Mengenal Ajaran Condro Sengkolo

Mengenal Ajaran Condro Sengkolo

BAGIKAN

 

“Ajaran TJONDROSENGKOLO”

Salam Warkoper

Manusia dengan perkembangan pengetahuannya, telah menyerap begitu banyak informasi, semakin tinggi respon manusia mengenal alam sekitarnya, akan semakin tinggi pula intlektualitasnya.

Masih ingatkah anda saat dulu masih duduk di bangku smp atau sma dan belajar sejarah? Sebuah pelajaran yang cukup menyita pikiran kita untuk mengingat tahun-tahun penting yang menandai berbagai peristiwa yang terjadi baik di dalam maupun luar negeri.

Dahulu, orang jawa mengenal candra sengkala (condro sengkolo). Condro berarti pernyataan, sengkolo berarti tahun. Atau istilahnya angka tahun.

Candrasengkala sendiri sebenarnya terdiri dari dua macam yaitu Suryasengkala dan Candrasengkala. Suryasengkala adalah Candrasengkala yang digunakan untuk tahun yang perhitungannya berdasarkan perputaran Bumi terhadap Matahari (Surya), sebagaai contoh adalah tahun Masehi. Sedangkan Candrasengkala adalah Candrasengkala yang digunakan untuk tahun yang perhitungannya berdasarkan perputaran Bulan (Candra) terhadap bumi, sebagai contoh adalah tahun Saka/Jawa dan tahun Hijriyah, sedangkan pengertian Candrasengkala yang ini kita sebut istilah khusus.

Sebagian orang ada yang membuat angka tahun dengan gambar atau patung (arca) yang bila dihitung akan menunjukkan tahun tertentu.

Ada pula yang menggunakan kata-kata (ukoro) yang maknanya menyiratkan tahun yang dimaksud.

Contoh :
1. Akhir Kerajaan Majapahit ditandai dengan Candrasengkala Sirna Ilang Kertaning Bumi yang menggambarkan runtuhnya Kerajaan besar tersebut pada tahun 1400 Saka.

2. Pada Menara Kudus tertulis Candrasengkala Gapura Rusak Ewahing Jagad yang menggambarkan kondisi sosial-politik Kerajaan Demak yang kacau ketika itu yaitu tahun 1609.

3. Lambang kraton Yogya –> “DWI NAGA RASA TUNGGAL” melambangkan tahun 1682.

4. Kabupaten Banyumas –> “BEKTINING MANGGALA TUMATANING PRAJA” melambangkan tahun 1582.

5. Kabupaten Sleman —> “RASA MANUNGGAL HANGGATRA NEGARA” melambangkan tahun 1916 (Masehi).

6. Kabupaten Sleman —> “ANGGATA CATUR SALIRA TUNGGAL” melambangkan tahun 1846 (tahun Jawa).

7. Kabupaten Pati —> “KRIDANING PANEMBAH GEBYARING BUMI” melambangkan tahun 1323.

Tak hanya di Jawa, mungkin tiap-tiap negara juga mempunyai cerita sendiri berkenaan dengan sejarah mereka. Termasuk juga di negeri-negeri arab mempunyai semacam condro sengkolo yang dinamakan dengan hisabul jumal, yakni perhitungan huruf-huruf. Inilah yang kemudian dikenal dengan istilah tarikh. Berasal dari kata arrokho-yuarrikhu , memberi tanggal. Lihat kamus Mahmud Yunus hal. 37

Bagaimana hukumnya mengingat tahun dengan condro sengkolo / tarikh?

Boleh-boleh saja, mengingat ini hanya masalah metode dalam mengingat momen-moment tertentu karena ini adalah Masalah dunia.

Banyak juga para ulama yang mencatat tahun disusunnya sebuah kitab dengan kalimat yang apabila dijumlah, maka akan menunjukkan tahun penyusunan kitab tersebut.

Sebagai contoh saja, seorang muarrikh mencatat wafatnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dengan sebuah condrosengkolo berbunyi :

بدا هلاك الخبيث

ba’=2 dal=4 alif=1 ha’=5 lam=30 alif =1 kaf =20 alif=1 lam=30 kho’=600 ba’=2 ya’=10 tsa’=500

2+4+1+5+30+1+20+1+30+600+2+10+500=1206

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab wafat tahun 1206 H

Bukan hanya sekedar tahun, tapi kata-kata tersebut mempunyai arti : Telah nyata kebinasaan orang yang menjijikkan.

Saya tidak tahu mengapa sang mu’arrikh mencatatnya dengan kata-kata semacam itu. Kita kembalikan sepenuhnya pada al mu’arrikh.

Demikian sedikit ulasan mengenai condro sengkolo. Semoga kita tetap istiqomah dalam manhaj salaf serta tetap tegar dalam menghadapi ahlul bid’ah dholalah. Dengan memegang teguh pemahaman para Salafussalih akan menjamin amalan kita bersih dari segala macam bid’ah.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR