Menulis Karya Layak Terbit —

Menulis Karya Layak Terbit —

BAGIKAN

Belakangan ada beberapa penulis yang melejit seperti meteor, baik di luar negeri maupun di dalam negeri. J. K. Rowling dan Habiburrahman as-Sirazi, misalnya, menjadi kaya dan terkenal karena menulis novel. Dan memang sesungguhnya, penulis, seperti profesi lainnya, memberi kita peluang untuk menjadi kaya dan terkenal – atau bahkan boleh jadi buku yang kita tulis bisa memengaruhi banyak orang dan menimbulkan perubahan.

Dalam konteks akademik, menulis buku bahkan sebenarnya bisa menjadi semacam “dana pensiun” bagi dosen, peneliti, atau siapa saja. Jikalau naskah yang diterbitkan ternyata laku, maka sudah barang tentu royalti akan makin besar. Dan royalti tidak hanya berlaku satu atau dua tahun ataulimatahun, tetapi seumur hidup. Karenanya, barang siapa menulis buku dan buku itu terus mengalami cetak ulang, maka royalti akan terus mengalir, sampai seumur hidup penulis, selama buku itu tetap dicari orang, dibutuhkan orang, dari masa ke masa.

Maka, sebagai penulis, entah itu penulis pemula atau bukan, langkah pertama untuk sukses adalah bagaimana agar naskah yang kita tulis dengan susah payah itu bisa dianggap “layak untuk diterbitkan.” Tulisan ini terutama membahas isu kelayakan terbit suatu naskah. Meski nanti saya akan bicarakan tentang aspek penulis dan tulis-menulis, tetapi saya tidak akan banyak membahas bagaimana teknik menulis yang baik secara panjang-lebar, karena saya percaya hadirin di sini sudah memiliki kemampuan dan menguasai teknik menulis yang baik.

Jika kita ingin mengetahui bagaimana suatu naskah bisa layak terbit atau tidak, itu berarti kita mesti menempatkan naskah dalam konteks dunia penerbitan, dan karenanya, pembicaraan naskah layak terbit sesungguhnya berhubungan erat dengan hakikat dunia penerbitan itu sendiri. Jadi mari kita telusuri satu-per-satu.

PERSPEKTIF PENERBIT

Pertama, kita tentu bertanya-tanya, apa itu kriteria layak dan layak menurut siapa? Ketika bicara naskah, maka paling tidak kita akan berhadapan dengan tiga sudut pandang: penulis, penerbit dan pembaca. Boleh jadi seorang penulis merasa yakin bahwa naskah yang ditulisnya adalah bagus dan sangat layak terbit, tetapi belum tentu penerbit beranggapan sama. Dan belum tentu pula pembaca akan memandang naskah itu bagus atau buruk. Jadi, agar naskah kita bisa diterbitkan, sudut pandang mana yang mesti diprioritaskan?

Secara logis tentunya sudut pandang penerbit adalah yang perlu diprioritaskan. Ini bukan berarti sudut pandang penulis atau pembaca tidak penting. Tetapi, karena yang membiayai, memproduksi dan memasarkan naskah adalah penerbit, tentu penulis, yang ingin naskahnya memiliki peluang besar untuk diterbitkan, harus berpikir seperti penerbit, atau paling tidak memahami pikiran penerbit – kecuali, tentu saja, kalau penulis mau membiayai seluruh proses penerbitan dan pemasaran bukunya.

Nah, pertama-tama, nawaitu dari penulis harus jelas dulu. Apakah saya akan menulis terutama dengan niat “harus” bisa terbit dan dibaca orang atau sekedar coba-coba untuk melatih kemampuan intelektual? Jika nawaitu kita adalah buku kita mesti terbit, mau tak mau penulis harus mempertimbangkan perspektif penerbit. Jadi, apa yang wajib kita ketahui?

Pertama, walaupun penerbit boleh jadi memiliki idealisme untuk mengembangkan dan menyebarluaskan gagasan dan ilmu pengetahuan, namun esensi dari kegiatan penerbitan adalah dunia bisnis/usaha. Itu berarti selalu ada pertimbangan marketing, pengeluaran dan pemasukan, untung-rugi, dan citra perusahaan. Inilah kunci pertama untuk memahami naskah layak terbit. Tetapi tidak perlu cemas dulu, sebab kunci ini hukumnya bukan fardhu ain, melainkan sunnah muakkad. Artinya, mungkin saja sebuah penerbit memandang sebuah naskah akan sulit mendapatkan pasar, namun jika materinya bermutu tinggi, unik, dan baru, maka naskah itu masih ada peluang untuk diterbitkan dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Yang ideal tentu saja adalah naskah yang bagus dan berpeluang laris-manis. Jadi, ada 2 pertimbangan di sini: idealisme dan bisnis.

Jadi dalam hal ini penulis harus bisa meyakinkan penerbit bahwa naskahnya paling tidak memang bagus dan ada peluang marketingnya. Tunjukkan kelebihan naskah anda, keunikannya, dan siapa saja sasaran pembacanya. Ini penting, terutama bila anda belum dikenal sebagai tokoh atau penulis terkenal.

Kedua, walau semua penerbit pada dasarnya terjun dalam bisnis yang sama, namun masing-masing penerbit punya “selera” dan “orientasi” sendiri-sendiri. Inilah aspek “subyektif” dari pihak penerbit. Pertimbangan selera biasanya, tapi tidak selalu, didasarkan pada tiga aspek: (1)  jenis/tema naskah; (2) kualitas gagasan/materi naskah; (3) gaya penyampaian. Misalnya, sebaiknya jangan mengirimkan naskah tentang ushul fiqh ke penerbit Kanisius! Jika naskah anda diterima, anda sungguh beruntung! Atau, sebaiknya jangan menulis buku teks akademik untuk mahasiswa dengangaya bahasa gaul – kredibilitas tulisan anda akan diragukan. ­

Jadi penulis perlu memahami bahwa penerbit pada dasarnya menjual dua hal: gagasan dan produk (buku). Produk buku ada dua jenis: fiksi dan nonfiksi. Penulis mesti tahu penerbit mana yang lebih berorientasi ke jenis buku fiksi dan mana yang nonfiksi. Jika anda menulis novel, maka naskah itu mesti ditawarkan, misalnya ke penerbit sastra. Dan penulis sebaiknya juga tahu apa gagasan yang selalu dimunculkan dalam produk sebuah penerbit. Penerbit buku Islam, misalnya, akan cenderung menerima naskah yang berbau agama Islam. Jika anda punya naskah tentang Islam, ke penerbit itulah sebaiknya anda tawarkan naskah anda.

Pemahaman ini akan membantu memperbesar peluang naskah anda akan diterima oleh penerbit. Lalu bagaimana kita bisa mengetahui “selera” atau orientasi penerbit? Mari kita pakai contoh supaya lebih jelas. Misalkan, anda ingin menulis untuk penerbit A. Kira-kira, seperti apa naskah yang berpeluang diterima di penerbit A itu? Untuk mengetahuinya, anda tidak perlu melakukan riset berminggu-minggu, tidak perlu mendatangi kantornya untuk bertemu pihak editor.Adacara yang lebih mudah: Datanglah ke toko buku, cari dua atau tiga buku (lebih banyak akan lebih bagus) dari terbitan penerbit A, dan jika anda tak punya cukup uang, anda tak perlu membelinya, cukup membaca di toko buku. Tangkaplah gagasan utama buku-buku itu, dan cari benang merahnya.

Tentu naskah kita akan lebih besar peluangnya untuk diterima jika naskah kita itu mengandung kemiripan-kemiripan tertentu. Untuk itu, anda perlu melakukan tiga N: Niteni (mengamati dengan seksama) tulisan, gaya, materi, yang ada dalam buku-buku terbitan penerbit A. Jika anda sudah tangkap inti sarinya, anda bisa nirokke (menirukan). Anda boleh mengikuti alur dan gaya penulisan. Tetapi, tentunya anda tidak ingin dipandang sebagai peniru, follower atau pembebek, bukan?. Jadi, anda harus nambahi (menambahkan). Ini berarti tulisan anda mesti dikembangkan dengan lebih baik, dan memiliki ciri khas anda sendiri.

Sudah selesaikah tugas penulis? Hampir.Adasatu lagi yang harus anda hadapi: yakni editor. Di hampir kebanyakan penerbitan, editor itu seperti “tukang jagal.” Dialah yang menentukan naskah mana yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan dan sesuai dengan selera dia sendiri. Editor, dengan pertimbangannya sendiri, berhak memutuskan apakah akan menerima naskah anda, menjagal naskah anda, atau melemparkan naskah anda ke gudang. Kadang-kadang ada kompromi – naskah anda diterima dengan syarat tertentu, misalnya disuruh memperbaikigayatulisan, menambah materi, atau menata-ulang struktur penulisan. Agar naskah anda diperhatikan oleh editor, anda perlu membantu editor. Bagaimana? Perlu diketahui, editor itu setiap hari menerima beberapa naskah, kadang belasan naskah, dan dia harus memeriksa semuanya, menilai semuanya. Bayangkan, setiap hari! Dan, editor juga manusia, punya rasa dan hati – rasa capek dan jemu, kadang dalam kondisi hati yang sedang jengkel, marah atau senang. Cara membantu editor adalah dengan mengirimkan naskah yang sudah jadi lengkap, dan mengirimkannya sesuai dengan format yang diminta oleh editor. Sekarang coba bayangkan, misalnya, pada suatu hari Selasa pak editor sedang uring-uringan karena habis diomelin istrinya, dan di kantor bawaannya marah saja. Lalu datanglah naskah anda di mejanya – dan anda mengirimkan naskah yang ala kadarnya, tidak lengkap, tidak sesuai standar format yang diminta. Hampir bisa dipastikan naskah anda akan bernasib sial – hati pak editor yang sedang jengkel jelas akan bertambah jengkel melihat naskah anda yang tidak lengkap. Jadi, sebaiknya jangan mengirim naskah yang tidak komplit.

MENJADI PENULIS YANG BAIK

Nah, setelah tahu sedikit-banyak tentang jalan-pikiran dan proses penerimaan naskah di penerbitan, sekarang saatnya kita menengok ke diri kita sendiri. Tentunya kita tidak akan menawarkan naskah yang sembarangan, bukan? Dalam dunia bisnis, selalu ada kompetisi. Naskah anda tidak sendirian. Tema yang anda tulis sangat mungkin juga ditulis oleh orang lain. Pendeknya, naskah anda harus bersaing merebut perhatian penerbit, dan kemudian, nanti, bersaing merebut perhatian pembaca. Jika tulisan anda pas-pasan, rasanya sulit untuk bersaing dengan tulisan yang lebih bagus. Bagaimana agar tulisan kita optimal, atau, yang lebih penting, bagaimana agar potensi penulisan kreatif kita optimal?

Pertama-tama, anda tentu harus tahu teknik-teknik menulis – misalnya cara merangkai kalimat, memotong kalimat secara efektif, menyusun kalimat majemuk yang baik dan efisien, menyusun pokok pikiran, menghubungkan pokok pikiran antar paragraf dan antar bab, mengerti kaidahbakupenulisan (seperti EYD), dan sebagainya. Tetapi dalam makalah singkat ini, saya tidak akan membicarakan itu semua, karena saya yakin anda sudah tahu banyak soal tersebut. Saya hanya akan mencoba mengungkapkan apa makna menjadi penulis, tentu berdasarkan perspektif saya yang serba terbatas.

Persoalan yang muncul saat kita hendak menulis adalah “apa yang akan kita tulis?” “Dari mana kita bisa mendapatkan gagasan untuk menulis?” “Mengapa kita menulis?” “Untuk siapa kita menulis?” Jadi, kini kita tahu sekarang, menulis bukan cuma soal teknik dangaya, tetapi ada alasan yang lebih mendasar. Memang, kadang kita tak tahu mengapa kita mesti menulis atau untuk apa kita menulis, sebab kita tak ada motivasi untuk menulis, tak ada niat untuk menulis. Tetapi jika kita tahu faedah menulis, tahu hakikat dari proses kreatif yang kita sebut menulis ini, barangkali kita akan punya alasan untuk menulis, walau hanya sekedar iseng atau mengisi waktu luang.

Lalu, dari mana datangnya gagasan menulis? Sesungguhnya menulis adalah pekerjaan hati, pikiran dan tangan. Cara paling mudah untuk mengembangkan kemampuan menulis dengan hati dan pikiran adalah dengan menulis catatan harian, menulis apa-apa yang kita rasakan, alami, dan lihat. Ini adalah menulis fakta. Yang lebih tinggi, adalah menulis “tafsir” kita atas apa-apa yang kita lihat dan rasakan, sebab penulisan ini membutuhkan analisis dan daya kritis. Agar tulisan kita lebih mendalam, maka inputnya juga harus baik. Jika kita membaca buku yang baik, insya Allah tulisan kita juga akan menjadi lebih baik, dan lebih berbobot. Sumber inspirasi bisa datang dari mana saja. Yang dibutuhkan adalah kepekaan, perhatian, pikiran terbuka dan kebebasan jiwa. Akan lebih baik jika kita menulis hal-hal yang kita sukai, atau hal-hal yang kita kuasai. Jika anda dosen, maka anda bisa menulis bidang yang kita kuasai, mengkaji bidang kompetensi kita dan menelurkan gagasan baru. Jika anda menyukai cerita, menulis novel atau cerpen mungkin lebih cocok.

Lantas apa ukuran tulisan yang baik? Pertanyaan ini sulit dijawab karena bisa dilihat dari banyak perspektif. Satu buku mungkin dianggap bagus oleh editor dan pembaca tertentu, tetapi dinilai jelek oleh editor dan pembaca lainnya. Namun, paling tidak ada satu hal yang pasti dalam menilai kualitas tulisan. Tulisan yang baik adalah tulisan yang memberikan wawasan baru, memberi ilham, dan mengubah sesuatu. Tulisan yang baik tajk jarang membuat kita bisa mengenal diri kita sendiri dan kehidupan tempat kita tinggal. Karya yang baik datang seperti badai membuka pintu-pintu persepsi dan kesadaran kita, dan dengan kekuatan transformatifnya mampu mengguncangkan arsitektur keyakinan kita, mengubah cara pandang hidup kita, menguak problem psikologis dan sosial manusia, mengguncangkan kemapanan, dan bahkan memicu revolusi atau perang. Misalnya, Seringkali setelah kita membaca karya-karya sastra, kita merasa menjadi sosok yang berbeda, seperti dikatakan kritikus sastra Steiner, “We are not the same when we put down the work as we were when we took it up.” Kekuatan transformatif inilah yang membuat banyak karya tak pernah terkikis oleh arus waktu, menjadi sumber inspirasi yang tiada habisnya, dan membuatnya menjadi karya “abadi.”

Kita mencoba memahami dan menghayati nilai-nilai yang kita ambil dari bacaan kita, menyusunnya, memaknainya, menafsirkannya, dan mencoba memanfaatkannya untuk merekonstruksi keyakinan kita yang sempat terguncang, atau bahkan bisa sampai membongkar dan membentuk sebuah keyakinan baru yang sama sekali berbeda dengan keyakinan yang pernah kita pegang, dan karenanya karya tulis kadang-kadang bisa memicu amarah dan sangat menakutkan bagi kalangan tertentu.

Tulisan yang baik setidaknya mengandung elemen berikut ini:

  • “Mimesis,” yakni imitasi atau representasi realitas atau pengalaman manusia dalam dunia nyata. Misalnya, jika anda setelah baca novel lalu ditanya kawan, “Eh apa isi novel itu?” maka anda pertama-tama mungkin akan menceritakan plotnya beserta karakternya yang mengisahkan bagaimana karakter-karakter itu menjalani hidup dan saling berinteraksi. Nah, inilah representasi realitas.
  • Alur penulisan yang lancar dan terjaga.
  • Diksi atau bahasa yang baik dan mudah dipahami.
  • Unsur “style” ataugaya
  • Unsur pemikiran (thought, dianoia) atau tema (theme) – mendalam, menarik, baru, mencerahkan.
  • Unsur sudut pandang (spectacle)

Dan akhirnya, jika kita sudah menghayati hakikat kepenulisan, hakikat membaca pengetahuan dan menuangkannya dalam bentuk tulisan, maka kita akan memetik buahnya. Jika anda menulis dengan hati, dengan perasaan, dengan pikiran terbuka dan lapang, dan kerendahan hati, besar kemungkinan tulisan anda akan unik, mendalam dan menarik, dan bahkan ada kemungkinan tulisan anda akan mempengaruhi banyak orang untuk berbuat sesuatu. Di dunia yang semakin melek teknologi ini, siapapun yang tidak mau mengembangkan kemampuan intelektual (IQ), emosional (EQ), dan spiritual (SQ), jelas akan tertinggal.Adabanyak cara untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan itu. Salah satunya, sekali lagi, salah satunya, adalah menjadi penulis, apapun tema tulisannya. Kini telah ribuan orang menulis, bukan hanya penulis serius, tetapi juga penulis santai, atau bahkan iseng. Dan menulis pada zaman sekarang tak lagi harus menjadi orang kutu-buku, kurang gaul, berkacamata tebal, duit pas-pasan. Dengan menulis, anda punya peluang untuk menjadi kreatif, mengubah diri anda, mengubah dunia – dan, mudahmudahan, kaya raya.

Mbah Kanyut
Editor

TINGGALKAN KOMENTAR