Menetapkan Shifat Khobariyyah Tidak Dengan Memaknai Organ

Menetapkan Shifat Khobariyyah Tidak Dengan Memaknai Organ

BAGIKAN

بسم الله الرحمن الرحيم , الحمد لله رب العالمين , والصلاة والسلام على أشرف النبيين , وبعد

Ibnu Taimiyah: Imam Asy’ari menetapkan sifat khobariyah seperti sifat ma’ani

Sekarang  ini Kaum Wahhabi terbiasa dengan watak mengklaim bahwa Imam-Imam besar selaras dgn aqidah mereka,dan lalu menjatuhkan lawan dengan menghitamkan nama baiknya,mereka berkata bahwa ulama-ulama pengikut Imam asy’ari mengmbil dan menuqilkan madhab Imam Asy’ari tetapi tidak mengambil itsbat [menetapkan sifat] khobariyah dari Imam Asy’ari,kemudian mereka menemukan sebagian Ulama Asy’ariyah menuqilkan isbat sifat khobariyah dari Imam Asy’ari,lalu mereka menuduh kaum Asyariyah menafikan sifat {muattil],dan mereka gembira dgn itu, mereka mengira bahwa madhab Imam Asy’ari selaras dgn madhab yang mereka pegang yakni menetapkan tangan,mata,wajah pada Allah dgn pengertian dzat yakni organ Allah…padahal imam mereka yakni ibnu taemiyah mengakui bahwa Imam Ay’ari meng’isbatkan sifat sebagai makna sifat bukan ain [dzat/organ]…..

Berikut adalah penjelasannya:

Pertama:

Para ‘Ulama yang membawakan madhab Imam Asy’ari dan apa yang di pegang oleh madhab Imam Asy’ari sekarang, adalah menuqilkan itsbat sifat khobariyah dari Imam Asy’ari di sertai menuqilkan juga darinya penafian tersusun dan organ tubuh”, berbeda dg keyakinan wahabi bahwa isbat sifat adalah menetapkan tersususnnya Allah dari juz dan organ….!! sungguh telah datang dalam kitab mujarod almaqolat Al asyari hal 40:

(( فأما ما يثبت من طريق الخبر , فلا يُنكر –أي الإمام الأشعري- أن يرد الخبر بإثبات صفات له تُعتقد خبراً , وتطلق ألفاظها سمعاً , وتحقق معانيها على حسب ما يليق بالموصوف بها , كاليدين والوجه والجنب والعين .

لأنها فينا : جوارح , وأدوات , وفي وصفه نعوت وصفات , لما استحال عليه التركيب , والتأليف , وأن يوصف بالجوارح والأدوات ) .

“Dan adapun sifat2 yang di tetapkan dgn jalan khobar, Maka tdk mengingkari ‘yakni Imam Asyari’ untuk mendatangkan khobar dgn isbat [menetapkan] sifat yang di itiqodkan sebagai khobar dan di ucapkan lafadnya sbgmn yang di dengar,dan di nyatakan maknanya dgn sesuatu yang layak utk [mausuf] yang di sifati’ dgn sifat tsbt, seperti dua tangan,wajah,pinggang,mata,karena semua itu ketika di sandarkan pada kami adalah bermakna anggota tubuh dan alat,dan dalam sifatNya adalah bermacan2 sifat karena mustahil bagi Allah adanya tersusun dan mustahil jg di sifati dgn organ dan alat”.

Maka dgn perkataan ini,lenyaplah klaim wahabi atas ulama2 yang menuqilkan madhab asy’ari dan menyebarkannya” bahwa mereka tdk menuqilkan isbat sifat khobariyah dari Imam Al Asy”ari, toh isbat imam As’ari adalah isbat dgn tanpa memaknai tersusun,organ dan alat.

Ke dua:

Definisi sifat menurut Imam Al asy’ri adalah makna yang berdiri pada mausuf [yg di sifati],dan sifat bukanlah ain [dzat] sebagaimana yang di katakan oleh Ibnu taimiyah,Dan barang siapa memperhatikan apa yang tercatat dalam kitab mujarod almaqolat,maka ia akan mengetahui hal itu ,malah kapan pun akan di temukan bahwa setiap masalah bersandar atas adanya sifat yang berdiri pada mausuf,dan pendapat imam Asyari itu bisa di fahami dari keingkaran beliau akan adanya sifat yang berdiri pada sifat,dalam alasan beliau:

( لأن ذلك يؤدّي إلى قيام معنى بها , فلا يتحمّل المعنى معنى) .

“Karena hal itu akan menimbulkan berdirinya makna di atas sifat,maka makna tdk bisa berdiri di atas makna” [mujarod almaqolat:39]

Maka ungkapan di atas menjadi bukti bahwa sifat menurut Imam Al asyari adalah makna yang berdiri pada dzat,dan bukanlah dzat itu sendiri..maka ketika beliau menyebutkan sifat yad,istiwa dll,itu tdk dgn pengertian aen/dzat [organ/fisik],fahamilah ini….!!

Ke tiga: Imam2 madhab Al asyari telah menuqilkan daripada Imam Al asyari tentang isbat [menetapkan] nya beliau terhadap sifat2 khobariyah dan penafian beliau atas makna hakikatnya,ini berbeda dgn pandangan kaum wahabi yang berkata isbat dgn makna hakikat,berkata Imam As sanusi dalam syarh Al wustho:

( اختلف في أشياء وردت في الشرع مضافة لله تعالى، وهي الاستواء واليد والعين والوجه، بعد القطع بتنزهه تعالى عن ظواهرها المستحيلة عقلا إجماعا، فقال الشيخ أبو الحسن الأشعري: إنها أسماء لصفات تقوم بذاته تعالى، زائدة على الصفات الثمانية السابقة، والسبيل إلى إثباتها عنده السمعُ لا العقل، ولهذا تسمى على مذهبه: صفات سمعية، والله تعالى أعلم بحقيقتها )

“Telah berbeda pendapat [ikhtilaf] dalam lafad2 yang di sandarkan kepada Allah seperti lafad istiwa,yad,aen,wajah setelah memastikan dgn qot’i akan sucinya Allah dari dhahirnya lafad2 itu yang mustahil secara aqal dan ijma,mka berkata Imam Al asyari: sesungguhnya itu adalah nama2 untuk sifat yang berdiri pada dzat Allah SWT yang merupakan tambahan atas delapan sifat [wujud-irodat] yang telah di sebutkan,dan jalan isbat [menetapkan] nya adalah secara sam’i [sbgmn terdengarnya saja] bukan secara aqal,oleh karena itu lafad2 seperti itu dalam madhabnya di sebut sifat sam’iyyat: [sifat yang terbatas pada apa yang di dengar dari Al quran-Al hadis],dan Allah yang lebih tau haqiqatnya”

kemudian beliau berkata:

( وأما الشيخ الأشعري فاعتمد في إثبات هذه الصفات ـ أي السمعية ـ على ظواهر من القرآن؛ أمّا الاستواء فاحتج على ثبوته بقوله تعالى: ﴿عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى﴾[طه:5] فقال: الاستواء بمعنى الاستقرار والتمكن والجلوس مستحيلٌ عقلًا وإجماعاً، وتأويله بالاستيلاء على العرش بالقدرة يوجب أن لا يكون لتخصيص العرش بذلك فائدة ؛ إذ سائر الممكنات تماثل العرش في ذلك، فوجب أن يحمل الاستواء على صفة تليق به جل وعز، والله تعالى أعلم بحقيقتها

“Dan ada pun Imam Al as’ari bersandar dalam menetapkan sifat2 ini yakni sifat san’iyyat, pada dhohir lafad dari Al quran,adapun dalam sifat istiwa,ia berhujjah dgn ayat عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى [toha 5],lalu ia berkata: istiwa dgn makna istiqror;menetap dan tamakun: menempat dan julus;semayam itu mustahil secara aqal dan ijma,dan juga mentakwilnya dgn istiila;menguasai atas arasnya dgn kuasanya itu melazimkan tdk adanya faidah dalam menentukan arasy dgn istiwa,karena semua ciptaan semitsal dgn Aras dalam hal itu,maka wajib membawa istiwa kepada makna sifat yang layak bagi Allah jalla wa azza dan Allah lbh tau hakikatnya”.

Dan berkata Imam An nafrawi dalam alfawakih ad dawani:

( ولفظ الاستواء من جملة المتشابه كاليد والوجه والعين والأصابع ونحو ذلك مما ظاهره مستحيل على الباري سبحانه ، ولا يعلم معناه على القطع إلا الله سبحانه وتعالى ، وأما العلماء فقد اتفق السلف والخلف على وجوب اعتقاد حقيقة وروده على وجوب تنزيه الباري عن ظاهره المستحيل واختلفوا بعد ذلك على ثلاث طرق :

“Dan lafad istiwa termasuk dalam jumlah nas mutasyabihat seperti lafad yad,wajah,mata,jari dan semisalnya dari lafad2 yang dohirnya mustahil bagi Allah swt,dan tdk di ketahui maknanya secara qoth’i kecuali hanya Allah swt,,dan adapun para ulama,maka telah mufakat salaf dan kholaf atas wajibnya mengitiqodkan hakikat datangnya lafad2 itu disertai wajibnya mensucikan [tanzih] Allah dari makna dhohirnya,dan setelah ijma atas tanzih, mereka terbagi kepada 3 jalan”

– طريق أبي الحسن الأشعري إمام هذا الفن أنها أسماء لصفات قائمة بذاته تعالى زائدة على صفات المعاني الثمانية أو السبعة التي هي العلم والقدرة والإدراك على القول به ونحو ذلك من بقيتها ، والدليل عنده على ثبوتها السمع لورودها إما في القرآن أو السنة لذلك تسمى على مذهبه صفات سمعية .

  1. 1.     Pertama jalan abul hasan Al Asyari imam dalam fan ini,bahwa lafad2 itu adalah nama untuk sifat yang berdiri pada dzat Allah swt halnya tambahan dari sifat2 ma’ani yang delapan atau tujuh,yakni sifat ilmu,qudroh,idrok sbgmn pndpt orang yang mengatakannya dan sifat semisalnya dari sisa sifat maani tsbt,dan adapun dalil atas isbat sifat2 tsbt adalah sam’iyyat karena datang dalam alquran atau pun al hadits,oleh karena itu dalam madhabnya ada sifat2 yang di namai dgn sifat sam’iyyat.

وطريق السلف كابن شهاب ومالك الإمام ومن وافقهما من السلف الصالح تمنع تأويلها عن التفصيل والتعيين ، ونعتقد أن له تعالى استواء ويدا وغير ذلك مما ورد به الشرع لا يعلم معناه على التفصيل إلا الله .

  1. 2.      Manhaj Salaf seperti Ibn syihab dan Imam Malik dan orang2 yang sejalan dgn mereka berdua melarang mentakwil dan menentukan maknanya,dan kami mengitiqadkan bahwa Allah memiliki sifat istiwa,yad dll dari lafad2 yang datang dari syara dgn tdk mengetahui maknanya secara detail kecuali Allah.

– وطريق الخلف تؤول المتشابه على وجه التفصيل قصدا للإيضاح ولذلك تسمى المؤولة ، فأولوا الاستواء بالاستيلاء واليد بالقدرة

  1. 3.      jalan kholaf mereka mentakwil ayat2 mutasyabih dgn mendetail dgn tujuan utk menjelaskan,oleh karena itu mereka dinamai dgn meawwilah,maka mereka mentakwil estiwa dgn istaula,yad dgn kuasa dan seterusnya……

Dan berkata Imam Al Amidi dalam kitab ibkar al ifkar:

(ذهب الشيخ أبو الحسن الأشعرى فى أحد قوليه , والأستاذ أبو اسحاق الاسفرايينى والسلف الى أن الرب تعالى متصف بالوجه , وأن الوجه صفة ثبوتية زائدة , على ماله من الصفات , متمسكين فى ذلك بقوله تعالى [ ويبقى وجه ربك ذو الجلال والاكرام ] لا أنه بمعنى الجارحة.

ومن المشبهة من أثبت الوجه بمعنى الجارحة 

“Telah memberjalankan Syaikh Abul hasan Al asyari dalam salah satu dari dua pendapatnya dan Ustadz Abu ishaq Al isfiroini dan MANHAJ SALAF bahwa sesungguhnya Robb di sifati dgn wajh dan sesungguhnya wajh adalah sifat yang tetap dan tambahan dari sifat2 yang lainnya,dgn hujjah firman Allah: ويبقى وجه ربك ,dan sesungguhnya wajh bukan bermakna jarihah:organ,dan kaum musyabihah memaknai wajh dgn makna jarihah: organ”.

Dan yang haq atas semua itu adalah dgn mengatakan:tidak ada jalan utk isbat [menetapkan] wajah dgn makna organ…..!!

Terakhir dan yang terpenting:

Perkataan Ibnu Taymiyyah telah menjelaskan bahwa sesungguhnya Imam Al asy’ari menetapkan sifat khobariyyah seperti sifat maknawiyah bukan aen [dzat/organ],kemudian ia menyelisihi pndapat Imam dgn mengatakan bahwa lafad2 tsbt adalah aeniyah [dzat/organ] bukan maknawiyal [scra makna/sifat] dan dalil yang ia oakai adalah mengqiyaskan yang gaib dengan yang nyata/kelihatan,sebagaimana ia katakan dalam kitabnya bayan talbis 1/126 cet: utsmaniyyah:

( الوجه الحادي والأربعون : وهو قوله: “معلوم أن اليد والوجه بالمعنى الذي ذكروه مما لا يقبله الوهم والخيال”

أ‌- إما أن يريد به المعنى الذي يذكره المتكلمة الصفاتية الذين يقولون هذه صفات معنوية , كما هو قول الأشعري والقلانسي , وطوائف من الكرامية وغيرهم , وهو قول طوائف من الحنبلية وغيرهم .

ب‌- وإما أن يريد بمعنى أنها أعيان قائمة بأنفسها.

فإن أراد به المعنى الأول : فليس هو الذي حكاه عن الحنبلية فإنه قال: “وأما الحنابلة الذين التزموا الأجزاء والأبعاض فهم أيضا معترفون بأن ذاته مخالفة لسائر الذوات” إلى أن قال: “وأيضا فعمدة مذهب الحنابلة أنهم متى تمسكوا بآية أو خبر يوهم ظاهره شيئا من الأعضاء والجوارح صرحوا بأنا نثبت هذا المعنى لله على خلاف ما هو ثابت للخلق فأثبتوا لله وجها بخلاف وجوه الخلق ويدا بخلاف أيدي الخلق ومعلوم أن اليد والوجه بالمعنى الذي ذكروه عما لا يقبله الوهم والخيال”

فإذا كان هذا قوله , فمعلوم أن هذا القول الذي حكاه هو قول من يثبت هذه بالمعنى الذي سماه هو (أجزاءً وأبعاضاً) , فتكون هذه صفاتٍ قائمة بنفسها كما هي قائمة بنفسها في الشاهد، كما أن العلم والقدرة قائم بغيره في الغائب والشاهد لكن لا تقبل التفريق والانفصال كما أن علمه وقدرته لا تقبل الزوال عن ذاته وإن كان المخلوق يمكن مفارقة ما هو قائم به وما هو منه يمكن مفارقة بعض ذلك بعضاً , فجواز ذلك على المخلوق لا يقتضي جوازه على الخالق , وقد عُلم أن الخالقَ ليس مماثلاً للمخلوق وأن هذه الصفاتِ وإن كانت أعياناً فليست لحماً ولا عصباً ولا دماً ولا نحو ذلك ولا هي من جنس شيء من المخلوقات..) .

“Segi yang ke 41: yaitu ucapannya: “scra maklum lafad wajah,yad itu dgn arti maknawi sbgmn tlh di sebutkan dari apa2 yang tdk bs di sangkakan dan di hayalkan:

A.ada kalanya yang di maksud dgn arti scra maknawi adalah seperti yang di sebutkan oleh ahli kalam dalam sifat,yang mana mereka berkata:”ini adalah sifat2 maknawiyah sebagaimana pendapat Abul hasan Al asyari dan Al qolanisi,dan sekelompok dari kaum karomiyah dan yang lainnya,dan itu juga pendapat kaum hanabilah dan yg lainnya.

B. ada kalanya yang di maksud adalah aen [dzat/organ] yang berdiri dgn sendirinya.

Maka kalau yang di maksud dgn maknawi adalah yang pertama,maka itu bukanlah seperti yang di riwayatkan dari kaum hanabilah, maka sesungguhnya ia berkata: adapun kaum hanabilah yang melazimkan juz dan bagian2,maka mereka pun mengakui bahwa dzatNya berbeda dgn seluruh Dzat mahluq”,sampai pada ucapannya:”maka inti dari madhab hambali adalah ketika berpegang pada ayat dan khobar yang dohirnya memberi sangkaan pada organ dan bagian maka mereka menjelaskan: ‘Kami menetapkan makna ini utk Allah dgn makna yang berbeda dari makna yang di tetapkan terhadap mahluq,maka mereka menetapkan wajh utk Allah dgn makna wajh yang berbeda dgn mahluk,dan menetapkan tangan dgn tangan yang berbeda dgn makna tangan mahluk,dan secara ma’lum bahwa tangan ,wajh dgn makna yang tlh di sebutkan, itu adalah sesuatu yang tdk bisa di sangkakan dan di hayalkan”,dan ketika perkataanya seperti ini,maka di ketahui bahwa perkataan yang di hikayatkan ini adalah perkataan orang yang menetapkan makna yang di sebutnya dgn “juz dan bagian”,maka sifat2 ini berdiri dgn sendirinya sbgmn ia berdiri sendiri dalam hal yang bisa kita lihat [ciptaan], sebagaimana sifat ilmu dan qudrot berdiri pada sesuatu yang lain dalam hal yang gaib ataupun yang kelihatan,tetapi sifat2 itu tdk menerima terpisah, sebagaimana ilmu dan qudrotNya tdk menerima lepas dari dzatNya,walau pun mgkn saja bagi mahuk,adanya sifat2 itu atau sebagiannya bs terpisah dari dirinya,dan bolehnya hal itu dari mahluk tdk melazimkan boleh terpisahnya sifat2 itu dari pencipta,dan sungguh telah di ketahui bahwa pencipta tdk menyerupai ciptaan,dan sesungguhnya sifat2 ini walau pun berupa ain [dzat/organ],maka semua itu bukanlah berupa daging,otot dan juga bukan berupa darah dan bukan semisal dgn semua itu,dan juga bukan merupakan jenis sesuatu dari jenis mahluk [ciptaan].

 

 

Maka perhatikanlah perkataan imam kalian wahai kaum wahabi…..!! dia menuqilkan pendapat imam Al asy’ari tentang isbat sifat khobariyah bahwa Imam Al asyari menetapkan lafad2 yad dll seperti sifat2 maknawi bukan dgn makna dzat/organ sebagaimana sangkaan kalian tntg isbat beliau yakni “menetapkan tangan,wajah,semayam dll utk Allah”…..jadi jelas kan?….bahwa aqidah imam asy’ari tdk sama dgn aqidah kalian,atau mgkn kalian lbh hebat dari ibnu taimiyyah?? dan perhatikan kontradiksi pndapat ibnu taemiyah di atas….menyatakan bahwa makna yad,wajh tdk seperti makna wajah,yad utk mahluk,tapi ia tetap mengatakan itu adalah juz dan bagian [organ],trus apakah makna yad ,wajah bagi mahluk itu bukan organ?? jika bermakna organ,maka tetap saja itu adalah makna utk mahluk”

 Manqul

TINGGALKAN KOMENTAR