Mengenal Aktivitas Penelitian

Mengenal Aktivitas Penelitian

BAGIKAN
Pendahuluan

Untuk mengenal dan menguasai penelitian, seseorang dituntut menguasai metodologi penelitian. Metodologi penelitian seringkali menjadi salah satu mata kuliah yang dianggap paling sulit. Banyak muncul pikiran di kalangan mahasiswa bahwa dalam mempelajari metodologi penelitian harus menguasai SPSS (Statistik dengan rumus-rumus yang juga dianggap njlimet). Padahal, saat ini banyak penyedia jasa pengolahan data dengan menggunakan SPSS dan kita tinggal bayar. Pikiran takut untuk menguasai metodologi penelitin seringkali disebabkan oleh rasa takut pada salah satu aplikasi yang dipakai dalam penelitian, misalnya SPSS tersebut. Dalam tulisan ini saya berusaha meyakinkan pembaca bahwa menguasai metodologi penelitian bukan suatu yang mustahil dan dapat dilakukan oleh siapa saja. Mengapa? Berikut penjelasannya.

Apakah metodologi penelitian itu sebuah ilmu yang rumit?

Menurut saya, itu semua tergantung cara pandang kita terhadap ilmu itu sendiri. Kalau kita pandang mudah ya Insa Allah mudah. Kalau sudah kita anggap sulit sebelum mengenalnya ya bisa jadi kesulitan kita memahami. Seperti pepatah “tak kenal maka tak sayang”.

Bukankah metodologi penelitian merupakan ilmunya para pakar? Para ilmuwan?

Siapa bilang seperti itu? Memang seorang ilmuwan harus menguasai metodologi penelitian. Tetapi metodologi penelitian bisa dikuasai dan dipelajari oleh siapa saja dan berguna bagi siapa saja yang mempelajarinya. Misalnya, seorang jurnalis dengan kemampuan metodologi riset yang baik, dia akan mampu menghadirkan jurnalistik investigasi yang baik pula. Seorang marketer (sales, marketing dan sejenisnya) dengan didasari kemampuan riset yang baik, maka dia akan mampu melakukan tugas ke-marketingannya dengan baik pula. Jadi ilmu metodologi penelitian akan sangat bermanfaat bagi banyak orang dan beragam pekerjaan.

 Bagaimana bisa itu?

Ya bisa saja. Prinsip-prinsip dalam metodologi penelitian sebenarnya juga prinsip-prinsip yang sudah berlaku umum. Artika, prinsip dalam melakukan penelitian tidak beda jauh dengan prinsip-prinsip dalam kehidupan pada umumnya. Saya ambil contoh saja; ketika seorang Ibu melihat anaknya nakal (katakanlah suka berkata kotor), maka Ibu tersebut berusaha mencari tahu “mengapa” anaknya menjadi demikian. Usaha-usaha mencari penyebab atau penjelas dari perilaku anaknya tersebut, pada hakekatnya juga ada dalam prinsip dalam penelitian, query (mencari) kebenaran. Persoalannya adalah “cara” yang dipakai. Disitulah letak pentingnya metodologi.

Artinya?

Metodologi penelitian itu seperti apa yang sudah sering kita lakukan sehari-hari. Banyak hal yang kita lakukan dalam keseharian tersebut merupakan “mencari jawaban” atas berbagai persoalan yang kita hadapi atau kita ajukan. Oleh karena itu, saya menyebut salah satu dasar yang harus dipahami oleh mereka yang belajar dalam metodologi penelitian adalah LOGIKA. Sebab, sebuah penelitian yang mengikuti kaedah keilmuwan pasti harus logis. Meski nanti akan ada beberapa logika yang perlu diketahui. Tetapi secara mendasar kunci memehami metodologi penelitian adalah LOGIKA.

Mengapa logika demikian penting?

Ya karena sebenarnya semua ilmu, adalah didasarkan pada logika. Atau ada yang menyebut akar dari semua ilmu adalah filsafat. Apa itu filsafat? Gampangnya kan logika. Jadi ketika seseorang sudah terbiasa menggunakan akal Logikanya dalam keseharian, maka saya yakin dia akan mudah memahami metodologi penelitian.

Logika macam apa sehingga dapat dikatakan sebagai kunci dalam memahami metodologi penelitian?

Kalau pendapat saya ya…ada dua macam logika yang harus dipahami. Tapi jangan buru-buru takut. Semuanya sudah ada kok dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, logika mengambil kesimpulan. Istilah kerennya ya itu..Silogisme itu. Pengambilan kesimpulan adalah kegiatan akal yang lumrah dalam sehari-hari. Setiap hari kita bisa melakukan kesimpulan-kesimpulan yang demikian banyak. Menyimpulkan perilaku anak, menyimpulkan cuaca dan sebagainya.

Kedua, istilah yang saya pakai. W dan H (double U and H). Mengajukan pertanyaan dengan menggunakan “Apa?”, “Mengapa?”, “Bagaimana?” “Kapan?”, merupakan pertanyaan-pertanyaan yang diperlukan untuk menggali dan mencari jawaban atas berbagai permasalahan. Pertanyaan yang tepat akan sebuah masalah maka akan melahirkan jawaban yang juga tepat. Misalnya saja; seroang istri menduga bahwa suaminya selingkuh : dia mengajukan pertanyaan : Apakah bapak selingkuh? Ya biasanya dijawab Tidak. Coba dengan pertanyaan-pertanyaan lain, bapak tadi dikantor makan dengan siapa? (istrinya memang melihat peristiwa itu). Maka bisa jadi bapaknya menjawab dengan gagap atau bisa malah marah atau menjawab santai-santai saja. `

Dengan dua logika ini minimal kita akan terlatih melakukan mengajukan permasalahan (dalam bahasa metodologi penelitian ada dalam perumusan masalah, hipotesis, teoritik, dan metode yang digunakan) sedangkan logika pengambilan kesimpulan sangat relevan dengan kegiatan analisis data. Jadi dengan kita membiasakan logika-logika tadi, maka kita akan mudah memasuki metodologi penelitian.

Bukankan penguasaan akan alat seperti SPSS, matematika atau lainnya adalah pokok?

Memang, itu sangat penting, tetapi tanpa didasari logika yang saya sebut di atas, maka kita juga akan sulit menguasai alat-alat tersebut. Dengan logika tersebut, kita akan mudah membaca hasil pengolahan SPSS, misalnya; padahal kita tidak bisa mengoperasikan SPSS. Tetapi dengan logika-logika itu, kita akan semakin terbuka dan terdorong untuk menggali dan menggali apa yang dibutuhkan dalam menguasai metodologi penelitian.

Maksudnya?

Begini, dengan berbagai wawasan dan ilmu yang anda miliki, maka tidak akan pernah cukup tanpa motivasi. Logika W dan H yang sering kita gunakan akan mengasah kita dan memancing motivasi kita dalam belajar banyak hal, termasuk metodologi penelitian. Saya kasih ilustrasi begini : ketika anda dikenalkan SPSS oleh teman anda, maka jangan buru-buru bertanya : bagaimana menggunakannya. Tetapi cobalah bertanya : apa SPSS itu? apa kegunaannya? apa isinya? dengan melatih kebiasaan menggunakan W dan H tersebut anda akan selalu berusaha mencari hal-hal mendasar dari sesuatu. Ketika anda dijelaskan mengenai metode kuantitatif, maka dengan W dan H akan terdorong untuk menguasai definisi, deskripsi, fungsi, kondisi dan sebagainya dari metode kuantitatif. Dengan kata lain saya ingin katakan MOTIVASI menjadi kunci yang lain dalam menguasai metodologi penelitian.

Bagaimana memulai sebuah penelitian?

Dengan bekal pemahaman W & H Question akan sangat membantu. Seringkali mahasiswa diberi pemahaman bahwa masalah suatu penelitian harus yang baru, benar-benar berbeda dari yang lainnya. Penyampaian akan pemahaman seperti ini bisa jadi malah membingungkan mahasiswa, karena berusaha mencari sesuatu yang benar-benar baru dan berbeda dari yang lainnya. Yang terjadi kemudian adalah banyak mahasiswa berusaha keras berpikir dan bahkan bermimpi (mereka-reka) masalah yang akan diteliti. Sampai-sampai stress berat gara-gara memikirkan masalah yang akan diteliti.

Menurut Saya, hal tersebut sangat salah sama sekali. Permasalahan yang akan diajukan dalam sebuah penelitian tidak harus baru dan tidak harus berbeda sama sekali. Justru sebaliknya, sebuah masalah penelitian harus ada kaitan atau relevansi dengan yang lainnya. Sebuah penelitian tidak muncul dalam ruang hampa, tanpa awal, tanpa ada jejak-jejak sebelumnya. Memang posisi penelitian kita harus menempati posisi tertentu (atau posisi berbeda dari lainnya) itu YA.

Bagaimana Memahami Masalah Penelitian?  

Paling tidak ada dua kata kunci yang dapat dijadikan pijakan dalam menentukan masalah penelitian, yakni realitas obyektif dan realitas teoritik. Memahami masalah melalui realitas obyektif, berarti kita berangkat dari masalah yang bersifat obyektif.  Apa saja yang kita lihat, kita rasakan, kita peroleh informasi dari majalah, koran dan sebagainya. Semua informasi tersebut bisa kita jadikan sumber masalah yang akan kita ajukan dalam sebuah penelitian.

Misalnya anda yang sehari-sehari bekerja sebagai guru, maka keterlambatan siswa, kenakalan siswa, kurangny perhatian siswa dalam mengikuti pelajaran, nilai siswa dan semua kejadian yang sering ditemui disetiap hari, maka dapat anda jadikan masalah penelitian. Demikian pula, hasil survey lembaga lain yang dipublikasikan oleh media masa dapat juga dijadikan masalah penelitian. Berita atau kejadian yang diberitakan oleh media cetak atau elektronik dapat juga dijadikan masalah. Intinya, realitas obyektif lebih bersumber pada kejadian-kejadian nyata atau fakta yang ada.

Sementara realitas teoritik, permasalahan penelitian berangkat dari perkembangan teori. Di sini anda juga bisa berangkat dari konsep atau variabel tertentu dalam lingkup teori tertentu. Misalnya, anda berangkat dari hasil riset orang lain tentang konsep sosialisasi politik, maka anda harus menggali mengenai teori atau definisi konsep sosialisasi politik. Kemudian, dalam perkembangan mutakhir (melalui hasil riset yang dipublikasikan), anda bisa mengambil posisi tertentu. Misalnya ada sebuah hasil riset yang mengajukan tesis (kesimpulan) bahwa sosialisasi politik di kalangan pemuda oleh partai politik di kota X sangat rendah, maka anda bisa mengembangkan masalah penelitian di tempat atau kota lain, atau mengambil segmen (misalnya kalangan perempuan). Dengan begitu, maka membuktikan bahwa permasalahan penelitian tidak ada yang benar-benar baru, tetapi pengembangan dari sebelumnya. Berdasarkan pijakan realitas teoritik, maka penelitian kita akan mempunyai perbedaan posisi dalam kerangka teori dengan penelitian sebelumnya (lainnya).

Penutup

Bagi anda yang hendak melakukan penelitian, jangan takut untuk memulainya, karena merasa belum mendapatkan masalah penelitian yang baru atau berbeda dari lainnya. Belajarlah dari peneliti lain atau menggali realitas obyektif yang ada di sekeliling kita dan sering dijumpai. Bangun fenomena kejadian tersebut dengan kerangka teori tertentu dan berusaha untuk membandingkan dengan temuan penelitian yang sejenis, maka proses pembuatan penelitian dapat terlaksana dengan mudah. Semoga berhasil.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR