Mengagungkan Rosulullah Bukan Amalan Syirik

Mengagungkan Rosulullah Bukan Amalan Syirik

BAGIKAN

Oleh A. Syihabuddin

GOLONGAN PENGINGKAR MEMBAWAKAN HADIST

لاَ تُطْرُوْنِى كَمَا أطْرَتِ النَّصَارَى عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ

“Janganlah kalian mengagung-agungkan diriku seperti kaum Nasrani yang mengagung-agungkan ‘Isa putra Maryam’ “.

Dengan beralasan hadits diatas ini mereka menganggap mengagungkan beliau saw. merupakan sikap ghuluw (berlebih-lebihan) yang dapat membawa orang kepada perbuatan syirik. Juga mereka berpendapat bahwa menyanjung beliau saw. lebih tinggi dari manusia yang lain, dan memandang beliau saw. mempunyai kelebihan-kelebihan lebih dari manusia biasa itu adalah bid’ah keagamaan dan perbuatan yang menyalahi sunnah beliau saw..

Pengertian serta pemikiran mereka seperti itu adalah sangat naif sekali. Kalau kita teliti hadits diatas tersebut yang dilarang oleh Rasulallah saw. yaitu orang yang mengagungkan beliau saw.seperti orang Nasrani yang mengagungkan nabi Isa as. Pengagungan orang-orang Nasrani terhadap nabi Isa as. adalah melampui batas yang mana mereka menganggap bahwa nabi Isa itu anak Tuhan apalagi orang-orang Katolik disamping menganggap nabi Isa anak Tuhan juga beliau sebagai Tuhan dibumi/ didunia. Pengagungan seperti inilah yang dilarang oleh agama agama Islam dan dianggap Syirik karena menyekutukan Allah swt..

Sedangkan orang yang mengagungkan Rasulallah saw. dengan cara yang tidak melampaui batas kedudukan beliau sebagai hamba Allah dan Rasul-Nya yang paling mulia dan taqwa serta tidak disertai kepercayaan seperti kaum Nasrani, maka cara itu tidak bertentangan dengan Tauhid atau musyrik, malah diperintahkan oleh Allah swt. untuk menghormat dan mengagungkan beliau saw.. Mari kita rujuk ,berikut ini, firman-firman Allah swt. yang berkaitan dengan pribadi para Rasul dan khususnya pribadi Rasulallah saw. :

firman Allah swt. :

َالَّذِيْنَ آمَنُوْا بِهِ وَ عَزَّرُوْهُ وَ نَصَرُوْهُ وَاتَّبَعُوا النُّوْرَ الذِّي اُنْزِلَ مَعَهُ أوْلاَئِكَ هُـمُ الْمُفـْلِحُوْنَ

Artinya: “Maka orang-orang yang beriman kepadanya (Nabi Muhammad saw.) mengagungkannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang diturunkan bersamanya (yakni Al-Qur’an) mereka itulah orang-orang yang memperoleh keberuntungan”. (QS.Al-A’raf : 157)

Firman-Nya juga :

وَ قَالَ اللهُ اِنِّي مَعَكُمْ لَئِنْ اَقَمْتُمُ الصِّلاَةَ وَاَتَيْتُمُ الزَّكَاةَ وَاَمَنْتُمْ بِرُسُلِيْ وَعَزَّرْتُمُوْهُمْ وَاَقْرَضْتُمُ اللهَ

قَرْضًا حَسَنًا َلاُكَفِّرَنَّ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وََلاُدْخِلَنَّكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِى مِنْ تَحْتِهَا الاَنْهَارُ

Artinya: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, jikalau kamu benar-benar mendirikan sholat, menunaikan zakat, beriman terhadap para Rasul-Ku, mengagungkan mereka dan kamu memberikan pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Aku akan bebaskan daripadamu sebagian dosa-dosa kesalahanmu dan Aku akan masukkan kamu kedalam surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai’”.

Menurut tafsir Qurtubi jilid 6 halaman 151, arti daripada ‘azzartumuuhum’ adalah ‘memuliakan atau mengagungkan mereka’. Jadi memuliakan para Rasul termasuk salah satu amalan yang dapat mendatangkan maghfirah/ ampunan dan menurunkan rahmat. Terbukti dalam ayat diatas bahwa mereka yang mengagungkan dan memuliakan para Rasul akan diampunkan sebagian dosanya dan akan dimasukkan kedalam surga. Apalagi kalau yang kita agungkan dan muliakan itu adalah Asyroful Anbiya wal Mursalin (yang paling mulia antara para nabi dan Rasul) yakni junjungan kita Nabi besar Muhammad saw.

Allah swt. berfirman :

ذَالِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَاللهِ فَإنَّهَا مِنْ تَقْوَى القُلًوْبِ

Artinya: “Demikianlah (perintah Allah) dan barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah (lambang kebesaran) Allah, itu sesungguhnya (timbul) dari hati yang takwa” (QS. Al-Hajj : 32)

Tidak diragukan lagi Rasulallah saw. dengan kenabian dan ke Rasul-annya, dengan segala mu’jizat termasuk mu’jizat yang terbesar yaitu Al-Qur’an yang dikaruniakan Allah kepada beliau saw. adalah lambang kebenaran dan kebesaran (syi’ar) serta lambang kekuasaan Allah swt. Memuliakan syi’ar Allah ini adalah bukti dari hati yang bertakwa kepada Allah swt.

Dalam firman Allah swt. :

ذَالِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ عِنْدَ رَبِّهِ

Artinya: “Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan apa yang mulia disisi Allah, itulah yang terbaik baginya disisi Tuhannya”. ( QS Al-Haj : 30)

Rasulallah saw. adalah yang paling mulia dan taqwa dari semua makhluk Ilahi. Begitu juga para ahli taqwa termasuk juga makhluk yang mulia disisi Allah swt.

Allah swt. berfirman :

إنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِي يَآاَيُّهَا الذِّيْنَ آمَنوْا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para Malaikat sentiasa bersalawat kepada Nabi, Wahai orang-orang yang beriman berselawatlah kamu kepadanya “. (QS 33:56).

Shalawat Allah swt. pada ayat diatas menurut ahli tafsir berarti pujian Allah swt. terhadap Nabi saw., pernyataan kemuliaannya, serta maksud meninggikan dan mendekatkannya. Dan orang-orang beriman disuruh juga bershalawat (memuji/meninggikannya) dan bersalam pada beliau saw.

Firman Allah swt. agar manusia bersikap sopan dan hormat dalam bercakap-cakap dengan beliau saw. atau tidak memanggil beliau saw. sebagaimana memanggil sesama kita.

يَاأيَّهَالذِّيـنَ آمَنُوا لاَ تَرْفَعُوا أصْوَاتَكُمْ فَوْقِ صَوْتِ النَّبِي

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah mengeraskan suara kalian lebih tinggi dari suara Nabi”. (Al-Hujurat: 2)

Juga firman-Nya sebagai berikut :

لاَ تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضَا

Artinya: “Janganlah kalian memanggil Rasul sebagaimana kalian memanggil satu sama lain diantara kalian”. (An-Nur : 63)

Firman-Nya juga :

إنَّ الذِّيْنَ يُنَادُوْنَكَ مِنْ وَرَاءِ الحُجُرَاتِ اَكْثَرُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ

Artinya: “Orang-orang yang memanggil-manggilmu (hai Muhammad) dari luar kamarmu, mereka itu kebanyakan tidak mengerti”. (Al-Hujurat : 4)

Allah swt. memuji budi pekerti Nabi saw dan kita juga dianjurkan mengagungkan beliau saw. :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُوْلِ اللهِ إُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

لِمَنْ كَانَ يَرْجُ اللهَ وَ اليَوْمِ الآخِر وَذَكَرَ اللهُ كَثِيْرًا

Artinya: “Sesungguhnya pada diri Rasulallah itu menjadi contoh utama bagi orang-orang yang mengharapkan keridhaan Allah dan hari akhirat serta banyak mengingat Allah”. (Al-Ahzab : 21)

Firman-Nya sebagai berikut :

وَإنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

Artinya:“Dan sungguhlah bahwa engkau (hai Muhammad) berbudipekerti luhur”. (Al-Qalam : 4 )

Firman-Nya :

إنَّا أرْسَلْنَاكَ شَهِيْدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيْرًا لِتُؤْمِنُوْا بِاللهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ

Artinya:“Sungguhlah Kami telah mengutusmu (hai Muhammad )sebagai saksi, sebagai pembawa kabar gembira dan sebagai pemberi peringatan, maka hendaklah kalian (manusia) beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, memperkuat (agama) dan mengagungkannya”. (Al-Fath : 8-9)

Firman-Nya :

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُوْلٌ مِنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالمُؤْمِنِيْنَ رَؤُفٌ رَحِيْمٌ

Artinya:“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan (rouufun) lagi penyayang (rohimun) terhadap orang-orang mu’min”. (At-Taubah : 128)

Ayat-ayat diatas ini bisa kita tarik kesimpulan bahwa Allah swt. memuji budi pekerti Rasulallah saw. dan siapa yang selalu memuji dan mengagungkan beliau saw. berarti dia termasuk orang yang beriman, yang cinta dan mengharapkan ridho Allah swt. dan Rasul-Nya serta termasuk orang ahli takwa.

Dengan adanya firman-firman Allah yang telah dikemukakan tadi, maka dengan jelas bahwa Allah swt. sendiri dan para malaikat memuji dan mengagungkan beliau saw. dan orang yang beriman disuruh mengagungkan, memberi salam pada beliau saw..

Allah swt. melarang kita memperlakukan beliau saw. dengan perlakuan yang biasa kita berikan kepada sesama kita atau memanggil nama beliau dengan cara seperti memanggil teman kita sendiri. Allah swt juga memerintahkan agar para sahabat pergi ke Rasulallah saw agar dimintakan ampun atas kesalahan mereka (An-Nisa:64).

Dengan semuanya ini menunjukkan bahwa pribadi serta kedudukan Rasulallah saw. adalah sangat tinggi sekali, yang pantas dipuji dan diagung-agungkan dan bukan termasuk sebagai perbuatan ghuluw!

Disamping itu banyak firman Allah swt. yang menyifatkan Rasul-Nya sebagai sifat-Nya (Haalim, Kariim, dan sebagainya), sedangkan sifat Allah Rouf hanya disifatkan untuk Rasulallah saw (QS.At-Taubah:128) tidak kepada para Rasul-Nya lainnya. Sifat Allah saw yang disifatkan kepada para Rasul-Nya ini mempunyai makna majazi/kiasan, sedangkan sifat yang ada pada Allah swt. adalah sifat yang hakiki/sebenarnya. Jadi pada saat Allah swt. berfirman Dialah yang mempunyai sifat Rahiim, Haliim, Ghofuur, Qawi, Nashiir, Waliyyan dan sebagainya itu, maka Rasulallah saw. dan para Rasul lainnya atas izin-Nya termasuk didalamnya (baca keterangan dibab 2 pada bab Apakah Al-Qur’an hanya bisa diartikan secara tekstual dan literal). Begitu juga dalam riwayat yang telah kami kemukakan bahwa para sahabat memohon hujan dengan tawassul kepada Abbas bin Abdul Muttalib. Sewaktu orang-orang dianugerahi hujan, mereka berebut untuk menyentuhi Abbas dan mengatakan: ‘Selamat atasmu wahai Penurun hujan untuk Haramain’. Para sahabat mengerti dan mengetahui bahwa Penurun hujan sebenarnya adalah Allah swt. sedangkan Abbas ra. Penurun hujan secara kiasan. Dan tidak ada seorang pun dari para sahabat mengatakan bahwa julukan seperti itu adalah ghuluw dan bisa menjerumuskan orang kepada kesyirikan!!

Nah, apa salahnya kalau kita memuji dan mengagungkan pribadi beliau saw. dengan menyebut beliau saw. sebagai penolong, pengampunkan dosa dan sebagainya yang mana Allah swt. sendiri telah memerintahkan para sahabatnya untuk datang kepada beliau saw. agar Rasulallah saw. memohonkan ampun kepada Allah swt. untuk para sahabat ini (An-Nisaa:64)?. Hal tersebut masih dilakukan oleh sahabat beliau saw. setelah wafatnya. (baca bab tawassul/tabarruk). Sudah tentu semua orang tahu bahwa bukan Rasulallah saw. yang bisa mengampunkan dosa para sahabat, tetapi dengan perantaraan beliau saw. dosa para sahabat yang bersangkutan itu diampunkan oleh Allah swt. Dengan demikian Rasulallah saw. bisa dijuluki secara kiasan sebagai Pengampunkan dosa.

Itulah juga yang dimaksud oleh pengarang-pengarang kitab BURDAH, BARZANJIdhiba dan lain-lain yang ditulis oleh penyair dan ulama terkenal ini yang sebagian besar isinya memuliakan, mengagungkan Allah swt. dan Rasulallah saw. serta mensifati beliau saw. secara kiasan sebagai Penolong, Pengampunan dosa dan lain sebagai nya? Sudah tentu para ulama itu sadar dan yakin serta mengetahui bahwa pemuliaan, pengagungan dan pensifatan terhadap Rasulallah saw. sebagai hamba Allah (Makhluk) tidak setaraf dengan pemuliaan, pengagungan dan pensifatan kita terhadap Allah swt. sebagai Pencipta (Al-Khalik). Bila ada pikiran yang memandang secara hakiki/sebenarnya makhluk setaraf dengan Sang Pencipta itulah baru dikatakan syirik ! Apakah mungkin para ulama dan penyair yang terkenal itu menulis kitab yang mengandung atau berbau kekufuran, kesyirikan ? Sudah tentu tidak mungkin! Apakah hanya ulama golongan pengingkar saja yang paling mengetahui, paling pandai dan paling hati-hati dalam syari’at Islam? Sudah tentu tidak!!

1 KOMENTAR

  1. OMOMGAN WAHABI NDAK PERLU DI GUBRIS TAPI HARUS SELALU D JAWAB WALAAU NGGAK USAH TERLALU SERIUS GITU AJA KOK REPOT

TINGGALKAN KOMENTAR