sahabat Rasulullah saw yang ikut berperang bersama beliau. Mereka adalah bisnisman,pengusaha, sastrasawan, budayawan, sejarawan, politisi dan yang pasti,mereka semua adalah agamawan yang tak pernah membuat dikotomi antara amal dunia dan amal akherat. Sehingga karenanya, mereka kemudian semuanya produktif di bidangnya masing-masing.

Itu mereka. Kita?

oleh Abrar Rifai

TINGGALKAN KOMENTAR