Melirik Wacana Post Islamisme

Melirik Wacana Post Islamisme

BAGIKAN

Post Islamisme adalah istilah yang melukiskan terjadinya perubahan paradigma dan gerakan politik Islam di kalangan muslim garis keras, dari yang militan, eksklusif, dogmatis, ke arah paradigma dan gerakan yang menghargai inklusivitas, pluralitas, dan toleransi. Seperti diketahui, isu-isu sentral seperti Demokrasi, toleransi, civil society, dan relasi agama dan politik, menjadi mainstream dalam pergumulan pemikiran Muslim selama dua dekade terakhir. Dalam konteks ini, Post Islamisme merupakan kategori paradigmatik baru yang sedang merambah berkenaan dengan Gerakan Politik Islam dewasa ini.

Secara harfiyah, Post Islamisme dapat diartikan dengan sederhana sebagai upaya untuk melepaskan logo-logo agama tanpa meninggalkan agama di kalangan Kaum Muslim Militan. Itu berarti, Post Islamisme lebih bernuansa tekad untuk “mengistirahatkan” label-label ke-Islaman formalistik, seperti misalnya cita-cita untuk mendirikan negara Khilafah yang hingga kini masih saja diwacanakan kendatipun secara realitas sudah mulai limbung menyusul serangkaian revolusi yang terjadi di beberapa negara Timur Tengah.

* * *
Lepas dari berbagai polemik saat ini untuk mendudukkan makna istilah ini secara lebih definitif, Post Islamisme bisa dikatakan sebagai manisfesto politik yang melangkahi gerakan Islamisme Ekstremisme sebelumnya. Pada titik ini, telah terjadi perubahan yang signifikan di kalangan intelektual Muslim Militan dengan mulai munculnya fenomena sikap beragama yang lebih inklusif dan kontekstual dengan kemajemukan yang kini merupakan gejala niscaya di sleuruh dunia.

Ciri utama gerakan post-Islamisme adalah kecenderungan untuk bersikap pragmatis, realistis, serta kesediaannya untuk berdamai dengan realitas politik yang ada saat ini, Yaitu realitas yang tak sepenuhnya ideal dan sebangun dengan cita-cita ideologis untuk menerapkan hukum-hukum Tuhan secara “apa adanya” dalam realitas yang begitu kompleks. Disisi lain, (dengan mengutip Ulil) Post-Islamisme sama sekali tidak sekular, bahkan tetap menunjukkan sentimen negatif kepada setiap bentuk ekspresi sekularisme, tetapi dia juga menolak teokrasi dan penerapan platform ideologis-keagamaan -seperti hukum syariah- secara kaku dalam kenyataan politik sehari-hari.

* * *

Dalam konteks gerakan politik Islam di Indonesia, gagasan Post Islamisme bisa dijadikan alternatif untuk membangun suatu kultur politik yang lebih tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan tawassuth (moderat) dalam menyikapi berbagai perkembangan masyarakat kontemporer tanpa melepaskan keinginan untuk tetap berpegang teguh pada nilai-nilai religiusitas.

Dan sebagai sebuah Paradigma, gagasan Post Islamisme bisa digunakan untuk menimbang ideologi dan strategi Kelompok Gerakan Islam Radikal di Indonesia yang hingga saat ini bersikeras untuk membangun sebuah tatanan kenegaraan yang murni berbasis agama. Di titik pembacaan sejarah, akan terlihat bahwa orientasi gerakan pilitik mereka yang mengusung gagasan berdirinya Negara Islam, sesungguhnya semakin lama semakin tidak populer dan bahkan ahistoris, berdasarkan realitas objektif yang terjadi di negara Iran dan kawasan Timur Tengah yang lain.

Pada akhirnya, Post Islamisme diharapkan dapat menghadirkan alternatif sudut pandang guna menyadari bahwa negara Indoensia yang berdasarkan Pancasila merupakan common platform yang bukan anti Islam, bukan tidak Islamy, dan juga bukan sekuler. Dari titik inilah diharapkan suatu bentuk kesadaran kolektif yang lebih membumi dan realistik, dapat hadir guna membangun kultur sosial politik yang lebih cocok untuk Indoensia dan Umat Islam kini dan disini.

Wallahu a’lam
 Salam Warkoper

TINGGALKAN KOMENTAR